Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 52 (S3)



“Kau di sini aja, biar aku yang ke sana,” ucap Borneo padaku.


David dan Mawar duduk di sisi kanan café. Mawar tetap berusaha mengajak David untuk berbicara, tetapi senandung tatap mata pria itu terus tertuju kepadaku. Kami bertemu dalam satu waktu, saling memikirkan satu sama lain. Borneo tiba dengan senyum lebarnya, lalu Mawar tampak menyebutkan pesanan yang mereka inginkan.


“Apa dia nyebut nama aku?” tanyaku pada Borneo.


“Kau berharap disebut sama mereka?” tanya balik Borneo. Ia menyentuh peralatan kopi. “Tapi dari tatapan David, dia memang pengen ketemu.”


“Siapkan pesanan, biar gue yang antar ke sana.”


Aku berjalan ke belakang untuk menyaksikan koki memasak makanan untuk mereka. Daripada aku berdiri tanpa arah di depan, lebih baik aku menyembunyikan diri di sini. Setelah seluruh pesanan mereka siap, aku berjalan ke sana untuk mengantarkannya. Sungguh tidak sanggup aku tersenyum di hadapan sepasang kekasih tersebut. Pria itu merupakan mantanku, lalu wanitanya ialah temanku sendiri. Lima tahun lebih kami tidak bertemu, lalu aku datang tiba-tiba seakan tanpa dosa.


Langkahku terhenti tatkala ingin balik ke meja barista.


“Duduklah … begini lo nyambut teman-teman lo?” tanya David.


Baiklah … aku menurutii apa perkataannya kali ini. Sejak tamparan tangannya yang terakhir kali, rasanya malas saja berbincang dengannya. Mungkin, aku lebih berselera berbicara mengenai Mawar. Ia turut andil dalam memajukan yayasan. Awal-awal berdirinya yayasanku berasal dari jasa Alfian dan Mawar.


David … kini ia benar-benar di hadapanku. Rambutnya tergerai panjang, sebagaimana Borneo sewaktu aku temukan pertama kali. Ia seperti Jhon Lennon. Matanya pun sayu dengan hitam samar-samar di bagian bawah. Aku rasa David lebih kurus daripada terakhir kali aku bertemu. Tulang pipinya tampak menonjol, lengannya saja seperti orang kurang makan. Bersanding dengan Mawar, sungguh tidak mencocokkan.


Aku menemukan David yang kacau di sini. Ia tidak sesegar dulu, padahal secara finansial ia pasti berkali-kali lipat lebih baik. Aku tidak tahu bagaimana mental dirinya sekarang. Bukan tugasku untuk memeriksa karena ada seorang Psikolog di sini.


“Seseorang masuk ke rumah gue, makan mie instan dan dua buah telur ceplok. Gue sama sekali enggak pernah makan mie itu selama dua minggu. Cuma satu orang yang berani masuk ke rumah orang lain tanpa izin, itu elo.”


Sudah pasti ia sadar dengan hal tersebut. Seharusnya aku balik lagi untuk membelikan makanan yang hilang agar ia tidak curiga.


“Hmmm … Borneo lapar. Jadi gue kasih dia makanan,” kilahku padanya.


“Borneo, siapa itu?” tanya Mawar.


Aku menunjuk ke belakang. “Dia … teman gue, awak kapal gue.”


“Jangan berbual tentang kapal di sini Reira. Lo itu pembohong,” ucap David.


Terlihat Mawar yang mencubit David akibat ucapannya, terkesan memancing urat leher.


“Terserah sih kalau lo enggak mau percaya,” ucapku dengan pelan.


“Lo ke mana selama ini, Reira?” tanya Mawar.


“Kalian enggak perlu tahu gue ke mana, yang pasti gue nyari Kakek Kumbang.”


Tiba-tiba saja David menepuk meja. “Kakek Kumbang udah mati!”


“David dengar … gue enggak peduli lo percaya atau enggak, kalau lo bersikap seperti ini di café gue, gue bersumpah Borneo bikin lebam yang lebih parah daripada sebelumnya. Dan ….” Kalimatnya benar-benar membuat tanganku menarik kerahnya. Aku dekatkan kepalaku padanya, lalu mengeluarkan pistol revolver milikku padanya. “Kalau ada pelanggan yang kabur karena sikap lo ini, percayalah gue pernah menembak seseorang sebelumnya.”


“Udah … udah … malu dilihatin orang,” ucap Mawar.


Aku menoleh pada Mawar. “Kakek Kumbang masih hidup. Gue mematahkan kalimat lo yang terakhir kali. Gue ketemu sama dia dengan mata gue sendiri dan meluk dia dengan tangan gue sendiri.”


“Kenapa Rei … lo enggak balik lagi setelah lo ketemu dengan Kakek Kumbang?”


Munafik, itulah kata yang paling pertama ingin aku ucapkan pada Mawar. Ia sudah pasti tidak menginginkan kehadiranku, cepat atau lambat. Di saat aku melepas David untuknya, ia tidak mungkin semudah itu menerima kehadiranku kembali. Aku tetap hama tanaman Mawar yang membuat kelopaknya layu.


“Pertama, gue punya dua anak yang harus diasuh, pertama Razel dan kedua Borneo. Mereka bekerja untuk gue di perusahaan yang gue pimpin. Lalu, gue ada di masa-masa enggak pengen jauh dari Kakek Kumbang.”


“Gara-gara lo hidup gue hancur di awal-awal. Bahkan setelah kasus kalian mereda, Nauren tetap mengincar gue. Kami semua mencari lo ke mana-mana, tapi ternyata kami semua dibohongi. Lo bangsat memang,” ucap David.


“Kan gue udah pernah bilang, kalau lo di posisi gue, pasti bakal lo lakuin juga hal ini. Gue enggak punya pilihan karena kita berada di prinsipnya masing-masing.”


Mawar menggenggam tangan David. “Reira … untuk memperjelas semuanya dan enggak ada kesalahpahaman di antara kita. Gue pacaran dengan David.”


Aku melihat jelas tangan itu bersatu, sebagaimana yang diharapkan oleh Mawar bertahun-tahun lalu. Jemari kecil David mengelus telungkup tangan kekasihnya, di hadapan mantannya sendiri. Aku tidak tahu ini sebuah penjelasan atau sebuah penghinaan. Rasanya bercampur aduk dan tidak bisa aku ngerti.


“Oh ya? Congratulation … semoga langgeng. Gue masih jomblo, lebih banyak bergaul dengan kakek-kakek. Ada kakek Kumbang, Kakek Erasmus, Kakek Tarab, heheh …”


Tidak ada yang tertawa dengan candaanku. Mereka tetap saja dengan mata yang serius.


“Kami datang ke sini buat nyampaiin itu. Sekaligus menyapa teman lama yang kembali datang ke kota ini,” sambung David.


“Kita baik-baik aja kan Reira? Maksud gue, apa kita masih bisa sama-sama lagi?” tanya Mawar padaku.


“Bersama-sama itu sifat manusia paling dasar, mungkin suatu saat gue butuh kalian. Tapi … untuk berkumpul hura-hura, gue masih sibuk dengan pekerjaan gue.” Aku menoleh pada David. “Gue salud dengan buku lo, Kak Reina ngirimin gue waktu di tempat kerja sebelumnya. Harusnya gue dapat royalti atas nama gue sendiri.”


Sindiran itu berlaku padanya karena menyematkan namaku pada buku yang laku keras. Berkat buku tersebut, media sosial David banyak diikuti oleh para kaula muda. Jelas sekali itu merupakan kisahku, meskipun ia menganti namanya sama sekali.


“Harusnya gue mengganti nama lo, tetapi editor gue enggak mau. Dia lebih suka nama itu.”


“Captain Reira … judul singkat yang menarik Gue memang spektakuler bukan? Persoalan nama aja sampai orang setertarik itu. Lo beruntung pernah sama gue sebelumnya.”


Mata Mawar teralih oleh ucapan tersebut. Rasanya kalimat itu menusuk sekali. Ia pernah di bawah bayang-bayang diriku, mengemis cinta David yang sama sekali tidak ia dapati.


“Selamat datang kembali, Reira ….” Mawar menyentuh tanganku dengan lembut.


“Iya terima kasih … senang berjumpa lagi dengan sepasang kekasih yang serasi ini.”


Aku pun berbalik kembali ke meja barista. Mereka butuh ruang untuk berduaan.


***