
EPISODE 167 (S2)
Air arak Bali bertambah pahit aku rasa ketika suara parau Fasha menceritakan kejadian itu. Tak lebih dari seorang yang tengah diburu oleh hantu, Fasha terlihat panik tatkala menceritakannya. Wajahnya takut, matanya berkaca-kaca menatap kami semua. Mawar pun turut berekspresi sama. Ia menutup mulut pertanda ketidakpercayaan atas kejadian itu. Seseorang yang kami kira sudah pasti tidak akan pernah terlibat di dunia hitam, kini tertangkap basah bersama seseorang yang aku urungkan niat untuk menghajar wajahnya. Wajahnya sudah pasti malu, tanpa aku habisi terlebih dahulu.
“Papa pernah mengurusi kasus vandalisme Reira di rektorat, makanya dia tahu sekali wajah Reira. Ia sendiri yang memeriksa Reira dan memburu Reira hingga ke rumah papanya.” Fasha menggigit bibir menceritakan hal tersebut.
Kami terdiam mendengar hal tersebut. Tak tahu apa yang ingin dikomentari, seakan semuanya terjadi begitu saja tanpa tanda-tanda, sangat menggugah ketidakpercayaan atas realita. Bagaimana seluruh kejadian ini terjadi dalam rangkaian fenomena, hingga aku pun bingung membaca maksud dari semua ini.
Bang Ali menepuk meja bundar kami. Wajahnya mulai buram oleh efek alkohol. Matanya memerah menahan beratnya mata dan kepala yang mulai teleng. “Reira! Kenapa lo begini?! Gue benci dia!”
“Tenang, Bang. Lo lagi mabuk, enggak terkendali,” ucap Candra di sampingnya.
“Sial! Kenapa orang seperti dia bisa bertemu sama gue?! Bahkan ... menipu kita semua!” Ia menghantukkan dahinya ke atas meja, lalu naik menatapku. “Bagaimana menurut lo?”
“Sebagai orang yang sedang terlibat narkoba, gue cukup miris kalau ada salah satu orang yang gue kenal juga terlibat hal sama,” balasku.
“Fasha, apa lo udah mastiin itu bener-bener dia?” tanya Candra.
Fasha mengangguk pelan. “Papa gue enggak mungkin bohong. Bawahannya sendiri yang menangkap Reira dan Nauren di hotel itu. Ada sepaket sabu siap pakai beserta alat hisap. Gue miris banget ketika mereka diciduk sedang tanpa busana. Gue yakin bakalan jadi berita nasional.”
“Tanpa busana?” tanya Mawar.
“Ya ... ngapain lagi kalau cewek dan cowok di hotel berdua,” balasku sembari menenggak segelas kecil arak Bali. “Kita enggak perlu mengurusi itu. Itu semua kerjaan polisi.”
“Tapi, gue yakin kasus mereka bakalan cepat tutup karena mengingat posisi kedua orangtua mereka yang bakal calon gubernur. Karena barang bukti ada, setidaknya mereka direhabilitasi.”
“Seharusnya orang-orang sepertinya dipenjara,” balasku.
“David!!! Itu Reira!!! Pacar lo!!!” Fasha berteriak tiba-tiba. Air matanya mengalir menjamah pipi.
Aku sontak berdiri dengan menghentak meja.
“Pacar dari mana? Ada pacar yang mengkhianati kekasihnya sendiri?!”
Perlahan tangan Mawar menahan jemariku agar aku kembali duduk. Ekspresi takut yang ditunjukkan oleh Fasha membuatku perlahan turun. Kepalaku terlalu tersulut amarah sementara.
“Maaf, Fasha ... gue enggak bermaksud.” Aku membuang wajah ke arah lain. Tak sanggup diriku melihatnya yang menangis bertambah sedih.
Bang Ali seperti tak ada toleransi akan kadar alkohol, ia langsung menyicpi arak Bali itu langsung dari botolnya. Tangannya langsung menghentak botol itu di atas meja. Tak terlihat normal lagi wajah Bang Ali di meja ini, seperti orang yang baru kalah judi.
“Gue enggak mau tahu ... mau dia direhab kek, dia dipenjara, nyogok polisi buat bebas, pokoknya kita jangan pernah jenguk dia! Reira pantas mendapatkan hal ini!”
Realita ini tak mungkin bisa kami dustai. Ia meninggalkan kapal induk di mana ia selalu bernaung, berganti dengan kapal baru yang saat ini menjadi temannya mengarungi laut sendirian. Namun, badai terlalu kencang untuk ia tembus. Begitu tinggi ombak yang menghantam ujung tiang layar kapal, hingga pecah menjadi berkeping-keping. Kini, ia tenggelam sendirian tanpa ada yang ingin membantu. Sepi sendirian di dalam dendam kepada diri sendiri, aku yakin sekali hal tersebut.
Jujur, aku tak habis pikir ia akan melakukan hal tersebut. Aku selama ini melihat Reira yang selalu menjadi anak baik, tanpa pernah memperlihatkan niat buruk yang menjerumuskan. Ia terlibat di dalam kasus narkoba, sudah dipastikan oleh Fasha sendiri yang menunjukkan foto Reira sedang di pemeriksaan kantor polisi. Aku melepaskannya untuk melakukan apa saja yang ia sukai, tanpa pernah tahu ia ternyata pernah mencicipi benda yang selama ini orang hindari.
Lain dimulut, lain di hati. Aku bisa memakinya sebegitu keras kepada orang lain, seakan dirinyalah orang yang paling aku benci di atas dunia ini. Memang, dirinya telah menghancurkan hatiku, mematahkannya, dan membuangnya dengan penuh kebencian. Namun, hati telah terlalu lama ia lukis dengan cinta. Terbentuk jelas alur kisah itu di dalam hati, hingga aku tak akan pernah lupa semua yang telah kami lewati. Seberapa pun benci diriku kepadanya, tetap ada sebagian kecil sekali yang berharap dirinya untuk kembali.
Aku menitikkan air mata di atas balkon sembari menghisap ganja sisa milik Rio. Rasanya tengik karena sudah lama. Tetapi efeknya tetaplah sama. Aku mulai tenang bersatu bersama angin malam. Dinginnya lambaian angin, terasa lembut seperti sentuhan tangan Mawar yang menyentuh wajahku. Tak terasa, aku pun tertidur dalam keadaan duduk, hingga pagi menyambutku dengan mesra.
Tak akan pernah ada hari di mana hatiku terkejut melihat orang yang pernah aku kenal masuk di dalam portal berita nasional. Keesokan harinya masyarakat kampus geger, dua orang mahasiswanya terlibat kasus narkoba. Dika hanya menatapku dengan lemah tatkala melihat berita TV yang menunjukkan wajah Bapak Bernardo sedang diwawancarai. Sebagaimana orang penting lainnya, ia hanya melewatkan mikrofon wartawan, lalu masuk ke dalam mobil secara cepat. Dua orang penting di kota ini tengah berada dalam ujian berat, masing-masing dari anaknya tengah terlibat kasus narkoba.
Bahkan, bukan kasus narkoba itu yang sering disorot, melainkan profil sosok dua orang yang akan maju di dalam perebutan kursi pemerintahan daerah. Tentu saja kejadian ini akan membuat populer nama mereka, tetapi populer dalam artian yang memalukan
Tak ada komentar dari teman-teman karena semuanya sudah melepaskan kejadian in kepada polisi. Kami tak berhak mengurusi orang lain, biarkan dirinya yang menyelesaikan masalahnnya sendiri.
Memang jahat kelihatannya, tetapi hal yang ia perbuat lebih jahat kepada kami. Ia tak hanya merugikan diri sendiri, melainkan orang lain.
Hari wisuda yang dinantikan pun tak dihadiri oleh wanita itu. Rektor sudah memberikan penjelasan sehari sebelumnya tentang berita ini. Ia sama sekali tak mengetahui Reira dan Nauren merupakan anak dari pasangan bakal calon gubernur. Tak ada pencabutan gelar akademik yang diucapkannya. Menurut Bang Ali, tak mungkin berani rektor sialan itu melakukan hal tersebut, mengingat ia akan berlawanan dengan dua orang yang memiliki pengaruh besar.
Hari ini, kami sangat berbahagia karena dua orang penting dalam kisah ini sudah tuntas menyelesaikan masa kuliah. Toga di kepala menjadi tanda bahwasanya ia sudah usai di kampus ini. Baju wisuda mereka harum bukan main, dipersiapkan dengan sangat sebelum menghadiri acara. Bang Ali dan Mawar berdiri berdampingan, sementara kami ada di sisi kiri dan kanannya. Bunyi potret foto merekam momen ini dalam hitungan detik. Senyum kami terjiplak dalam bentuk tangkapan cahaya diam, tersimpan di sebuah kertas foto yang langsung dicetak.
Kebahagiaan ini lengkah dengan kehadiran Zainab karena sehari sebelumnya, Candra menjemput wanita itu ke Bandung. Sungguh rela seorang Candra menempuh jarak jauh demi seorang kekasih. Tak luput pula senyum dari kedua orangtua Bang Ali dan Mawar yang hadir. Mereka memberikan kami semangat untuk sampai di titik ini, meskipun kata semangat itu hanya mudah di ujung bibir saja.
Hanya satu orang yang tidak hadir, yaitu seseorang yang pernah berjanji untuk tidak datang pada hari wisudanya. Pada akhirnya, ia menepati janji itu meskipun ia tak pernah berusaha untuk tidak hadir. Momen mengurungnya untuk tidak datang. Reira masih berada untuk menyelesaikan kasusnya tersebut.
“Akhirnya, Reira memang enggak datang di wisudanya sendiri.” Mawar memperbaiki letak topi toganya.
Kami berada di depan gerbang, keinginanku untuk langsung pulang terhambat oleh pembicaraan ini. Aku tak ingin keluarga Mawar yang menjumpai diriku di sini. Sudah pasti aku akan diajak masuk ke dalam dan makan makanan chinese. Bukan aku tak mau, melainkan ada perasaan segan.
“Mawar ...,” panggilku. “Sebenarnya gue ini jahat karena ngebiarin Reira sendirian?”
“Gue enggak mengurusi perasaan orang lain, tetapi kalau menurut lo itu jahat, lo harus berbuat sesuatu. Kalau lo ngerasa dia pantas dapet semua ini, kita udah janji untuk ngelupain dia.”
“Jujur, dalam hati gue ... gue masih berharap dia kembali. Mungkin enggak sebagai cinta karena pedih tahu dikhianati seperti ini. Tapi, sebagai teman biasa.”
Mawar seketika mengecup tepat pada bibirku. Hanya sedetik itu, akhirnya aku seakan melihat dunia. Ada yang begitu nyaman setelah semua tertutup oleh awan kelabu. Ada yang terang, setelah sebelumnya gelap hingg aku tak bisa melihat.
“Lupakanlah, Reira ... buat diri lo tenang dulu,” ucap Mawar sembari berbalik diri. Ia sempat menolehkan wajah kepadaku sesaat. “Terima kasih udah ngantarin gue. Keluarga gue masak kepiting, nanti malam gue antar ke rumah.”
“Mawar, tunggu ....”
Ia tak jadi dirinya pergi. Tubuhnya berbalik kembali padaku. “Iya?”
“Terima kasih ....”
Senyumnya itu akan kusimpan sebagai yang terbaik untuk hari ini.
Sepanjang jalan, aku menyentuh ujung bibirku yang basah. Betapa terangnya dunia pada satu detik yang rahasia tadi, hingga aku tertegun sesaat. Benarkah hatiku terlalu lama kosong sehingga impuls itu menjadi menarik ketika aku alami sesaat? Entahlah, aku tetap memikirkannya hingga sampai di muka rumah.
Pikiranku berhenti ketika melihat sedan hitam usang terparkir di hadapan rumah. Aku mengenali kendaraan itu karena aku sendiri sering mengendarainya bersama Reira. Sebentar aku parkirkan vespa di dalam bengkel, lalu bergegas untuk menghampiri mobil itu.
Terlihat Kak Reina sedang memakai kacamata hitam di dalam mobil sendiri. Dengan santainya ia tersenyum padaku setelah sejak lama ia tak bisa aku hubungi.
“Sorry, gue pakai kacamata ... soalnya gue mirip Reira. Reira terkenal akhir-akhir ini ....” Ia keluar dari mobil dengan santai, seakan tidak terjadi apa-apa.
“Sorry? Lo bilang sorry setelah sekian lama lo ngehilang tanpa kabar bersama Reira?” Aku berbalik diri. Tak ingin aku bertemu dengannya. “Pulangla―”
Seketika kalimatku berhenti ketika Kak Reira menarik diriku dan menghantamku ke tubuh mobil. Ia memegang kedua kerahku.
“Dengarkan gue dulu, Sialan! Pertama ... gue enggak pernah tahu kalau dua orang itu ada hubungan spesial. Kedua ... Reira membuang handphone gue ke truk sampah. Ketiga ... gue baru ngelihat pesan lo di instagram semingu yang lalu. Pesan lo tenggelam karena saking banyaknya orang nge-DM gue. Jadi, jangan pernah berkata kalau gue bersekongkol dengan adik gue sendiri untuk hal-hal jahat.”
Wajahnya begitu garang kepadaku. Tak seperti biasa yang selalu menunjukkan ekspresi ceria dan jenaka―seperti tadi sebelum ini―tetapi kini sangat berbeda. Ia selayaknya beruang yang sedang marah, menatapku dengan nanar berang ingin menerkam. Perlahan, ia melepaskan genggaman tangannya pada kerahku.
“Wow ... lo cukup berani menyerang orang di depan rumahnya sendiri,” balasku.
“Maaf ... gue karena gue kasar. Maaf juga untuk kasus Reira, ini sangat enggak dipercaya. Selama ini, gue kira kalian baik-baik aja. Semenjak handphone gue hilang di truk sampah, gue sama sekali enggak nyimpan nomor kalian. Selain gue memang enggak mikirin kalian karena sibuk keluar kota buat bisnis, gue juga masih merasa lo dan Reira baik-baik aja. Kejadian dua hari lalu ngebuat gue tahu kalau Reira punya hubungan dengan Nauren. Berkat itu, gue langsung ke sini buat ngelihat keadaan lo.”
“Terima kasih, gue jadi kacau karena hal itu. Tapi, mariyuana bisa nenangin gue, lebih alami. Enggak kaya adik lo sendiri yang pakai sabu.” balasku.
Ia menampar diriku dengan keras. Orang-orang dibengkel langsung keluar karena betapa kerasnya tamparan tersebut.
“Memang Reira ada di dalam hotel itu. Mereka mau have fun di hotel, tanpa diduga Nauren malah nyabu di sana. Tapi maaf, Reira gue masih anak baik. Dia negatif narkoba, karena itu status tersangkanya jadi saksi. Reira pulang tadi malam.”
“Lalu, kenapa lo datang ke sini? Adik lo negatif sabu dan hidupnya aman. Gue udah enggak ada hubungan apa-apa lagi.”
Terlihat Dika menghampiri kami berdua yang tengah bersitegang. Aku sontak menghalanginya untuk tidak mendorong Reina.
“Reira menghilang tadi malam ... sampai saat ini belum kembali. Sebagai saksi, dia harus melapor rutin.”
“Tenang, Dika. Dia cuma Kakaknya Reira.” Ia mendorong Dika ke belakang agar tidak ikut campur. Lalu, aku kembali menoleh pada Kak Reina. “Bukannya dia memang biasa menghilang?”
“Memang, dia biasa menghilang, tapi enggak dengan membawa semua baju-bajunya yang ada di kamar dan seluruh rekening yang ia punya! Dari suratnya di kasur, Reira memang berniat kabur.”
Kali ini Reira bukan main-main. Ia benar-benar pegi tanpa jejak. Aku pun menarik tangan Kak Reina untuk masuk ke mobil. Ada satu benda yang ingin aku pastikan ada, yaitu pistol revolver di kamarnya. Entah kenapa pikiranku langsung tertuju ke sana.
***