Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 12 (S3)



“Kak, sebenarnya apa yang lo rencanain?” tanya Razel padaku.


Aku tidak menjawab, melainkan lanjut tidur setelah ia membangunkanku ketika mengigau. Entahlah kawan, aku sering mengigau akhir-akhir ini, setidaknya itu yang dikatakan Razel padaku karena ia selalu tidur lebih lambat dariku. Mungkin diri ini terlampau lelah oleh perjalanan jauh dengan ujung yang masih tidak bisa aku tebak. Jalanku masih di awal sekali, bahkan relatif abu-abu ke mana aku akan berpijak selanjutnya.


Telah aku tinggalkan semua yang menjadi kebahagaiaan sebagai konsekuensi seluruh rencana besar. Aku mengecewakan Papa, meninggalkan teman-temanku, mencampakkan pacarku sendiri, serta menghapus namaku dari daftar orang yang sekiranya mereka ingin aku berkumpul bersama. Mungkin ia sedang mencariku sekarang, tetapi untuk sampai kapan? Aku tidak pernah berniat lagi kembali ke sana, bahkan ke keluargaku sendiri.


Sebagaimana yang pernah aku katakan kepada David, tujuan hidupku hanyalah memiliki sepetak tanah di desa yang asri, lalu mengopi ria di hadapan kebun hijau yang aku tanam sendiri. Beruntung akan ada orang yang menemani kopi senjaku ketika hari itu datang, tidak peduli itu ialah kekasihku atau pun orang lain. Sangat sederhana, aku telah bosan melihat kemewahan.


Seminggu lebih berlalu semenjak van Bornoe⸺sekarang sudah menjadi milikku⸺masuk ke dalam bengkel. Aku melihat van itu bersama Borneo dengan meminjam kendaraan Huda, ternyata kondisi van melebihi ekspetasiku. Mesin van sudah bisa hidup, meskipun masih ada perbaikan untuk detail-detail yang tidak aku mengerti sama sekali. Aku hanya paham mengenai penampilan tampak luar dan aku minta pihak bengkel untuk meletakkan simbol Anarchy di sisi kiri dan kanannya. Ya, simbol Anarchy berarti semangat-semangat kebebasan.


Asap rokok Borneo menyelinap di hadapanku ketika kami berada di warung kopi pasar dekat bengkel.


“Sudah kau racun Pak Tarab?” tanya Borneo setelah ia mengkhawatirkan aku malah membunuhnya seperti yang aku bilang tiga minggu lalu.


“Aku punya rencana lain. Aku mau Kakek Tarab pergi dari rumah untuk sementara, lalu kita buka papan lantai dapur itu.”


“Tapi kau mau ngasih Pak Tarab alkohol sampai enggak sadar?” tanya Borneo kembali.


“Selagi dia di rumah, sangat berbahay. Kakek Tarab punya pistol. Kita mana pernah tahu kalau dia tiba-tiba sadar dan mengamuk.” Aku menunjukkan dua jemariku. “Dua orang suruhan Kakek Mayor udah mati sebelumnya.”


“Rencana yang bagus. Setelah van ini selesai, baru kita lancarkan rencananya.”


“Borne,” panggilku sesaat. “Kau tahu siapa itu Erasmus Kompeni? Dia salah satu orang yang ngasih cap darah di Sepuluh Larangan Kapal Leon atau pun Kapal Tigris.”


Ia diam memikirkan nama itu. “Dia teman Kakek Kumbang selama melaut. Mungkin, cuma dia teman seangkatan yang masih bertahan. Kompeni … dia orang Belanda, logatnya aja jelas Belanda. Candaan kita kan biasanya bilang orang Belanda itu dengan sebutan Kompeni. Maksudnya VOC ….”


“Kau pernah lihat dia?”


“Pernah, tapi selama dua bulan pertama aku di Kapal Tigris. Kondisi Erasmus memprihatinkan. Dia sakit-sakitan, jadi kami antar kembali ke Bali.”


“Bali? Kau masih ingat di mana rumahnya?”


Borneo menggeleng. “Aku enggak ikut mengantarkan Erasmus. Tapi, aku ingat di mana pelabuhannya. Kami menepi di Sangsit, bagian utara Bali. Mungkin kau baru dengar namanya.”


“Ya, aku baru dengar namanya. Aku pernah ke Bali, cuma ke Kuta buat liburan.”


“Kenapa? Kau mau ke sana?” Wajah Borneo mendekat padaku.


“Mungkin suatu saat nanti. Erasmus masih hidup, kan?”


“Aku harap juga begitu. Jadi bisa kau tanyai dia,” pungkasnya.


Percakapan kami berakhir di pukul lima sore. Saatnya aku dan Borneo pulang kembali ke dermaga. Razel mungkin sudah bosan menunggu di kapal, ditambah lagi sekarang Kapal Leon aku izinkan bagi anak-anak yang ingin bermain di atasnya. Razel sempat menolak karena membuat kapal kotor dan ia harus membersihkannya bersama Borneo. Tetapi, aku mengingatkannya jika kapal itu sudah masuk ke program ramah anak, tidak ramah untuk para pria kesepian sepertinya.


“Kenapa jadi warna pink?” Borneo protes melihat mantan kendaraannya tersebut.


“Aku udah tidak heran, jauhkan semua ekspetasimu kalau di dekat Reira.” Razel menepuk pundak Borneo ketika mendahuluinya.


Pemilik Bengkel tampak membuka tangannya untuk menyambutku. Sudah jelas baginya kepalaku sudah seperti berlembar-lembar uang pecahan pesar warna merah saat  ini. Van itu merupakan proyek besar dengan uang yang besar pula. Razel sampai kerepotan sewaktu menghitung uangnya berkali-kali, ia takut nanti malah kekurangan.


Aku hembus sisi kaca samping kiri, lalu mengusapnya dengan tangan. Kacanya sudah kinclong seperti baru.


“Kerja yang bagus. Gimana semuanya aman kan?”


Pemilik bengkel memberikan jempolnya. “Kualitas adalah prioritas kami. Silahkan dicoba ….”


Tanganku menggapai kunci van itu, lalu mencobanya menghidupkan mesin van. Suara mesin tua tidak akan pernah hilang, tetapi jernihnya sangat jelas aku dengar. Ringan tatkala bergerak karena baru saja keluar dari perawatan. Setelah tiga kali berkeliling bengkel, aku keluar dari van sembari tersenyum kepada kru yang mengatasi van ini.


“Aku juga kasih jok bagus di dalam sebagai bonus. Ada sisa-sisa jok yang enggak terpakai di sini, tapi masih nyaman. Daripada yang lama, busanya sudah banyak yang habis.”


“Terima kasih banyak.” Aku menoleh pada Razel. “Razel, tugas lo.”


Razel meletakkan tasnya di atas meja. Ia mengeluarkan tiga buah amplop yang masing-masing berisikan lima juta rupiah. Borneo hanya diam saja melihat uang sebegitu banyak terpampang di hadapannya.


“Kami hitung dulu ya ….”


“Kalau kurang, aku tambah satu juta,” balasku.


“Orang kaya memang sombong heheh ….”


Ia dan karyawannya membantu penghitungan uang. Razel sudah aku pastikan tidak akan meleset ketika menghitung uang. Ia bendahara pribadiku, meskipun masih aku pinta untuk mengepel lantai.


“Uangnya pas. Sekarang, silahkan bawa mobilnya. Tapi ngomong-ngomong, kalian mau ke mana dengan van ini?”


“Ke sesautu tempat yang enggak harus kau ketahui, hehehe. Terima kasih banyak. Nanti kalau ada teman aku yang butuh bengkel, nanti aku rekomendasikan.”


“Ya … kalian juga enggak bakalan ke sini lagi kan?”


Aku mengangguk. “Yang pastinya enggak untuk waktu yang lama. Mungkin suatu saat kami kabur ke sini lagi. Bye … sampai jumpa lagi …..”


Musik eletronik angkot berbunyi tatkala kami membawa pergi van tersebut. Aku sebagai supir karena tidak ingin orang lain yang mengendarainya pertama kali. Tatkala Borneo bertanya ke mana van ini pergi sekarang, aku tersenyum licik padanya.


“Kita beli minyak kacang …. Besok kita lancarkan kode nuklir ….”


***