
EPISODE 144 (S2)
Inilah mungkin aku merasa di mana aku harus lebih melangkah jauh dari mereka. Ketertinggalan membuatku gila sendiri, belum lagi teman-teman satu angkatan sudah memamerkan kemeseraan mereka selesai melakukan sebuah sidang. Aku tetap berkutat di depan meja kantin yang kotor dan beraromakan kopi tumpah. Tanganku masih bergerak di atas laptop, padahal nanti kami harus pergi ke sebuah perjalan dengan jarak yang jauh. Tidak aku pedulikan, pagi tadi aku harus bertemu dengan dosen bimbingan. Ada banyak yang harus aku diskusikan dengannya.
Mataku terkantuk setelah sepiring nasi ayam makan siang di jam sebelas siang memenuhi perutku. Datang seorang wanita berambut tergerai berjalan menghampiri meja. Lenggak kakinya dilirik oleh pria-pria yang berada di kantin. Terlalu kecil matanya untuk menatapku, tak selebar pengetahuan yang acap kali ia ajarkan padaku. Bergelimang senyum tatkala sampai, menyambutku yang tengah terkantuk.
Mawar mengetuk mejaku. Riasnya cemerlang di bagian pipi, tak seperti biasa ketika pergi ke kampus setiap hari.
“Perlukah perjalanan ini berdandan?” sindirku.
“Lo cowok, mana ngerti. Ayo naik ke mobil cepet. Kak Reina ngantarin kita ke bandara.” Ia menutup laptop-ku perlahan. “Lo memang ya, masih sempetnya ngerjain proposal.”
“Lo udah lulus, mana ngerti,” balasku seperti kalimatnya. “Candra udah dijemput?”
Ia mengangguk. “Udah, tinggal lo aja yang belum masuk. Btw, mana koper?”
Sama sekali tidak ada koper pakaian di sekitarku, hanya ada tas laptop dan sejumlah buku yang turut serta aku bawa.
“Ada di Gedung Mahasiswa. Soalnya tadi ada latihan tarian klasik di sanggar seni kampus. Gue baru aja dari sana.”
Tak perlu aku masukkan laptop itu ke dalam tas, ia sudah membantuku terlebih dahulu. Aku hanya tinggal membayar makan siang dan kopi yang tadi aku pesan. Mawar malah ingin membawanya ke mobil, tetapi aku larang. Sudah seperti kenek travel yang menunggu di simpang jalan lintas pulau. Setelah membayar, barulah kami melangkah bersama menuju mobil Reira yang ada di muka kantin.
Sontak aku terheran melihat Razel tengah bersandar di kap depan mobil. Teman merokoknya adalah Candra. Sementara Kak Reina dan Reira sedang ada di depan mobil. Mobil yang aku tampak bukanlah mobil sedan hitam milik Reira, tetapi mobil mewah pribadi Pak Bernardo. Plat nomornya merupakan angka tungal satu digit. Tidak terbayang aku membayar pajaknya.
“Razel ikut?” tanyaku pada mereka.
Jempol Razel mengarah padaku. “Iya, dong. Gue mana mau ditinggal Kak Reira. Bapak juga bosan ngelihat gue di rumah terus. Melaut jarang karena cuaca buruk.”
“Semuanya aman, kan?” Candra menatap diriku.
“Iya ... rokok jangan lupa tinggal,” balasku.
“Kita beli kalau sampai di sana aja.”
Seperti perjanjian antara aku dan Candra, aku sudah mentransfer sejumlah biaya transport kepada Reira. Reiralah yang mengurusi semua itu. Anak itu setuju dengan pertimbangan ini, ia paham bahwasanya kami pun ingin ikut dengan tidak membebani dirinya, meskipun Candra tetap menjadi tanggunganku. Aku tak ingin meninggalkan Candra, ia harus ikut di dalam perjalanan ini. Petualangan kali ini pasti seru dan entah apa momen-momen yang akan kami pijaki bersama Reira. Masing-masing dari kami sama sekali tidak tahu tempat itu, mendengar namanya pun tidak. Namun, Reira akan pasti punya cara untuk mencari keseruan yang ditunjukkan kepada kami.
Dari Bandara Soekarno-Hatta, kami terbang menuju Sumatera bagian tengah. Perjalanan singkat karena lewat udara. Jikalau kami menggunakan perjalanan darat, tentu akan sampai berhari-hari. Langit Provinsi Riau berbayang dinaungi oleh awan. Terlihat sedikit putih berkat kabut tipis dari pembakaran hutan yang selalu kami lihat di berita setiap tahun. Keindahan hutan hujan dan sungai meliak-liuk menjadi daya tarik tersendiri ketika mengudara. Sampailah kami di Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau. Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi persinggahan kami selanjutnya.
Sakit punggungku ketika lebih dari satu setengah jam mengudara. Setelah mengambil barang dan pemeriksaan, melangkah kami menuju parkiran. Entah siapa yang akan menjemput kami, tidak mungkin Bang Ali yang tengah bersiap nikah di sana.
Udara yang aku hirup terasa berbeda dengan biasanya di Ibu Kota. Berbau asap tipis bakaran hutan gambut. Entahlah, mungkin sekarang sedang musim-musimnya para perusahaan kapitalis membuka lahan baru. Terduduk aku di batas parkiran dengan kepala pusing akibat sedikit mabuk udara.
Sementara itu, Candra dan Razel masih segar-segar saja. Terlihat mereka saling mengejar satu sama lain sehabis bercanda.
Reira sedang menelpon di depan sebuah mobil. Sementara itu, aku duduk bersampingan dengan Mawar. Ia kelihatan lelah. Bibirnya basah sehabis minum teh botolan.
“Udah pernah ke sini?” tanyaku.
Mawar menggeleng. “Enggak ... gue baru pertama kali. Apa Pekanbaru sepanas ini?”
Aku menggeser sedikit. “Itu karena lo langsung kena matahari. Geser dikit.”
Dirinya mengiyakan permintaanku. Ia bergeser untuk berteduh dari sengatan matahari sore.
“Reira bilang kita enggak ada jemputan. Ke lokasi kampungnya Bang Ali kita harus menumpang.”
Berdiri aku menghampiri Reira yang berbincang di sambungan telepon. Anggukannya berkali-kali aku lihat. Tepat ketika aku di belakangnya, Reira mengucapkan salam penutup. Berbalik anak itu menghadapku.
“Ayo kita naik taksi ke lokasi Jundul.”
Aku memerengkan kepala. Sama sekali aku tidak pernah ke sini dan tidak tahu kawasan apa itu. “Gue enggak tahu di mana itu. Yang paling penting, kita bakalan naik apa?”
“Yang paling penting saat ini kita naik taksi. Di sana ada kenalan kakek gue. Dia mantan awak kapal kakek, terus dihubungin sama Kakek Syarif kalau kita bakalan numpang. Kebetulan kita searah.”
“Yaudah, deh. Gue pengen baring-baring di mobil dengan nyaman.”
“Hisap rokok dulu, nyantai sebentar.” Ia menepuk pundakku.
Tidak butuh lama mencari taksi karena taksi berjejer untuk tinggal dipilih. Taksi pilihan pun datang. Sempat ia menolak karena jumlah yang terlalu banyak. Namun, Reira selalu punya cara untuk merayu seseorang. Apa lagi kalau bukan dirayu dengan sejumlah uang. Tentu saja taksi tersebut mau untuk mengantar kami ke sana. Ingin memesan taksi online pun tidak bisa karena ada peraturan yang melarang taksi online memasuki kawasan bandara.
Barang dimasukkan ke bagasi taksi. Bergegas kami berhimpit di bangku belakang. Mawar diminta oleh Reira untuk duduk di bangku depan.
“Dek, kita mau ke mana?” tanya supir taksi.
Reira memperlihatkan layar handphone-nya. Tampak supir taksi itu memicing menatapnya. Matanya melebar setelah itu.
“Yakin ke sini?” tanya supir taksi tersebut.
Reira tegas mengangguk. “Jundul tempatnya, Bang. Kami mana tahu, kami bukan orang sini.”
“Yaudah, naik aja dulu. Kita ke sana.”
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, kami sampai di sebuah kawasan pemukiman mengengah bawah yang terletak tak jauh dari pusat kota. Sempat takjub diriku dengan pemandangan kota yang baru aku singgahi ini. Pak Supir pun menceritakan pada kami tentang landmark Kota Pekanbaru yang selalu banjir dan berkabut asap setiap tahun.
“Kita sampai.” Ia menarik rem tangan.
Pemukiman di sini terlihat padat satu sama lain. Terdengar musik EDM angkot dengan beat yang kencang dari salah satu rumah kecil di sini. Hiasan lampu kelap-kelip menjadi pemandangan sendiri di beberapa rumah.
“Kalian mau ketemu siapa di sini?” tanya Pak Supir setelah menerima sejumlah uang dari Reira.
“Ketemu kenalan kami, Pak. Katanya dia singgah di sini,” balas Reira.
“Kamu yakin?” tanya Pak Supir kembali.
Reira mengangguk. “Dia kenalan kakek saya.”
Menghela napas sekali Pak Supir di hadapan kami. “Yaudah, deh. Mari kita angkat barang kalian. Tapi, sebelum itu ... kalian tahu tempat apa ini?”
Kami sama-sama menggeleng.
“Tempat apa?” tanya Reira.
Tangan Pak Supir membuka pintunya. Tersenyum bibirnya setengah. “Selamat datang di lokalisasi prostisusi kota ini.”
Aku menoleh ke kanan. Menelan ludah diriku melihat seorang pria baru saja keluar bersama dengan wanita berpakaian terbuka dengan belah dada yang lebar.
***