Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 166 (S2)



EPISODE 166 (S2)


Untuk teman-temanku ...


Terima kasih untuk semuanya yang telah kalian berikan kepadaku. Masa kalian sudah habis, begitu pula diriku. Aku hanyalah seorang pendusta handal yang menyembunyikan sebuah rahasia. Mulai sekarang, tulislah kisah kalian sendiri dengan kapal masing-masing. Aku akan pergi, biarkan aku sendiri. Aku berhak mendapatkannya.


Reira sudah mati, aku yang membunuhnya sendiri. Jangan ingat lagi sepenggal nama ini. Terimakasih.


Tertanda ... pendusta ...


Mawar menangis dalam pelukanku dengan isak yang menggetarkan hati. Tak berdusta arti tangisan itu karena berasal dari hati. Merintih dirinya kepadaku, begitu sedih melihat tulisan Reira yang menguntai pada kertas putih. Tulisan itu sedikit memudar oleh percikan air hangat di dalam bath up. Yang aku lakukan hanyalah memangku Mawar yang menangis tersedu-sedu menyadari bahwasanya seluruh kisah ini sudah berakhir, yaitu seorang teman yang menghancurkan persahabatan itu sendiri.


Memang, tidak ada lagi bagiku untuk mempertahankan. Reira juga menginginkan pergi, meskipun kami sudah lebih dahulu merelakannya. Makna-makna itu tak lagi berarti bagiku karena ia mengajarkan kepadaku bahwa tak semua makna berlaku selamanya, yaitu dirinya sendiri. Ia yang pernah kami anggap sebuah makna, kini tak berarti apa-apa karena pengkhiatatan yang ia lakukan. Jikalau ia benar-benar kapten kapal, maka lebih baik ia menenggelamkan diri ke dalam laut yang penuh hiu. Biarkan tubuhnya hanyut menjadi keping-keping daging yang terbuang. Tak ada tempat bagi para pengkhiatan di dalam kapal.


Hujan masih deras di luar sana. Petir tak pernah berhenti menyambar dan membuat terang langit malam. Kami berdia berselimut di atas sofa ruang tengah sembari memegang cangkir minuman hangat. Tak perlu tidur malam ini karena momen tak mengizinkan. Wanita misterius itu sudah menganggu jam tidur kami. Mungkin tak hanya kami, bisa jadi Bang Ali, Candra, atau bahkan Zainab yang jauh di sana.


“Dua hari ke depan lo wisuda. Selamat,” ucapku pelan.


Lengan kami saling bersentuhan satu sama lain dengan sebuah selimut tebal yang menaungi. Suara televisi dengan acara sinetron malam berbunyi di depan. Aku tidak suka sinetron, tetapi wanita di sampingku tetap memutarnya. Aroma tubuh Mawar melekat di sekitar, melegakan hirup napasku yang mampat. Tak secanggung di kamar mandi tadi, ia lebih leluasa tersenyum ringan kepadaku.


“Terlalu cepat untuk kata selamat,” balasnya.


Aku menoleh ke samping. “Gue harap, gue yang pertama di antara semua teman lo.”


“Iya, lo benar ... lo yang pertama.” Ia menyeruput minuman hangat miliknya. “Semangat nyelesaiin skripsinya ....”


“Berarti setelah ini lo bakalan pergi, dong?” tanyaku.


“Kemungkinan itu ada karena gue melamar beasiswa ke Universitas Frankurt, Jerman. Tapi, meskipun gue enggak jebol, Papa udah ngerencanain kuliah magister Psikologi gue di Malaysia. Relatif lebih murah buat biaya pribadi dan keluarga Chinesee gue juga ada di Malaysia.”


“Wow, Jerman ... suatu hal yang enggak pernah kepikiran buat gue.”


“Gue udah bulatin diri buat jadi Psikolog Klinis kaya Papa.” Ia menoleh padaku kemudian.


“Seperti yang Reira bilang, semua itu berasal dari mimpi, kan? Lo hanya enggak berani buat bermimpi ke sana.”


Aku tergelak sesaat. “Hahah ... mimpi gue sederhana, bisa hidup sehat dan ngopi yang nyaman setiap hari. Hanya sesederhana itu.”


Kami saling tersenyum, membagi celah kecil di dalam kebahagiaan yang singat ini. Celah kecil itu membawa Mawar untuk perlahan merangkul lenganku, menjamu ujung pundak untuk dijadikan sandaran. Entah kenapa, aku tidak tahu. Bukan canggung yang aku rasa, tetapi rasa nyaman yang tak pernah aku rasakan. Mungkin hatiku sudah lama di dalam kehampaan, hingga rasanya asing untuk merasakan kehangatan. Hingga, tak kularang baginya untuk bersandar lebih lama pada pundakku.


Sebelum subuh, aku pulang ke rumah dengan diantar oleh Mawar. Berterima kasih sekali diriku padanya karena telah menemukanku tadi di tepi jalan yang hujan. Jika tidak, mungkin saja aku sudah pingsan kedinginan. Kondisi pintu rumah masih seperti tadi tatkala aku buka tanpa dikunci. Dika sudah pasti belum bangun. Buktinya, tak sadar dirinya aku telah pergi dari tadi. Padahal, Dika sedang mendengkur di sofa ruang tengah dengan abu rokok berserakan lantai.


Rasa penasaran membuat diriku mengundang teman-teman yang pernah terlibat untuk datang ke cafeku malam esok. Aku dan Mawar sudah menjadi bukti bahwasanya Reira masih ada di sekitar kita, setidaknya ia masih di kota ini. Selain itu, aku ingin mendengar apa yang telah diberikan Reira kepada mereka semua. Aku terkejut, tatkala masing-masing dari mereka membawa barang yang telah diberikan oleh Reira, termasuk diriku.


Kami sebut saja malam ini malam kebahagiaan karena pesta terakahir bagi Bang Ali dan Mawar sebelum benar-benar tamat kuliah. Hampir seluruh orang yang aku undang datang, kecuali Razel dan Fasha. Razel tengah di dalam perjalanan laut bersama Kakek Syarif. Sementara Fasha sudah pasti sibuk mengurusi bayinya yang lucu. Sengaja cafe kututup untuk malam ini dan Zulqarnain menerimanya dengan senang hati. Anak itu bisa pergi keluyuran bersama teman-teman kampusnya.


Mawar dan Dokter Alfian menyiapkan makanan di container. Aku senang Mawar ingin kembali memegang ujung cattel penuang air hangat di cafe ini setelah sebelumnya membungkam diri tak ingin datang. Ia terlihat seru sekali bersama Dokter Alfian sembari mendiskusikan banyak hal. Sesama orang pintar, pasti ada banyak yang bisa dipertanyakan.


Hingga makanan tersedia dan habis dilahap dengan nikmat. Barulah kami mendiskusikan hal tersebut. Aku membuka ujung botol arak Bali pemberian Reira di malam hari itu. Tak hanya botol arak Bali, tetapi banyak benda yang tergeletak di atas meja. Bang Ali dan Redi mendapatkan benda yang sama, yaitu senapan angin berpemidik. Menurut mereka, jenis senapan ini cukup mahal karena dari merk yang terkenal. Candra mendapatkan seekor kucing Sphynx anakan yang Reira letakkan di dalam kandang pet shop. Ia tak pernah tahu kapan Reira memasuki pet shop miliknya. Sedangkan Dokter Alfian dengan senang hati mendapatkan tiket jalan-jalan ke Jepang yang Reira selipkan buku pasien klinik kesehatan miliknya.


“Kayanya gue yang paling murah,” ucapku sembari mengangkat gelas kecil yang berisikan arak Bali. Wajahku menciut tatkala meminumnya dengan sekali tenggak.


Hanya aku, Bang Ali, dan Candra yang mencicipi arak itu. Sedangkan yang lain lebih memilih kopi racikan Mawar.


“Menurut lo, Reira sebenarnya mau apa dengan pemberian ini?” tanya Bang Ali padaku.


“Permintaan maaf, mungkin. Atau dia sebenarnya ngehina gue dengan memberikan arak Bali, sedangkan kalian benda yang mahal. Hahaha ....” Aku menoleh pada Dokter Alfian. “Dok, Reira bener-bener enggak ada ketemu sama lo?”


“Panggil Alfian aja ...” Dirinya tersenyum. “Enggak, sih. Terakhir gue ketemu dia di gedung anak-anak itu, waktu sesudah kalian pulang ke sini. Pada saat itu gue enggak tahu apa-apa dan enggak ngerasain apa-apa. Seperti biasa, gue bicara ala kadarnya sama Reira, dia pun begitu pula sama gue.”


“Fixed, sih ... Reira memang udah mutusin buat ninggalin kita semua.” Bang Ali menenggang arak Bali di gelasnya. “Sorry-sorry aja, Alfian. Meskipun dia sahabat kecil lo, jujur dia itu ********. Gue enggak nyangka dia bakalan begitu.”


Dokter Alfian mengangguk. “Iya, gue juga enggak menyangka. Sebagai sahabat kecilnya, gue cukup kecewa. Gue sama sekali enggak tahu kalau Reira dan Nauren pacaran sejak lama. Dia bener-bener pecundang.”


“Gue udah rela dengan semuanya, kok. Gue masa bodoh dia mau ngapain,” balasku.


“Lo bener-bener enggak bisa kontak dengan keluarga dia? Jujur ... gue enggak terlalu kenal sama Kak Reina. Soalnya, dia semenjak SMP enggak pernah tinggal lagi di rumah Pak Bernardo.”


Aku menggeleng. “Nomornya enggak aktif. Sosial media Kak Reina juga enggak dibalas. Gue rasa dia sekongkol.”


Ban Ali menepuk meja dengan ujung gelas sloki. Ia kembali tuangkan arak Bali itu ke gelas miliknya. “Udah ... yang terpenting sekarang adalah hidulah dengan jalan kalian masing-masing. Selamat buat gue dan Mawar karena sebentar lagi gue bakalan kawin ... eh sorry, gue sama dia wisuda.”


Wajahnya sudah tampak oleh karena efek alkohol. Matanya sayu menatap kami. Berkat kalimat itu, tawa pun pecah di tengah-tengah kami. Ada-ada saja perkataan Bang Ali sehingga membuat Mawar yang berwajah kemerah-merahan semakin bertambah merah. Kembali dengan candaan Candra yang garing itu, ia menghantam malam ini dengan candaan dangkal. Aku rasa tidak lucu dari diksi candaannya tersebut, tetapi pembawaannya yang menambah kelucuan.


Di saat semua orang tertawa, aku terdiam melihat sebuah mobil sedan mewah menghampiri cafe milikku. Mawar mencolekku agar melangkah ke sana. Belum sempat aku sampai di hadapan mobil itu, seorang wanita muda bertubuh berisi keluar dari sana. Ternyata itu Fasha yang ingin memenuhi undanganku.


Tepat tatkala aku sampai kepadanya, Fasha memegang kedua tanganku.


“Reira, Dave!” ucap Fasha dengan panik.


“Kenapa?” tanyaku.


“Gue diberitahu Papa kalau dia mengenal seseorang yang ditangkap oleh bawahannya. Dia mastiin itu Reira. Bukan karena kasus sebelumnya, tapi kasus yang lain.”


Aku melihat ke belakang, pembicaraan kami terlalu kecil untuk mereka dengar. Setelah itu, gue kembali memandang Fasha.


“Lo udah mastiin ini Reira? Emang dia kenapa?!”


“Nauren dan Reira ditangkap satuan narkoba Polda Metro Jaya di sebuah hotel. Pak Bernardo dan keluarga Nauren sedang ada di kantor sekarang. Mereka dalam masalah besar. Press release akan dipublikasikan besok.”


Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Benar ternyata, Tuhan memisahkan diriku dengan orang yang tak baik untukku.


***