
EPISODE 35 (S2)
Bukan aku tak mau untuk menjemput wanita yang tingginya hampir menyamai diriku itu, hanya saja aku tidak merasa enak dengan Reira jika aku berboncengan dengan Mawar. Kadang aku tidak mengerti apakah ia memiliki rasa cemburu atau tidak. Mungkin saja rasa kepercayaannya kepadaku sungguh berlebih lagi tulus. Aku pun rasanya buka tipe orang yang suka bermain hati dengan banyak wanita. Satu wanita yang dekat pun bagiku merupakan hal yang wajib disyukuri. Ya ... tidak terlalu banyak wanita yang aku kenal selain dirinya dan Fasha.
Aku tiba di depan Kedai Kopi Mawar dengan disambut oleh wewangian aroma kopi yang menyeruak hingga ke tepi jalan. Gelak bapak-bapak yang menyantung rokok dan kopi begitu kental terasa. Senyum mereka sedikit beralih kepada seorang gadis Tionghoa yang tengah melangkah keluar kedai kopi. Siapa lagi kalau bukan putri pemilik kedai kopi tersebut. Beberapa pemuda kira-kira seumuranku kedapatan pula melirik panjang paras bening berambut panjang yang tengah menyandang tas ransel.
Tanpa senyum yang berarti, ia melirikku lurus tepat di tengah mata. Seperti tak memiliki sensor senyum untuk menarik sudut bibir, ia hanya menunjuk motor King Tua mengkilap hasil lapisan chrome yang sedang aku duduki.
“Iya, kenapa?” tanyaku.
“Enggak apa-apa gue boncengan sama lo? Gue kira Candra atau Razel yang menjemput gue.”.
Nah ... gue pikir juga begitu.
Mawar pasti berpikir hal yang sama denganku. Permintaanku agar Candra yang menjemput ternyata ditolak mentah-mentah oleh wanita laut itu. Tanpa pikir panjang Reira malah mempersilahkan aku bertolak ke kedai kopi ini dan ia pun melanjutkan sesi belajar tata rias bersama Zainab tadi.
“Reira yang nyuruh gue malahan.” Aku mengoyangkan kepala ke belakang sebagai kode agar ia naik secepatnya. Panas udara di sini tidak bisa ditoleransi. “Cepat naik ... mereka udah nungguin lo sedari tadi.”
“Oke ....”
Sembari menyahut mamanya yang tengah mendongak di dapur, ia menaiki motor tua ini. Mamanya tersenyum dengan melambaikan tangan padaku, pertanda bahwasanya ia sudah mengizinkan Mawar untuk pergi bersama kami.
Tubuh Mawar sedikit bergeser ke belakang, lalu membatasi antara kami dengan tas ransel miliknya. Aku pun paham, aku juga tidak ingin terlalu dekat. Namun, menaiki motor bukanlah seperti mobil yang berjarak antara penumpang lainnya. Laju motor dan ritme yang aku mainkan sesuai lubang-lubang jalanan aspal membuatnya kembali bergeser ke depan. Aku pun menelan ludah tatkala tubuh kami menempel dengan kedua tangan Mawar yang berdekatan dengan pinggangku.
“Mawar ...,” panggilku.
“Iya ...?” tanya balik Mawar di belakang.
“Reira beneran serius belajar make up?”
“Sepertinya iya. Dari kemarin dia antusias gara-gara Zainab ngeluarin alat make up-nya.”
Aku mengangguk pelan sembari memajukan bibir. “Oh, begitu ... soalnya baru kali ini ia tertarik sama mainan-mainan cewek.”
“Oh, ya?” Ia mendekatkan wajahnya ke sambil kepalaku. “Emangnya dia suka apa selama ini?”
“Hahaha ... gue rasa dia lebih pandai memutar baut mesin mobil daripada memegang kuas rias,” balasku.
“Ah enggak, kok. Reira itu tangannya lembut, loh. Buktinya dia belajar cepat. Biasa sih kalau orang pandai ngegambar, pasti bakalan mudah merias wajah.”
Kepalaku memereng mendengarnya. “Reira suka menggambar? Gue enggak pernah tahu.”
“Lo pacarnya atau bukan, sih?” sindir Mawar.
“Gue awak kapalnya ... Hahaha.”
Ia mendorong bahuku ke depan karena kesal oleh jawabanku. “Serius gue ... Reira itu suka ngegambar. Mungkin aja sisi lain dari Reira yang belum lo ketahui, atau dia sengaja enggak nunjukin ketertarikannya itu.”
“Gue tebak selesai dari sini, dia ngajakin gue buat beli alat make up.”
Mawar tertawa kecil. “Sebelum lo bilang itu, dia udah bilang duluan sama kami.”
Sudah aku duga, Reira sudah pasti akan membeli alat-alat make up untuk menggeluti hal yang baru saja membuatnya tertarik. Ternyata sebelum aku berpikir tentang hal itu, Reira sudah merencakannnya lebih dahulu. Anak itu selalu saja berpikir lebih dahulu dari orang lain. Pantas saja kami selalu dibodohi oleh hal gilanya itu.
Bunyi motor yang kami kendarain terhenti tepat di belakang mobil Pak Cik Milsa yang terpakir. Aku bantu Mawar untuk mengangkat tasnya tersebut setelah mematika mesin, lalu meletakkannya ke dalam mobil. Seutas ucapan terima kasih ia lontarkan sembari menaiki tangga batu menuju teras rumah. Di tas sana masih awet pembicaraan antara Pak Cik Milsa dan Candra, namun kini sudah ada Razel yang mau tapi segan untuk mengambil sebatang tembakau di hadapan Pak Cik.
Penuh dengan sopan santu, Mawar menyalami Pak Cik Milsa. Gelagat bibir Candra dan Razel ingin sekali aku pukuli dengan sendal ini, sudah jelas sekali mereka berharap pula disalami oleh Mawar dan menyentuh tangan bening wanita itu. Mawar bertolak ke dalam dengan disambut oleh hentak kaki Reira yang berlari dari sebalik kamar tatkala Mawar memanggil nama kedua temannya.
“Lama banget, sii!” Reira menyambut kedua tangan Mawar.
“Iya ... dari tadi aku nungguin mobil pulang ke rumah. Soalnya di bawa paman ke luar.”
Aku yang baru duduk di tepi meja kayu bundar ini langsung tak jadi menurunkan tubuh, kepalaku mendongak ke atas untuk melihat Reira yang bertanya tidak-tidak kepada Mawar. Candra pun berdehem sembari menyenggol lenganku.
“Parah tuh anak!” Candra berbisik pelan. “Tapi, lumayan juga tuh boncenan sama Mawar.”
Satu tepukan tepat belakang leher Candra akhirnya bersarang. “Sembarangan lo!”
Terdengar tawa kecil Mawar dari dalam rumah. “Ah ... David ngebonceng gue dengan baik, kok.”
“Awas aja anak itu kalau macam-macam.” Reira sengaja mengeraskan suaranya sembari melirik kepadaku pada sorotnya dari jendela.
Kedatangan Mawar menjadi permulaan perjalanan kami menuju tujuan pertama, yaitu replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi di Kecamatan Gantung. Aku diminta oleh sebagai supir oleh Reira sendiri. Aku kira ia yang akan menjadi supir karena ia suka sekali berkendara jarak jauh, apalagi sewaktu kami menelusuri jalanan antara Gunung Bromo dan Jakarta. Namun, tidak apa-apa. Reira kadang tidak berpedoman ketika berkendara.
Bayangkan saja sewaktu kami pulang ke Jakarta sedari Bromo kemarin, Reira sempat dirujuk ke Polsek terdekat karena menyenggol seorang pengendara motor. Syukurlah waktu itu kami hanya berdamai dan mengganti biaya kerusakan dan pengobatan korban tabrak tak lari Reria itu.
Reira memilih duduk di deretan bangku tengah mobil Kijang lama ini bersama Mawar. Ia berkata jika ingin memanjangkan kaki sembari menikmati angin yang menyeruak ke dalam. Sedangkan Candra dan Razel, tentu saja berada di belakang. Reira membawa semua plastik yang ia persiapkan sejak dari kapal kemarin―antisipasi jika aku dan Candra mabuk laut―karena takut Candra dan Razek tiba-tiba saja tidak tahan menahan mabuk darat. Sebagai petunjuk jalan, Zainab si putri asli Belitung ini duduk di sampingku sembari menyetel lagu dari handphone-nya.
Semangat riang wajah Reira begitu kontras dibandingkan dengan Mawar yang menyorot datar ke depan, tepatnya ke tangan Zainab yang menyetel musik. Padahal, semuanya sedang asyik meribut, apalagi Candra dan Razel di belakang sana. Mawar tetap konsisten menahan diri karena udara semakin panas jika mendengar mereka meribut. Barulah kesegaran alami kami dapati tatkala mobil bergerak melaju ke jalanan aspal. Aku mengikuti arah tangan Zainab yang menunjuk arah jalan Kota Manggar, hingga jalan lurus menuju tempat tujuan.
Lokasi replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi tidaklah terlalu jauh. Sekitar empat puluh lima menit jalan aku tempuh melalui bundar stir mobil. Aku pun tak sadar sudah melihat atap seng replika sekolah tersebut. Dari wujud rupa depan bangunan kayu yang lusuh itu, terlintas sebuah ingatan tatkala senyuman keempat orang yang paling berjasa di dalam hidupku. Berwangikan ranum parfum mobil―persis seperti saat ini―kami bersama-sama melangkah menuju bangunan besar yang kita sebut sebagai mall. Hanya saja aku menebalkan huruf 'L'-nya pada saat itu.
Mobil itu dahulu selalu saja berisik oleh Dika yang tak ingin diam. Kadang, ia bernyanyi dengan keras tatkala musik band pop tahun dua ribu-an terputar dari radio mobil. Namun, ia lebih sering mengangguku dengan mencuil tubuhku agar aku merasa risih. Atau ia sering pula menekak kepalaku dengan belakang kepalan tangannya hingga aku harus mengadu kepada Ibu dan Ayah. Aku yang berada di tengah langsung digeser bergantian posisi duduk dengan Rio, Si Sulung. Hanya dia saudaraku yang normal, walaupun di akhir hayatnya ia sedikit menjarak dari kenormalan. Dirinyalah yang merangkul aku dan Dika agar tidak bertengkar.
Aku sangat mengenang momen-momen di mana kami sekeluarga mengendarai mobil, apalagi pada saat hari itu, ketika Film Laskar Pelangi untuk pertama kalinya terputar di layar lebar Indonesia. Karya novel Andrea Hirata yang tersohor itu pernah menjadi saksi betapa indah dan menyentuhnya dunia sastra negeri ini, hingga berlanjut ketika menjadi sebuah film yang sangat memorable bagi setiap anak kecil yang sekarang sudah beranjak dewasa.
Dinginnya udara dalam bioskop seakan terasa di panas terik yang sekarang kami rasakan. Tatklala kakiku menginjakkan kaki ke tanah pasir putih replika sekolah ini, aku merasakan kehadiran Ayah dan Ibu di sini sedang mengelus helai rambutku ketika menyadari aku sudah mengantuk dan ingin tertidur, walaupun film itu masih terputar di layar bioskop.
Reira menggesekkan kakinya ke pasir putih halaman replika sekolah, lalu berlari ke depan papan nama yang bertuliskan Replika Sekolah Laskar pelangi. Ia melebarkan tangannya sejauh yang ia bisa.
“Lihat ini, Kawan!” teriaknya. Untung saja hanya kami yang berada di sini. “Jika kalian sangat bergeming berdiri di sini ... berarti kita punya masa kecil yang sama.”
“Menarilah dan terus tertawa,” balasku mengikuti lirik lagu Laskar Pelangi yang dibawakan oleh Band Nidji pada saat itu.
“Halamannya seperti pantai,” puji Mawar. Jemarinya menyentuh lembutnya butiran pasir putih yang sedang kami pijaki.”
“Seputih hatiku padanya,” sambung Razel merayu.
Kami pun saling menatap mendengar gombalan receh Razel yang seakan ingin disumbat oleh Reira dengan segera. Tawa pun menggelegar seiring langkah kami menuju replika sekolah tersebut. Hanya satu orang yang tak menggelakkan tawa. Mawar hanya tersenyum tipis sembari melihat Razel yang cengar-cengir. Ternyata bocah ABG sepertinya bisa membuat Mawar tersenyum.
“Ayo kita foto dulu, ya ....” Candra membalikkan tas yang berisikan seperangkat alat potret yang sengaja ia bawa.
Reira berheni seketika. Ia berbalik dengan memanjangkan tangannya. “Iya ... nanti dulu. Utamakan dokumentasi.”
“Panas loh ....” Razel melindungi pandangannya menggunakan tangan.
“Daripada makin panas, mending sekarang kita panas-panasa.” Ia mendongak kepada Candra yang berada di belakang kami. “Keluarin semua senjata lo.”
“Kamera lo ledekin senjata,” balas Candra sembari mengeluarkan tripod kamera DSLR miliknya itu. Ingat sekali aku mengawaninya hujan-hujanan untuk membeli kamera kesayangannya, setelah pulang ia langsung foto-foto bersama kucingnya di petshop. “Kalian baris di sana ya ... agak ke tengah dikit biar sekolahnya ke lihatan.”
Candra mundur beberapa langkah dengan memicingkan mata ke lensa kamera untuk memastikan jika pemandangan yang akan dipotret sudah sempurna. Setelah itu ia memasang kamera tersebut di atas tripod. Tak ada yang membantunya. Biarlah Candra melakukan tugasnya sendiri.
“Razel, lo pindah ke sisi paling kanan. Biar gue paling sisi kiri.” Ia mengarahkan Razel menggunakan tangannya. “David paling tengah ya ... kiri kanannya biar Reira dan Mawar.”
“Oke, paham!” teriak Reira.
Candra kembali menunduk untuk memastikan kesempurnaan potret yang didapat. Kami langsung memasang gaya terbaik tatkala Candra berlari, pertanda timer sudah berjalan. Tepat sebelum cahaya flash dari kamera muncul, Reira menggeggam tanganku erat.
“Menarilah dan terus tertawa, Dave,” ucapnya padaku.
***