
EPISODE 84 (S2)
Mari kita tidak membahas mengenai perasaanku terhadap pemikiran orangtua lelaki Reira yang tidak menyetujui hubungan kami. Aku merupakan tipe orang yang tidak setuju jika tidak melihatnya langsung. Namun, perkataan dari Kak Reina merupakan sesuatu yang tidak harus dibantah. Lekuk bibirnya ketika mengatakan hal itu seakan masih berbayang hingga saat ini. Masih membayang-bayangiku yang gelap dan ditutup.
Setiap aku melihat wajah Reira, ingin sekali aku mengatakan hal tersebut. Aku hanya ingin satu, yaitu klarifikasi. Jika iya benar, maka bisa kami bersama-sama mencari solusi untuk melewati semuanya. Aku tahu Reira bisa saja melakukan hal yang ia mau untuk menentang, tetapi aku tidak yakin akan berhasil karena sering kali Reira bersikap gegabah. Ia terlalu rasional untuk seorang wanita, terkadang hati pun jarang ia mainkan jika ada di dalam masalah.
Namun, entah kenapa sulit sekali untuk melakukan hal tersebut. Antara takut di awal dan di akhir. Aku takut untuk mengatakannya karena Reira akan kecewa, begitu pula aku cemas dengan jawaban yang ia berikan jika hal tersebut benar adanya. Seperti yang dikatakan oleh Reira, badai tidak akan berpengaruh bagi pelaut-pelaut handal.
Namun, percayalah ... badai tetap saja badai, tidak memandang pelaut, bahkan Pak Kumbang sekali pun. Bisa saja kapal yang sedang kami layari tenggelam, dihantam tepat di tengah-tengah, lalu berpencar tanpa pernah kembali.
Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku terlalu takut untuk menjadi sendiri. Trauma sekali aku mengingat masa-masa sepi tanpa ada siapa pun yang peduli. Dunia terasa hampa tanpa arti-arti yang bisa aku genggam. Dirinyalah yang saat ini paling sempurna mengatasi rasa sepi itu, meskipun di laut terdingin sekali pun.
Cafe Sekata nama yang aku berikan untuk cafe tersebut. Berawal dari pemikiranku jauh-jauh hari mengenai arti sebuah kata yang bisa menusuk hati, begitu pula membangunkan hati yang telah mati. Begitu kuatnya kata dalam dialektika kehidupan menginsiprasiku untuk bermain magisnya dinamika kata tersebut. Mencoba keberuntungan dengan menamai usahaku dengan kata tersebut ternyata berhasil menarik perhatian dari khayalak ramai, terutama anak-anak kampusku. Setiap malam selalu saja tak pernah sepi oleh pengunjung.
Oleh karena itu, Mawar sebagai pegangan pikiranku saat ini menyarankan untuk mencari satu orang pegawai tambahan sebagai waiter dan penjaga kasir. Reira sudah menyarankanku untuk mencari dua orang yang satunya lagi bisa diletakkan di dapur, namun aku masih memantau perkembangan cafe. Aku tidak ingin gegabah jika modal gaji pegawai ternyata tidak sebanding dengan penghasilan di dapat. Namun, Reira malah menepuk punggungku saat itu. Ia menyombongkan diri untuk jangan meragukan dirinya. Aku tetap memegang pendapatku sendiri karena kali ini aku sendirilah yang mengemudikan kapal.
Promosi pun disebar di media sosial dan menempelkan pengumuman lowongan kerja di tempat-tempat ramai, termasuk cafe Reira sendiri. Aku yang menginginkan seorang pria, namun Reira malah memintaku untuk mencari pegawai wanita. Ia berkata daya tarik wanita sangat berpengaruh, terutama bagi seorang waiter.
Sudah aku bilang, ia terkadang lebih rasional daripada diriku. Ia mampu melihat keadaan sedemikian mungkin, hingga membuat sebuah kesimpulan yang tepat. Aku rasa itu pula alasan Reira yang lebih memilih mempercayai dirinya sendiri daripada orang lain. Ia tahu jika pendapatnya akan lebih efektif jika diterapkan pada suatu hal.
Kini aku dan Mawar tengah berdiri tepat di depan fakultas. Taman fakultas dijadikan tempat untuk memantau pergerakan seseoran. Hadiah-hadiah sedang dipersiapkan untuk menyambutnya ketika nanti keluar dari lobby fakultas. Sedangkan Reira, aku tidak tahu anak itu pergi ke mana.
Aku sudah menyebutkan jika kami akan menyambut Candra yang sekarang sedang sidang proposal penelitiannya. Pernah Reira berkata bahwasanya ia tidak terlalu suka dengan perayaan bunga dan coklat untuk menyambut para mahasiswa yang baru sidang, tetapi ia dengan senang hati mendengar berita bahwasanya Candra akan diperlakukan dengan sama.
Jujur, aku tak bertemu dengan Reira semenjak dua hari yang lalu, tepat di mana aku berkunjung ke rumah Reira untuk mengatakan hal ini. Senang sekali bertemu dengannya di masa-masa senggangnya yang langka. Rinduku semakin merekah tatkala tangan kami saling bergenggaman, duduk di bawah pohon berakar sembari memberi makan ayam yang berkotek. Hanya sesederhana itu yang Reira pinta, tak pernah lebih.
Sembari merokok dua langkah di hadapan Mawar, aku menyeruput kopi kalengan yang aku beli dari minimarket kampus.
“Reira beneran tahu kan kalau kita di sini?” tanya Mawar sembari duduk di rumput.
Aku mengangguk pasti. Baru saja ia memberikan aku pesan singkat untuk bertanya aku di mana. “Dia tahu, kok. Reira pasti ke sini. Tapi, anak itu gue enggak tahu ada di mana. Bisa jadi sedang di ruang Dekan kita, menyelinap buat memaksa meluluskan Candra secepatnya. Hahahah ....”
“Gila ...! Reira mana mungkin ngelakuin itu!” Ia melempar rumput yang ia cabut di depannya.
“Ya ... mana tahu. Reira kadang-kadang bisa gila,” balasku.
Mawar menatapku lurus. “Jadi, lo kapan? Candra udah duluan. Gue pengen kita wisuda bareng.”
“Gue kuliah buat cari ilmu, bukan tamat cepat.”
“Wisuda cepat pertanda lo uda nyari ilmu,” balas Mawar.
Alisku naik memberikan tanda setuju. “Benar, tapi ... hmmm ... terkadang ada ketidakpuasaan. Gue ini tipikal orang yang rasa ingin tahunya tinggi. Judul gue gonta-ganti gara-gara ternyata ada ide lain yang lebih cemerlang. Salah gue sih, tapi itu enggak apa-apa. Gue udah tetapkan di prinsip gue kalau kuliah itu cari ilmu, bukan sekadar cari gelar.”
“Kalau ada kesulitan, lo bisa datang ke gue. Gue sedia membantu. Lo haru ingat, setidaknya lo bisa selesai proposal di semester ini.”
“Jangan khawatir ....” Aku tersenyum semabri memberikan jempolku. “Jadi, lo kapan? Gue denger lo udah seminar proposal semenjak semester lalu. Mahasiswa pertama di angkatan kita yang selesai proposalnya.”
Mawar tersenyum senang berkat pujianku.
“Nah itu dia, lo pengen ikut?”
“Ikut ke mana?” tanyaku dengan wajah memereng.
“Sedikit keluar kota, mencari udara segar, sembari mengunjungi subjek wawancara gue.” Tidak lama kemudian Mawar menepuk dahinya. “Oh, iya ... gue lupa. Lo harus ada di cafe. Nah, gara itu gue ingin libur dua hari kayanya.”
“Oh, itu ... iya silahkan. Gue ngizinin lo buat libur, kok. Yang penting, libur lo itu bikin lo cepet tamat, bukan buat main-main. Nanti, gue ngajak siapa kek buat ngawanin gue di dapur.”
“Semoga aja kita bisa dapet temen baru di cafe, ya.”
“Iya .... gue harap juga begitu.”
Mataku menyalak tepat di depan fakultas. Telah berdiri Candra dengan rambut pendeknya yang rapi. Seragam hitam putih yang ia kenakan kini terlihat cemerlang dibelai oleh terik mentari. Aku sudah berpesan untuk berdiri di sana ketika sudah selesai melakukan sidang. Makhota rokok berat yang aku bentuk sedemikian rupa tengah menunggu untuk dikenakan. Sedangkan Mawar, ia sudah menyediakan selempang makanan ringan dan cokelat yang akan diberikan padanya.
Aku mengisyaratkan pada Mawar untuk segera berdiri karena Candra sudah ada di sana. Namun, tepat ia membersihkan roknya yang menempel dedaunan kering, aku memintanya untuk melihat dengan jelas ke arah Candra. Ada dua orang wanita yang datang menyambut Candra yang kebingungan. Paling belakang, terdapat Reira yang baru saja keluar dari mobil yang berhenti.
Mataku tidak percaya, wanita yang sedang Reira bawa ialah Zainab. Paras manis gadis Melayu menyambut Candra dengan hangat. Aku pun terbelalak, Candra memeluk Zainab dengan erat. Rindu tengah meletup-letup di hatinya. Terlalu garang rindu itu menggerogoti ruang hatinya yang sepi semenjak perpisahan kami di dermaga nelayan Manggar. Kini, aku benar-benar meleleh melihat romansa mereka yang sangat tidak bisa aku percaya.
Mata Zainab memejam di dada bidang Candra.
***