
EPISODE 141 (S2)
Siapa yang mengira aku akan berbaring tidur di tempat yang setinggi ini? Aku tidak tahu berapa tingkat ketinggian rumah sakit ini, hal yang terpenting ialah aku bisa melihat landscape kota dengan jelas. Gelap yang aku tatap seakan diisi oleh bintang-bintang di bawah sana, berhujam cahaya lampu bangunan di subuh hari. Dingin yang menusuk tidak menjadi penghalang bagi kami untuk membuka tangan selebar mungkin, meneriaki malam yang telah lewat, memberitahukan mentari timur bahwa kami tengah menunggu di sini.
Tepat di tengah helipad kami berbaring dengan dua kantung tidur khas anak gunung. Seandainya terdapat helikopter yang akan mendarat, niscya kami akan cair dihimpit di sini. Ada sensasi yang tak pernah aku dapati sebelumnya. Bintan-bintang sangat dekat di hadapan mataku. Bulan seakan bisa untuk aku sentuh dan digapai, lalu aku masukkan ke dalam kantung sebagai hadian kepada Fasha. Reira tepat berada di samping, berhadap diri dengan tangan yang ia bebankan ke atas dadaku.
Iya ... romantis sekali malam yang dingin ini. Kami menyaksikan bintang bersama sebelum Reira benar-benar memejam mata. Aku kira tiada kantuk yang ia rasa. Akhirnya, mata itu pun menyerah untuk menenggelami lelah yang mengikutinya berhari-hari. Ia ditarik untuk jatuh ke dalam tidur dalam tanpa suara, bernapas pelan dengan tangan yang memanjang padaku.
Tentu saja aku tidak akan tidur. Susah bagiku untuk kembali terlelap ketika malam menggantung kantukku tadi. Akhirnya aku bertahan dengan mata tertutup, menunggu pagi untuk kembali datang ke mari. Yang kami tunggu pun datang, aku menjadi saksi bahwasanya mentari bergerak pelan di ufuk timur. Horizon terbelah antara langit dan bumi, bersimpul kepada seburat cahaya matahari yang meluncur pelan. Sempat aku bangunkan Reira untuk turut menikmati pemandangan ini, tetapi ia malah memarahi diriku yang telah jahat membangunkannya.
Kini, mentari benar-benar tersenyum di sana. Aku dibalas oleh cemerlang cahaya yang mengukir langit sebegitu terangnya. Aktiftas awal sebuah kota sudah lebih dahulu bergerak dan berdetak menapak di bumu, tetapi sekarang lebih terlengkapi dengan penerangan alami. Hangat, sekaligus dingin. Itulah yang aku rasakan terutama tatkala tembakau pagi pertama aku bakar bersamaan angin lalu. Reira membuka mata setelah mencium asap beraromakan cengkeh, lalu berubah posisi tepat di atas pangkuanku.
“Selamat pagi, Pemalas.” Reira tersenyum dengan mata tertutup.
“Apa enggak ada julukan lain selain itu?” sindirku. Sering kali Reira menyebutku jujur dengan kata tersebut, terutama ketika aku menolak diajak keluar dengan alasan letih.
“Lo mau disebut apa?” tanya Reira balik.
“Nama gue David, panggil aja gue David.”
Ia malah menggenggam tanganku seperti bersalaman. “Senang berkenalan dengan lo, nama gue Reira. Sebut aja gue Captain Reira. Lo anak yang kemarin itu, kan?”
“Wah, kita kaya baru pertama kenal. Haha ....”
Aku seakan kembali ke masa lalu, tatkala kami bertemu di bawah pohon beringin kampus yang lebat dengan rengkuh kedinginan seorang wanita pada lututnya. Ingat sekali pada saat itu tengah hujan dan aku sedang melintas dengan vespa bututku. Masih dengan kebencianku dengan hujan, lalu kekesalanku dengan wanita yang aku temui di malam festival seni bulanan kampus.
Reira bangkit dari tidurnya, lalu perlahan mengecup keningku. “Makasih udah nemenin gue.”
“Ini adalah momen gila yang baru,” balasku.
“Hahah lo harus bersiap-siap buat momen gila yang entah kapan lagi datangnya.” Ia melihat layar handphone-nya, lalu menepuk pundakku. “Ayo, ke bawah. Fasha pasti udah punya anak.”
“Mari ....”
“Tapi, sebelum itu ... kita ke parkiran dulu. Ada Bang Ali di sana nganterin sesuatu.”
“Dia nganter apa?” tanyaku.
“Nanti lo juga tahu.”
Pergi kami melenggang bersama menuju lift untuk turun. Ia berkata bahwasanya aku harus ikut bersamanya ke parkiran. Entah apa yang dibawa Bang Ali di sana. Anehnya, Bang Ali selalu mau disuruh ini-itu oleh seorang wanita gila sepertinya. Terkadang, hal yang tak penting pun Bang Ali akan datang untuk itu. Pernah ia berkata padaku bahwa Bang Ali dipanggil ke rumah hanya untuk mengambil remote tv dan Bang Ali mau-mau saja datang ke rumah Reira. Alhasil, mereka bermain video gamei bersama-sama. Ya ... mereka persis seperti kakak dan adik yang selalu akur.
Tampak Bang Ali sudah seperti preman yang menunggu mangsa di depan simpang. Perawakannya itu empuk sekali untuk dicurigai, ditambah lagi dengan gaya-gaya urak-urakan seperti itu. Tangan kanannya menghisap rokok kretek, sementara tangan sebelahnya memegang sebuah benda yang menarik, yaitu kereta dorong bayi yang masih baru. Ia menatapku dengan mata seperti pandangan yang belum tidur, hitam di bawah matanya.
“Wah, makasih banget ....” Reira malah memukul lengan berotot Bang Ali. Bukan menyalami untuk berterima kasih.
“Gue baru aja balik dari luar kota, biasa ... ada yang nge-booking mobil travel gue.” Ia menoleh ke Reira. “Itu pesananan lo. Jangan lupa di transfer uangnya. Jadi miskin gue gara-gara beli itu.”
“Tenang abangku. Lo dapat di mana?”
Ia menunjuk Reira. “Gila lo ya ... jam dua belas malam minta dibeliin keranjang bayi. Gue dapat di mana coba? Untung aja ada temen gue anak teknik yang emaknya jualan peralatan bayi.”
“Hahah ... kan itu salah lo. Kenapa mau nurutin gue ...,” balas Reira dengan tenang. Ia mengambil alih dorongan bayi tersebut, lalu mencoba untuk mendorong maju dan mundur.
“Memang dasar nih anak! Diturutin bikin kesel, enggak diturutin malah makin ngeselin.”
“Tapi, lo tetap sayang sama gue, kan?” Reira mencoleh Bang Ali. “Alah ... kemarin aja nanya-nanyain gue di mana, katanya rindu ... rindu pala lo.”
Bang Ali menatapku. Senyumnya datar karena kesal. “Lo baru nyadar kalau cewek lo ini gila, kan?”
“Udah dari dulu, Bang. Hahah ....”
Reira menggandeng tangan kami berdua. Ia geser kereta dorong bayi tersebut, lalu melangkah bersama menuju pintu utama. Anak itu riang di pagi hari ditemani oleh dua pria yang selalu ada untuknya. Terkadang, bukan kamilah yang selalu ada untuknya, melainkan Reira sendiri yang selalu ingin meluangkan waktu untuk teman-teman sekitar. Sehingga, batas-batas siapa yang selalu ada itu hilang, melebur menjadi kebersamaan. Tak malu dirinya menggandeng kami di lobby, malah kami yang merasa malu diperlakukan seperti ini. Berkali-kali Bang Ali melepas gandengan tangan Reira, tetapi anak itu tidak ingin melepaskannya. Ia berkata jangan jauh-jauh darinya karena bangunan ini begitu banyak penyakit dan kami sebagai tameng agar kami duluan yang terkena.
Bagas sudah menunggu kami di depan ruang ibu dan anak, tepatnya Fasha tengah beristirahat sekarang. Ia berdiri ketika mendapati kami tengah berjalan ke sana. Senyumnya lebar mengisyaratkan seluruh proses sudah dilewati dengan baik.
“Jingga lahir dengan sehat. Fasha sedang istirahat sekarang.”
Kami mengelus dada. “Wah ... syukurlah.”
“Fasha baik-baik aja, kan?” tanyaku.
Bagas mengangguk. “Iya, Ibu dan bayi sehat sentosa. Gue bersyukur banget. Sekarang, gue seorang ayah.”
“Nih, buat Jingga.” Reira menyerahkan kereta dorong tersebut. “Aneh banget panggilan seorang anak laki-laki, tidak terdengar maskulin.”
“Hahah ... Fasha mau dipanggil seperti itu. Btw ... makasih banget.”
“Jangan makasih ke gue, makasih ke Bang Ali. Di subuh-subuh nyari ini.” Reira menunjuk Bang Ali.
“Wah, beneran? Makasih banget, Bang.” Bagas langsung menyalami serta menunduk kepada pria sangar itu.
Satu hal yang aku amati. Ia begitu rendah hati. Perubahan terjadi padanya. Aku tidak melihat Bagas yang sombong, berjalan membusungkan dada di depan orang-orang sepertiku di fakultas. Aku melihat Bagas yang berberbeda dari sebelumnya. Ia begitu hangat dan bersahaja, layaknya cahaya jingga di fajar hari yang tengah hadir menjadi pelengkap keluarga kecilnya.
Ia menatapku. Sontak aku terkejut tatkala Bagas memelukku. “Maaf, Dave. Gue nyesel kita dulu musuhan. Gue berterima kasih selama ini udah ngejagain Fasha, nerima Fasha sebagai teman apa adanya. Gue yakin, dia pasti tertekan banget ketika Fasha diomongin orang-orang. Gue berterima kasih banget.”
Aku lepas rengkuh peluk itu, lalu menekan kedua pundaknya. “Itulah tugas seorang sahabat. Salam buat Jingga. Bilang kalau namanya adalah sebuah puisi indah yang pernah gue bacakan di depan banyak orang.”
***