
Apakah sebenarnya manusia semutlaknya bisa bebas?
Bagiku, tujuan manusia ialah kebebasan. Aku percaya jika manusia hidup berdampingan dan memiliki norma-norma tertentu untuk keteraturan, tetapi bagiku merupakan sebuah hal yang menyakitkan. Keteraturan telah mengorbankan hak dan keinginan individu untuk bergerak, dipaksa mengikuti sistem struktur kognisi masyarakat yang sebenarnya entah darimana awalnya berbumla. Tatkala aku ingin ke kiri, jalan berdosa bagi masyrakat yang berhaluan kanan. Tatkala aku ingin ke kanan, harus pula sebagaimana kebiasaan orang lain.
Memang, kehidupan pun harus memilik keteraturan. Aku tidak ingin juga ada tiba-tiba orang terbunuh di hadapan lalu setiap orang cuek tanpa ingin menolongnya. Jika kalian mengatakan rasa kepedulian seperti itu bagian dari norma masyarakat, atau pun memakai baju sopan itu juga bagian dari etika, aku tidak mengatakan hal yang seperti itu. Keteraturan tercipta dari hati nurani manusia. Hati nurani manusia tidak dibentuk oleh struktur kognisi masyarakat karena telah dianugerahkan Tuhan secara langsung.
Ya, mungkin aku akan digeruduk ormas putih tatkala mengatakan setiap agama sama saja. Atau, aku disomasi untuk minta maaf ketika menyatakan tanpa agama pun manusia tetap bisa menjadi manusia, aku akan dianggap anti agama oleh orang-orang cacat logika. Manusia memiliki insting alami untuk keteraturan. Ia tidak bisa melihat orang lain disakiti, terhakimi, atau pun menjadi objek diskriminasi walaupun sejak lahir ia tidak pernah belajar mengenai aturan-aturan teologi atau pun norma-norma masyrakat tertentu. Hanya saja, hal yang alamiah jika setiap manusia belajar semua hal tersebut, tidak bisa dipungkiri aku juga mempelajarinya tanpa dipaksa pun.
Menjadi bebas lama kelamaan akan ada di titik balik bahwasanya aku pun ternyata tidak akan pernah bebas secara mutlak. Hal tersebut merupakan suatu paradox yang sudah dipikirkan semenjak awal-awal aku mulai berpikir mengenai kehidupan. Jika aku berpikir kebebasan itu ialah tujuan, maka memiliki tujuan pun membuat manusia tidak akan pernah bebas. Manusia terkotak-kotakkan oleh tujuan tertentu hingga sadar jika ia ternyata selama ini diperbudak oleh tujuan. Keinginan menjadi bebas membawaku semakin sadar jika selama ini aku tidak pernah berada di kebebasan itu sendiri.
Satu cara untuk menjadi bebas ialah mati … titik akhir dari perjalanan manusia yang bertujuan demi kebebasan.
Hidup memanglah rumit, kawan. Jika tidak rumit, apa salahnya Tuhan memasukkan hambanya langsung ke dalam surga tanpa pernah dilahirkan ke dalam dunia. Untuk mempermulus kerumitan itu, kita hanya butuh menjalaninya saja. Mungkin air selama ini mengajarkan kita bagaimana cara untuk bergerak, tanpa menolak arah sesuai cara alamiahnya.
Aku memandangi wajah Borneo yang sama sekali tidak aku lihat seperti Etnis Tionghoa pada umumnya. Ia keturunan dari marga Tan, seharusnya kulitnya putih seperti koko-koko konter hape. Namun, kulitnya gelap, tidak halus sedikit pun. Hanya saja, matanya sipit dan berwarna cokelat. Hidungnya bengkok seperti lompatan lumba-lumba, cocok dengan rambut panjang seleher yang mempertegas wajah maskulinnya.
“Aku berbeda tujuan dengan bapakku sendiri ….”
Kalimatnya mengingatkanku akan kisah dari diriku sendiri.
“Oh ya? Bagaimana ceritnya?”
“Bapak itu pengusaha sawit dan retail di Kalimantan sedangkan ibuku itu seorang guru kesenian di sekolah negeri. Sejak kecil aku diajarkan main musik, melukis, membuat kerajinan tanah liat, dan hal-hal seni lainnya. Mungkin itu yang bikin aku tumbuh enggak seperti Bapak yang suka berdagang, masa orang Cina engggak punya toko, kan biasanya begitu.”
“Lalu?”
“Umur delapan belas tahun aku tamat SMA, lulus diam-diam di jurusan kesenian buat Bapak marah besar. Dia pikir anaknya harus jadi penerus bisnis keluarga, setidaknya ikut campur di sana. Seluruh fasilitasku dipotong oleh Bapak, lalu aku kabur dari rumah. Aku jual aset pribadi yang masih aku punya untuk beli rumah kayu di dermaga nelayan Pontianak.”
“Kau mungkin kurang lebih seperti aku, Borneo,” balasku.
“Bahkan, Kakek Kumbang pernah bilang kalau aku mirip dengan cucunya waktu pertama-tama aku di wawancara. Ternyata itu kau.” Ia mengangguk sembari tersenyum. “Ya … semua asetku dikorbankan. Enggak ada waktu lagi untuk seni karena aku harus hidup sendiri. Kita semua butuh makan daripada melukis, kan? Hidup di komunitas nelayan bikin aku tertarik bagaimana cara mendapatkan uang. Aku ikut cari kru nelayan, kuli angkut barang, hingga aku temu dengan kakekkmu.”
“Kau punya selera yang bagus dengan laut, aku rasa.”
“Iya benar, aku berpikir kalau laut menyimpan semuanya. Di sana aku belajar untuk bertahan hidup. Tapi, lama kelamaan ternyata Bapak mencariku karena aku juga punya teman sebagai informan. Mendengar Kakek Kumbang mencari awak kapal waktu itu, aku langsung mendaftar. Itu semua biar aku bisa kabur lebih jauh lagi. Tapi, aku malah jatuh cinta untuk terus di dalam kapal, sampai akhirnya aku diceburkan ke laut.”
“Hahah … itu gara-gara kau suka main wanita.” Aku tertawa keras ketika mendengar akhir kalimatnya. “Borneo, hidup sebagai penentang dunia itu menyulitkan bukan? Aku juga sama, aku membenci papaku sendiri. Dia suka main wanita, gila harta, dan gila kehormatan. Sok-sokan idealis demi bangsa dan negara, sebenarnya dia cuma peduli dengan urusan kantong.”
“Memang harus ada yang dikorbankan. Kita enggak bisa memilih.”
Borneo menghabiskan batang rokoknya, lalu membuangnya di atas asbak. Terdengar suara desah seruput kopi ala bapak-bapak yang membuatku tertawa kecil.
“Kau mau melukis lagi atau bermain musik?”
“Pasti aku mau, tapi mana sempat.”
Aku menepuk lengannya. “Selalu ada kesempatan di dalam kemauan. Sesampainya di Bengkulu, kalian cari semua yang kalian butuhkan karena aku akan pergi setelah itu.”
“Maksudmu?”
“Aku mau ke Bali untuk menjumpai Erasmus Kompeni.”
“Apa? Kau kira Bali itu cuma sejarak sepuluh kilometer sampai kau bilang semudah itu?” tanya Borneo dengan heran.
Aku berdiri sembari membawa plastik yang berisikan sampah kami. Tidak elok membuangnya ke dalam laut.
“Selalu ada kesempatan di dalam kemauan.” Aku tersenyum padanya. “Semakin lama kau di dekat aku, nanti kau juga ngerti sendiri. Razel itu sudah lepas tangan, jadi enggak heran kalau aku berbuat hal aneh.”
Aktivitas hari ini ialah memberi makanan dan bahan bakar minyak untuk kapal selama perjalanan nanti, mengingat kami belum sampai di setengah perjalanan, masih panjang lagi. Razel tidur sepanjang hari tanpa ingin aku bangunkan, ia hanya terlihat bangun tatkala ingin buang air saja, merokok sebentar, lalu tidur lagi. Hanya aku dan Borneo yang ke pasar atau pun ke swalayan untuk berbelanja keperluan. Beruntung Borneo mempunya kenalan penimbun bahan bakar minyak di kawasan ini sehingga berjerigen-jerigen besar bahan bakar minyak bisa diangkut menuju kapal. Aku sama sekali tidak lelah karena hanya Borneo dan anak buah rekannya itu yang mengangkatkan ke kapal.
Malam harinya kami berencana melanjutkan perjalanan. Aku menyalami Borneo yang akan melakukan perjalanan darat.
“Hati-hati di jalan, jangan singgah ke warung remang-remang,” ucapku.
“Siapa juga yang mau ke sana.”
Wajah kantuk Razel masih terlihat. Ia memandangi Borneo dengan mata sayu.
“Borneo, kau udah tahu kan dermaga itu? Kami akan berada di sana nanti. Ada teman bapakku yang menyambut kita di sana,” ucap Borneo.
“Iya aku tahu dermaga itu. Nanti aku bilang kalau kalian masih di perjalanan.”
“Tapi, kalau kau mau main-main di kota dulu, ya silahkan. Kau kan udah aku kasih uang? Main ke mall pun enggak apa-apa karena kami masih lama banget sampai di sana.”
“Ide yang bagus, aku terima sarannya hehehe ….” Wajah Borneo berubah ceria.
“Jangan sampai van itu ditilang polisi. Kalau sampai ditahan, alamat kau yang aku tinggalkan di sana,” ancamku.
“Aman … semua terkendali jika punya uang, kan?”
“Bukan itu bodoh! Urusan STNK itu beda, kalau enggak ada, kau dianggap maling mobil!” jawabku.
Selama belasan jam kami berada di laut. Pukul satu siang hari esok aku meminta Razel untuk menepikan kapal di kawasan Seluma karena aku melihat dermaga dari teropong. Tentu saja kami butuh istirahat untuk memulihkan konsentrasi. Malam harinya kami kembali melanjutkan perjalanan hingga tepat ketika subuh, kami tiba di dermaga kawasan linau dengan menepikan kapal dan mengikatnya pada penyangga. Tidak pula kami langsung menuju rumah rekan Kakek Syarif, melainkan kembali tidur hingga matahari sudah tampak berada di langit.
Suara langkah orang di kayu kapal membuatku terbangun.Tatkala aku bangkit, Razel masih terkulai tidur di ranjang samping. Aku segera menyiapkan pistol di samping tubuhku, lalu melangkah perlahan ke pintu lorong.
“INI AKU!”
Aku menghela napas tatkala menyadari jika Borneo yang telah masuk. Ia tampak panik karena aku todongkan senjata api.
“Kau ketuk dulu kenapa? Aku jadi panik kalau ada maling yang masuk.”
Tangannya meletakkan lilin di atas meja. Hanya itu penerangan selama di dalam kabin kapal.
“Seharusnya kau sediakan lampu di dalam kabin. Jadi, kita enggak pakai lilin. Nanti takutnya malah kebakar.”
“Nanti … kita beli itu. Aku juga punya rencana yang sama.”
Borneo tampak menepuk-nepuk pipi Razel. Sama sekali anak itu tidak terbangun meskipun sudah diganggu. Memang, Razel kuat sekali begadang. Namun, jika sudah yang namanya tidur, badai pun tidak pernah ia pedulikan.
“Kau tembak pun pistol di sini, dia enggak akan bangun,” ucapku sembari memakai jaket. Udara pagi ini terasa dingin.
“Kau jadi pergi ke Bali?” tanya Borneo.
Aku mengangguk. “Iya, aku pergi besok. Aku memesan tiket online.”
“Kau ternyata nyimpan handphone?!”
Tentu saja ia kesal karena ponselnya sudah aku ceburkan ke dalam laut.
“Itu punya Razel, walaupun aku yang membelikannya. Ya … cuma buat jaga-jaga kalau lagi darurat. Terkadang kita butuh hape, kan?”
Bersusah payah aku membangunkan Razel. Kakinya aku tusuk dengan lidi, ia malah menendangku. Borneo malah kena dorong tatkala mengangkatnya agar berdiri. Terpaksa aku guyur dengan segelas air putih hingga wajahnya basah kuyup. Razel terbangun dengan wajah marah padam, tidak dapat berkata apa-apa, kecuali menatap kami berdua dengan datar. Setelah itu, kami bersiap-siap untuk pergi menuju rumah rekan Kakek Syarif tersebut.
“Jadi, siapa teman bapak lo itu, Razel?” tanyaku tatkala kami baru saja keluar dari kawasan dermaga.
“Nama beliau itu Pak Salman. Pak Salman pernah jadi awak kapal bapakku waktu masih dia berlayar pakai Kapal Leon.”
“Emangnya kau tahu mukanya gimana?” Borneo menoleh padanya.
“Tentu aja aku tahu. Pak Salman pernah berkunjung ke rumak kok. Kata Bapak, rumahnya itu di belakang toko pancing. Nah, toko pancing itu juga punya dia. Maklum, dia memang suka mancing sama bapak di laut.”
“Oh gitu ….” Aku melihat ke sekitar, tidak ada tampak toko pancing yang dimaksud. Yang ada hanya warung kopi dan warung kelontong biasa. “Di sini enggak ada toko pancing.”
“Bertanyalah sebelum disesatkan ….”
Bunyi pepatah yang salah, tetapi aku paham dengan maksudnya. Kami bertanya dengan warga sekitar dan akhirnya dituntun oleh seorang bocah memakai sepeda roda tiga menuju toko pancing tersebut. Berupah uang lima ribu rupiah, semoga dia bisa beli eskrim dan tidak kena marah orangtuanya karena bisa sakit tenggorokan. Di dalam toko pancing tersebut ada seorang pemuda yang merupakan pegawai dari Pak Salman. Ia memberitahu kami jika Pak Salman berada di rumahnya sekarang.
Terdapat rumah dua tingkat yang menjadi kediamannya. Tanpa meminta izin, Borneo langsung membuka gerbang pagar yang di dalamnya terparkir mobil pick up. Aku mendorong Razel ke depan untuk segera mengetuk pintu rumah. Tidak mungkin aku juga yang mengetuknya, padahal Razel yang lebih dulu mengenal Pak Salman.
Tidak butuh lama kami menungggu jawaban dari ketukan pintu. Kami disambut oleh seorang gadis yang mungkin hampir seumuran dengan Razel. Gadis itu tersenyum, malah Razel yang aku lihat pucat. Mungkin saja karena gadis itu memakai baju rumahan tipis sehingga Razel tidak mampu melihatnya lama-lama.
“Bicara, bodoh!” bisikku pelan dengan penuh tekanan.
“Ini … hmm … Pak Salman ada?” tanya Razel.
“Ada … mohon maaf, Kakak sama Abang ada perlu apa ya?”
“Mau ketemu sama Bapak. Bilang sama Bapak kalau ada tamu dari Jakarta, anaknya Pak Syarif Harmonika.”
Wajahnya berubah heran kenapa rumahnya didatangi oleh tamu jauh. Ia pamit sebentar untuk memanggil Pak Salman. Tatkala Pak Salman datang, ia diam sejenak memerhatikan Razel dari ujung kaki hingga ujung rambut, lalu memerhatikan aku dan Borneo yang ada di belakangnya. Wajahnya sangat mirip dengan gadis yang sudah bisa aku tebak merupakan anaknya sendiri.
“Razel!” Pak Salman melebarkan tangannya. “Sudah hampir dua bulan aku tunggu kalian. Kenapa baru sekarang datangnya?”
“Hehehe … kami singgah di Teluk Ratai dulu dan tinggal di sana sebelumnya.” Razel menoleh ke belakang. “Ini kenalkan … ada Reira dan Borneo.”
“Assalamualaikum, Pak,” ucapku dengan hormat.
“Tunggu dulu … Reira? Apa Bapak enggak salah dengar?” tanya Pak Salman.
“Iya dia Reira … Kapal Leon sekarang milik Reira sekarang.”
“Akhirnya aku bertemu dengan pemilik Kapal Leon yang sebenarnya. Ayo masuk ….” Ia memegangi kedua pundakku. Lalu, ia menoleh lagi kepada Razel. “Masa kau enggak kenal sama Nisa? Dia dulu pernah ketemu dengan kau di rumah?”
Razel mengingat-ingat kembali. Tidak ada tersimpulkan jika ia mengingat gadis itu. “Entahlah Pak, waktu itu aku masih SD. Udah lama banget.”
“Hahah … dulu kau malu-malu ketemu dengan Nisa.”
Dalam hatiku berkata, sekarang pun ia masih malu-malu.
***