Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 100 (S2)



EPISODE 100 (S2)


Jika kalian di mana momen paling menegangkanku selama aku hidup. Maka, aku dengan tegas mengatakan bahwasanya momen itu adalah saat ini. Tidak pernah aku merasa segugup dan seberdetak ini di dalam satu ruang dan satu waktu. Pikiranku tak bisa melarikan diri, apalagi tubuhku yang terperangkap di dalam momen. Bagaimana tidak, aku dengan jelas melihat bagian tubuh intim wanita tanpa sedikit pun jarak yang membatasi, tepat langsung di depan mataku yang telajang.


Bagian tubuh adalah sebuah keindahan. Tidak salah para seniman Yunani Kuno menampakkan bagian tubuh vitalnya dalam karya maha seni yang akan dikenang sepanjang masa. Lekukan tubuh pria yang kotak-kotak sering kita lihat dalam sosok patung-patung, begitu pula dewi-dewi yang menunjukkan bagian dada dengan sedikit menyingkap paha. Keindahan itu yang ingin ditunjukkan dalam seni pahatan patung. Tak bisa dinilai dengan harga.


Aku memandang Mawar begitu pula. Ia indah seperti awan fajar yang cerah menyingsing di langit timur. Lekukannya sejernih gunung-gunung yang memanjakan mata. Bulu-bulu halus di tengannya menambah keestetikan bagian dari seni itu sendiri. Barulah aku sadar, tidak ada nafsu di dalam seni. Jikalau aku orang yang kacau, sudah aku jamah tubuhnya itu, menyentuh bagian sensitif hingga terdengar suara kecil kenikmatan. Namun, aku bukanlah orang seperti itu.


“Apa maksudnya ini?” Aku memandangnya. “Apa lo enggak merasa malu?”


“Untuk apa? Kita hanya berdua. Dan lo enggak mungkin bilang ke orang lain.”


“Bukan itu, maksudnya ... gue enggak ngebicarain tentang merokok.” Aku mengangkat tanganku. “Hey, lihatlah lo lagi tanpa busana di hadapan seorang pria. Dan lo harus tahu, gue juga pria. Bisa jadi, gue hilang akal dan semua pun terjadi.”


“Berari lo ngeraguin diri lo sendiri kalau lo itu dapat dipercaya?” tanya Mawar balik.


Aku selalu kesal ketika pertanyaan dibalas dengan pertanyaan. Harusnya ia menjelaskan maksud yang sebenarnya, bukan bertanya balik. Sama dirinya dengan Reira.


“Oke, bertingkahlah semau lo.” Aku menyerahkan kotak rokokku. Aku berlepas diri sekarang, tidak peduli ia merokok atau tidak, melepas baju atau pergi sekalian dari sini.


“Gue ngasih rokok ini, bukan berarti gue ngajarin lo ngerokok. Lo yang minta dan gue kasih. Lo udah gede buat berpikir dan cukup bijak untuk ngerokok. Namun, gue tekankan lagi ... sebaiknya jangan ngerokok.”


“Tapi, lo ngerokok walaupun ngelarang orang ngerokok,” balasnya sembari menyambut kotak rokok dariku.


“Cukup, tingal hisap saja. Jangan ada perdebatan.”


Semakin ia berbicara, semakin sering aku melihat bagian badan atasnya yang terlihat titik kecil. Hal itu pula yang semakin membuat darahku berdesir. Bukan aku berhasrat menyentuh, kalau bisa aku lari dari sini. Namun, ini sungguh tidak biasa.


Jemarinya menarik ujung tembakau. “Bagaimana cara mengisapnya?”


“Cobalah sendiri, gue enggak bakalan ngajarin.”


“Baiklah ....”


Ia menyelipkan rokok itu di antara bibirnya. Lalu, memantik api dan menyulutnya tepat di ujung. Aku lihat dengan seksama anak itu menghisap rokok tanpa ragu. Sungguh aneh jika aku lihat seorang wanita menyulut tembakau. Aku memang sering melihat wanita rokok, terutama teman-teman wanitaku yang memiliki pergaulan yang luas. Namun, aku tidak pernah melihat wanita sejenis Mawar yang frontal ingin melakukannya.


Asap menyembur di mulut Mawar. Wajahnya kecut menghindari asap yang ia keluarkan sendiri. Sebagai pemula, ia mana tahu cara benar untuk menikmati sebatang tembakau. Biasanya, para perokok akan menarik asap itu ke paru-parunya setelah dihisap di dalam mulut, barulah dihembuskan perlahan ke luar. Di sana titik nikmat yang membuat pikiran menjadi nikmat.


“Oh, begini rasa rokok itu ....” Ia mengangguk seakan paham benar. “Rasanya pedas dan berbau cengkeh.”


“Ini rokok full flavor. Kalau orang bilang, rokok berat, Faforit bapak-bapak. Tapi, kalau mau lebih berat lagi, ada yang namanya rokok kretek. Ini masih pakai filter.”


“Lo ternyata tahu banyak.”


Aku menepuk jidatku sendiri. “Ya, tahulah ... lo kira gue baru merokok, apa?"


Tertangkap wajah Mawar yang basah tengah memerhatikanku dengan seksama. Aku pun merasa aneh ketika ia memandangiku seperti itu. Aku pun menaikkan alis sebagai isyarat pertanyaan kenapa ia melakukan hal itu.


“Kenapa asap yang lo hisap enggak langsung dikeluarkan?” tanya Mawar.


“Kalau udah biasa ngerokok, pasti enggak hisap-sembur, doang,. Tapi, ditarik dikit ....”


Sontak, aku tertawa melihat tingkahnya. “Hahah ... udahlah, nikmati aja rokok itu sebagaimana lo baru belajar. Jangan mencoba kaya gue.”


“Gue sedikit pusing.” Ia memegang kepalanya.


“Selamat ... zat kimia sedang bekerja di dalam tubuh lo. Selamat juga, ini tahap awal kecanduan. Dan lo ngelakuin hal bodoh lagi sekarang,” balasku dengan tenang.


“Oh, ya? Baiklah ... ini sebatang terakhir yang gue coba. Enggak bakalan nyoba lagi.” Ia kembali menghisap tembakau tersebut. “Tapi, rasanya tenang. Apa ini sensasi ngerokok, ya? Entahlah ... gue bingung.”


“Nikmati saja, jangan banyak tanya.” Aku menyentuh kepalanya dan memutarnya agar menghadap ke depan. Aku tidak ingin tubuhku diperhatikan olehnya.


Suasana kaku berganti lebih hangat dengan perbincangan kami mengenai tembakau. Ia perlahan menghisap sedikit demi sedikit miliknya, sembari mencoba melakukan gaya merokokk milikku. Namun, sudah pasti ia tidak akan bisa, terutama menciptakan bulatan asap di udara. Percakapan kami mengenai rokok setidaknya lebih berbobot. Ia tahu banyak sejarah tembakau dunia, seperti di Suku Indian di Amerika, hingga sejarah industri tembakau di negeri sendiri. Ia hapal dengan merk-merk rokok dan nama perusahaan yang menaunginya. Aku bahkan tidak mengetahui hal itu. Entah dari mana Mawar membaca wawasan yang seperti ini.


Tidak cukup sebatang, Mawar menambah kembali. Janji sebelumnya ia langgar dan kembali membuat janji bahwsanya tembakau yang sedang ia apit di jari merupakan barang yang paling terakhir. Ia tidak ingin mencobanya lagi selama-lamanya.


“Kenapa lo biasa-biasa aja waktu gue tampil kaya gini?” tanya Mawar tiba-tiba.


Biasa kepala lo! Gue pengen pingsan, tahu!


Aku menggeleng. “Lo enggak tahu seberapa paniknya gue.”


“Tapi jujur, lo cukup bijak melihat tubuh seorang wanita. Gue tahu bedain mata jelalatan sama yang enggak. Contoh, Bang Ali itu matanya jelalatan dan Candra sedikit. Razel karena masih kecil, mungkin aja segan ngelihatin gue. Dan lo berbeda. Kenapa begitu?”


“Pertama, gue punya Reira. Kedua, gue bukan orang yang seperti itu.” Aku menghembuskan asap rokokku. “Tapi, jujur ... tubuh lo indah.”


“Oh, ya?” Mawar tersenyum. Ia senang kupuji dengan itu. “Gue cukup sering olahraga di rumah. Ada seperangkat alat gym milik kakak.”


“Oh, pantes ....” Aku mengangguk.


“Lo tadi bilang, lo tetap seorang pria yang bisa aja meledak kalau lihat yang begini. Dan lo harus sadar bahwasanya gue tetap aja cewek yang bisa aja hilang kendali kalau ngelihat cowok seperti ini.”


“Hahaha ... maksud lo, lo bakalan bisa nyentuh gue dan ah ... semuanya terjadi. Hahaha ... gila!”


“Hahah ... iya, itu yang gue maksud.” Ia kembali menghisap tembakaunya dan menghadap ke depan. “Tapi, tenang ... lo bukan tipe gue buat ngelakuin hal itu.”


“Iya, gue jelek ... mana mau si cewek.”


“Enggak, lo itu ganteng.”


Aku mengangguk penasaran. “Oh, ya?”


“Hanya saja, setiap orang punya referensi seksualnya masing-masing. Enggak semua orang cantik yang bikin lo cinta atau nafsu atau apalah itu, semua itu subjektif.”


“Berarti, kita sekarang kita aman, kan?” tanyaku.


Dengan senang hati Mawar mengangguk. “Iya, kita aman.”


***