
EPISODE 67 (S2)
Tidak ada halangan berarti dalam aksi kami untuk mengerjai mobil pejabat tinggi negeri. Kami melenggang bebas keluar tanpa cemas, sementara itu mobil target sudah berhasil berlumuran telur dan ditempeli oleh sebuah spanduk. Raca cemasku hilang seketika tatkala kami baru saja melewati penjagaan polisi di pintu belakang. Seakan, seluruh rasa khawatir yang aku pendam tadi seketika hilang dan sirna. Tidak ada lagi yang bersisa, kecuali sensasi berdebar semengat. Reira berhasil mengajak kami ke dalam perangkapnya untuk melakukan sesuatu hal yang gila.
Reira tertawa terbahak-bahak di dalam mobil. Ia menjamin dirinya tidak akan tidur di rumah papanya dalam satu bulan karena sudah pasti akan dihabiskan dengan perdebatan. Lagi pula, esok pagi papanya Reira berangkat langsung ke Singapura untuk melihat kondisi terkini mantan istrinya tersebut. Memang, masih ada sanak saudara dari sebelah papanya yang menjaga Bu Fany di sana. Aku rasa Pak Bernardo cukup khawatir dengan keadaan wanita itu, walaupun sudah tidak lagi berstatus sebagai istri.
Berita jam tiga pagi langsung meng-update kondisi terkini di Gedung DPR/MPR RI. Rapat ternyata lebih lama dari yang diperkirakan. Palu sudah diketok pertanda naiknya harga BBM di seluruh jenis dengan kenaikan seribu Rupiah. Kekecewaan Mahasiswa sudah tak bisa dipendam, mereka membakar ban di mana-mana, tepat di hadapan gerbang gedung itu. Untung saja mobil polisi tak jadi sasaran amukan. Kerusuhan pun terjadi hingga kumandang tanda sembahyang subuh berbunyi. Mahasiswa menarik diri perlahan untuk menyudahi aksi yang berakhir tidak seperti yang diharapkan.
Aku menjaga Reira untuk tidak ikut di dalam kerumunan sejak tengah malam. Tidak ingin aku tubuh kecilnya itu berlarian di antara batu yang jatuh, atau pun asap dari gas air mata yang memedihkan penglihatan. Terpaksa ia hanya menunggu di mobil untuk menghormati para demonstran lain yang masih ada di lapangan. Sementara itu, Bang Ali pun sudah pergi untuk ikut di kerumunan semenjak pukul dua dini hari. Tinggallah kami bertiga menunggu di dalam mobil.
Palu sudah diketuk. Keputusan sudah mutlak menjadi sebuah peraturan baru. Masyakarat pun pasti menjerit dengan kenaikan tersebut, terutama masyarakat yang memiliki mata pencaharian yang berhubungan dengan kendaraan atau mesin-mesin produksi yang harus diisi dengn bahan bakar. Kenaikan beban mereka tak diiingi dengan hasil produksi yang sebanding, tentu saja ini menjadi beban baru bagi mereka yang bergelut di hal-hal seperti itu.
Berita keesokanpaginya pun ribut dengan kejadian tadi malam mengenai demonstrasi yang bertahan hingga subuh hari. Hampir seluruh berita televisi melakukan siaran ulang terhadap yang terjadi tadi malam, tak terlewati fenomena berlumurannya mobil Ketua DPR dengan lendir telur serta spanduk bertuliskan pengkhianat. Trending media sosial pun tak luput dari demo tersebut. Banyak yang mendukung dan banyak pula yang menyayangkan demonstrasi berakhir bentrok dengan polisi. Untung saja laporan tidak ada yang menunjukkan bahwasanya terdapat aktivis yang terciduk dan dibawa untuk pemeriksaan polisi. Seluruhnya pulang ke rumah masing-masing, walaupun bermandi peluh dan rasa kekecewaan.
Kini, otak dari tragedi mobil Ketua DPR RI itu tengah berada di hadapanku. Padahal, seluruh mahasiswa membicarakan dan menebak-nebak siapa yang menjadi pelakunya. Sampai saat ini, aku bersyukur tidak ada polisi yang mengusut kasus tersebut. Kami tidak melakukan pengerusakan, hanya melumuri sedikit saja dengan bumbu-bumbu pemprotesan. Reira saja yang siang itu langsung dihubungi oleh papanya karena laporan CCTV didapati bahwasanya pelaku keluar dari mobil dengan plat nomor dinas milik papanya tersebut.
Ia pun tertawa bebas di kantin dengan noda kopi tepat di bibir. Kejadian beberapa hari yang lalu itu benar-benar menyimpan memori yang akan terus terkenang. Tidak mungkin bisa lupa, walaupun aku berusaha keras untuk melupakanya. Aku pun memastikan, kami semua aman dan bisa duduk dengan tenang di hadapan meja kopi bersama.
“Papa gue datang ke rumah Mama untuk meminta penjelasan.” Reira menyeruput kopinya.
Suaranya sedikit tinggi karen kantin kampus ribut oleh mahasiswa yang berbincang hangat. Hanya kami berdua yang bertahan, sementara Candra sudah pergi dahulu untuk bekerja di pet shop. Sudah beberapa hari ini aku dan Reira tidak bertemu karena ia sibuk dengan kelanjutan skripsinya. Entah kenapa Reira selalu saja hilang kontak apabila sedang mengerjakan tugas akhirnya tersebut. Seperti yang ia katakan waktu itu, Reira benar-benar fokus dan tidak ingin diganggu.
“Lalu, bagaimana? Kalian berdebat lagi?” tanyaku.
Ia mengangguk pelan. “Tentu saja, gue ngaku kalau gue yang ngelakui hal itu. Dia bilang sama gue kalau si doi enggak ingin memperpanjang urusan ini. Untung saja dia tipe-tipe orang yang nerima kritikan, walaupun sedikit berlebihan.”
“Gue enggak kebayang kita bakalan ngelakuin klarifikasi di depan media gara-gara ini.”
“Uda gue bilang, kan? Gue ada jaminan dari mulut Ketua DPR sendiri kalau gue boleh ngelakuin apa saja.”
Aku diam sejenak. Mataku menyorot mata Reira. “Rei, kayanya gue mau bikin usaha, deh.”
“Usaha apa?” Kepala Reira memereng.
“Lo tahu kan gue mendapat lumayan uang warisan dari Ayah. Utang ayah gue udah lunas dan sisanya masih banyak untuk bikin usaha.” Aku menghisap tembakau di bibirku dalam-dalam, lalu menghembuskannya berlawanan arah dengan Reira. “Kaya bikin tempat tongkrongan anak muda gitu. Gue pingin beli container bekas buat jualan. Gue rasa, ada banyak lahan kosong di sekitaran kampus dan cocok banget buat tongkrongan. Kawasannya juga dekat dari komplek rumah gue.”
Ia memajukan bibirnya untuk berpikir. Kembali bibir kecilnya tersebut menyeruput kopi hitam pekat yang ia pesan agar sama dengan punyaku. “Hmm ... menurut gue tempatnya strategis. Lo bisa nyediain makanan cepat saji kekinian, cemilan-cemilan kekinian, minuman kekinian.”
Aku mengangguk setuju. Memang hal yang seperti itu yang aku targetkan. Aku rasa, aku sedang mendiskusikan hal ini dengan orang yang tepat. “Ya ... gue memang pengen kaya gitu. Mahasiswa pasti pengen duduk lama-lama sambil bikin tugas atau sekadar nongkrong asyik.
“Konsepnya outdoor atau indoor?” tanya Reira.
“Gue kepingin outdoor, tapi gue tetap pasang kanopi di atas buat jaga-jaga kalau hari hujan. Soalnya, gue rasa anak mahasiswa suka banget nongkrong kalau kiri dan kanannya terbuka. Angin bisa masuk, kita enggak perlu sediain AC. Hahaha ....”
“Ide yang cemerlang. Tapi, uang lo cukup? container bukan harga yang murah.”
“Gue nyari yang bekas, bisa dicat ulang. Temen SMK-nya Dika ada yang bergerak di pembuatan container usaha. Gue nyari yang agak besaran sedikit. Setelah ditanya-tanya, memang sampai sepuluh juta. Tapi, masih bisa nego. Dika yang ngurusin itu.”
Aku tersenyum mendengarnya menyombongkan diri. Jemariku menjentik kuat dahinya. “Lebih baik hidup pas-pasan daripada berhutang. Gue enggak mau kaya ayah gue.”
Ia memberikan jari kelingkingnya padaku untuk memberikan sebuah janji. “Gue jamin usaha lo bakalan jadi. Untuk pemasok bahan dasar minuman, biar gue yang urus. Gue ini pewaris tunggal bisnis cafe-nya Mama. Hahaha ... btw ... gue sekarang jadi manager di cafe.”
“Lo khawatir kalau lo bakalan gue pekerjakan?” Aku menyambut kelingkingnya.
“Lo ternyata belajar cepat untuk memprediksi jawaban orang. Hahah ... serius ... gue bukan enggak mau. Gue bakalan sibuk di cafe. Gue saranin lo memang nyari orang lain yang kompeten memasak atau meracik minuman.”
“Gue mau ngajakin Redi atau Bang Ali,” balasku.
“Redi itu masih SMA, belum dapat KTP. Lo kena pasal mempekerjakan anak di bawah umur, ntar. Sedangkan Bang Ali itu orangnya realistis. Dia enggak peduli kalau lo itu temannya dia, kalau di tempat lain uangnya lebih gede, dia lebih mending milih di sana. Sedangkan usaha lo itu terbilang baru, masih ngelihat omset buat ngebayar pegawai.”
“Anak Fekon ini memang perhitungan, ya? Hahahaha ....”
Wajahnya lagi-lagi menyombong padaku. Sedikit jenaka, ingin aku sentil kembali dahinya. “Gue ini anak dari pembisnis dan setiap hari gue dengerin Mama gue ngebicarain bisnis, apalagi Papa. Lo kira Papa gue langsung jadi orang legislatif? Dia basic-nya pembisnis.”
“Nanti, deh ... gue buka lowongan. Gue udah dapat target tempat buat usaha. Ada sepetak tanah bekas lapangan badminton. Tinggal gue hubungin dan dipermak sedikit lantainya biar bagus. Trus, dipasangin container dan kanopi.”
“Mawar ....”
“Mawar?” tanyaku.
“Dia orang yang tepat,” balas Reira kembali. “Koki terbaik di jalanan dermaga Manggar setelah mamanya.”
Kepalaku memereng. “Emangnya dia mau? Anak itu lebih memilih belajar di malam hari.”
“Gue rasa mau, kalau gue yang mengajaknya. Jangan lo! Lo itu orangnya enggak bisa nge-lobby orang lain.” Ia berdiri dari kursinya. “Minggu ini harus lo pastikan dapat container dan hubungi pemilik tanah agar bisa disewa. Gue punya orangtua dari awak kapal gue yang kerja sebagai tukang bangunan. Minggu depan gue pastikan lantainya udah selesai diperbaiki, itu kalau lo enggak mau ngerjain sendiri.”
Aku langsung menggapai tangannya.
“Senang bekerja sama dengan anda!”
Akhirnya mimpiku untuk membuat sebuah tongkrongan pun sebentar lagi terwujud. Ya ... semua itu harus berasal dari mimpi, bukan?
***
**hai semuanya ... sedikit informasi buat semuanya. Per-episode selanjutnya bakalan sedikit lebih pendek daripada bulan kemarin. kemarin-kemarin ini kan enggak terlalu sibuk, jadi masih bisa ngesajiin per-episodenya lebih dari 2000 kata. Kerasa banget kan panjangnya kalau dibaca? Hahaha ....
Hal ini dikarenakan stok ketersediaan naskah yang menipis dan kesibukan author yang sekarang akan menjalani KKN (Kuliah Kerja Nyata). Oleh karena itu, biar bisa tetap update rutin setiap hari, maka author ngasih tau berita ini. selain itu, author juga seling-selingan bikin naskah baru.
Oh iya, kunjungi akun Instagram author ya: @ilhamnofrzal ....
Terima kasih** ....