
Terdapat sebuah swalayan sebagai tempat kami memberi barang-barang yang diperlukan. Tidak hanya minyak kacang, kami juga membeli stok makanan serta alat-alat bermanfaat selama perjalanan nanti. Razel tidak tanggung-tanggu, ia membeli sekaligus banyak rokok dan kopi untuk ia nikmati bersama Borneo nanti. Aku tidak peduli dengan keadaan paru mereka, yang penting mereka bisa senang ketika perjalanan nanti.
Kakek Tarab bertanya padaku kenapa lama sekali pulang ke rumah karena sehabis matahari terbenam. Sebenarnya ia tidak peduli apakah kami nanti diculik atau bagaimana, tetapi ia memikirkan siapa yang akan memasak makanan malam. Aku pun sudah mengutarakan akan kembali berlayar setelah beberapa hari ini. Ia pun tidak bertanya ke mana aku akan pergi atau pun kenapa aku membawa Borneo, ia hanya peduli sisa-sia hari kami di sini dihabiskan untuk melayaninya.
Kami pun sudah berada di hari-hari akhir berada di dermaga ini. Hari esok merupakan di mana aku akan menjelaskan mengenai seluruh rencana yang sudah aku rancang. Sebelum itu, aku meminta kepada Borneo untuk berpamitan kepada kekasihnya yang pernah aku pergoki sedang berdua-duaan di dalam van, entah melakukan apa mereka, aku pun tidak peduli. Namun, Borneo dengan tegas mengatakan jika mereka bukan sepasang kekasih, melainkan hanya datang tatkala sedang butuh saja. Aku menepuk tengkuk Borneo tatkala mengatakan hal itu karena ia sudah mempermainkan seorang wanita. Wanita yang sudah ingin diajak berduaan seperti itu sudah pasti memiliki rasa, hanya saja Borneo melihat dari sudut seksual saja. Aku berharap anak itu akan berubah ketika berada di sekitar pengawasanku.
Kami bertiga berada di dalam van sembari minum cokelat hangat. Van kami letakkan di hutan tempat beradanya semula.
“Hari besok, aku akan masak gulai ayam dengan minyak kacang. Dan ….” Aku memperlihatkan selai kacang yang biasa dipadu dengan roti. “Selai kacang. Apa kalian pernah makan gulai ayam selai kacang?”
Borneo dan Razel menggeleng-geleng mendengar penjelasanku. Manusia mana di atas dunia ini yang memadukan masakan bersantan dengan selai-selaian? Mungkin hanya diriku saja.
“Kau akan membuat Kakek Tarab langsung tumbang,” balas Borneo.
“Tapi Kak, kalau Kakek Tarab kenapa-kenaap, kita bisa masuk pasal pembunuhan berencana loh!” protes Razel.
“Enggak akan kok, makanya kalau gejala alerginya mulai rada-rada kumat.” Aku menunjuk Razel. “Kau bawa dia ke klinik. Biar aku dan Borneo yang menggali dapur. Lagi pula, dokter enggak akan ngecek darah Kakek Taraba pa mengandung unsur kacang. Pasti dia ngira kalau Kakek Tarab alergi dingin, debu, atau yang lain.”
“Aku enggak mau berakhir di penjara. Kau harus pastikan itu, Reira,” tegas Borneo.
“Iya, selagi aku di sini, kalian akan aman-aman aja.”
“Berarti kalian harus selesai ngambil kotak di bawah dapur itu sebelum kami pulang,” ucap Razel. Ia tampak paham mengenai tugasnya.
Aku mengangguk setuju. “Iya, benar. Waktu dia istirahat di rumah, kita langsung kabur. Nah, ini cukup rumit karena aku bakalan naik kapal. Kalian berdua bawa van ini.”
“Kita akan ke mana?”
“Ke Bengkulu ….”
Wajah Borneo merasa tidak percaya padaku. “Kau bisa berlayar sendirian ke Bengkulu?”
“Iya aku bisa. Aku punya pengalaman berlayar sendirian ke Bangka Belitung, itu pun karena nekat. Tapi, aku bakal jaga jarak yang enggak terlalu jauh dari daratan. Kalau ada kenapa-kenapa, aku bisa menepi.”
“Kau percaya dengan dia?” tanya Borneo kepada Razel.
“Terserah dia, walaupun aku larang pun … Kak Reira bakal melakukannya juga. Jadi, percuma aja,” balas Razel.
“Tenang Borneo, aku punya jam terbang bagus buat berlayar di tepian. Aku juga bukan pelaut pemula.”
“Oke-oke, aku percaya sama kau. Semoga beruntung besok ….,” pungkas Borneo.
Razel dan Borneo keesokan pagi buta aku pinta untuk membeli bahan makanan untuk dimasak menjadi jebakan. Tentu saja sewaktu pulang hanya Razel saja yang datang karena Borneo bertekad tidak akan bertemu dengan Kakek Tarab. Mungkin karena ia sudah memiliki pengalaman traumatis. Dapur pun menjadi tempat persiapan perang. Razel memotong ayam dan bahan, sementara aku meracik bumbu sembari memerhatikan area bilah kayu yang akan digali. Razel sempat mencuri-curi kesempatan untuk melihat ke dalam sana, aku malah memukulnya dengan ujung wajan karena bisa membuat kami berdua terbunuh. Tidak lucu sepasang manusia didapati bolong bagian kepala karena memasak gulai ayam.
Aku memang jarang memasak, tetapi Zainab Si Gadis Melayu itu pernah mengajarkanku beberapa resep. Mengingat tentang dirinya tidak akan pernah ketinggalan nama Candra. Mungkin saja mereka berpacaran, tapi Candra masih takut-takut dengan orangtua lelaki Zainab yang seram itu.
“Kak, apa makanan ini aman buat kita?”
“Apa lo lihat gue masukin racun di sini?” Aku menunjuk plastik pembungkus minyak kacang dan selai kacang. “Itu bukan racun, tapi kebetulan aja jadi alergi buat kakek itu.”
“Aku ragu kalau Kakek Tarab mau makan gulai ayamnya karena rasanya aneh,” cibir Razel.
“Dia enggak pernah menolak apa pun yang gue buat. Kopi campur garam pun dia minum kayanya. Dia kan pemalas. Kerjanya cuma merokok sambil dengar radio,” balasku.
“Iya juga ya ….”
Tangannya aku tepuk. “Masukin selai kacangnya cepat!”
“Mau seberapa banyak?!”
“Suka-suka lo ….”
Ragu-ragu Razel memasukkan selai kacang. Kemudian, aku menuangkan minyak kacang yang sekiranya bisa membuat gejala alergi Kakek Tarab cepat kambuh. Kami berdua seakan menjadi ilmuan peracik bahan kimia, hanya saja benda yang kami gunakan berupa minyak dan selai kacang. Setelah dua benda yang dianggap racun oleh Razel itu masuk, adukan-adukan maut bercampur harapan ia tidak mati setelah ini, bercampur bersamaan dengan wangi lezat dari aroma kuah.
Razel aku paksa untuk mencobanya pertama kali. Ia menolak tanganku yang berusaha menyuapkan kuah. Akhirnya sendok itu pun masuk ke dalam mulut Razel. Wajahnya memejam sembari mengecap bagaimana rasanya. Entah apa yang ia rasakan, tetapi wajah Razel menyimpulkan jika rasa gulai itu aneh.
“Mungkin itu dari selai kacangnya.”
“Enggak mau kita ludahi sekalian biar menambah efek?”
Kepalanya langsung aku tepuk. “Gue juga makan ini nanti, goblok!”
“Oh iya juga ya ….”
Gulai ayam sedikit ramuan alergen rahasia ala-ala diriku terhidang di atas meja makan. Nasi aku sendokkan sendiri ke piring Kakek Tarab agar ia tidak banyak komentar sehingga menunda makan siang. Kakek itu datang ke meja makan setelah aku panggil dari kejauhan. Berjalanlah ia dengan tongkat kayu mahoni itu, menimbulkan bunyi hentakan seperti yang sering aku dengar setiap malam. Razel ternyum lebar seperti psikopat yang sedang menanti mangsa. Sementara tanganku mempersilahkan Kakek Tarab untuk mengambil gulai ayam sesukanya.
“Kalian mau pulang besok?”
“Besok atau besoknya lagi, mungkin.” Aku memerhatikan tangan Kakek Tarab mengambil gulainya. Merasa ia mengambil kurang banyak, aku paksa untuk mengambil lebih banyak. “Ambil lagi dong Kakek. Yang banyak. Ayamnya jangan cuma satu, ini penuh protein. Kuahnya juga jangan sedikit biar enggak kering ….”
Seperti menguahi lontong sayur, begitulah aku tuangkan ke dalam piring Kakek Tarab. Untung saja nasinya banyak, jika tidak mungkin sudah tergenang oleh kuah. Aku dan Razel saling menatap, lalu mengambil gulai ayam secukupnya.
“Kalian baik sekali hari ini. Karena mau pulang?”
“Iya begitu Kakek. Kan nanti mungkin kita enggak ketemu lagi,” balas Razel.
“Baguslah ….”
Kalimat terakhir itu seakan menghantam dadaku. Ia mengatakan malah bagus kami pergi, padahal selama ini kami melayaninya dengan baik. Jika pun ia marah-marah, kami hanya diam tanpa menjawab.
“Kami mau balik ke Jakarta. Sepertinya kami nyerah mencari Kakek Kumbang,” ucapku.
“Makanya sudah aku bilang, mencari Kumbang itu seperti mencari hantu. Sebaiknya jangan dicari, nanti dia datang sendiri. Hantu memang suka datang tiba-tiba. Tapi entah kapan dia datang tiba-tiba lagi ke sini ….”
“Oh iya Kakek, kata Borneo Kakek suka minum ya?” tanyaku.
“Iya … tapi lambung sedikit bermasalah. Jadi udah jarang,” balasnya.
Untung saja aku tidak membuatnya jadi sapi gelonggong alkohol. Bisa-bisa ia mati setelah kami melakukan itu.
“Kami punya vodka Rusia, arak Bali, dan anggur merah. Kalau Kakek mau, aku beri masing-masing satu botol.”
“Boleh … aku minum itu pun sedikit. Paling cuma untuk menghangatkan dada. Kau kasih ke aku waktu kalian mau pulang saja ….”
“Oke, besok aku beri.”
Setelah makan siang, kami menunggu gejala alergi muncul. Borneo meskipu ia trauma dengan kakek itu, tetapi ia malah tidak tenang mengenai keadaannya. Ia takut jika Kakek Tarab malah mat setelah itu. Aku memastikan jika gejalanya muncul, Kakek Tarab langsung dibawa ke klinik untuk pengobatan darurat. Jika ditangani cepat, Kakek Tarab tidak akan kenapa-kenapa. Razel juga sudah aku beritahu jika ia harus meng-kambinghitamkan lontong sayur yang sering kami beli setiap pagi. Aku sadar jika Kakek Tarab tetap makan kuan bercampur bumbu kacang, meskipun ia tidak pernah menyeruput kuah terlalu banyak. Hal itu dibuktikan jika ia hanya menghabiskan lontongnya saja.
Malam harinya, aku menambah porsi kuah gulai ayam kepada Kakek Tarab. Ia senang sekali karena aku ramah padanya untuk hari-hari terakhir. Malamnya juga kami mengopi di luar agar ia sedikit terkena angin malam. Menurut catatan medis, Kakek Tarab juga tidak bisa terkena suhu dingin terlalu lama. Mungkin saja akan membuat dia ingusan dan sesak napas. Setelah membahas radio berita tentang banjir Ibu Kota yang tidak selesai-selesai serta porak-porandanya birokrasi yang penuh koruptor, ia melanjutkan diri tidur di dalam kamar.
“Kau jaga di sini ….”
Aku meminta Razel untuk terus berjaga di kamar samping sehingga ia bisa mengintip di celah kayu. Terlihat dari celah kayu itu jika Kakek Mayor sudah tertidur pulas. Aku takut Kakek Tarab malah lewat jika tidak kami awasi. Sembari berdebar-debar aku menunggu hingga esok pagi, tetapi tidak ada tanda-tanda jika Kakek Tarab sudah kambuh alerginya.
“Woi … bangun ….,’ bisikku kepada Razel yang sudah tertidur di atas lantai kayu. Aku semalaman tidur di kamar kami, sementara ia di sini seperti kucing kedinginan. “Malah tidur!”
Dengan wajah sembab di subuh hari ia terbangun. “Kakek gila? Gue masa ga boleh tutup mata.”
“Ah lupakan …” Aku menggeser tubuhnya agar bisa mengintip dari celah kayu. Kakek Tarab terlihat tidur berbaring ke kanan. Dadanya kembang-kempis tatkala bernapas. Memang tampak normal, tetapi terdengar suara batuk berat darinya. Selama lebih dari sebulan di sini, aku tidak pernah mendengar Kakek Tarab batuk seberat itu.
“Dia batuk,” ucap Razel. “Aduh gimana ini!”
“Itu kan memang tujuan kita!” Aku mencibirnya. Terkadang aku kasian kepada Razel yang mau saja ikut aku yang gila ini. “Kita tunggu sampai pagi datang. Kau harus lebih dulu beli lontong, jadi sarapannya lebih cepat.”
Aku tidak melanjutkan tidur setelah subuh karena fokus mendengar batuk Kakek Tarab yang semakin berat. Sementara Razel minta memejamkan mata di atas ranjang, aku terus memerhatikan Kakek Tarab yang duduk dengan bahu naik. Aku yakin pertanda jika sesak napasnya sudah mulai terasa, pertanda emas itu semakin dekat padaku.
***