
EPISODE 62 (S2)
Mahasiswa namanya, sebuah derajat murid paling tertinggi dalam kasta pendidikan dunia.. Siswa tidak hanya siswa, melainkan memikul kata 'maha' yang menjadi satu dalam arti. Sebagai penyandang kasta tertinggi murid di sistem pendidikan, tentu saja ada tanggung jawab yang harus dipikul. Ada segudang kewajiban yang harus dilunasi sebagai hak yang harus didapati oleh para pemikul tanggung jawab. Kata 'maha' yang berarti besar, mengandung filosofi-filosofi itu. Mahasiswa ialah tonggak pemikir dan revolusi bangsa.
Di negeri ini, mahasiswa menjadi faktor terbesar reformasi yang dimenangkan oleh para-para pemikir bangsa. Dimulai dari pemikiran kecil mengenai risau, menyulut kecemasan masyarakat, menumbuhkan sifat alami pemikir, serta membakar semangat yang akan digerakkan. Lihat saja, bagaimana kuatnya rezim Orde Baru yang bertahan hingga puluhan tahun, lalu tumbah hanya dalam satu waktu. Protes besar-besaran berasal dari mereka yang berjuang di jalanan, membela hak rakyat yang tak pernah dibela, menyuarakan keadilan yang tak kunjung diadili.
Sepanjang tahun setelah itu selalu saja ada pergerekan-pergerakan tersebut, mewarisi semangat senior mereka yang mendapati asa dari limpahan suara empat lima. Benar rasanya, pemimin hanya takut kepada mahasiswa, hingga sering kali tak ada tatkala gerakan bersuara di depan mereka. Itulah yang mereka tuntut, keadilan-keadilan yang telah dijanjikan. Hingga, setiap rezim tak lepas dari sorot mata para pemikir tersebut.
Pendapatku mengenai mahasiswa sekarang ialah terlalu banyak harapan, tanpa sebuah aksi nyata. Mereka berharap sistem pendidikan akan berubah, namun ada banyak mereka yang hanya berdiam diri saja. Membaca berita pun tidak, jangankan membaca buku. Pantas saja banyak dari teman-temanku yang berwawasan rendah, tidak tahu fenomena di negeri ini. Hanya tahu desas-desus selebritas luar negeri yang bergoyang di atas panggung dengan rambut yang warna-warni, seakan fenomena tak lebih penting dari semua itu. Belum lagi sifat hedonisme anak muda yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa pernah tahu apa itu menderita.
Kini aku beritahu, Kawan. Pemikir tidak akan hadir ketika dihadapi oleh sesuatu yang menghibur, seperti yang aku sebutkan tadi. Sudah sifat alami manusia yang cenderung paling banyak belajar tentang kesulitan, lalu lebih banyak terlena dengan keindahan.
Bayangkan saja, jika aku tanya anak kelasku, mungkin lebih banyak tahu belasan selebriti daripada dua orang pejabat menteri, atau pun satu hal dasar untuk bisa dianalisa mengenai fenomena sosial yang terjadi. Kita semakin bodoh dengan tersebut.
Jujur, aku memang orang yang tidak terlalu suka turun dijalanan. Sudah sifat alamiku yang menghindari keramaian. Namun, aku suka suasana diskusi ilmiah yang diadakan di meja kopi yang penuh asap rokok, lalu mengulasnya kembali di laman twitter sebagai satu suara. Bahkan, kami pun membahas fenomena para wanita fanatik akan suatu kelompok musik, sampai ingin menghabiskan uang banyak hanya untuk sekumpulan foto idola yang digantung di atas ranjang dengan lampu kelap-kelip, lalu dijadikan umpan story di malam hari yang diringi dengan lagu pujaan mereka.
Baiklah ... aku tidak mempermasalahkan mereka yang seperti itu. Toh, itu juga uang mereka. Terserah mereka ingin menghabiskan uang, sampai mengutang sekali pun. Namun, aku benci hal yang bersifat fanatis buta. Termasuk agama sebagai kepercayaan, aliran mahzab keagamaan, serta ideologi kehidupan dan politik. Fanatisme hanya menimbulkan sifat superioritas dengan identitas yang sedang ia geluti. Sedikit kiritk saja, ribuan netizen yang menyerang.
Namun, aku berbahagia malam kemarin. Ada banyak orang yang satu pemikiran denganku. Bahwa, bangsa ini harus dipikirkan sebagai tanggung jawab bagi yang telah menyandang titel mahasiswa. Semuanya berada di dalam satu suara pegerakan, menyampingkan ideologi yang berbeda-beda. Hanya satu yang kami pikirkan ialah keadilan.
Candra aku ajak untuk ikut di dalam pegerakan esok hari. Namun, ia menolak karena ia harus bertanggung jawab dengan tugas yang harus ia kerjakan. Aku tidak mempermasalakannya karena aku tahu ia akan ikut apabila tidak ada pekerjaan yang sedang mengekangnya. Bang Ali mengambil jatah libur sekali seminggunya untuk hari esok. Ia tidak mungkin absen di demo esok hari. Tercorenglah nama Mapala kampus yang dikenal kritis dengan permasalahan. Mawar dengan senang hati ikut karena ikut sertanya Reira sebagai perwakilan fakultasnya. Ia mengatakan padaku bahwasanya ia akan berteriak lantang untuk itu.
Pagi keeskokan harinya, sekitar pukul delapan, aku menjemput Mawar di kediamannya. Reira sudah lebih dahulu pergi ke kampus bersama rombongan Fakultas Ekonomi. Sementara itu, ia memintaku untuk menjemput Mawar agar lebih cepat ke kampus. Sudah jadi tanggung jawab para perwakilan untuk mengajak massa pergi di pergerakan.
Mawar keluar dengan memasang jaket almamater kampus. Senyumnya cerah di pagi hari ini menyandingi cahaya mentari yang bersinar di atas aja. Ia merias wajah untuk pergi demonstrasi, aku menertawakan hal itu di dalam hati. Namun, tidak apa juga. Di sana pasti ada banyak pria yang akan tertarik dengan dirinya.
“Awali pagi dengan sarapan.” Ia memberikanku sebuah wadah kotak plastik yang berisikan sebuah sandwich isi telur.
Aku meraih pemberiannya. “Wah, ngerepotin.”
Ia tersenyum pelan. Tatkala aku membuka penutupnya, ia turut menyelipkan susu di tasku. Aku sontak merasa aneh dengan perlakuannya pagi hari ini.
“Susu mengandung protein yang bagus untuk mengawali hari.”
“Lo aneh hari ini,” balasku dengan mata menyipit.
“Apakah aneh seorang teman berbuat kebaikan?” tanya Mawar.
Mulutku mengunyah sandwich itu perlahan. Terasa sekali gurihnya telur yang berpadu dengan serat roti gandum yang nikmat. Lalu, sayur mayur yang di dalamnya memberikan sedikit kesegaran di mulutku. Aku menelannya, inilah makanan pertamaku untuk hai ini. Walaupun aneh, aku senang. Beruntung aku ke sini karena pergi ke kampus dengan keadaan kenyang.
“Oke, makasih, ya. Lo udah sarapan?” tanyaku balik.
“Gue setiap pagi menyiapkan sarapan untuk Kakak,” balasnya.
“Rajin banget,enggak kaya gue ke Dika. Hahaha ...” Aku menancapkan sedotan ke susu kotak yang Mawar berikan.
“Memang enggak apa-apa kan gue ikut sama lo?” tanya Mawar kembali.
“Selagi Reira yang memintanya, berarti enggak apa-apa.” Aku menghabiskan sandwich dengan suapan yang besar. Sebentar saja, satu porsi sarapan dari Mawar habis aku lahap sendirian. Perut pun terasa nyaman karena sudah terisi penuh, ditambah lagi dengan susu.
“Oke kalau begitu.” Ia menepuk jok di belakangku. “Enggak pake helm, kan?”
Aku menepuk dada. “Tenang, gue tahu jalan pintas.”
Ia menaiki motor dengan bersangga pada kedua bahuku. Tanpa batas, ia maju sedikit karena memberikan ruang untuk tas yang ia bawa di belakang. Motor pun aku bawa melaju menuju kampus. Ada banyak orang yang sedang menunggu kami di sana.
Baru saja kami memasuki kampus, sudah terlihat teman satu universitas tengah memakai almamater kebanggannya. Mereka berkumpul di tepi jalan dengan menggunakan motor dan menyapa mahasiswa lain yang tengah menapaki jalanan kampus. Aku rasa sosialisasi dari media sosial cukup efektif untuk menarik perhatian mereka. Buktinya, mereka sudah bersiap terlebih dahulu sebelum arak-arakan datang. Terdapat enam buah bus untuk enam fakultas yang telah di-booking oleh Ketua BEM universitas untuk transportasi para mahasiswa. Ternyata mereka berhasil me-lobby orang atas untuk mengizinkan kami menggunakan salah satu fasilitas kampus tersebut.
“Makasih banyak.” Mawar tersenyum padaku.
“Iya, sama-sama.”
Tidak ada jadwal bimbingan hari ini. Oleh karena itu aku leluasa untuk mengikuti aksi. Masih belum ada aba-aba dari anak BEM untuk berkumpul. Aku malah lebih dahulu berkumpul di kantin untuk menikmati kopi pagi bersama para senior semester atas. Sebagian besar dari merek ialah para penyair dari organisasi seni fakultas. Sudah berkali-kali mereka memintaku untuk masuk ke dalam organisasi tersebut. Namun, aku tetap berpendirian untuk tidak terlalu masuk di dalam kawasan politik. Namanya saja organisasi seni, namun seakan jadi partai pengusung yang bertarung merebut posisi Ketua BEM fakultas.
“Kenapa harus dari demo, sih?” Bang Faisal bertanya padaku. Ia sama sekali tidak memakai almamater. Ia merupakan ketua dari organisasi seni fakultas.
“Demokrasi ....” Senior Adit di samping memotong.
“Gue rasa cuma buang-buang tenaga. Lihat saja, tenaga kalian hanya digunakan buat teriak, sedangkan otak kalian tidak.” Ia menghembuskan rokok ke tengah-tengah kami. “Gue berani bertaruh, enggak sampai setengah, atau bahkan mungkin tujuh puluh persen mahasiswa yang tahu benar-benar apa yang sedang mereka demo.”
“Maksud lo, Bang ... cuma buat ikut-ikutan?”
Ia mengangkat kedua tangannya. “Gue bukan nuduh lo ikut-ikutan. Gue tahu lo pasti paham sama fenomena yang kalian demo. Maksud gue, mereka hanya ikut perintah dari BEM untuk ikut ke jalan.”
“Tapi, kan ... itu memang tugasnya kita mahasiswa. Mereka bebas dong mengekspresikan kemarahan mereka.”
Ia memajukan wajahnya. “Lo harus tahu bedanya orang idealis, dan orang yang ikut karena euforia. Gue juga berani bertaruh, itu anak mami yang enggak mau panas-panasan, sampai di sana langsung buka handphone buat story. Demo hanya sebatas story.”
Bang Adit menyeruput kopinya. “Dan orang-orang seperti itu kalau biasanya ditanya tentang materi undang-undang yang bermasalah, mereka nol besar. Mereka cuma tahu teriak nurunin harga BBM, tapi enggak pernah tahu dampak dari sebaliknya ke negara, atau positifnya bagi masyarakat.”
Aku mengangguk. “Gue percaya kalau ada banyak mahasiswa skeptis yang ikut ini. Lo benar juga, orang cuma mau ikut karena euforia, bukan idealisme. Tapi, gue enggak nyalahin mereka, sih. Hak mereka juga buat ikutan, walaupun enggak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.”
“Gue enggak nyalah atau benarin sesuatu. Cuma, sayang aja otak-otak mereka malah ngerusak citra idealisme mahasiswa itu sendiri,” balas Bang Faisal.
Aku menangkat bahu. “Hmm ... idealisme itu hanya ada di pikiran masing-masing. Orang idealis pasti cuma mikir orang-orang seperti itu sebagai sampah enggak berguna, enggak harus diperhatikan, karena ia fokus buat tujuan. Contohnya aja kita, kita enggak peduli tuh seberapa banyak anak sebelah yang bilang pentas puisi kemarin membosankan, dibandingin sama pentas musik. Dan kita enggak peduli, kan?”
Anak sebelah itu aku maksudkan kepada mahasiswa-mahasiswa hedon yang kuliah sebatas mencari kebebasan yang tidak bisa didapatkan dari orangtua. Mereka mengatakan pentas puisi beberapa bulan yang lalu itu sangat membosankan. Hal itu membuat kami para penyair geram dengan hujatan mereka yang terdengar oleh salah satu anggota.
“Pokoknya lo harus hati-hati, deh. Lo pasti tahu kan bagaimana kondisi nanti mahasiswanya datang dari berbagai kampus. Anarkisme bisa aja terjadi.”
“Tenang, Bang. Gue bisa jaga diri.”
“Hindarin melakukan hal anarkis. Lo enggak tahu kalau ada orang pakai almamater, tapi ternyata intel polisi. Selesai deh lo kena ciduk. Hahahaha ....” Bang Adit tertawa.
“Panjang umur perjuangan,” pungkasku pelan.
Pukul sebelas sudah terdengar suara toa dari Ketua BEM kami bahwasanya akan ada aksi ke gedung DPR/MPR RI sebagai protes kebijakan penaikan BBM oleh mereka. Beliau berkoar di tengah fakultas yang merupakan ruang terbuka hijau. Seluruh pasang mata mahasiswa pun tertuju kepada dirinya yang sedng berorasi mengumpulkan massa karena jam satu rombongan kampus kami sudah akan berangkat ke sana.
Aku dengar seluruh anggota BEM diwajibkan untuk ikut. Terpaksalah mereka yang mahasiswa semester lebih rendah dariku mengambil jatah libur kuliah apabila aksi ini bertepatan dengan jadwal kuliah. Menurutku, harusnya mereka tidak mewajibkan seluruh anggota untuk ikut karena pemaksaan itu sendiri tidak sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi yang sering mereka koarkan. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pun buka siapa-siapa untuk memberitahu.
Waktu berangkat pun tiba. Bus jatah untuk fakultas kami terpakir di muka fakultas. Para mahasiswa yang tak memiliki kendaraan, kini bisa menggunakan bus untuk menuju ke sana. Sebagian mahasiswa yang lain ternyata memilih untuk menaiki motor sembari membwa bendera-bendera perjuangan dan kain yang bertuliskan kritikan. Tidak sedikit dari mereka yang melukis wajah dengan warna merah-putih, selayaknya bendera nasional.
Satu telapak tangan menarik lenganku di tengah kerumunan mahasiswa yang memadati depan fakultas. Wanita itu ialah Mawar yang sedang menuntunku untuk menembus kerumunan. Aku mengikutinya hingga kami memasuki bus yang sudah sesak oleh mahasiswa. Ternyata, masih terdapat bagian bangku yang kosong dan Mawar pun menuntunku untuk duduk di sana.
“Gue bisa bawa motor,” ucapku sembari meliriknya.
“Vespa lo sering mogok. Kalau mogok di tengah iring-iringan, bagaimana?” tanya Mawar tanpa melihat.
“Ya ... kan gue bisa ikut sama temen yang lain. Boncengan dari sini.”
Ia menggeleng. “Enggak ....”
“Kenapa?”
“Lindungi gue.”
....
***