
EPISODE 23 (S2)
Sejenak aku terbangun dari tidur singkatku tatkala suara parau wanita yang sedang menyentuh lenganku. Sayup mata yang aku sorot padanya membuatku langsung terbangun. Cahaya senja dan bau asap bakaran menyeruak di ruangan dari sebuah jendela kayu yang masih terbuka. Zainab tepat di hadapanku berkata bahwasanya kami harus segera sembahyang. Tidak hanya dirinya yang berada di kamarku, kini Candra ternyata menghadapi masalah yang lebih besar. Reira seperti seekor gorila betina yang sedang marah, memangku sapu di tangannya dan menyeret ujung sapu menuju tubuh Candra. Sontak Candra terduduk karena terkejut karena hal itu.
“Hei, lo kaya mama gue!” teriak Candra.
Tidak seperti Zainab yang membangunkanku dengan cara lembut, namun Reira benar-benar seperti dalam mode aliennya.
“Memangnya mama lo bangunin pake sapu?” tanya Reira seraya tertawa licik. Ia berhasil membuat Candra kesal sore ini.
“Jangan pake sapu, ah!”
Tangan Zainab menarik Reira, lalu merapikan bantal-bantal kami ke satu tempat.
“Solat ... Bapak meminta kami membangunkan kalian.”
Aku lihat jam dinding sedang berdenting pada pukul setengah lima. Tidurku ternyata nyenyak walaupun hanya sebentar.
Kekesalan Candra mereka tinggal dengan membubarkan diri. Candra masih terduduk di atas ranjang dengan memegangi kepala. Bagaimana tidak kepala akan pusing karena langsung terduduk tiba-tiba dari tidurnya. Masih tersisa sembab mata kantuk dari wajahnya itu, sembari menahan kesal yang tidak terlampiaskan. Aku pun menghampirinya dan menepuk pundaknya sembari mengajaknya untuk mengingat Tuhan sore ini. Aku sudah bilang, senja merupakan waktu bagi para manusia untuk melakukan perenungan. Tidur bukanlah sebuah perenungan, namun penghindaran daripada kelelahan.
Air pensuci sebelum sembahayang masih tersisa ketika aku dan Candra terduduk di muka rumah. Mata kami masih menyimpan kantuk, padahal sudah sepuluh menit kami duduk di sini setelah membentang sajadah di dalam kamar. Aku ingin mendengar wejangan dari Pak Cik senja ini, namun dirinya tak kunjung tampak. Mungkin saja masih sibuk dengan pekerjaannya yang belum selesai. Sementara itu, Reira dan Zainab sedang bersenang ria dengan mengayuh dua sepeda ontel. Sepeda antik itu sudah sedari tadi meninggalkan kami yang bermenung berdua, saling menatap wajah yang lusuh, apalagi wajah Candra yang sama sekali tidak sedang mendukung sisi estetik.
“Tadi gue bicara sama Pak Cik kalau dia mencari mantu yang mau berusaha, tak perlu kaya.”
“Pelan-pelan dong ngomongnya!” sindirnya.
Aku melihat ke sekitar. Masih tidak ada siapa pun yang mendengar. “Beneran, tapi lo harus bisa menang lawan catur sama Pak Cik sebagai syaratnya.”
“Syarat macam apa itu?” tanya Candra.
Aku mengangkat bahu. “Entahlah ... selain calon menantu yang ingin berusaha dan bertanggung jawab, Pak Cik juga menyaratkan jika orang itu harus bisa menang main catur darinya."
“Seumur hidup gue, gue enggak pernah pandai main catur.”
“Sayang sekali ... kesempatan lo kecil banget. Hahahah,” candaku. “Tapi lo beneran suka sama Zainab.”
“Jangan bahas ini ... jadi malu gue. Ah ... nyesel gue cerita sama lo,” balas Candra.
“Hei ... itulah gunanya teman, bukan? Gue tempat lo bercerita. Sudah berapa banyak lo dengar cerita gue, sekarang ini giliran gue yang mendengarkan.”
Candra sebagai penimpan sebungus candu akan tembakau, ia menggesernya padaku untuk diambil sebatang. Asap menyepul di tengah-tengah kami, menyulut Candra untuk segera bercerita. Memang, masalah asmara merupakan hal yang privat. Namun, hal privat hanya bisa diceritakan di tempat yang paling privasi, contohnya ialah sekarang. Empat mata yang kami sajikan menuntun kami untuk membuka tabir masing-masing. Saling bercerita mengenai risalah hati yang mungkin saja berteriak untuk diungkapkan kepada orang terpercaya.
“Iya, gue suka sama dia. Gue enggak pernah merasa setertarik ini dengan seorang wanita. Memang, ada banyak cewek lebih cantik dan lebih fashionable di fakultas kita yang gue kenal. Namun, yang sekarang entah kenapa bisa semenarik ini.”
“Itulah cinta kawan, tidak memandang dermaga mana ia akan bersinggah.”
“Jangan berdiksi di depan gue, kecuali lo lagi di panggung,” sindirnya.
Aku tertawa. “Cinta itu sekumpulan diksi. Lo harus pandai berdiksi mengenai cinta agar tahu maknanya. Jadi, lo enggak pernah seserius ini?”
Candra mengangguk. “Benar gue rasa, Zainab sungguh berbeda.”
“Gue mau nantangin lo,” ucapku padanya.
“Tantangan?” tanya Candra.
Aku mengangguk. “Iya, benar. Sebuah tantangan.”
“Tantangan apa?”
Ujung tembakau aku petih dengan jemari, lalu menjatuhkan abu-abu halus di atas asbak. Asap tembakau kami kini saling bersentuhan satu sama lain. Menyamarkan pemandanganku melihat rambut keriting Candra.
“Cinta itu perlu berkata, Kawan. Lo capek-capek berusaha tapi lo enggak berkata, apa gunanya?”
“Lo nantangin gue buat ngucapin kata cinta sama Zainab. Hahaha ... itu bukan cara gue, Dave.” Candra melipat tangannya di dada.
“Benar, Bro ... lo harus ngucain kalau lo itu suka sama Zainab. Setelah itu, biarkan takdir yang berbicara.”
“Takdir enggak akan pernah berbicara kalau itu bukan untuk gue.”
“Tapi takdir itu enggak akan berbicara kepada orang yang enggak percaya padanya. Lo aja enggak percaya kalau lo bisa, bagaimana itu bisa terjadi?”
Ia menggeleng. “Gila ... gue enggak mau.”
“Lo harus bisa ... kesempatan lo cuma satu. Kita hanya bertemu dengan Zainab di sini. Setelah itu, gue enggak yakin kita bisa ketemu sama dia lagi.”
Wajahnya berubah murung tak seperti tadi, menyadari bahwasanya bisa jadi pertemuan ini hanyalah sebuah kebetulan yang sementara. Sudahlah kebetulan, sementara pula, betapa malangnya Candra jika berpikiran seperti itu. Namun, ia harus tahu satu hal bahwa dunia ini sangatlah sempit. Masih banyak jalan menuju Roma, itulah pepatah lama yang pernah aku dengar. Walaupun jarak antara dua insan terbentang sebuah lautan, masih akan bisa dipertemukan jika anak itu ingin membentang layar dan mengarunginya. Hanya tekad, tidak ada cara lain. Berharap tidak hanya sekadar berharap.
“Gue jadi sedih mendengar hal itu.”
“Bandung bukanlah jarak yang jauh, Can.” Aku menghembuskan asap tembakau padanya.
“Lo bisa aja ketemu dia lagi, kan? Kalau lo berani ngelakuin itu.”
“Tapi, gue ini pengecut. Gue enggak seperti Reira yang ceplas-ceplos. Dan lo jadi orang yang beruntung. Kalaulah Reira bersifat pasif, lo enggak akan bisa megangin tangan Reira sekarang.”
Pembicaraan ini mulai mengarah kepada hal yang serius. Ia masuk ke dalam arah pembicaraan yang aku inginkan, yaitu memberinya kesempatan untuk bercerita lebih dalam.
“Inilah sebuah tantangan. Gue memang dulu pasif banget, tapi lama kelamaan gue mulai berusaha bahwasanya gue adalah cowok Reira. Butuh usaha, Kawan. Lo harus sadar itu.”
“Jadi, bagaimana caranya?” tanya Candra.
“Dekati orangtuanya, lalu gue tantang lo ungkapin perasaan lo di hari terakhir kita di sini. Jika Zainab menyimpan benih rasa sama lo, perisahan akan berbuah rindu.”
“Gue udah bilang, jangan berdiksi di depan gue!” Ia mematikan rokoknya di atas asbak.
“Gue jijik kalau lo bicara seperti itu sama gue.”
“Hahah ... kaya enggak kenal gue aja, Can. Gue memang begini. Apalagi lo bicara sama Reira yang sok jadi filsuf. Lo malah makin pusing.”
“Benar, keanehan dari kami merupakan sisi menariknya.”
Percakapan kami berlanjut mengenai rencana liburan yang akan dilakukan. Selagi di Pulau Belitung, tidak indah rasanya jika kami menghabiskan waktu di pasar dengan terik yang membahana itu. Terpikirlah kami untuk berkunjung di tempat wisata tatkala di akhir hari-hari di sini. Aku ingin sekali berkunjung di Sekolah Laskar Pelangi yang sangat terkenal itu. Sebuah saksi bahwasanya bangunan kayu itu pernah menjadi saksi bertapa indahnya sastra Indonesia yang ditulis oleh Andrea Hirata. Ia banyak memberikanku inspirasi untuk menulis, terutama mengenai perjuangan hidup.
Sore semakin dalam. Dari cahaya redup yang menjalar melalui sela-sela daun, datanglah sebuah motor butut berasap tebal di muka rumah. Kami pun dibuat menoleh tatkala secercah suara panggilan nyaring berasal dari salah satu penumpang pada motor butut itu. Ternyata itu merupakan Kakek Syarif dan Razel yang sedang berkunjung. Jiwa anak-anak yang ingin bebas tersimpulkan Razel. Selama ini ia pasti terus berada di kapal tanpa hiburan, hanya nyanyian burung laut yang menjadi penghiburnya.
“Bang!” panggilnya di bawah sana.
Kakek Syarif lebih dahulu naik ke atas tangga menuju teras panggung rumah. Masih dengan topi koboi dan rambut putih yang sedikit menjuntai keluar, ia berdehem dengan suara berat. Matanya mencari seseorang, sudah pasti kakek tua itu ingin bertemu dengan Pak Cik Milsa.
“Wah, nyantai dulu di sini, ya,” sapa Kakek Syarif. Ia ikut duduk di tengah-tengah kami.
“Siti ... Siti ... buatkan Bapak kopi dulu.”
Suaranya menggelegar memanggil istri Pak Cik Milsa tanpa segan dengan meminta dibuatkan secangkir kopi.
“Kalian mau kopi?” tanya Kakek Syarif.
Aku pun menggeleng. Perutku bisa-bisa kembung jika terus-terusan minum kopi.
“Kakek aja, kami udah minum kopi tadi.”
“Mana Mak Cik?” Ia heran tidak ada seorang pun yang menyambutnya di sini, kecuali kami berdua.
Kami berdua sama sekali tidak mengetahui ke mana arah pemilih rumah sore ini. Sewaktu kami bangun, kami hanya menjumpai Zainab dan Reira. Itu pun Reira langsung pergi menggunakan sepeda ontel untuk jalan-jalan.
“Kami pun juga enggak tahu. Kali aja mereka pergi,” balasku.
“Oh begitu ....” Ia menoleh ke arah Razel.
“Razel, buatkan Bapak kopi dulu di belakang. Kopi Dabo, ya ....”
Tampak wajah ceria Razel langung berubah. Padahal ia baru saja menarik kursi untuk duduk.
“Baiklah, Pak. Kopi siap meluncur!” balas Razel.
Dari balik hangatnya kopi yang diseruput oleh Kakek Syarif, tersiratkan ia ingin bertemu dengan Pak Cik Milsa segera. Berkali-kali ia mengeluh jika orang yang dicari sedang tidak ada di rumah, berkali-kali pula ia menghidupkan handphone jadulnya itu untuk menghubungi Pak Cik. Berselang lima belas menit kemudian, tibalah Pak Cik Milsa beserta istrinya menggunakan motor CB lama modifikasi. Gelegar suara knalpot berhenti tatkala Pak Cik mematikan mesinnya. Wajahnya seketika antusias melihat Kakek Syarif melambaikan tangan padanya, begitu pula Mak Cik Siti yang sedang menenteng tas wanita.
“Ape hal ke sini, Pak?” tanya Pak Cik. Di waktu bersamaan, Mak Cik Siti meminta izin masuk ke rumah lebih dahulu.
“Nah itu, ade kabar. Mungkin Reira tak suka dengan ini,” balas Kakek Syarif.
Aku dan Candra saling bertatapan karena kabar ini menyangkut dengan Reira.
“Ape tu?” Pak Cik duduk bersama kami. Asap tembakaunya mengepul ke udara bersamaan dengan asbak rokok yang aku dekatkan padanya.
Kakek Syarif berdehem. “Kami nak balek ke Jakarta. Ada pesanan barang yang hendak kami bawa ke Lampung.”
“Wah ... ape tak bisa ditunda dulu, Pak?” tanya Pak Cik.
“Kalau orang baru, aku bisa saje menunda. Masalahnya die orang langganan aku dan sudah bejanji dari bulan kemarin. Tadi malam ia minta untuk dikirimkan barangnya.” Ia menoleh padaku. “Kalau Reira tahu, dia mengizinkan atau tidak?”
Aku menghela napas sesaat. Berita ini memang bukan sebuah keberuntungan.
“Reira pasti paham dengan keadaannya Kakek. Dia pasti ngizinin, kok.”
Ia menangguk. “Nah aku harap begitu. Aku terpaksa membawa anak-anak yang dibawa Reira. Jika ia ingin pulang, akan aku antar sampai ke rumah. Kalau tetap ingin melaut, akan aku jamin keselamatan mereka.”
“Kalau itu, tanyakan dulu sama Reira,” sambung Pak Cik.
“Baiklah ... aku tunggu Reira sampai balik ke rumah.”
Senja semakin jatuh di langit barat. Percakapan kami pun berlangsung lebih hangat dan lebih dalam seiring berjalannya waktu. Kakek Syarif kembali bercerita pengalamannya tatkala melaut bersama Kakek Kumbang, sang petualang panutan Reira itu. Aku dan Candra sempat tidak percaya dengan cerita itu ketika Reira menceritakannya sendiri kepada kami, mengenai tentang adanya perkampungan hantu di tengah laut. Kakek Syarif berkata jika seluruh dunia kita ini sesak dihuni oleh makhluk di luar dimensi, aku merujuknya kepada makhluk halus, salah satunya yaitu di laut.
Tatkala itu, Kakek Syarif sebagai nakhoda sempat diteriakkan oleh Kakek Kumbang untuk berhenti memutar kapal karena melihat adanya sekelompok komunitas masyarakat yang berada di tengah laut berombak. Memang, Kakek Syarif tidak melihatnya. Namun, ia selalu percaya apa yang dikatakan oleh Kakek Kumbang dikarenakan persahabatannya yang sudah dijalin semenjak kecil. Masih segar diingatannya tatkala Kakek Kumbang menarik tangannya dan memanggil seluruh awak kapal untuk melihat ke satu arah.
Seperti orang ketakutan, Kakek Kumbang pada saat itu menggigil sembari memegang sebelah pundak Kakek Syarif. Giginya bergemeretak kuat, tak ubah layaknya melihat sosok monster besar yang ingin menghadang. Nada suaranya parau, tidak seperti biasanya. Nanar mata lebar ia tunjukkan tatkala melihat Kakek Syarif. Mereka ada, hanya itu yang terdengar sebelum Kakek Syarif menahan tubuh sahabatnnya yang jatuh.
“Setelah itu ia pingsan dan malam itu kami berkumpul untuk berdoa bersama, Kami takut penglihatan Si Kumbang jadi pertanda buruk, kami telah melewati daerah terlarang.”
Pupilku terasa melebar mendengar cerita misteri dari pengalaman orang tua bertopi koboi itu. Bayangkan saja, ada perkampungan hantu di tengah laut dan parahnya lagi disaksikan oleh Kakek Kumbang.
Pak Cik Milsa mengangkat bahu. “Pak Kumbang itu punya kemampuan batin. Aku sewaktu kecil pernah ke kapal Leon itu sewaktu kecil dan mendengar suara gelegar harimau.”
“Benarkah?” tanya Candra. “Beneran harimau?”
“Kakek Kumbang pelihara harimau?”
“Hahah ... mana mungkin Pak Kumbang pelihara harimau di dalam kapal,” balas Kakek Syarif.
“Itu penjaga ... kadang ia menampakkan diri dengan hal yang seperti itu. Kau cukup tahu ajalah ... aku jadi seram menceritakannya kembali.” Pak Cik menghembuskan asap rokoknya.
“Sebagai orang yang memakai kapal Leon selama ini, aku juga masih merasakan hal-hal seperti itu. Seperti ada yang menggaruk bawahan kapal, tiba-tiba saja aku bermimpi mengenai orangtua yang ingin dibuatkan kopi, kadang Razel mengigau kalau kapal itu harus dibersihkan,” sambuk Kakek Syarif.
Suara rantai sepeda mengalihkan rasa takutku akan cerita mengenai Kakek Kumbang. Reira dan Zainab baru saja pulang dengan membawa sesuatu yang membuatku terkejut. Kami semua sontak melihat ke arah yang sama.
“Woi, ayam siapa yang lo bawa?!” teriakku pada Reira.
Dengan santai Reira menenteng ayam dari kedua kakinya yang terikat. Ia terkikik dengan membanggakan hasil buruannya itu.
“Gue mencurinya dari perompak!”
***
mohon maaf lahir dan batin semuanya :)