Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 6 (S3)



Seumur hidupku, aku mengenal tiga orang yang pernah menjadi saksi hidup petualangannya bersama Kakek Kumbang. Kakek Syarif dan Kakek Tarab mungkin saja hampir satu zaman tatkala mereka masih berjaya di atas ganasnya lautan, terombang-ambing dengan Kapal Leon siang dan malam. Kemudian, hanya seorang yang hidupnya hampir hampir satu generasi denganku, yaitu Borneo. Ia pemuda pendek dengan segenap keberanian untuk hidup di ketidakadilan dunia. Dengan senang hati aku menerima tawarannya untuk berkunjung ke gubuk pria itu.


Aku lebih dulu menyiapkan makan malam untuk Kakek Tarab yang menduda itu. Jika tidak ada aku, biasanya Kakek Tarab sudah ada orang yang mengantarkan makanan ke rumahnya. Setelah aku bertanya bagaimana ia mendapatkan uang, ternyata Kakek Tarab memiliki kapal nelayan yang ia sewakan kepada warga sekitar. Selain itu, anak-anaknya di Ibu Kota rutin mengirimi uang. Usaha penyewaan kapal lebih dari cukup untuk makan sehari-hari. Sementara itu, ia bisa menabung uang kiriman anaknya yang ia sendiri saja bingung dihabiskan untuk apa. Orang tua seperti Kakek Tarab biasanya tidak memiliki lagi tujuan-tujuan tertentu untuk menghamburkan uang.


Kakek Tarab tidak peduli kami akan pergi ke mana. Ia tidak menjawab dan sibuk menonton berita televisi sembari merokok. Gerbang dermaga yang gelap itu sedang dihuni oleh Borneo untuk menunggu kami. Rambut panjang sebahunya itu semakin membuat Borne mirip seperti hantu jika gelap begini. Kami kemudian digiringnya menuju kawasan rerimbunan pohon yang gelap. Borne menyinari jalan setapak itu dengan sebuah senter. Kami tinggal mengikutinya saja dari belakang.


Sekitar tiga menit masuk ke dalam kawasan pepohonan itu, kami sampai di tempat yang relatif bercahaya. Ia memagarinya dengan dahan-dahan pohon sederhana hingga membentuk halaman persegi, sementara di luar itu merupakan semak setinggi lutut. Ada pula jalan yang kira-kira selebar tiga meter di depan gerbang halaman sedehananya itu. Aku terkejut melihat sebuah mobil van tua warna putih di tengah halaman persegi yang terang dibagian dalamnya. Di hadapan mobil itu, tersedia tiga bangku kayu dan sebuah meja kecil di atas jatuhnya dedaunan kering.


“Selamat datang di Van House … semuanya tersedia, kecuali yang tidak ada.”


“Itu sama aja kau enggak menyediakan banyak hal,” sindirku sembari masuk ke dalam pekarangan kecilnya.


“Wow Borneo, dari mana kau dapat van itu?” tanya Razel. Ia sedikit tertarik dengan lantai dedaunan kering ini hingga ia menggesek-gesekkan kakinya.


“Kau ngerusak perlindungan kita, Razel.” Tangan Borneo mengambil plastik yang tampaknya berisikan garam, lalu ia menaburkannya ke daerah injakan kaki Razel secara horizontal. “Ini biar ular enggak masuk. Hmm … mumpung kalian di sini, mau minum apa? Aku punya banyak minuman bungkusan.”


“Aku cokelat … kalau Razel kopi,” balasku.


Razel kelihatan kesal dengan diriku yang memilihkan menu. Tapi, aku tahu ia akan memilih kopi karena sudah menjadi kebiasaannya.


“Oke … silahkan duduk di depan. Aku siapkan semuanya dulu ….”


Borneo menghilang ke dalam van tua. Terdengarlah bunyi alat-alat dapur yang sedang ia kerjakan. Sementara itu kami berdua duduk di depan van sembari menunggunya.


Tidak sampai sepuluh menit, ia datang dengan tiga cangkir minuman. Borneo masuk lagi untuk mengambil panci panas⸺ia kelihatan melapisi tangannya menggunakan selapis kain⸺serta piring-piring yang salah satunya sudah tersedia tiga buah ikan panggang.


“Hanya ini yang bisa aku hidangkan. Tadi sore aku mancing dan dapat tiga ekor kakap batu besar. Enggak ada sambal, tapi ada kecap. Ambil juga nasi sepuas kalian,” ucap Borneo sembari memberikan piring.


Melihat hidangan lezat seperti ini, aku tidak pernah peduli apakah hidangan sederhana atau pun mahal. Perut yang sudah lapar membawaku untuk mengambil nasi dan ikan kakap batu panggang untuk dimakan malam hari ini. Tatkala aku cicipi ikannya, ternyata lezat juga meskipun dipanggang dengan sederhana. Razel juga memuji masakan yang dihidangkan Borneo.


“Yaa … beginilah kalau kalian makan di tempatku. Sederhana saja. Terkadang aku mencari jamur di sekitaran hutan, atau memanen sayur yang aku tanam di belakang van. Lebih baik langsung dari alam daripada membeli.”


“Terima kasih buat malam ini.” Aku menunjuk van itu kemudian. “Kau dapat dari mana?”


“Van itu? Itu punya Pak Tarab. Dia punya dua mobil tua. Pertama mobil kijang generasi pertama, kedua van itu. Tapi, enggak ada satu pun mobil dia yang berfungsi. Pak Tarab janji memberikanku satu mobil kalau aku bisa memperbaiknya. Van ini berhasil hidup, tetapi malah rusak lagi.”


“Aku jadi penasaran kepada kau kabur dari rumah Kakek Tarab,” ucap Razel.


Ia diam tidak menjawab. Mulutnya terus mengunyah daging ikan panggang buatannya. Setelah air putih mengaliri kerongkongan, barulah ia bicara.


“Kakek Tarab itu orang yang baik,  buktinya dia nerima aku di rumahnya. Terkadang, aku enggak tahan dengan mulutnya yang cerewet dan juga tempramental.”


“Tapi, jika kalian lama di sana, tempramental dari Kakek Tarab membuat kalian takut.” Ia tidak tersenyum meskipun aku mengeluarkan kata canda.


“Takut? Maksudmu?”


Ia meletakkan piringnya di atas meja.


“Aku enggak tahu masa lalu apa yang pernah dilewati oleh Pak Tarab. Tapi waktu itu aku menemukan lantai rumah Pak Tarab bersimbah darah dan beliau hanya duduk dengan tenang di kursinya.”


Aku dan Razel tidak jadi menelan nasi setelah mendengar itu. Satu hal mengerikan aku dengar dari Borneo mengenai fakta Kakek Tarab yang misterius.


“Dia membunuh orang?” tanyaku.


Borneo mengangguk setuju. “Pak Tarab menembak maling tepat di kepalanya. Aku dengan jelas melihat mayat itu sudah bolong di bagian kepala. Waktu itu, aku melihat emas batangan Pak Tarab masih terpegang di tangan maling itu. Aku akhirnya paham, maling itu mengincar emas punya Pak Tarab.”


“Tadi pagi baru aja Kakek Tarab bilang kalau jangan membunuh orang dengan pistol,” balasku dengan melanjutkan mengunyah yang sempat tertunda tadi. “Lalu, mayat itu kalian apakan? Apa polisi enggak curiga?”


“Pak Tarab seperti sudah biasa melakukan itu. Jadi ia dengan tenang minta aku menenggelamkan mayat ke laut. Sebelumnya, mayat diikatkan batu pantai yang berat biar mayat jatuh ke dasar laut.”


Aku menelan ludah mendengarnya. Terdapat hal sadis yang tersembunyi dari Kakek Tarab. Mungkin benar, Kakek Tarab pernah menjadi preman besar pelabuhan. Ia tentu tidak asing lagi melihat darah dan bahkan pernah menembak Kakek Syarif karena menantangnya. Menurut penuturannya, kakekku juga pernah menembak orang. Mereka hampir sama satu sama lain.


Selesai makan, kami menikmati minuman hangat yang dibuat oleh Borneo. Selembar kertas usang aku berikan kepada Borneo. Kertas itu berisikan Sepuluh Larangan Kapal Leon yang tadi.


“Aku mau kau menjelaskan apa ini,” pintaku.


Ia tampak membacanya. “Oh ini, hal yang sama dengan Sepuluh Larangan Kapal Tigris.”


“Kapal Tigris itu Kapal Kakek Kumbang yang baru?”


“Aku tahunya kapal itu bernama Tigris. Itulah kapal tempat aku bekerja bersama Kakek Kumbang.” Ia menyinari tulisan itu dengan lampu minyak, lalu meletakkannya ke atas meja. “Aku pernah belajar di sekolah Katolik dulu. Isinya hampir sama dengan Sepuluh Perintah Tuhan, mungkin aja kalau aku masih ingat. Aku rasa di Islam juga ada mengenai sepuluh perintah Tuhan kepada Musa. Pikirku, Kakek Kumbang terispirasi dari itu.”


“Maaf, kami enggak pernah sekolah agama. Jadi, kurang tahu. Mungkin pernah dengar, cuma lupa,” ucap Razel mengakuinya.


“Terserahlah … jadi kali mau tahu? Hmm … baiklah, aku ceritakan. Ini sesuai dengan tafsiran senior di kapal waktu itu.”


Razel bahkan membakarkan rokok untuk Borneo agar ia nyaman menceritakannya dengan detail. Satu kali hisapan panjang, Borneo mulai bercerita ….


***