Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 58 (S2)



EPISODE 58 (S2)


Momentum itu masih tidak bisa dilepaskan dari masing-masing kami. Kami juga tidak tahu harus bersikap, terasang bingung untuk melakukan hal apa. Kami sadar, warisan bukanlah sesuatu yang harus diselebrasikan, namun kami pun tak kunjung menemukan cara untuk mempergunakannya. Padahal, harta itu sudah berada di depan mata dan siap dipergunakan kapan pun dan di mana pun kapan kami mau. Kini, benda itu masih berada di atas TV sejak hari kemarin. Bingung dan senang bercampur menjadi satu saat ini.


Dika baru balik sejak pergi keluar dari jam pukul sembilan malam. Ia memanggilku untuk duduk di muka TV bersamanya. Di atas meja kayu sudah terletak dua buah kartu rekening tersebut. Aku lihat pria itu duduk berpangku lutut di atas sofa dengan tatapan kosong menatap meja. Hanya sesekali ia bergerak untuk menghisap tembakau yang tengah terselip di sela-sela bibirnya.


“Lima puluh juta masing-masing,” ucapnya dengan nada tak yakin.


Kakiku terasa tak berdaya mendengar uang sebanyak itu. Apalagi, uang yang banyak itu kini merupakan sebuah hak yang kumiliki sepenuhnya. Tidak ada satu pun orang yang menguasainya, kecuali diriku. Aku pun terduduk di samping Dika dengan melakukan gerakan yang sama. Dua bersaudara ini tengah diam seperti orang bodoh dengan menatap meja.


Entahlah, aku memang tidak pernah memegang uang yang banyak. Uang yang aku pegang hanyalah besaran ratusan ribu yang selalu diberikan oleh Dika setiap bulannya. Itu pula yang aku sisihkan demi sedikit sebagai tabungan. Tabungan tersebut selalu saja berkurang dikarenakan selalu habis banyak setelah membeli barang yang direncanakan. Aku seakan tidak percaya kini memiliki uang sebanyak itu. Aku pun tak tahu harus berbuat apa untuk menghabisinya.


“Lo kalau punya uang sebanyak itu, akan lo habisin buat apa?” tanyaku pada Dika.


“Mungkin saja pergi clubbing untuk pertama dan terakhir kalinya. Temen-temen gue cerita clubbing mulu, gue aja yang kampungan enggak pernah ke sana. Atau langsung beli motor vespa satu lagi buat gue. Yang sekarang buat lo aja.”


Aku tertawa pelan mendengar keinginannya untuk pergi clubbing. “Singkat banget sih pikiran lo, udah gede juga malah kepikiran buat begituan. Udahlah mubazir uangnya, dosa pula.”


“Ya ... kan lo nanya, makanya gue jawab.” Ia menoleh padaku. “Jadi, lo bakalan ngapain juga kalau punya uang sebanyak ini?”


“Kalau Ibu dan Ayah masih ada, gue mau naikin haji mereka. Paling minim, mereka pergi umrah-lah. Kan mereka sama sekali belum pernah. Seumur-umurnya hidup gue, minum air zam-zam cuma dari tetangga. Pingin tau kalau yang bawa itu keluarga kita,” balasku.


“Yaudah, lo aja yang pergi umrah. Kan udah punya tuh, bawain gue onta sekalian.”


“Hahah ... amer aja masih gue tenggak. Hati gue belum siap,” balasku.


Dika menghela napas panjang. Tangannya kembali menyulut sebatang tembakau lagi.


“Tapi ada sih yang lebih penting dari semuanya.”


“Utang Ayah ... itu dulu yang kita pikirin. Kita lima puluh-lima puluh persen aja.”


Pria itu menggeleng. “Udah gue bilang, urusan utang biar gue. Lo simpen aja uang itu buat lo. Mana tau lo besok nikahin Reira, terus uang lamarannya tinggi. Kalau gue, udah bisa nyari sendiri.”


Dika menggeser kartu rekening tersebut ke depanku.


“Dik ... lo jangan sok kuat gitu deh buat ngelunasin utang Ayah, gue jijik kalau lo sok bisa kaya gitu. Udahlah ... gue tahu kok lo sering ngeluh sendiri. Lo kira gue enggak dengar? Kalau utang Ayah sisanya lima puluh jutaan, gue dua lima, lo dua lima.”


“Dave, gue sebagai abang lo merasa bertanggung jawab buat keluarga ini. Rio si bodoh itu malah meninggal duluan. Kalau dia masih ada, gue masih bisa kerja sama buat ini sama dia. Lo itu anak bungsu yang harus gue lindungin.”


Aku menggeleng. “Gue ini memang anak bungsu, tapi gue bukan anak kecil. Gue udah bisa mikir sendiri buat hidup gue. Dan lo ... lo bukan orangtua gue. Jangan larang gue buat ngelakuin ini.”


Mata Dika menatapku dengan datar. “Lo ini memang keras kepala ya .... Lo dua puluh juta, lebihnya biar gue.”


Tanganku sontak meraih tangan Dika untuk bersalaman. Hal ini menjadi pertanda kalau aku menyetujui tawaran ini. Masih ada sisa tiga puluh juta yang aku simpan untuk masa depanku.


“Setuju ... gue setuju dengan itu.” Aku mengguncang tangannya.


“Tapi ingat, uang sisanya lo simpen. Kebutuhan bulanan biar gue yang nangung. Itu masih tanggung jawab gue sebelum lo tamat kuliah dan dapet kerja.”


“Setuju banget ... tapi lebihin dikit ya jajannya. Hahahah.”


Dika tertawa mendengar itu. “Kita enggak pernah diajarin buat banyak jajan sama Ayah.”


Aku bersandar ke sofa. “Kayanya kita bikin syukuran, deh. Kata guru agama gue di madrasah, kita bisa sedekah atas nama orangtua kita. Kalau lo enggak pengen ribet, tinggal beli nasi kotak, trus bagiin ke warga sekitar. Boleh juga ke panti asuhan di sekitaran komplek.”


“Oke, deh ... besok gue cari catering-nya. Lumayan nih, gue jarang bikin pahala. Hahaha ....”


“Dasar pengikut Dajjal,” pungkasku.


Rencana ini aku pikirkan matang-matang sebelum tidur. Pasti kedua orangtua kami senang ketika kami bersedekah atas nama mereka. Mereka sedikit lega dari panasnya liang kubur yang tengah mereka rasakan. Aku juga berkeinginan untuk menyumbangkan sebagian harta yang kudapat pada sebuah panti asuhan di dekat sini. Semua ini menjadi rasa syukur kepada Tuhan yang secara tidak terduga telah memberikan kami kuasanya. Seluruh utang Ayah yang selama ini menggerogoti kami, kini bisa kami lunasi.


Tuhan itu ada ... itulah yang aku ucakan saat ini. Ada satu titik di masa lalu, aku pernah berpikir bahwasanya Tuhan tidak ada. Di kala itu, Tuhan hanyalah sebatas imajinasi bagi para penggila dogma, hingga aku sadar bahwasanya Tuhan benar-benar ada. Tuhan menunjukkan dirinya dari balik tangan-tangan baik yang telah merubah hidup kami menjadi lebih baik. Kini pun begitu pula. Tuhan mengirim seorang pria bersetelan jas dan membawakan berita baik kepada kami. Sungguh hamba yang durhaka apabila kami tak pandai bersyukur untuk hal itu.


Berita ini sama sekali belum aku beritahukan kepda Reira. Rencananya, aku baru menceritakannya setelah Reira pulang dari Singapura. Ia pasti sangat senang mendengar berita baik ini karena dirinyalah yang sering aku beri nasehat untuk mensyukuri keluarga yang ia punya saat ini. Aku tidak ingin ia menyesal ketika satu per satu keluarga pergi meninggalkannya dan hidup sebatang kara di atas dunia.


Keesokan harinya, aku pergi mengunjungi kediaman Mawar. Aku punya ide untuk memesan bakpaonya yang lezat tersebut sebagai tambahan sedekah nasi kotak. Bakpao yang ia buat sangatlah lezat, pertanda tangan kecil bening itu sudah lihai dalam membolak-balikkan adonan bakpao.


Dika bergerak cepat untuk mencari catering yang menyediakan paket komplit nasi kotak yang akan dibagikan kepada tetangga. Demi menyediakan seluru hidangan yang akan dikirim kepada setiap rumah, maka kami patungan untuk itu. Ingin rasanya aku mengundang para warga untuk berdoa di rumah dan makan malam, tetapi Dika pasti tidak mau karena hanya kami berdua yang mengurusi hal itu. Ia tidak ingin ribet dan hanya membeli nasi kotak catering, begitu pula aku berinisiatif memesan bakpao milik Mawar yang lezat.


Mobil catering pun datang pada pukul tiga dua hari kemudian. Dika girang sekali ikut membantu mengangkat puluhan nasi kotak yang datang. Ia bahkan menenteng lebih banyak daripada orang catering itu sendiri, seakan dirinya juga merupakan bagian pegawai catering tersebut. Bahkan, dirinya pula yang menutup pintu box mobil itu dengan senanng hati. Baiknya Dika, tangannya memberikan uang rokok kepada para pengantar nasi kotak.


“Wah, makasih banget, Bang. Padahal, kami udah dibayar, kok.” Salah satu dari mereka menggambil uang tersebut tanpa ragu.


“Udah, ambil aja. Gitu aja kok repot. Hahaha.”


“Kami pulang dulu ya, Bang.” Mereka pun menunduk kepada Dika.


Dika meminta pada kami untuk mengantar makanan ini setelah jam empat nanti. Ia menggunakan jasa pegawai bengkelnya untuk mengantarkan nasi kotak ke warga sekitar rumah. Terdapat dua puluh nasi kotak yang akan dibagikan ke tetangga, sedangkan lima puluh porsi lainnya sudah direncakanan untuk dibagikan kepada sebuah panti asuhan. Karena kesibukanku, aku pun lupa masih ada anak-anak yang pasti senang apabila dibawakan makanan, yaitu para awak kapal Reira di gedung tersebut. Aku berjanji di dalam hati apabila ke sana nanti, akan aku bawakan pula nasi bungkus sebagaimana pula yang sering dilakukan oleh Reira.


Bengkel tutup lebih awal. Kami di teras rumah sibuk untuk meletakkan nasi bungkus ke dalam plastik kresek satu per satu untuk warga sekitar. Kebetulan sekali ketika kami sedang bekerja di teras rumah, tibalah sebuah mobil terparkir di depan pagar. Turun seorang wanita berparas bening yang memanggil namaku dari sana. Mawar memintaku untuk membawakan seluruh bakpao yang aku pesan.


Ia membuka pintu mobil, di sana sudah bertumpuk wadah kotak plastik lima buah bertumpuk.


“Wah, lo cekatan juga bikin bakpao sebanyak ini.” Aku memuji ketika mengangkut wadah tersebut ke teras rumah.


“Udah gue bilang, gue ini anak dari seorang koki di Manggar. Membuat kue bukanlah sebuah hal yang sulit,” balasnya sedikit menyombong.


“Heheh, iya deh ... Jadi, berapa semua jadinya?” tanyaku.


“Terserah lo aja mau berapa dibayar. Lagian, sebagiannya buat panti asuhan, kan? Gue enggak dibayar pun enggak apa-apa.”


Aku memicingkan mata. “Koki macam apa yang berjualan makanan seperti ini.”


“Satu bakpao anggap aja harganya lima ribu. Karena lo belinya banyak, gue kasih harga tiga ribu per satu bakpao. Kali aja sendiri berapa semuanya.”


Aku menenteng tiga buah tumpukan wadah bakpao, sementara lebihnya dibawa oleh Mawar. Satu per satu pegawai Dika menyapa Mawar dengan wajah tersenyum riang karena telah kedatangan seorang gadis cantik lagi bening sepertinya.


“Wah, Mawar ... makasih banget.” Dika langsung menyambar satu bakpao yang masih hangat. Memang, kami memesannya berlebih untuk makan di rumah. “Jadi, berapa semuanya?”


“Tiga ribu kali sembilan puluh bakpao, Bang.”


“Oh, segitu ....” Dika kembali mengeluarkan uangnya dari dompet, lalu, memberikan tiga lembar uang pecahan seratus ribu. “Ambil kembaliannya, lumayan makan bakso sama cowok lo.”


Mawar tersenyum dengan wajah memerah ketika mendengar hal tersebut. Anak ini mana ada pacar, walaupun banyak sekali yang mengincarnya barangkali. Ya, mana ada cewek pintar dan cantik sepertinya yang tidak disukai oleh para pria. Tentu saja setiap mata akan tertuju padanya.


Kami memasukkan satu per satu bakpao ke dalam nasi kotak. Muat maupun tidak muat, Dika tetap memaksakan bakpao itu agar masuk ke dalam kotak nasi. Akhirnya, satu per satu nasi kotak siap untuk dibagikan.Para pegawai Dika membagikan makanan di sekitaran rumah, sementara itu aku dan Mawar akan berangkat menuju panti asuhan.


Aku melihat wajah licik dari Dika. Ia mengambil nasi kotak berlebih untuk satu rumah. Begitu pula beberapa bakpao yang ia masukkan ke dalam plastik yang berbeda. Tatklala ia berganti baju menjadi baju sehari-hari―tidak lagi seragam bengkelnya―terciumlah semerbak aroma parfum yang sama ketika ia pergi kendurian sewaktu itu. Tidak lupa pula peci hitam yang menambah kesan religius pada dirinya, padahal selalu saja terlambat untuk melakukan ibadah.


“Hmm ... gelagat pakai parfum. Mau ngapel ke rumah calon mertua ternyata,” cibirku padanya.


Ia malah pemanasan tangan sebelum melangkah. Mungkin saja ia deg-degan sebelum bertemu dengan Kak Rani, gadis keturunan Batak yang merupakan putri dari Pak RT, yaitu Pak Ucok panggilannya. Siapa yang tak tahu Kak Rani di seluruh komplek ini, seluruh pemuda pasti tahu. Aku pun tak jarang mencuri pandang ketika melintasi muka kedai harian Pak RT. Beliau merupakan seorang guru muda di salah satu SMA swasta. Aku dengar-dengar, Kak Rani merupakan guru seni di sana. Pantas saja ketika kami di tongkrongan tengah menelusuri akun instagram-nya, terlihat ia banyak mengikuti event-eventi menari.


“Rumah Pak RT, itu khusus gue ... jangan diganggu guguat,” balasnya sembari menenteng dua plastik nasi kotak.


Mawar berbisik padaku. “Abang lo kenapa?”


“Lagi fase birahi ... pengen kawin.”


“Kaya binatang aja, hahahah ....” Mawar tertawa.


Aku dan Mawar pergi menuju lokasi panti asuhan yang tak jauh dari komplekku. Seluruh nasi kotak untuk panti asuhan sudah aman di dalam mobil, tinggal disalurkan saja.


Tampaklah sebuah rumah tingkat dua dengan papan yang menjadi label dari panti asuhan tersebut. Baru saja kami sampai di depan gerbang, sudah terdengar hiruk pikuk anak-anak yang bermain di halaman. Ada yang bermain bola kaki seadanya, ada yang bermain kejar-kejaran, atau bahkan aku lihat sedang bermain masak-masakan dengan daun-daun yang dipetik menjadi bahannya.


Andai saja kedua orangtuaku meninggal tatkala kami masih kecil, kami bertiga mungkin saja akan berada di posisi mereka. Bermain tanpa keluarga kandung yang hangatnya membelai sukma, hanya teman-teman baru yang dianggap menjadi keluarga sementara. Ya, mungkin saja itu terjadi padaku apabila yang aku pikirkan benar-benar terjadi. Tidak ada sanak keluarga yang merawat kami, tidak mungkin pula tetangga yang menjadi orangtua asuh kami.


Di sinilah waktunya aku memposisikan diri sebagai mereka, yaitu sama-sama pernah merasakan kehilangan tanpa siapa-siapa. Setelah menemui orangtua asuh dari panti asuhan, kami mengangkat seluruh nasi kotak yang telah kami bawa. Mereka begitu senang melihat kami menenteng makanan, seakan ingin bersenggayut di tanganku karena mereka mengerumuni kami yang sedang melangkah. Aku sangat bahagia sekali melihat senyum dari mereka.


Anak-anak panti didudukkan pada aula utama. Aku diminta untuk memberikan sepatah dua patah kata untuk mereka. Maka, aku sebutkan bahwa posisi kita sama, yaitu tanpa kedua orangtua. Hanya saja, aku sedikit beruntung masih disisakan seorang saudara yang penuh tanggung jawab.


Air mataku menetes tatkala kubagikan satu per satu nasi kotak tersebut. Ucapan terima kasih yang mereka sampaikan seakan menghentak batinku, sebegitu sombongkah diriku yang tidak bersyukur ini? Sudah merasa besarkah aku yang kecil ini? Aku merasa lebih kecil dari senyum-senyum mereka itu. Terlalu banyak kesalahan yang aku buat karena terus saja mengeluh.


Hanya satu yang membuat tangisku berada di ujung puncak, ketika kami sama-sama berdoa, tatkala orangtua asuh mereka berharap amalan ini akan membawa kedua orangtuaku ke surga, tangisku pecah di tengah sunyinya ruangan ini.


“Amiin ....” Aku mengusap wajahku.


***