
EPISODE 147 (S2)
“Kalian mau di belakang?” tanya Bang Syamsul.
Aku melihat tangan Bang Syamsul menunjuk bak belakang truk tronton itu. Aku cemas jika Reira mengatakan iya. Dirinya bisa saja gila tiba-tiba dan memasang diri untuk duduk di bak belakang yang besar.
“Gila aja, Bang. Malam begini bisa hilang kami diambil hantu.” Reira melanjutkan langkahnya menuju pintu truk.
“Hahah ... benar juga.” Ia membuka bak belakang truk tersebut dan kami diminta untuk menghindar. Terlihat di dalamnya kosong tanpa ada apa-apa. “Kalian masukkan barang-barang besar itu di sini. Kalau di dalam, pasti enggak muat. “
“Oke, Bang.”
Satu per satu koper dimasukkan ke bak belakang, diletakkan paling sudut agar tidak bergerak jauh ketika tercampak. Tidak mungkin akan tercampak keluar karena bak belakang cukup tinggi. Ini adalah truk tronton pengangkut batu bara, tentu saja memiliki ruang yang lebar di belakang.
Mesin dihidupkan. Kami mencari posisi yang enak untuk duduk. Bangku hanya dua buah tersedia, diisi bangku kenek oleh Reira dan Mawar. Mereka satu berdua karena bangku cukup lebar. Aku mengambil posisi tengah tepat di belakang porsneling. Sementara itu, Candra dan Razel di ruang kecil di belakang yang terdapat kasur tipis tempat berbaring. Bergetar tubuh kami di atas mesin diesel yang berbau menyengat. Aku mual sebelum berangkat, masih aku tahan sebisa mungkin.
Aku yakin Bang Syamsul biasa mendengarkan lagu *remix* angkot atau musik dangdut. Namun, kali ini Reira mengambil alih DVD truk dengan menyambungkan ke handphone. Berbunyilah lagu *punk rock* faforitnya. Mungkin saja hanya aku dan Reira yang mengerti cara menikmati musik *rock*. Sedangkan yang lain sudah pasti hanya mendengarkan musik keras dengan telinga yang pekak.
Berangkat kami meninggalkan kota berbau asap bakaran gambut ini. Aku menyaksikan betapa lambatnya truk di belakang sebuah kendaraan, tanpa bisa melaju atau pun memacu. Aku yakin kendaraan di belakang pun mengutuk pula dengan menghujat truk berjalan lambat. Ternyata begini yang dirasakan oleh para supir truk, penuh kehati-hatian karena membawa kendaraan besar. Resiko menyenggol kendaraan lain sudah pasti lebih besar. Pengendalian setir harus cermat karena besar dan berat. Lihatlah otot tangan Bang Syamsul yang kekar akibat menyupir bertahun-tahun.
Tidak supir rasaku jika tidak perokok berat. Ia menolak rokok kretek *filter* milikku, padahal sudah cukup berat untuk ukuran perokok. Namun, ia memilih kretek murni miliknya sendiri. Bau cengkeh yang menyengat memasuki hidungku tatkala Bang Syamsul menghisapnya. Menutup hidunglah dua wanita yang ada di dalam ini, untung saja membawa masker sehingga mereka bisa terhindar dari asap. Cerita demi cerita pun ia ceritakan mengenai pengalamannya menjadi supir.
“Bang, tadi abang beneran nyewa PSK?” tanya Razel secara frontal. Padahal, itu sangat privasi sekali. Kami semua pun sama-sama tahu bahwasanya Bang Syamsul baru keluar dari tempat prostitusi.
“Kau mau juga?” tanya balik Bang Syamsul.
“Waduh ... *gile*!” balas Razel terkejut.
Bang Syamsul tertawa mendengar respon dari Razel. Ia menoleh ke belakang sesaat untuk melihat Razel.
“Hei, Reira bilang kau anak Pak Syarif, kan?” Ia mengembalikan pandangannya ke depan. “Pak Syarif itu pernah berkelahi dengan aku.”
Reira sontak melihat ke samping. Ia tertarik dengan perkataannya tersebut.
“Iya, Bang. Kenapa emangnnya kok bisa gelud sama bokap gue?” tanya Razel.
“Hahaha ... biasa ... gara mabuk di kapal. Kami ke Banjarmasin waktu itu dari Lampung. Aku beli tuak di sana dan dibawa ke kapal buat minum sendiri. Enggak sampai mabuk, sih ... cuma ketahuan aja. Alhasil, pipi aku biru kena tinju.”
“Ganas juga bapak gue, ya?” tanya Razel pada diri sendiri.
“Tentu jelas ... dia lebih garang daripada Pak Kumbang. Kumisnya itu bikin takut orang. Tapi, dia pula yang bikin semua awak kapal jadi tertib dan disiplin. Beda sama Pak Kumbang, dia itu orangnya karismatik. Melihatnya saja udah segan. Beda sama Pak Syarif yang bikin takut.”
“Kakek gue memang unik orangnya.”
Pandangan Bang Syamsul beralih ke Reira. “Enggak abang sangka kau udah sebesar ini. Cantik pula.”
“Jangan godain gue, Bang. Gue punya dia.” Reira menunjukku.
“*Alamak Jang*! Kau cowok Reira?” Wajah Bang Syamsul tidak yakin melihat diriku. Dirinya bukanlah orang yang pertama seperti itu.
Aku hanya tersenyum menjawabntya. Setelah itu, Bang Syamsul kembali menoleh pada Reira.
“Aku udah dengar kabar Pak Kumbang. Kalau aku ikut melaut hari itu sama dia, udah pasti aku bernasib sama. Ngomong-ngomong, Pak Kumbang ada ngasih barang sama kau, Reira?”
“Barang?” tanya Reira dengan heran.
Barang? Aku mengerti sekarang. Pak Kumbang mempunyai banyak barang misterius yang terkadang menimbulkan pertanyaan di pikiranku dan Reira. Salah satunya adalah keris itu, keris yang bisa berpindah tempat dalam satu malam. Hal mistis itu sampai sekarang masih membayangi diriku mengenai arti dari semuanya. Bang Syamsul ternyata turut mengetahui hal tersebut.
“Kakek ninggalin sebuah keris.”
“Keris itu berdiri?” tanya Bang Syamsul.
Aku dan Reira saling bertatap. Kini, tatapan mata kami menyiratkan hal yang sama.
Posisi tubuh Reira langsung menghadap Bang Syamsul.
“Abang tahu tentang itu?”
Bunyi rem angin truk menyeringai di sela percakapan ini. Bang Syamsul sejenak menghisap rokok beratnya itu.
“Pak Kumbang selalu berpesan kalau pergi jauh. Selagi keris itu berdiri, ia tak akan mati ditelan ombak. Enggak ada satu pun perkataan bohong yang selama ini pernah aku dengar dari Pak Kumbang.”
Reira terdiam mendengarnya. Ribuan tanda tanya kini mungkin menyelimuti pikiranya tersebut.
“Bang ... Abang percaya kalau Kakek Kumbang masih ada?” tanya Reira serius.
Bang Syamsul tak kunjung menjawab. Ia sibuk mengendalikan setir mobil tersebut.
“Aku selalu meyakini kalau Pak Kumbang enggak akan mati karena ombak. Aku mengira dia mati karena sakit. Tapi, bisa jadi itu takdir Tuhan. Kau memang lihat keris itu berdiri?”
“Bukan hanya berdiri, dia menghilang.”
Mata Bang Syamsul terlihat melebar mendengar hal tersebut. Tak lama kemudian, ia tersenyum perlahan. “Dia masih hidup, aku yakin.”
Reira mengembalikan posisi tubuhnya menghadap ke depan. Jatuh kepala Mawar yang tertidur ke pundaknya. Tubuhnya bergoyang berkat goncangan mobil, tak ubah layaknya pikiran Reira saat ini. Kalimat dari Bang Syamsul tak ia jawab. Kami kembali hening di tengah perjalanan malam.
Lima jam berlalu. Kami tiba di ibu kota Kabupaten Kuantan Singingi, yaitu Teluk Kuantan. Suasana sunyi karena hampir tengah malam. Hanya ada kumpulan balap liar tatkala kami melewati jalanan yang ada sebuah stadion. Dari Kota Teluk Kuantan, menurut Bang Syamsul masih ada perjalanan satu jam kurang lagi ke desa Bang Ali. Sunyi di dalam mobil, tak ada yang bersuara. Hanya aku dan Bang Syamsul yang masih bertahan matanya.
“Abang udah punya istri?” tanyaku penasaran.
“Sudah ... anakku satu sudah SD. Mereka di Kampar, salah satu kabupaten di Riau.”
“Oh ... begitu.” Aku mengangguk.
Bang Syamsul menatapku. “Kau masih penasara kenapa aku di Jundul tadi?”
Ragu untuk menjawab iya, aku balas dengan hanya menangguk. Responku dibalas senyuman olehnya.
“Dia teman masa kecil Abang. Sudah tua, *body*-nya memang mantap, tapi masih jadi kaya gitu. Anaknya satu, suaminya ninggalin dia. Aku setiap ke Pekanbaru pasti ke sana. Sekalian cuci mata, hahahah!” Ia menggosok matanya. “Tapi gini, dia itu tetanngga dekat rumah dulu waktu kecil. Jadi, kami memang dekat. Kemarin itu, dia butuh pinjaman. Aku selalu ngasih kalau dia minta pinjaman karena dia pasti bayar. Jadi, salah kalian bilang aku ke sana cuma buat senang-senang. Bukan masa aku lagi yang kaya gitu.”
Setiap orang mempunyai masalahnya masing-masing sehingga tak bisa seorang manusia menganggap sebelah mata manusia lainnya. Pak Cik Milsa benar adanya, realita itu diceritakan kembali oleh Bang Syamsul kepadaku.
“Maaf, Bang. Kami udah mikir negatif duluan.”
“Ah ... santai aja. Udah biasa. Hahaha ....” Ia menghela napas sembari melihat ke luar. “Nah, kita sampai di desanya.”
Tanganku menepuk Reira untuk membangunkannya. Beberapa kali tepuk ia pun terbangun.
“Telpon Bang Ali, kita udah sampai di desanya.”
\*\*\*