
Mata Borneo terpicing melihat tulisan dibawah pengikat batu cincin yang terbuat dari perak putih. Ia sempat mengucapkannya padaku sebelum ia mengenakan cincin itu. Sama sekali tidak aku mengerti apa yang sedang ia ucapkan, hingga lontong pesanan kami datang, Borneo tidak kunjung memberikan penjelasan. Aku sedikit tidak peduli karena perut yang terlampau lapar. Piring lebih dulu aku tarik untuk memerhatikan apakah benar ada paku di sana.
Paku merupakan pakis dalam bahasa setempat. Menurut Razel dan Borneo, orang Melayu biasanya menyebut pakis dengan sebutan paku. Aku kira paku yang dijadikan penyangga atau pun atraksi oleh tokoh Limbad ketika ia unjuk kebolehan. Tatkala aku makan, memang nikmat rasanya, mungkin dikarenakan oleh perut yang kosong. Aku lihat Razel juga begitu.
Borneo kelihatn melirik kepada Semara yang sedang makan perlahan. Mulut wanita itu kecil, jadi jarang ia menyendok dengan suapan yang besar. Aku mengalihkan perhatian Borneo dengan mengetuk piringnya, lalu menunjuk cincin yang sedang ia kenakan.
“Kau tahu apa kalimat itu? Bisa jadi itu petunjuk ….”
“Kakek Kumbang memang sering menyebut kalimat ini. Aku umumnya paham kalau kalimatnya berarti sebuah tujuan ….”
“Tujuan? Kau kira apa hubungannya dengan lokasi Kakek Kumbang?” tanyaku.
Borneo mengetuk meja. “Kau ini … jangan dikira semua tanda-tanda itu berhubungan dengan tempat Kakek Kumbang. Aku duga Kakek Erasmus sering dengar kalimat ini, jadi ditulis, kan memang untuk Kakek Kumbang dan Kakek Syarif pada umumnya.”
“Jadi maksudnya apa, Bornoe?” Aku kesal karena ia tidak kunjung menjelaskannya.
“Kakek Kumbang selalu bilang\, ` Jalur didayung pada pancang terakhir` setiap kami pergi melaut. Semacam doa\, ritual\, atau apalah itu. Aku enggak tahu maksudnya apa\, yang aku pahami kalau memang bertujuan ke sebuah tempat. Misalnya kami pergi ke Bandar Lampung\, berarti pancang terakhir itu adalah Bandar Lampung.”
“Kalau misalnya kita mau ke Jakarta, berarti aku bilang Jakarta itu pancang terakhir? Begitu?” Aku memikirkan arti pancang itu apa karena aku sama sekali belum pernah mendengarnya. “Pancang itu apa sih?”
“Bisa jadi tiang, sesuatu yang jadi tanda mungkin, biasnaya ditanam ke tanah. Kan orang sering bilang pancang batu, pancang kayu, berarti tanda batu dan tanda kayu. Begitulah kira-kira.” Ia menyendok lontong gulai pakunya. “Ah, jangan tanya aku arti menurut kamus karena aku bulan guru Bahasa Indonesia.”
“Kalian bisa diam ga? Orang lagi makan malah bicara.” tanya Razel tiba-tiba. Aku dan Borneo sontak memandangi anak itu. Merasa ia sudah mengganggu kami, ia pun kembali melanjutkan makan. “Maap … lanjutkan pembicaraan kalian.”
Selesai menyaksikan Semara yang makan lambat sekali, kami pun bergegas pergi melanjutkan perjalanan. Masih ada sekitar empat jam lagi kami berada di perjalanan. Menurut Pak Salman, pria bernama Andalas itu tinggal di sekitaran kawasan Kersik Tuo. Tentu saja kami mengandalkan map di handphone untuk menuju ke sana karena aku masih mengizinkan handpohone Semara tetap hidup.
Garis pantai bergeser menjauh tatkala kami bergeser ke kanan. Aku mulai melihat perbukitan batu rimbun yang menjulang tinggi di tepian jalan. Air menetes di beberapa titik batu tersebut pertanda terdapatnya mata air. Ingin sekali aku menadahkan wajah di sana agar aku bisa menikmati betapa segar air tersebut. Namun, perhatianku lebih tertuju kepada bayang-bayang raksasa di langit. Itulah Puncak Andalas yang berlapis awan tipis. Sungguh tinggi hingga kedua bola matak bergerak ke atas. Megahnya ciptaan Tuhan tergambarkan dalam bentuk sebuah Gunung yang menjulang indah.
Kami tiba tepat di pukul dua siang di Desa Kersik Tuo. Baru saja aku datang, sudah ada orang-orang bergaya seperti pendaki sebagaimana yang aku lihat di Gunung Bromo. Kami berkeliling mencari kebun bernama Andalas, tetapi sama sekali tidak kami temui. Inisiatifku langsung berkunjung ke rumah Kepala Desa setempat untuk bertanya warganya yang bernama Andalas itu.
Lokasi itu kami dapati\, sekitar lima belas menit keluar dari Desa Kersik Tuo. Tepian jalan membuat kami berhenti untuk sebuah papan nama yang bertuliskan `Kebun Andalas`. Bukannya petani yang aku lihat\, melainkan keluarga-keluarga yang seperti ingin liburan. Bahkan\, kami diarahkan oleh seorang tukang parkir. Mau tidak mau\, aku membayar lebih dulu dengan harga dua puluh ribu. Sungguh harga yang mahal untuk sebuah van.
“Benar ini rumah Pak Andalas ada di sana?” tanyaku kepada tukang parkir.
Dingin sekali udara di sini, bahkan mulutku sedikit mengeluarkan embun.
“Benar Buk … Rumah Pak Andalas ado di dalam,” ucapnya.
“Oh oke, makasih banyak.” Aku mengajak yang lain untuk memasuki gapura kebun. Sebelum itu, aku bertanya kepada Razel, “Apa gue setua itu sampai dipanggil Ibuk?”
“Yaa … menurut lo aja deh Kak,” balas Razel dengan cuek.
“Mungkin karena gue udah waktunya nikah, tapi malah berkelana ….” Aku kembali melenggang menelusuri jalan yang di kiri kanannya merupakan kebun teh.
Sepertinya, kebun teh ini dijadikan tempat rekereasi oleh keluarga yang ingin berlibur. Mereka membawa anak-anak mereka bermain di sana, mendaki kebun tah yang terlihat landau. Sementara mereka menbawa anak, aku pun begitu. Razel merupaka anak bungsuku kali ini. Meskipun ia paling termuka, tetapi dirinya yang paling sering membawakan barang-barangku.
Sepanjang jalan tidak aku jumpai rumah. Seakan tidak sabar aku mendaki tanah landai kebun teh tersebut. Razel meneriaku di belakang agar hati-hati. Tetapi, hal itu sangat mustahil untuk aku iyakan. Sementara Borneo aku pinta untuk menjaga Semara agar tidak terjatuh. Jika wanita itu lecet sedikit saja, gajinya tentu aku potong.
“Kak … pelan-pelan dong!” Razel mengatur napasnya dengan menunduk.
“Itu rumahnya.” Aku menunjuk ke bawah sana, terdapat rumah batu tingkat dua yang berdiri. Tidak ada rumah selain itu di sini.
“Hah …. Kita harus turun lagi.”
“Siapa terakhir telur busuk!” Aku kembali menuruni kebun teh dengan berlari.
Merasa lucu aku tatkala melihat mereka yang kesusahan untuk mengikuti ritme langkah yang aku ayunkan. Mungkin saja kakinya tidak sekuat punyaku. Sesampainya di muka rumah tersebut, aku mengetuk pagar rumah yang tertutup rapat. Aku tahu pasti di dalam sana ada orang karena garasi yang terbuka. Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari pemilik, ternyata seorang petani menghampiri kami.
“Nyari siapa dek?” tanya ibu itu.
“Nyari Bapak Andalas, Bu. Dia ada?”
“Ada perlu apa ya?” tanya beliau lagi.
Razel berbisik kepadaku agar bilang saja anak dari rekannya sewaktu masih melaut. Aku ragu ia tahu mengenai latar belakang Bapak Andalas.
“Itu … kami anak-anak dari Syarif yang tinggal di Jakarta.”
“Sebentar ya … saya panggil dulu ke dalam.”
Sekitar beberapa menit beliau memberitahukan kedatangan kami, tidak lama kemudian kami didatangi seorang pria tinggi berkulit cokelat. Matanya sipit sebagaimana mata Borneo. Ia tersenyum kepada kami sebelum bertanya maksud kedatangan.
“Nyari saya?” Ia heran sebentar melihat Razel. “Sepertinya aku pernah lihat kau. Tapi di mana ya?”
“Aku anaknya Syarif, Razel, Pak”
“Oh … Razel ….” Wajahnya seketika riang. “Dulu kau masih segini. Aduh … jangan panggil aku Bapak, panggil Abang aja. Aku manggil bapak kau baru dengan sebutan Bapak. ”
Segini yang ia maksud aku kira masih setinggi lututnya, namun ia hanya menanalogikan denga ujung jempol seakan Razel itu sebesar semut.
“Ha … apa hal kalian ke sini?” Ia membuka gerbang pagar dengan lebar. “Mari masuk. Kita bicara di dalam.”
“Sebenarnya kami mau mencari Kakek Kumbang,” ucapku.
“Apa hubungannya kau dengan Pak Kumbang?” tanya Bang Andalas.
“Namaku Reira. Aku cucunya Kumbang, anak dari Fany.”
Tidak ada jawaban yang aku dapati kecuali dalamnya sorot mata itu. Ia diam membisu seakan benar-benar melihat orang yang lama tidak pernah berjumpa. Bersimpuh angin di hadapanku, tidak kunjung memberinya pergerakan. Namun, hatiku seakan berguncang ketika separuh air mata Bang Andalas jatuh dari ujung mata. Ia menghapusnya dengan segera,
“Razel, kau ajak teman-temanmu ini masuk ke ruang tamu.” Ia bergerak ke depan. “Reira, ikut dengan aku.”
Tanganku mendorong Razel agar segera masuk ke ruang tamu, sementara aku mengikuti Bang Andalas menuju garasi. Ujung garasi berupa pintu yang langsung menuju taman kecil berumput. Tidak kunjung ia berhenti, malah memintaku untuk naik bersamanya pada sebuah tangga. Tangga tersebut mengarahkan kami ke sebuah kamar.
“Bang … sebenarnya ada apa?”
“Waktu kau bilang kalau kau itu anaknya Fany, Aku merasa separuh hidupku hilang.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku ditemukan Bapak Kumbang sewaktu umur lima tahun sewaktu Emak dan Bapak mati melaut. Setelah itu, aku dibawa melaut dengan Pak Kumbang, diasuh oleh seorang yang aku anggap sebagai Kakak. Itulah Kak Fany. Tapi, Kak Fany sudah tiada.”
Aku terdiam sejenak. Ada sesuatu yang menjanggal dari kalimatnya. Terakhir kali ia berhubungan dengan orang terdekatku ialah ketika Bang Salman berkunjung ke rumah Kakek Syarif. Pada saat itu, Bundaku masih berkeliaran di atas muka bumi ini.
“Abang mustahil tahu berita meninggalnya Bunda. Dari siapa berita itu?”
“Satu-satunya orang yang masih bisa aku sebut dengan Bapak. Dia bapak angkatku, yang menyekolahkan aku dan memberi makan aku, Raja Ishak Al-Kuantany.”
Sudah lama aku tidak mendengar sepenggal nama indah itu semenjak Kakek Syarif memberitahu nama asli dari Kakek Kumbang. Pada saat itu orang-orang sedang bertanya nama ayahanda dari Bunda untuk keperluan batu nisan.
“Berarti, Kakek Kumbang pernah berada di sini sebelumnya?” tanyaku.
“Pernah … Pak Erasmus yang beri tahu lokasi ini.”
“Tapi …” Aku berhenti sejenak. Semua ini seakan ada hal yang hilang. “Kakek Erasmus bilang kalau dia enggak pernah berjumpa dengan kakekku.”
“Reira, kau sedang berhadapan dengan bajak laut, bukan nelayan.” Ia membuka ruang kamar tersebut. “Yang pasti, Pak Erasmus sudah bertemu dengan Bapak Kumbang. Beliau beri tahu lokasi ini dan … di sinilah dia tidur. Pak Kumbang pernah ke sini dan beritahu kalau Fany sudah tiada.”
Aku menyentuh dinding kamar. Di hadapan sudah ada ranjang yang pernah dibaringi oleh Kakek Kumbang. Tatkala aku mengira ia sangatlah jauh, ternyata dekat sekali seperti ini. Benar apa yang sudah dikatakan oleh Kakek Erasmus, Kakek Kumbang lebih mudah menyentuhku daripada usahaku untuk mencarinya. Ia seakan ada di mana-mana memberikan tanda sebagai caraku menemukannya.
“Erasmus Si Pendeta, ternyata juga bisa berbohong.” Aku mengangkat tanganku.
“Cincinmu itu.” Bang Andalas menjulurkan jemarinya. “Kita punya cincin yang sama. Itu cincin identitas awak Kapal Leon. Semua orang yang pernah berlayar dengan Kapal Leon, pasti diberikan oleh kaptennya, Kapten yang sejatinya Kapten.”
“Aku dibohongi dua kali oleh Erasmus Si Tua itu.” Jemariku terangkat untuk memastikan batu cincin kami sama. “Iya Bang, ini batu yang sama. Benar yang Abang bilang, kakekku bertemu dengan Erasmus. Dia tahu kalau aku akan ke Bali, lalu menitipkan cincin ini dengan Erasmus.”
“Sangat sulit buat kita menebak. Orang-orang di kapal pernah bilang, dia itu hantu.”
Aku mengangguk. Sudah berkali-kali aku mendengar kalimat itu, baik dari Kakek Syarif, Kakek Tarab, Kakek Erasmus, dan satu-satunya orang yang bukan kakek-kakek, Borneo.
“Kapan Kakek ada di sini?”
“Dua hari yang lalu ….”
Jantung berdebar kencang mendengarnya, seakan wangi khas Kakek Kumbang masih tersimpan dari ruangan ini.
“Ke mana dia selanjutnya?”
“Pak Kumbang menginap di sini satu malam. Dia datang sendirian di waktu hujan. Siang keesokan hari, ia merasa ada aura Kapal Leon sedang mendekat. Kau harus paham, Pak Kumbang punya ikatan batin tersendiri dengan kapal-kapalnya. Pak Syarif bilang kalau di Kapal Leon ada siluman harimau yang menggaruk setiap malam tertentu.” Ia mengehela napas sesaat. “Setelah itu dia bilang akan mendaki Gunung Kerinci.”
“Sendirian?”
Bang Andalas menganguk. “Iya Reira, dia sendirian menyandang peralatan daki gunung. Tapi kau enggak akan bisa melarang Pak Kumbang. Satu-satunya orang yang paling keras kepala selain Kak Fany.”
“Berapa lama buat mendaki Gunung Kerinci?”
Dahinya menyerngit untuk mengingat sesuatu. “Dulu paling normalnya dua belas jam sampai ke puncak. Bisa dua hari lebih sampai balik lagi ke lembah.”
Aku bergerak turun dari kamar tersebut. “Aku mendaki malam ini. Abang bisa siapkan perlengkapan kami?”
“Kau mau mendaki Gunung Kerinci dengan persiapan sesingakat ini?”
“Bukannya kakekku cuma butuh satu jam aja buat bersiap-siap?”
Ia menarik tas sandangku. “Reira, mendaki Gunung Kerinci itu bukan seperti Bromo di Jawa. Ini Puncak Adalas, puncak tertinggi Sumatera. Kami butuh seminggu lebih untuk bersiap fisik.”
“Bang … tambahkan satu lagi daftar orang yang paling keras kepala selain Pak Kumbang dan Kak Fany, itulah aku.” Aku tersenyum padanya.
Aku menjemput yang lain di ruang tamu. Sudah ada istri dari Bang Andalas yang menyambut mereka di sana. Pembicaraan hangat pun terhenti oleh hadirnya diriku. Suaranya nyaring meminta mereka bersiap-siap segera. Tidak ada waktu untuk menunda lagi. Jika Kakekku mendaki dua hari yang lalu, masih ada kesempatan setidaknya bagi kami untuk berselisih jalan. Ini merupakan momentum yang tepat agar menjemput Kakek Kumbang.
Benar, aku seperti sudah di dalam satu garis yang ditentukan oleh Kakek Kumbang. Setiap langkahku berasal darinya.
“Kita mendaki malam ini, tidurlah yang cukup!” pintaku dengan lantang.
***