Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 47 (S3)



Berjalan di atas gelap kami telusuri di aspal komplek yang hitam. Redup jatuh pada wajah Borneo yang mengikutiku dari belakang, hanya pencahayaan minim dari lampu jalanan yang menemani kami. Sepi seperti biasanya, warga komplek pasti sudah lelap tertidur malam ini. Tidak tampak aktivitas yang berarti, kecuali bapak-bapak bermain domino di salah satu warung. Pemilik warung itu merupakan metua dari Dika, Kakek Syarif sendiri yang menjadi pengganti ayah mereka ketika lamaran berlangsung. Masih jelas dalam ingatanku ketika aku dan David melenggan berdua dengan seragam baju Melayu warna kuning yang khas. Kami begitu serasi pada saat itu.


Satu belokan ke kanan merupakan jalan menuju rumah David. Biasanya di depan rumah pria itu selalu ramai oleh pegawai bengkel Dika yang melepas penat. Namun, sekarang sepi sekali karena bengkelnya sudah berpindah tempat seiring dengan Dika yang tinggal di rumah baru bersama istrinya. Tempat kecil depan rumah itu tampak tertutup rapat, gelap, dan banyak sampah minuman kaleng di atas meja. Sementara rumah David sekarang hampir sama seperti ladang hantu. Daun kering menumpuk di atas plavin box, bahkan hingga ke teras. Bunga-bunga tidak terawat lagi, tampak kering dan layu.


“Ini rumah David?” tanya Borneo.


“Iya … ini rumah dia. Terakhir kali aku ke sini, rumahnya bersih. Tapi sekarang benar-benar berantakan.”


“Kau punya pacar anak orang kaya. Rumahnya besar.”


Aku menepuk kepala Borneo. “Dia itu gembel, enggak lebih hidupnya kaya anak kos-kosan. Kedua orangtuanya udah meninggal. Tapi aku rasa setelah dia punya usaha baru, hidupnya mulai berubah. Buktinya dia bisa pacaran sama cewek yang mintanya banyak.”


“Terus, apa yang bakal kita lakuin di sini?”


“Masuk ke kapal orang lain.”


Langkahku pergi ke gerbang pagar. Sedikit aku buka untuk memberikan aku dan Borneo celah untuk lewat. Borneo berisik sejak awal kami memasukinya, ia cemas jika kami melakukan hal yang mencurigakan.


“Reira!” Borneo menarik tanganku. “Kau mau ngapain? Kita bisa digrebek warga!”


Aku lepaskan tangannya yang menggenggamku.


“Kau ini berisik banget! Ikut aja aku, nanti kau bisa minum-minum di rumahnya.”


“Masuk ke rumah orang itu bisa dikira maling,” balasnya.


“Gue lebih dari lima kali masuk ke rumah dia diam-diam. Jadi, kau tenang aja. Aku udah berpengalaman daripada maling.” Aku melanjutkan langkahku.


Tanganku enggan kotor untuk mengangkat tangga kayu samping rumah. Aku pinta Borneo untuk meletakkannya tepat di balkon kamar David. Anak itu pasti sedang tidak ada di rumah. Tanda pertama ialah teras yang gelap, yang kedua ialah kamar yang redup tanpa cahaya. David sudah aku duga sedang berada di cafenya. Setelah tangga terpasang dengan aman, aku naik duluan dan diikuti oleh Borneo setelahnya.


“Bagaimana kita masuk?” tanya Borneo.


“Kita cuma butuh tangan …..” Aku tersenyum padanya.


David sudah memperbaiki kunci jendelanya hingga aku tidak lagi bisa masuk dengan cara menyelipkan kayu atau kunci L. Namun, ia terlalu bodoh membiarkan aku leluasa masuk ke kamarnya sehingga aku mengetahui jika salah satu sepetak kaca jendelanya bisa dibuka dengan muda. Aku sedikit memodifikasinya waktu itu, hingga aku bisa masuk dengan cara membuka sepetak kaca tersebut. Beruntung, David hingga saat ini tidak menyadarinya. Setelah sepetak kaca kecil itu bisa dibuka, aku dengan mudah memasukkan tangan untuk membuka kunci jendela.


“Selesai …..” Aku membersihkan tanganku.


“Aku berteman dengan maling sekarang.”


“Semua orang itu maling, Borneo. Tapi dengan jalannya masing-masing.” Kakiku masuk duluan ke kamar David sembari tersenyum kepada Borneo. “Ayo masuk, nanti Pak RW lihat kau.”


“Kau memang  keturunan Kumbang,” pungkasnya padaku.


Aku hirup dalam-dalam wangi kamar David yang masih sama seperti dulu. Sebagai seorang bujang yang belum menikah, aku tidak heran kamarnya berantakan seperti ini. Baju kotor berserak di atas lantai, berkas-berkas tergeletak saja pada meja, bantal tidak tersusun rapi seperti orang bangun tidur, dan seprainya sekusut wajah Razel yang aku bangunkan dengan paksa.


Lembutnya seprai ranjang mengingatkanku pada malam terakhir aku bertemu dengan David. Kami habis minum arak Bali di balkon sampai mabuk, lalu berlanjut di atas ranjang yang sekarang aku sentuh. Sungguh, itu pengalaman yang tidak pernah aku lupakan. Kami benar-benar lepas dihantam oleh asmara yang membara.


“Kau lapar?” tanyaku.


“Kau ada lihat aku makan sedari tadi siang?”


“Mari kita lihat isi kulkas anak ini.”


Kulkas tidak berisi banyak makanan. Hanya beberapa bungkus mie instan dan telur ayam. Beruntung aku menjumpai dua kaleng bir dingin. Sementara aku merebus mie, Borneo aku biarkan duduk di tepi meja makan dengan wajah cemas karena takut David memergoki kami berdua. Setelah semuanya siap dihidangkan, aku menepuk dahi Borneo dengan lembut.


“Kau ini! Ombak berani kau hantam, tapi begini aja masih takut.”


“Aku masih waras, Reira. Bukan kaya kau!” Ia menunjukku dengan tegas.


“Silahkan Tuan Tan Borneo, ada mie instan dan sekaleng bir. Mohon maaf atas bumbu yang tidak pas karena udah ada takarannya dari pabrik.”


“Ceritakan aku bagaimana Mawar itu.”


“Mawar?” Aku memejamkan mata membayangkan wanita secantik dirinya. “Wanita Tionghoa yang  aku kenal waktu perjalanan ke Belitung. Dia teman kampusnya David, cewek paling cerdas sefakultasnya, jadi aku enggak heran kenapa dia bisa lanjut kuliah di Jerman. Tubuhnya setinggi kau, matanya sipit hampir sama dengan mata kau, tapi kulitnya putih sekali.”


“Lalu, David selingkuh dengan Mawar?”


“Aku bisa bilang iya, tapi bisa bilang enggak. Aku memang awalnya merancang Mawar agar dekat dengan David karena David itu tempat bersinggah aku yang gagal. Papa enggak setuju aku dengan David dan tetap menjodohkan aku dengan Nauren. Alhasil, aku benar-benar melepaskan David buat Mawar.”


“Kenapa?”


“Meninggalkan seseorang waktu masih bersama itu lebih sakit daripada jika udah berpisah. Lebih baik David pindah ke lain hati daripada dia mencari aku. Selama lebih dari lima tahun aku enggak ada kabar. Aku jadi orang berdosa kalau terus menggantung  orang lain.”


Ia diam dengan wajah datar. “Aku enggak ngerti dengan urusan cinta. Tapi, aku paham maksud kau bagaimana. Terus, rencana selanjutnya bagaimana?”


“Setidaknya untuk sekarang aku mau memperbaiki dampak dari kesalahanku. David sedang enggak baik-baik aja. Dia ketergantungan narkoba. Saudara laki-lakinya mati karena sakit HIV setelah kecanduan narkoba jenis putaw. Aku enggak mau David berakhir seperti itu.”


“Ganja bagi aku biasa aja. Dia sama sekali enggak berbahaya.”


“Kepalamu itu enggak berbahaya!!!” Aku menarik piring kosongnya untuk dicuci. “Mungkin ada alasan dari kampanye legalisasi ganja. Tapi bagi orang yang menyalahgunakan, itu tetap berbahaya. Rio juga awalnya dari ganja, hingga dia nyoba putaw.”


“Baiklah cepu BNN.”


Kami menyudahi sesi makan di rumah orang lain ini dengan kembali masuk ke dalam kamar David. Namun, Borneo mencengkram tanganku tatkala mendengar pintu bawah yang dibuka. Aku dan dirinya segera keluar melalui jendela. Terlihat dari balik jendela, lampu ruang tengah rumah terbuka. Aku mendorong Borneo untuk segera turun. Ia meletakkan tangga itu ke tempat semula.


Tiba-tiba saja Borneo menarikku ke teras di bawah balkon kamar. Ia menutup mulutku sembari menunjuk ke atas. David baru saja menuju ke balkon dengan suara seseorang perempuan bersamanya.


“Bagaimana acara tanda tangannya?”


Wanita itu jelas sekali Mawar.


“Lancar, enggak ada masalah. Pembaca gue kebanyakan remaja,” balas David.


“Reira … sedang ke mana anak itu ya?”


“Dia pasti terkejut kalau buku itu masih ada namanya. Penerbit enggak setuju kalau aku mengganti nama tokoh dan judulnya, dia lebih setuju sebagaimana awalnya gue nulis. Unik katanyaa ….”


“Entahlah David … gue ngerasain firasat kalau Reira sedang berada di sekitar kita.”


“Dia itu ada di mana-mana. Kita lihat awan, laut, anak jalanan, di ada di sana. Walaupun dia begitu, setidaknya ada banyak kenangan yang pernah Reira tinggalkan,” balas David.


“Sekiranya Reira kembali, gue enggak bakal ngelepasin elo lagi dengannya.”


Aku mendengar suara kecupan di atas sana yang membuat mataku tertutup.


“Setidaknya lo selalu di sisi gue saat ini.”


Mawar terdengar mendesah.


“David! Gue masih pakai gaun!”


Aku dan Borneo saling menatap. Tangan pria itu menutup kedua telingaku kemudian. Luas tangannya hampir menutup seluruh bagian wajahku.


“Kalau kau minta aku buat menghajar anak itu sekarang, beri aku perintah,” ucap Borneo.


Aku menggeleng. “Jangan … itu haknya dia. Kita hanya orang lain sekarang.”


Ia menarik tanganku untuk pergi setelah David masuk kembali ke kamarnya bersama Mawar. Entah kenapa, ingin sekali air mataku keluar segaris saja, tetapi tidak urung menampakkan diri. Hatiku memang pilu mendengar percakapan itu, bukan mengenai dirinya dan Mawar. David masih menghargai kehadiranku dengan ucapannya. Itu saja ….


***