Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 44 (S3)



28 Februari 2022


Pernahkah kalian berpikir jika sebenarnya kita tidak menua? Yang menua hanyalah perspektif. Jiwa dan tubuh merupakan berada di divisi yang berbeda. Dualisme ini mungkin saling berhubungan, meskipun berjalan dengan perannya masing-masing. Kita pun berjalan di atas waktu yang merupakan tugasnya. Aku berada di sana, berputar-putar mencari jati diri yang selama ini hilang. Seakan tenggelam pada sibuknya dunia, lalu berputar seperti orang bingung.


Tiga tahun berlalu semenjak aku memutuskan untuk tinggal di Kota Pekanbaru yang setiap tahun tertimpa musim asap akibat kebakaran hutan. Aku tinggal di provinsi pemegang rekor gubernur tiga kali berturut-turut menggadaikan mukanya ke KPK akibat korupsi. Siapa yang tidak terbuai oleh ratusan hektar sawit di sini. Sekelumit permasalahan sosial di kota ini sekiranya hampir sama dengan Jakarta. Banjir di mana-mana, macet, buzzer politik di media sosial yang tiada henti menyerang, serta intoleran manusia terhadap keterbukaan agama. Sayangnya di sini tidak ada Monas untuk berkumpul dan rata-rata gubernurnya masih orang Melayu, bukan chinesee seperti Borneo dan Mawar.


Aku tidak heran, masih tinggal di negeri ini. Kita punya watak yang sama meskipun bersuku yang berbeda. Bukankah kita berbeda, tapi tetap satu juga? Mungkin pepatah itu punya konotasi negatif juga jika dilihat dari perspektif yang berbeda.


Kita baru saja keluar dari jeruji imaji yang memenjarakan pikiran dan tubuh. Rubrik berita dipenuhi oleh kasus pandemi dengan kebijakan yang tidak pernah konsisten. Jatuh bangun usaha masyrakat untuk membangun ekonomi semakin diperburuk dengan kebijakan-kebijakan yang semakin rumit saja. Aku cukup pusing sebagai direksi di perusahaan tranportasi air peninggalan Bunda. Sebagai pemilik saham mayoritas tentu saja mendapatkan dampak paling signifikan.


Ya … tahun ini Razel tamat di jurusan kelautan. Ia berkuliah di Universitas Riau. Aku ikut di wisudanya yang dihadiri oleh keluarga inti kami. Kakek Syarif begitu bangga memiliki satu-satunya anak yang sarjana, serta langsung bekerja tanpa sempat menganggur. Aku ingin mengundang Nisa, anak Pak Salman dari Bengkulu. Namun sayang kabarnya ia bertunangan dengan seorang PNS guru di sana. Harapan Razel pun pupus, padahal ia mengigaukan nama Nisa semenjak mereka saling mengikuti di media sosial.


Borneo sempat aku tawari untuk bekerja di perusahaan. Setelah mendapatkan lisensi nakhoda miliknya, ia bekerja setahun sebagai kapten di kapal ferry untuk penyeberangan ke Pulau Bengkalis. Namun, ia terlalu liar untuk pekerjaan yang monoton. Ia kembali menagih janji padaku untuk membuatkan sebuah gallery. Ia memulai bisnis seninya sendiri. Aku sengaja membangunkannya ruko kecil di depan rumah agar sekalian bisa aku awasi. Pernah sekali aku dapati dirinya sedang menginap bersama seorang wanita ketika ia memutuskan untuk menyewa kosan, Semenjak ia tinggal  bersamaku lagi, ia tidak berani melakukan itu lagi.


Aku rindu dengan Semara. Ia berada di Jakarta sebagai partner Alfian untuk mengelola yayasan kami. Sebagai organisasi non profit, tentu saja penghasilannya tidak cukup untuk hidup di Ibu Kota. Sama seperti Borneo, ia menagih diriku untuk menjadikannya sebagai penata rias. Tidak tanggung-tanggung, ia aku ikutkan pelatihan tata rias dengan orang yang profesional di bidangnya. Berkat itu, Semara sekarang memulai bisnis tata riasnya sebagai make up artist profesional setelah magang di salah satu salon terkenal di Jakarta.


Benar kata Kakek Kumbang, aku tidak bisa menjamin masa depan setiap orang yang ada di dekatku. Aku hanya bisa mengusahakannya dengan jalan yang terbaik sebagai timbal balik loyalitas selama ini.


Razel duduk denganku berdua di jam makan siang. Ia tampak menggunakan masker yang sama sekali tidak ia lepas.


“Kita cuma berdua, kenapa lo masih pakai masker.” Aku melepaskan maskernya secara paksa.


“Kak, bukan masalah orang bersin atau apa. Kenapa tiap hari Kakak lebih milih makan sama gue? Pergi tuh sama direksi yang lain makan di restoran. Kakak malah makan pecel lele sama gue. Kalau orang kantor ngelihat gue gimana? Masa anak baru duduk sama Direktur Utama.”


Aku merapikan blus pada bagian dada. Semenjak jadi orang kantoran, aku bertambah gemuk. Ukuran dadaku semakin menjempit blus yang dua tahun lalu aku beli.


“Lo ini macam baru setahun kenal sama gue!” Aku menepuk wajahnya dengan masker. “Gue semakin bosan dengan semua ini, Razel. Apa lo juga ngerasain?”


Ia terdiam sejenak. “Gue ngerasa malah makin betah di sini.”


“Mungkin lo masih banyak waktu luang buat ngelakuin ini itu. Sedangkan gue, ah … gue rindu kebebasan. Gue rindu laut dan Kapal Leon.”


Ia menghela napas. Hampir tiga tahun kami menyenderkan Kapal Leon di Jakarta, lalu tidak pernah lagi menikmati seberapa indahnya langit laut.


“Setelah gue dapat lisensi berlayar, pekerjakan gue di kapal,” pinta Razel.


“Bekerja dulu setahun di kantor, baru lo pindah dinas.” Ia melipat tanganku. “Entahlah Razel, gue pengen berhenti dari posisi Direktur Utama. Harapan Bunda udah gue penuhi, selama ini gue mengabdi ke perusahaannya sekalian belajar bagaimana jadi seorang pengusaha. Tapi jujur, ini bukan habitat asli gue.”


“Gue pengen pakai hoodie ke mana-mana, bukan pakaian rapi seperti ini.” Aku mulai gerah dengan cuaca panas kota serta makanan yang tidak kunjung datang.


“Kembali ke Jakarta juga bukan pilihan yang baik buat saat ini. Tiga tahun Kakak bener-bener tanpa kabar, mereka pasti shock kalau Kakak kembali lagi.”


Kalimat itu memuatku merenung. Aku benar-benar menghapus namaku sendiri pada ingatan mereka. Sepucuk surat pun tidak pernah aku kirimkan, bahkan dengan Bang Ali yang rumahnya saja aku tahu di Pekanbaru ini. Aku kesepian, tidak jarang aku menangis dalam kesendirian. Ketiadaan teman-teman membuatku rindu pada mereka, tapi apalah daya jika semuanya sudah terjadi.


Perjalanan pulang aku diantar oleh Beni, anak jalanan yang dulu aku sering meminta jajan padaku. Ia menjadi supir pribadiku di sini setelah menolah belajar di sekolah yayasan. Tidak hanya dirinya yang aku bawa ke Pekanbaru. Ada Rodiyah untuk pekerjaan dapur dan Gilang sebagai security. Mereka adik-adikku, tidak tega rasanya meninggalkan mereka di Jakarta setelah memutuskan untuk tidak bersekolah. Namun, jangan harap mereka menolah pendidikan paket dariku.


“Kak, Kakak sering kelihatan sedih akhir-akhri ini.” Beni melihatku dari cermin depan.


“Semua orang pasti bersedih, pertanda kau masih hidup,” balasku.


“Rodiyah juga bilang kalau Kakak sering nangis. Bukannya lancang, sebenarnya Kakak ada masalah apa?” tanya Beni.


“Itu bukan urusanmu, Beni. Urusanmu, perhatikan suara mesin mobil van ini. Sepertinya udah mulai serak.”


Van merah muda yang menjadi saksi perjalanan kami masih bertahan hingga saat ini. Aku lebih suka berkeliling dengan van daripada mobil mewah kantor.


“Jika Kakak ga mau cerita sama kami, ceritalah dengan Bang Razel dan Bang Borneo. Walau kami bekerja buat Kakak, tapi kami menganggap kalau Kakak itu saudara kandung.”


Aku menepuk pundaknya. “Kakak baik-baik aja. Sekarang kamu pergi belikan makanan buat Borneo, pasti dia belum makan siang. Bilang ke dia sekalian, sampah di depan gallery silahkan dibuang. Atau aku yang memasukkannya ke dalam gallery.”


“Siap Kak, nanti aku sampaikan.”


Pintu van tertutup. Aku pergi ke dalam rumah Kak Reina yang sekarang kami tinggali berenam. Di hadapan cermin rias tergantung sebuah foto bersama, tatkala kami sedang berada di Manggar, tepatnya di Sekolah Laskar Pelangi. Aku berada di samping David yang tersenyum lebar. Tangannya merangkul diriku dengan mesra. Di samping kiri pria itu, berdiri wanita bermata sinis yang enggan melebarkan senyum. Dengan pakaian warna merah faforitnya, Mawar menatap lurus ke kamera.


Aku mengambil ponsel untuk mencari sepenggal nama. Ia mengangkat teleponku tanpa menunggu lama.


“Reina, sebulan lagi gue mengundurkan diri dari jajaran direksi. Tugas gue udah selesai. Gue bakalan tetap berkontribusi di perusahaan sebagai pemilik saham mayoritas. Sepersen pun enggak bakalan gue jual di bursa saham.”


“Kenapa?”


“Gue ada misi rahasia.”


***