Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 3 (S3)



Aku sering bermimpi di mana mimpi itu selalu berulang dengan adegan yang sama. Setiap orang mungkin memiliki mimpi-mimpi tertentu yang dirasakan berkali-kali, dengan orang yang sama, waktu yang sama, bahkan kata-kata yang sama, Aku bahkan sampai mengingat apa yang akan dikatakan selanjutnya, lalu aku pun secara tak sadar berkata mengenai hal yang sama pula. Sebuah konspirasi pikiran yang tidak mampu aku pecahkan sampai saat ini.


Teringat sekali tangannya yang membelai wajahku dengan lembut tatkala diri polos ini baru saja mengenal dunia. Dunia tidak lagi terasa sempit karena mulai aku jejalahi satu per satu. Ia berkata mengenai cinta dan aku sama sekali tidak mengerti apa itu cinta. Lalu, ia mengajarkan aku pada cinta yang salah. Parahnya, aku pun mengakui cinta yang ia ajarkan sebagai kebenaran.


“Kak ….”


Terik lampu kuning redup kamar ini berkunang di mataku yang setengah tertutup. Panasnya seperti berada di oven saja hingga dahiku berkeringat. Namun, tatkala aku menyentuhnya terasa dingin sebagaimana orang ketakutan. Razel tetap menatap setelah melepaskan tangannya dari tanganku.


“Jam berapa ini?


“Jam dua dini hari.” Ia kembali ke ranjangnya yang hanya berjarak dua meter dariku. “Kakak mimpi buruk lagi. Terkadang gue khawatir kalau Kakak diganggu hantu.”


“Hantu mana yang berani menganggu gue?”


Aku rasa tidak mungkin nyaman untuk tidur  dengan panas pengap seperti ini. Jendela kayu yang aku buka membawa sejuknya angin malam. Razel tidur dengan posisi faforitnya, terlentang. Padahal, aku sudah memberitahukan jika tidak baik tidur dalam keadaan terlentang. Merasa malam lebih menarik diriku untuk mengirupnya lebih dalam lagi, aku memutuskan untuk keluar diam-diam.


Dadaku terasa ingin pecah tatkala melihat sosok pria tua yang sedang duduk di depan TV. Sementara TV hidup, ia menundukkan kepala karena tertidur. Tangan lemahnya itu hanya menyisakan puntung rokok yang habis tanpa dihisap, aku rasa begitu. Seharusnya ia membuang rokok tersebut lebih dahulu sebelum jatuh tertidur.


“Kau mau ke mana?” tanya Kakek Tarab.


Aku tidak jadi memutar kunci pada pintu, lalu berbalik ke arah Kakek Tarab yang masih mememjamkan mata.


“Aku mau keluar sebentar.”


“Akan banyak preman di malam-malam begini. Alangkah baiknya hati-hati, terutama kau seoran gadis.”


“Yaa … sama saja, pria pun harus hati-hati kalau ada banyak preman.”


Kunci pintu pun berbunyi tatkala aku putar.


“Dibilangin malah menjawab ….”


“Aku pergi dulu, Kakek ….”


Sebagaimana aktifitas malam sebuah dermaga, selalu ramai oleh para pria yang hendak bermain judi di warung-warung kopi. Bahkan, nyanyian musik elektronik aliran cepat ala-ala supir angkot pun terdengar olehku dari tepian dermaga. Sementara langit gelap, warung-warung kopi bersinar terang oleh mereka yang sedang bercengkerama. Di sini aku duduk sembari menatap Kapal Leon yang baru saja dicat oleh Razel dua minggu lalu


Sekilas teringat olehku bagaimana mimpi itu terjadi sebagaimana kejadian bertahun-tahun lalu ketika aku masih berseragam putih abu-abu. Aku berkenalan dengan NaurEn yang tampannya melegenda pada zamannnya. Ia anak orang kaya sehingga tidak ada celah sedikit pun aku dapat menyindir gaya hidupnya yang mewah. Entah kenapa aku bisa dekat dengan pria itu, hingga satu ketika kami terjebak pada ruang dan waktu yang tidak bisa aku hindari.


Ia membelai diriku, menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang penginapan yang sudah kami janjikan. Desah manja dari bibirnya yang manis membuatku turut mengikutinya. Kami hangat pada malam yang dingin itu., berlinang keringat untuk kembali dikenang pada hari esoknya. Namun, aku merasakan hal yang berbeda. Aku tetap tidak merasakan apa-apa, kecuali bermain peran jika aku sangat menyukainya. Aku tidak lebih sebagai benda mati tidak berafeksi yang ia cumbui dengan penuh kenikmatan.


“Ya gue wanita kotor … gue akui itu ….,” ucapku sembari berucap penyesalan di dalam hati. Kenangan itu sangatlah bodoh.


“Kau bicara sendiri ….”


Aku terdiam melihat seorang pria yang sedang berdiri sekitar lima meter di belakangku. Ia tidak menatapku, kecuali membelai pantulan rembulan pada tubuh Kapal Leon dari matanya.


“Maaf, kau siapa?” tanyaku.


“Berarti kau bukan orang sini?” tanyaku kembali.


“Bukan, aku dari Kalimantan. Menumpang kapal ke sini, lalu aku jadi kuli angkut barang.”


“Itu bukan turis ….” Aku menepuk beton tepian dermaga agar ia duduk di sana. “Dudk aja di sini. Ga apa-apa ….”


“Enggak, berdiri lebih baik.” Ia menarik napas sembari tersenyum. “Aku rasa, Kapal Leon enggak berada di sini kemarin..”


Tentu saja ia memgetahui nama dari kapal itu karena tertulis jelas di kedua sisi tubuh kapal.


“Oh iya, Kapal Leon baru datang,” balasku sembari menoleh ke sana.


“Aku pernah mengangkut barang dari Kapal Leon.”


Mendengar hal tersebut, wajahku berubah tertarik untuk bicara dengannya.


“Wah, kau pernah?”


“Iya, orang tua bertopi koboi yang datang ke sini waktu itu.”


“Itu Kakek Syarif ….”


“Kau kenal?”


“Tentu saja aku kenal dengan dia. Itu kapalku, dia sendiri yang menggunakan kapalku.” Aku tersenyum padanya.


“Kau pandai mengemudikan kapal?”


Aku diam sejenak sembari menatap langit.


“Pandai, tetapi enggak terlalu handal. Aku punya pengemudi terbaik untuk orang seumurannya. Kami cuma berdua ke sini.”


Ia mendekatiku tiga langkah, lalu duduk di atas tanah berumput tersebut.


“Berari kalian ke sini bukan untuk mengantar barang?”


“Sebenarnya bukan, tetapi kami … ya … seperti yang kau bilang tadi, kami turis.”


“Bukannya kalian mencari Kakek Kumbang? Aku mengenalnya ….”


Untuk malam ini, aku ingin memeluk seseorang, yaitu pria yang sedang di hadapanku.


***