
EPISODE 82 (S2)
Sentuhan itu mengingatkan bagaimana lembutnya tangan di kala hujan pertengahan Desember yang berlalu sepulang sekolah, lalu menuntun langkahku menuju halte persimpangan jalan. Tanpa melihatku ia melenggang tanpa beban, padahal hitungan perkenalan kami masih dibilang muda. Dari beceknya jalan aku tak melihat bahwasanya tanganku tengah disentuh oleh seseorang, terjadi begitu saja dibawa dinginnya tunas hujan yang bertambah lebat. Aku bodoh, mengikuti langkah anak itu yang tak ingin aku basah. Tepat langkah kami menyentuh lantai halte untuk pertama kali di hari itu, ia berdiri sejenak sembari menatap keluar.
Lihatlah ... ini akan indah sekali ....
Memori itu menyedotku pada masa sekarang, tepat di denting jarum detik jam tangan yang bergerak. Menit-menit yang aku lalui sebelumnya benar-benar terasa hampa, jauh merujuk ke masa lalu yang dingin itu. Kini, wanita berwajah oriental itu berdiri di gerbang kayu khas bar koboi yang berdecit, itu ide darinya untuk memasang gerbang kecil itu di antara pembatas besi sepinggang yang mengelilingi area cafe.
“Lihatlah ... ini akan indah sekali,” ucap Mawar.
Jiwaku bergeming seketika. Tarikan napasku terasa lambat, waktu terasa berhenti disedot oleh ruang ingatan waktu yang singkat. Aku pikir aku tidak bermimpi ketika menyubit diri sendiri, namun entah kenapa wanita yang kutatap saat ini bagaikan raut wajah samar-samar yang sering menghantui diriku dengan mengucapkan kata yang sama, intepretasi dari masa lalu yang pernah benar-benar nyata terjadi. Tepat di posisi Mawar berdiri, menatapku dengan wajah memerah sembari melepas seketika sentuhan tangan itu, ia mengucapkan kata yang sama seperti di kala itu. Aku tidak tahu apakah ini kebetulan saja, atau ada sebab akibat. Aku salah satu orang yang tidak menyetujui ada hal yang bersifat kebetulan.
Aku menarik napasku. Dirinya menarik senyum sembari mengucapkan kata maaf, lalu beranjak pergi menuju container untuk membukanya. Seakan tidak bisa bergerak, aku masih berdiri di sini untuk menelaah segalanya.
“Kenapa diam di sana?” tanya Mawar sambil menoleh. “Lo yang harus membukanya untuk pertama kali.”
Aku menggigit bibir bagian dalam, mengembalikan kesadaran penuh. “Ah, benar juga. Kan gue pemiliknya, harusnya gue yang buka.”
Ia memerengkan wajah padaku. “Selamat ... gue belum ada ngucapin selamat.”
“Selamat juga,” balasku.
“Buat apa?”
“Jadi pegawai gue. Hahaha ....”
“Siap bos!” Ia memberikan hormat padaku.
Cafe didesain sedemikan nyamannya dengan ruang terbuka, tetapi masih beratapkan kanopi yang terpasang. Bagian depan cafe merupakan parkiran sepeda motor dan mobil. Setidaknya masih bisa menyimpan enam mobil dan banyak motor di kiri dan kanan depan. Bagian belakang cafe ditempatkan meja-meja dan kursi kayu yang ingin menikmati bintang gemintang malam, sedangkan yang paling utama ialah bagian dalam cafe tempat mereka yang ingin berteduh. Ada belasan meja yang dijadikan tempat bersantai. Reira mengurusi properti yang seperti itu di salah satu toko meubel langganannya. Di bagian sudut belakang Mawar sarankan untuk ditempatkan panggung live music. Aku menempatkan papan setinggi betis tempat musisi lokal tampil, beserta sebuah gitar listrik akustik dan amplifier yang aku beli bekas.
Cafe ini bagiku bukan sekedar investasi komersil yang akan bisa kunikmati setiap bulan apabila berjalan lancar. Terdapat ekspresi jiwa raga yang menjadikannya sebgai sebuah kebanggaan. Terdapat rindu-rindu yang bersemayam di balik dinginnya angin malam. Imajinasiku membayangkan betapa senangnya Ibu dan Ayah duduk melihatku yang sedang memasak makanan, walaupun aku tetap bekerja di sini. Ingin rasanya aku menggosokkan kepalan tanganku ke kepala Rio tatkala dirinya meminta izin mengisap ganja di tengah malam ketika tiada lagi pengunjung yang datang. Ada banyk hal yang membuatku bahagia dan berkenang di sini. Semuanya menjadi satu tatkala aku mengucapkan selamat datang pada pembukaan.
Teman-teman kampusku datang. Beberapa dosen turut hadir sembari bertepuk tangan menyaksikan Reira membaca puisi di atas panggung, tentu saja itu puisi milikku yang pernah ia robek dari buku catatanku. Akun media sosial sebagai saran promosi ternyata menambah antusias pengunjung karena aku mencantumkan diskon setengah harga pada setiap varian minuman. Semuanya berbahagia di sini, termasuk aku dan Mawar yang saling bertatap di dalam container.
“Hati-hati dalam memasak,” ucap Mawar sembari bersandar di dinding container.
Aku menyaring pasta yang sudah selesai direbus. “Lo juga ....”
“Jangan khawatirkan gue.” Ia menaikkan kedua alisnya. “Gue ini anak pemilik kopi.”
“Gue anak dari orang swasta yang pergi pagi pulang malam,” balasku.
Mawar melihat keluar. Pengunjung tengah ramai, hampir memenuhi setiap meja yang tersedia. “Lo beruntung bikin cafe di sini karena satu jalanan ini hanya ada satu cafe. Tapi, menurut gue kita harus menambah pegawai, setidaknya dua lagi. Kita kewalahan kalau begini.”
Benar, kami keteteran tadi di awal-awal pembukaan karena setiap orang memesan makanan,. Untung saja Reira datang membantu pekerjaan kami. Berharap kepada Candra? Aku tidak ingin ia mengacaukan hidangan.
“Lo bener juga. Gue ngelihat perkembangan dalam seminggu ini. Gue ada banyak temen yang punya potensi untuk direkrut,” ucapku.
Pandanganku beralih ke depan cafe. Terdapat sepasang kekasih yang tengah bergandeng tangan berdua. Perutnya semakin besar saja aku lihat dan ia pun bertambah lebar saja pipinya. “Fasha .....”
Ada satu orang penting lainnya yang ingin sekali aku menunjukkan semua ini, yaitu Fasha. Wanita bergitar itu tengah memakai pakaian ibu hamil. Sebelah tangannya merangkul Bagas yang kini sudah brewokan seperti bapak-bapak, tetapi ia sangat terlihat keren dengan hal itu. Keduanya tersenyum padaku, termasuk pria yang pernah berseteru denganku. Tanpa aku duga, Fasha berlari kecil ke arahku. Tepat di hadapanku ia berhenti sembari menyentuh wajahku dengan kedua tangan. Satu peristiwa yang membuatku memerah wajah ialah Fasha mencium pipiku tanpa ragu. Aku pun memicing mata untuk menahan malu. Tepat di belakangnya berdiri Bagas dengan gaya khasnya, dingin dan diam.
Gila lo ya, Fasha! Gue bukan pebinor!
Fasha menepuk dadaku yang bertulang, lalu merubah posisi tangannya tepat di kedua bahu dengan gerakan memijit.
“Sumpah ... gue ... enggak percaya ini. Lo cowok pendiam yang mager banget keluar umah, kini punya sebuah tongkrongan sekeren ini. Gue ... aduh ... speechless banget!” puji Fasha.
“Heheh ... keluarlah dari zona nyaman, bukan?”
“Enggak ....” Ia menggeleng padaku. “Zona nyaman itu enggak ada. Lo hanya bosan dengan kehidupan lama, lalu mencari kehidupan baru yang akan terus ngebikin lo nyaman. Inilah zona nyaman lo yang baru.”
“Filosofi kita berbeda, Fasha ....”
“Setiap orang punya jalan masing-masing buat berfilosofi,” balas Fasha.
Aku melihat Bagas yang masih diam, seakan menjadi nyamuk yang tidak diperhatikan di sini. “Hei, lo enggak sadar bawa suami ke sini, tapi malah ngecup cowok orang. Untung aja Reira lagi di bagian belakang sama temen-temennya.”
Mawar menoleh ke belakang. “Hahah ... gue meminta izin buat mengecup pipi sahabat terbaik gue dan dia mengizinkannya.”
“Benar, kah?” tanyaku pada Bagas.
Pria sok dingin itu―ia memang dingin sebenarnya―hanya menaikkan alis mengiyakan pertanyaanku. Setelah itu, aku menatap Fasha.
“Apakah ia bisa bicara?” tanyaku dengan suara kecil.
Fasha tertawa mendengar itu.
“Hey, gue dengar itu!” sanggah Bagas.
Terdapat tangan yang lain menarikku dari belakang, melepaskan sentuhan tangan Fasha yang menempel ke kedua lenganku. Ia menyisipkan diri di antara aku dan Fasha. Wangi tubuhnya yang berbau laut langsung bisa aku tebak siapa gerangan, tanpa menoleh ke belakang sebelumnya.
“Enak banget megang-megang cowok orang!”
Reira menatap Fasha dengan tegas. Namun, sesaat kemudian ia meleleh dengan senyum melihat perut membuncit Fasha. “Kapan Leon akan lahir? Perut lo makin besar aja.”
Fasha berdiam sejenak. “I miss you.”
Reira malah menggeleng. “Gue enggak rindu sama lo. Gue rindu perut buncit ini.”
Tangan Reira menyentuh perut Fasha yang besar, lalu berjongkok mendekatkan telinganya ke perut wanita itu. Reira memejam mata seakan mendengar sesuatu, lalu tersenyum selebar yang ia bisa.
“Gue mendengar suara laut di sini. Gue harap dia akan menjadi teman baik anak gue dan David nantinya. Gue mau anak lo dikasih nama Leon!”
Entahlah kadang wanita yang sedang berjongkok ini. Suaranya tegas memaksa Fasha untuk menyamai nama calon bayinya dengan nama sebuah kapal berlumut.
***