
Aku seakan kembali mencium wangi tubuh David menempel pada ranjangku tatkala kami bibir kami saling mengecup satu sama lain. Ia yang malu-malu langsung menarik diri pada saat itu dan enggan menatapku kemudian. Mungkin foto kakek berkacamata hitam bulat itu akan tertawa melihat tingkah dua anak muda di dalam kamar, hampir saja lepas jika David tidak pergi. Aku rasa David memang seperti itu tatkala ia ingin menyentuhku, benar-benar pengecut.
Diriku berada di ujung pintu kamar. Tidak ada yang berganti semenjak aku pergi. Ikan-ikan peliharan sudah aku berikan kepada Mawar sebagai kenang-kenangan, aku harap ia memberi mereka makan setiap hari dan tidak menaruh dendam pada ikan-ikan karena sebelumnya merupakan milikku. Langkahku berjalan di lantai berkarpet warna abu-abu lembut yang sering aku jadikan wahana pelosotan ketika aku sendirian. Bunda selalu mengomel tatkala aku melakukan itu karena takut akan merusak karpet lantai.
Baring tubuhku terasa empuk di atas ranjang. Aku membentangkan tangan ke kiri dan ke kanan, menatap langit-langit kamar yang bermotifkan bintang gemintang. Paling sudut kiri Mawar mengatakan jika itu rasi bintang orion karena ia paling mengerti mengenai perbintangan, satu hal yang sering membuatku cemburu. Kenapa? Mawar selalu jujur dengan apa yang dilakukannya dengan David, kebetulan David suka meminjam teleskop gadis itu dan bercengkerama bersama.
Pintu berdecit tatkala wanita berambut sedikit pirang itu membukanya.
“Reira, kamu dipanggil Kak Reina …”
“Reina? Minta dia buatkan aku susu. Dia dulu sering buatkan aku susu ….”
Selalu menjadi kebiasaan kecilku dahulu ketika Bunda tidur cepat sehingga ia tidak bisa membuatkan aku susu hangat.
“Katanya pembicaraan bisnis ….”
Aku menghela napas. Tatkala aku ingin tenang dengan semua kenangan, Reina malah menghancurkannya. Mau tidak mau, aku harus menghampiri wanita itu jika tidak ingin diamuk. Bunda menurunkan satu karakter itu kepada Reina.
Di atas meja ia tuangkan kopi ke dalam cangkir.
“Ini biji kopi Sidikalang. Lo harus nyoba.” Ia melihat ke arah tangga. “Kenapa enggak ajak Semara?”
“Katanya dia capek, dia mau tidur.” Bibirku menyentuh kopi tuangan Reina. Ia selalu berhasil dariku soal kopi, padahal aku lebih lama mengelola café milik Bunda daripada dirinya. “Jadi apa yang mau lo bicarain? Bisnis terlebih dahulu ….”
“Begini … café Bunda yang buat lo sekarang gue enggak akan bisa ngaturnya. Gue ngerekrut manager karena akhir-akhir ini gue sibuk jadi Direktur Utama perusahaan kapal Bunda. Seluruh keuntungan café akan jadi milik lo dan gue transfer ke rekening khusus itu.”
Aku mengangguk paham. Ia pernah mengeluh mengenai café yang aku titip padanya, padahal ia sibuk mengurusi bisnis butik di berbagai cabang. Sekarang, ia harus melepaskan seluruh bisnis itu kepada manager-manager yang dipekerjakan karena Reina sibuk memimpin perusahaan Bunda.
“Oke, enggak apa-apa. Yang terpenting, café itu tetap jalan. Biaya perjalanan gue paling besar berasal dari sana. Selanjutnya apa?”
“Kedua, mungkin lo udah dengar dari Alfian kalau yayasan udah punya donatur besar. Tender gedung sekolah dan asrama udah gue urus. Rencananya, gue mau me-lobby Papa buat menggandeng Pemerintahan Daerah buat ngedukung yayasan itu.”
“Papa? Kenapa harus dia?”
“Karena dia yang punya banyak link ke Pemerintahan Daerah.”
“Baiklah … jika itu baik buat yayasan, gue setuju. Uang gue banyak di sana, gue enggak mau semuanya sia-sia,” balasku sembari menyicipi kembali kopi di cangkir. “Ada lagi?”
“Ketiga, lo sampai kapan sih nyari Kakek? Gue mau secepatnya elo selesai dan cepat berkontribusi bagi perusahaan Bunda. Sahamnya lebih dari setengah itu milik lo. Butuh dua atau tiga tahun buat lo paham kerjanya perusahaan.”
“Tenang, gue cepat belajar. Tapi, perjalanan ini belum bisa gue pastikan kapan selesainya. Tentu gue mau berkontribusi bagi perusahaan Bunda. Gue punya Razel dan Borneo yang bisa kerja di sana bersama gue nanti. Mereka berpengalaman di laut dan cocok bekerja di sana nantinya.”
“Ini bukan main-main Reira … gue enggak nyaman jadi Direktur Utama. Gue cuma mau berkarir di bisnis gue sendiri, fashion. Gue harap lo cepet selesai dari urusan lo yang sekarang,” balasnya.
Tentu saja bisnis butik fashion milik Reina harus ia lepas selagi ia bekerja di tempat lain. Lagi-lagi itu demi diriku.
Reina menganggguk. “Bukan mengenai bisnis …”
“Jadi?”
“Pertama, Papa menikah lagi dengan seorang gadis. Dia cewek yang sedikit lebih tua dari gue dan sama sekali bukan cewek yang pernah kita lihat sebelumnya. Mereka menikah siri, gue jadi saksi.”
Aku menarik kerah baju Reina. “Kenapa lo biarin itu?”
“Easy … gue ini Kakak lo Reira.”
“Maaf ….”
“Reira … gue berkali-kali bilang ke Papa. Udah tua mau apa lagi dengan urusan cinta? Itu bukan cinta lagi gue rasa, itu nafsu. Bahkan … mohon maaf, ceweknya hampir sama kaya cewek-cewek malam yang disewa sama Nauren dulu. Walaupun dia enggak izin sama gue, dia bakalan tetap ngelakuin itu. Gue bisa apa?”
“Entah kenapa gue nyesal kenapa enggak nembak dia dengan peluru seperti yang dilakuin sama Kakek dulu,” balasku.
“Yang gue syukur itu, gue udah misahin aset Bunda dan Papa. Sekira-kiranya Papa dimanfaatin ini itu, aset Bunda enggak bakalan bisa dia sentuh. Bahkan, mobil yang gue beliin buat Papa sekarang gue ambil lagi. Mana sudi mobil gue dipake sama bini barunya buat foya-foya.”
Nada Reina terdengar sangat kesal. Padahal, ia dulu yang paling keras ingin aku kembali lagi ke rumah karena kami masih bersisa satu-satunya orangtua. Namun, sekarang ia tampak tidak peduli karena kelakukan Papa yang makin hari makin menjadi-jadi.
“Karir Papa di politik bagaimana?” tanyaku.
“Yang pastinya dia batal buat jadi calon kepala daerah. Lo berhasil bikin kekacauan itu. Keluarga Nauren udah menghindar dari Papa. Sekarang, Papa cuma nunggu masa jabatannya di DPR sampai habis.” Ia mengetuk telungkup tanganku. “Nauren direhabilitasi selama delapan bulan. Bisnisnya hancur karena investor menarik lagi dananya. Sekarang, dia kembali kaya anak SMA yang bergantung sama orangtua.”
“Hahaha … itu yang gue inginkan selama ini. Jadwalkan pertemuan gue dengan Nauren, gue mau meludah tepat di depan mukanya.”
“Sebelum kau meludahi Nauren, lebih baik lo menemui David,” sanggah Reina.
Napasku seakan bergenti mendengar permintaan itu. Sungguh sulit untuk dilakukan setelah semuanya terjadi. Janji tetaplah janji, prinsip tidak mungkin dilanggar olehku.
“Mustahil, Kakak. Orang yang tahu gue itu ke mana cuma elo, Alfian, dan Kakek Syarif. “
“Kita bukan di dunia permainan petak umpet. Seluruh rencana lo udah berjalan lancar, untuk apa bersembunyi? Bilang aja lo lagi berlibur, bukan dikira sudah mati seperti ini.”
Aku pura-pura menguap. “Maaf, gue ngantuk. Terima kasih kopinya.”
“Kau sama dengan Kakek Syarif!”
Tentu saja ia tahu kalimat itu karena aku menirunya dari Kakek Syarif langsung. Ia selalu menguap dan pergi ketika pertanyaan kami tidak ingin ia beri jawaban.
***