Captain Reira

Captain Reira
27



Seluruh pasang mata di bengkel Dika melihatku dengan tatapan aneh. Para pegawainya berhenti bekerja sesaat karena melihatku yang sedang dalam keadaan berantakan. Wajahku kembali dihiasi dengan luka lebam. Kemeja yang kupakai terlihat kusut dan dua buah kancingya terlepas akibat perkelahian tadi. Satu hal yang membuat Dika khawatir ialah bagian samping Vespa yang penyok akibat ditendang oleh Bagas.


"Lo kenapa? Siapa yang buat lo begini? Bilang sama gue!" kata Dika setelah menyentuh bagian penyok pada Vespa.


"Gue tadi kelahi sama teman kampus," balasku. "Kayanya Vespa lo haru diperbaiki. Susah banget buat hidup."


Aku melangkah menuju rumah.


"Lo ada masalah apa? Bilang siapa orangnya. Biar gue datangin rumahnya." Tanganya mengambil tang bengkel.


"Urus aja urusan lo. Lo enggak perlu ikut campur." Aku menatapnya sekilas. "Lagian, ini juga karena salah gue." Aku meninggalkannya.


Di depan cermin, terlihat pipiku yang membiru. Segera aku jerang air panas untuk mengempiskannya.


Balkon kamar cukup bagus untuk menenangkan diri. Suasannya sunyi dan aku bisa melihat hamparan atap-atap rumah di komplek. Mentari terlihat jelas condong ke langit barat. Cahaya senja langsung berpapasan denganku. Berbunyi tetesan air panas yang bercampur obat merah ketika kuperas. Lukaku semakin berdenyut ketika aku letakkan kain perasan air panas itu.


Pintuku terdengar dibuka dari luar. Langkah pada kakinya terasa mendekat. Aku menoleh ke belakang. Kudapati Fasha sedang menenteng tas gitarnya. Tidak ada senyum yang ia sampaikan sebagai tamu, namun wajah khawatir yang kulihat.


Hatiku sebenarnya masih sakit dengan kalimat yang ia katakan waktu itu. Memintaku untuk menjauh? Baiklah akan aku sanggupi itu. Jarak yang ia minta akan aku bentang. Sudah cukup berurusan dengan alur cinta yang aku ikuti untuk mendapatkannya.


"Kamu sama dengan Reira., enggak pernah mengetuk sebelum masuk kamar," kataku. Kain basah itu kembali aku letakkan.


"Jangan bicarakan dia waktu kita berdua, bisa?" jawab Fasha. "Biar aku yang mengompres luka kamu. Aku merasa bersalah karena perlakuan Bagas."


"Dari mana kamu tahu?" tanyaku.


Ia duduk di sampingku dan mencelupkan air pada air panas.


"Yang kamu lawan itu Bagas, Dave. Apa pun yang terjadi dengan dia, satu fakultas pasti tahu." Tangannya menyentuh wajahku. "Lebih baik, kamu menghindar dari dia."


Aku sedikit mengerang sakit ketika kain basah itu menempel pada wajahku. Sedikit canggung, namun aku masih bisa menahan sikap.


"Bagas mengibus Reira. Makanya Reira bisa tertangkap," kataku.


Ia menggeleng. "Dia berbohong."


"Kamu selalu membelanya. " Aku melepaskan tangannya.


"Kasus perusakan gedung rekorat sedang diurus oleh papaku. Aku sempat membaca list nama-nama mahasiswa yang ingin ditangkap, salah satunya Reira. Bahkan, itu sekitar seminggu yang lalu."


Kepalaku kembali tegak. Ini merupakan titik terang keberadaan Reira kini.


"Sekarang, kamu tahu Reira ada di mana?"


Fasha mengangguk. Ia mengeringkan tanganya menggunakan jeans yang ia pakai. "Paling tidak, ia berada di kantor papaku. Dia cuma dalam proses pemeriksaan. Belum menjadi tahanan."


"Tapi─" Kalimatnya terhenti ketika aku berusaha beranjak. "Maksudku bukan seperti itu."


"Itu sudah jelas, Fash. Kita memang butuh jarak."


Aku berdiri. Tidak aku pedulikan Fasha yang baru saja tiba. Tujuanku sudah jelas, semoga aku bisa menemukan Reira di sana.


Vespa 50 milikku kembali menapaki jalanan beraspal, walaupun bagian kirinya terlihat penyok. Tujuanku ialah kantor papa Reira yang berjarak tiga puluh menit perjalanan dari rumahnya.


Aku tiba di kantor polisi di mana tempat papa Fasha bertugas. Beberapa polisi tampak berjaga di depan pos. Gerbangnya hanya dibuka setengah, di sana juga ada seorang polisi berkacamata hitam sedang berdiri. Aku melangkah masuk, namun salah satu polisi memanggilku untuk melapor dulu. Aku ditanyai banyak hal dan tanda pengenal milikku dititipkan dulu selama mengunjungi kantor polisi. Itulah peraturan bagi orang luar yang ingin masuk.


Dua orang polisi wanita berdiri di lobby. Aku menanyai nama Reira pada mereka. Namun, mereka menggeleng tidak tahu. Aku sudah yakin, Reira pasti berada atau pernah berada di sini. Pernyataan Fasha pasti tidak sia-sia. Papanya yang mengurusi kasus perusakan rektorat itu.


Dua orang mahasiswa dari kampusku tampak berjalan ke luar kantor. Kami saling menyapa, walau tidak saling mengenali. Identitas dari kemeja yang mereka bawa cukup memberikan informasi jika mereka berasal dari kampusku.


Dua puluh menit menunggu membuatku sedikit jenuh. Kepalaku mulai diserang kantuk. Aku menunduk, melihat keramik yang berdebu itu. Suara langkah yang lalu-lalang semakin merdu sebagai pengantar tidur. Perlahan, mataku tertutup.


"David!" panggil seseorang. "Lo kok ke sini? Emang lo ikut demo waktu itu?"


Aku membuka mata. Kudapati wanita berambut terikat itu tengah tersenyum padaku. Tatapan sebening laut itu menyorot bahagia atas kehadiranku. Tidak kulihat wajah yang lusuh akibat berurusan dengan polisi, semangatnya melebihi ombak laut yang menerjang. Selalu membara, walaupun dalam suasana sepelik apa pun. Aku memeluknya erat, kuharap ia tidak bisa bernapas akibat pelukanku. Wangi rambutnya menyeruak di balik ikatan warna merah itu. Aku menutup mata sembari mengingat kalimat yang ingin aku katakan.


"Jangan buat gue khawatir!" kataku dalam peluknya.


Ia menambah erat rengkuh peluk yang kuawali. "Jangan khawatirkan gue. Khawatirkan saja diri lo sendiri. Gue ini Reira, bukan Fasha si gebetan lo itu. Polisi belum ada apa-apanya dengan ombak laut yang mengamuk."


Aku melepas peluk. Kutatap wajahnya dalam-dalam. "Lo bakal di penjara?"


"Enggak, ini masih pemeriksaan. CCTV memang menunjukkan kalau gue merusak mobil milik pejabat rektorat," balasnya. Ia berjalan menuju pintu keluar. "Setelah mendengar kalau gue anaknya Alnord Bernardo, polisi itu sedikit melunak. Dia terpaksa datang jauh-jauh buat mengurusi kasus ini."


"Lo bisa kena penjara, tahu! Bagaimana bisa wajah lo setenang itu," balasku.


"Kadang, dunia itu tidak adil. Semua bisa diatur," katanya sembari mendekatkan wajahnya ke telingaku. Ia melangkah dengan sedikti melompat ke depan. Ia terlihat bahagia hari ini. "Sepertinya ada yang lagi sensitif karena anaknya baru dipeluk sama orang lain."


"Maksud lo?" tanyaku.


"Lihat ke belakang. Itu papa gue," pungkas Reira.


Aku menoleh ke belakang. Bapak Arnold Bernardo sedang mengikuti langkah kami dari belakang. Aku tahu wajahnya melalui foto yang kulihat sewaktu menyelinap ke rumahnya bersama Reira. Wajahnya tampak mirip dengan Reira. Matanya sipit dan hidungnya yang mancung. Namun, Reira sedikit lebih gelap darinya. Bagaimana tidak, siang hari Reira selalu menghabiskan waktu berpanas-panasan untuk mencari serangga.


Wajahnya garang, aku tidak sanggup menatap lama-lama.


***