Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 49 (S3)



Matanya bersenandung seperti serunai di bawah pohon rimbun, teduh tatkala aku pandang dengan mataku yang enggan untuk berpaling. Dunia enggan berputar, waktu ingin menungguku untuk tidak tertinggalkan, aku pun mendekat padanya yang tetap saja berdiri di tempatnya. Tiada senyum yang kami sampaikan, balasan ekspresi yang tampak hanyalah ketidakpercayaan. Masing-masing dari kami mungkin bertanya, kenapa aku di sini dan kenapa ia di sini. Adakah sesuatu yang mengantarkan kami kepada tempat bermula?


Berembun matanya, aku melihat pagi di antara siang yang terjadi. Entah apa yang mengantarkan pria itu untuk menggemgam tanganku. Jantungku seakan ingin membuncah tatkala rengkuh lembut dari David mengikatku dengan erat. Aku tidak bisa kabur, ia menjatuhkan diriku di hadapan dekap dadanya. Semerbak wangi tubuh yang dulu selalu menghiasi hari, kini kembali aku hirup apa adanya.


Wajahku membingungi diri sendiri. Tatkala rengkuh tubuhnya membuatku menoleh ke kanan, aku melihat bayang-bayang diriku sendiri bersama dirinya pada aktivitas yang lain. Dirinya pun melepaskan pelukan, lalu aku melihat sepasang diriku dan David sedang berciuman di bawah pohon. Terdengar pula riak air dan canda tawa dua orang kekasih tatkala aku berbalik diri menuju ke danau, memori itu kembali terputar kembali


Aku ada di mana-mana seperti pecahan kaca cermin yang memperlihatkan semua ingatan. Di bawah pohon, di tepi danau, di jalanan aspal, kami beradu dalam imaji masing-masing. Aku pun berputar untuk menghapus semuanya, tetapi David hanya tersenyum mengira jika aku sedang bercanda.


“Lo siapa?”


“Gue David ….”


“Lo bukan David!”


Pelatuk pistol aku tarik untuk sebuah peluru, lalu tertembak tepat ke kepala David. Bukan darah yang aku temui, melainkan ia pecah menjadi gelembung-gelembung kecil yang bergerak mengenai hidungku.


“Gue siapa?” tanyaku pada diri sendiri.


Tiba-tiba saja diriku-diriku yang lain itu menjawab, “Lo Reira.”


“Gue bukan Reira …..”


Satu peluru terhentak untuk kepala diriku sendiri, sebagaimana kalimat yang aku sampaikan kepada David setelah menyisakan satu peluru untuk sesuatu yang terakhir. Semuanya pun menghilang menjadi gelembung-gelembung kecil. Aku melayang ke udara, terhempas di antara celah dedaunan kering, lalu mencair untuk jatuh ke tanah.


“Woi, lo baik-baik aja?”


Seseorang menyentuhku. Aku sontak terbangun dari tidur siang singkat di tepian danau dengan sebotol wine yang masih tergenggam di tanganku. Dunia terasa terang sekali, tidak seperti mimpiku yang gelap. Tanpa aku sadari, seorang pria membungkuk di belakangku. Aku melihat wajahnya yang berada satu garis lurus dengan wajahku, meskipun sedang berbaring.


Aku menarik cairan yang menyumbat hidungku.


“Maaf, gue ketiduran ….”


“Oh enggak apa-apa. Semua orang butuh tidur.” Ia mendahuluiku yang tidak kunjung duduk.


“Mohon maaf, lo siapa?”


“Oh iya gue lupa … gue Abimana. Anak fakultas teknik.” Ia menunjuk sepeda yang terparkir di tepi danau. “Gue lihat sepeda Bapak Dekan Fakultas Ekonomi di sini, makanya gue ke sini. Ternyata yang bawa elo.”


Aku duduk memerhatikannya. Tubuhnya tinggi seperti Borneo, tetapi memiliki kulit yang lebih putih. Mata pria itu seperti wanita, memiliki kelopak ganda yang tersembunyi di balik sebuah kacamata. Ia murah tersenyum padaku untuk meninggalkan dua lesung pipi kecil.


“Baliklah ke fakultas lo, mungkin lo ada jam kuliah.”


“S2 masuknya hari sabtu, sekarang gue lagi free.” Ia memicing padaku. “Lo anak mana sih? Kayanya gue enggak asing ngelihat lo.”


Ia pasti pernah melihat beritaku lima atau enam tahun yang lalu. Jika bukan melihat diriku yang digrebek oleh polisi atas kasus Nauren, kedua karena kasus vandalisme gedung rektorat.


“Gue Reira, dulunya anak Jurusan Managemen di kampus ini. Lo pasti pernah lihat berita tentang gue, makanya enggak asing lagi,” balasku.


“Berita?” Ia menggeleng. “Emangnya lo orang terkenal? Oh iya, gue baru ingat kalau lo itu temennya Bang Ali.”


“Waktu masih di program sarjana, Bang Ali itu senior gue di Fakultas Teknik. Gue lumayan kenal sama dia dari kegiatan organisasi. Makanya gue seakan ga asing sama lo karena lo itu sering main sama Bang Ali. Malah gue kira lo itu pacarnya Bang Ali.”


“HAHAH!!!! Kenapa orang-orang ngira gue pacarnya Bang Ali, sih?” Aku tertawa bebas mendengar penjelasan tersebut. Sungguh tidak masuk diakal aku menjalin hubungan khusus dengan pria tinggi hitam berambut panjang yang berkali-kali ditolak wanita itu. “Bang Ali itu orangnya asyik aja, makanya kami deket. Tapi sumpah, ga sampe pacaran kok kami. Bang Ali itu seperti kakak bagi gue. Dia sekarang udah nikah ….”


“Ya kan dulu … sekarang gue juga tahu kalau Bang Ali udah nikah.” Ia berjalan kembali menghampiriku. “Oke deh … senang berkenalan dengan lo.”


Aku menggapai tangannya yang ingin bersalaman. Tidak sampai aku lepaskan tangannya karena membantuku untuk berdiri.


“Lo S2 kan? Gue mau daftar S2 di Jurusan Managemen kampus ini,” ucapku.


“Oh bagus dong, cewek itu harus punya pendidikan yang tinggi. Kecerdasan diturunin dari ibu katanya kan?” Ia tersenyum.


“Entahlah, gue bukan anak sains. Tapi, menurut gue ada benarnya karena anak-anak diasuh sama Ibu.”


Ia mengangguk. “Oke deh, sampai jumpa kembali. Gue balik dulu ….”


Ia orang yang ramah sepertinya. Aku tidak mampu merasakan aura-aura jahat dari pembawaan Abimana. Tanganya sempat melambai tatkala aku mendahului langkah kakinya menggunakan sepeda, hingga kami berpisah di saat sebuah bus kota menyambut dirinya tepat di halte kampus. Aku pun kembali mengantarkan sepeda ini kembali kepada Bapak Dekan. Ia pasti ingin segera pulang makan siang karena katanya makanan istri di rumah lebih nikmat daripada makanan di kantin kampus. Lagi pula, rasanya tidak pernah aku lihat seorang Dekan makan di kantin.


Aku pun pulang. Baru saja mobil terparkir di halaman belakang, aku mendengar suara harmonika khas dengan irama Melayu yang sering aku dengar ketika di tepian kampung nelayan. Suara harmonika itu tepat mengarah dari garasi kayu. Aku pun membuka pintu garasi tersebut. Terlihatlah seorang pria tua bertopi koboi yang sedang duduk di atas kursi putar, menatap sebuah lukisan wanita indah karya Borneo.


“Kakek Syarif ….”


Ia menolehku, tetapi tidak dengan Borneo yang sibuk dengan lukisannya.


“Hei, Reira … kau udah pulang. Sini dulu ….” Ia menyambut pelukan tanganku pada pinggang melarnya tersebut. “Kau ini … bukannya mampir ke rumah setelah sampai ke sini, Razel malah kau tinggal di Pekanbaru.”


Aku tersenyum mendengar ucapan tersebut. “Razel mungkin udah punya cewek di Pekanbaru, makanya enggak mau pulang.”


“Hahah … tapi enggak apa-apa, biar Razel belajar tinggal sendirian. Kalau balik ke sini, dia pasti melaut lagi sama Kakek. Sayang seorang sarjana kembali melaut, itu pekerjaan kasar.”


“Aku suka melaut, jadi enggak ada hubungannya. Heheh ….”


Borneo menoleh padaku. “Tadi David ke sini ….”


Aku diam sejenak untuk mencerna kalimat tersebut. “Ngapain dia ke sini?”


“Bertanya tentang keberadaan kau. Tapi maaf ….” Ia mengepal tangannya. “Aku pukul dia sekali.”


Tanganku menepuk kepalanya. “Kenapa kau pukul dia?!”


“Aku kira dia itu maling, tiba-tiba aja di belakang sambil megang Minerva.”


Entah apa tujuannya kemari. Yang pasti, ia sudah mengetahui keberadaanku.


***