
EPISODE 139 (S2)
Setiap pukul dua belas setiap malamnya aku menyilang nomor tanggal yang dilewati tanpa kabar dari wanita itu. Gelap hatiku menebak, buta mataku untuk mencari. Tak ada jalan yang bisa aku endus, kecuali dari perkataan orangtua lelakinya tersebut. Aku tak serta merta percaya dengannya. Dia orang partai yang berkampanye di awal pemilihan, lalu mengingkar tatkala sudah terpilih. Sudah memang terlatih untuk melakukan hal yang seperti itu. Namun, masih ada kesempatan benar darinya, meskipun aku masih kurang percaya.
Mimpi buruk kembali beralih di malam ke tujuh. Tatkala jantungku dihujam oleh keris panjang yang didahului oleh tato kumbang bercahaya. Terngiang tatkala aku terbangun bagaimana besar ledakan pistol revolver milik Reira yang ia tembakkan di halaman belakang. Bergetar tanganku menyadari bahwasanya keris panjang itu menghujam jantungku dengan kasar. Gelap tak mampu aku mengingat bagaimana rupa wajah sosok pria tua di mimpi itu. Namun, itu sudah pasti Pak Kumbang yang tersusun di dalam imajinasi, menjadi sosok antagonis ketika plot mimpi bermain.
Aku tersentak bangun dengan napas tersenggal. Angin menyeruak masuk ke dalam melalui jendela yang tak aku tutup sehabis merokok di kamar. Berdenting jam dinding yang menandakan hari sudah tidak malam lagi, melebihi malam malah. Gorden bergoyang pelan dengan dingin yang masuk. Mataku tertuju ke sana. Bayang-bayang seseorang tampak tegak berdiri setelah sebelumnya aku dengar ketukan dari pintu balkon. Ia masih diam berdiri di sana, tak kunjung kembali mengetukkan tangan pada pintu.
“Reira?” panggilku sembari mengucek mata.
Aku tahu ada fenomena seseorang tengah bermimpi di dalam mimpi ketika larut di tidur yang dalam. Namun, bayang itu sama sekali tidak menghilang. Aku bersimpul kalimat di dalam hati bahwasanya ini merupakan realita. Aku sedang berada di dalam realitas itu sendiri, bukan mimpi. Ruang dan waktu bergerak dalam bersamaan, aku merasakan hal itu sangat kuat. Ini bukan mimpi.
Kakiku terburu-buru bergerak menuju ujung pintu. Sama sekali tidak pernah aku kunci pintu itu dengan berharap Reira sewaktu-waktu akan masuk dan berbaring di samping. Tampaklah sosok wanita dalam gelap, berikat rambut di belakangnya. Ia tengah diam berdiri menatapku yang sedang termenung melihat sosok baru di balkon. Topi yang ia pakai sudah membuat sebuah kesimpulan, terdapat huruf awalan namanya di sana.
Aku memeluknya dengan erat. Itu Reira, bukan hantu, bukan pula Kakek Kumbang yang menghujam jantungku dengan keris. Ia nyata dengan kelembutan kulit yang aku sentuh. Ia begitu realita tatkala semerbak harum rambut menyeruak tatkala aku peluk dirinya. Kini, kami sama-sama merengkuh satu sama lain. Memberikan ruang untuk menabur rindu bersama di malam yang sunyi ini. Hanya aku dan dirinya, bulan dan gemintang menyaksikan dari langit.
“Lo ke mana?” tanyaku.
“Lo yang ke mana?” tanya Reira balik. Seperti yang biasanya, pertanyaan selalu dijawab dengan pertanyaan untuk membuatku berhenti bertanya.
“Lo seminggu hilang tanpa kabar. Setiap orang nanyain lo ke mana.”
“Setiap detik di pikiran gue bertanya, kenapa lo enggak nyari gue?” tanya balik Reira lagi.
Aku melepas rengkuh itu. Tanganku beralih ke kedua bahunya yang kecil. “Gue enggak ada jawaban buat nyari lo ke mana. Lo bakal gue cari, tapi gue enggak tahu ke mana gue melangkah."
Ia tersenyum. “Hahah ... betul juga. Gue suka membuat kegaduhan.”
“Rei ....” Aku menguatkan peganganku pada lengannya. “Lo ke mana?”
“Apa yang ngebuat lo khawatir? Gue bukan pergi buat ngebunuh orang,” jawabnya tanpa memberikan jawaban.
“Gue khawatir. Papa lo bilang kalau lo liburan ke Bali bersama Nauren. Gue enggak suka itu.”
“Iya, memang ....” Ia menunduk. “Gue suka di Bali.”
Dahiku mengernyit mendengarnya. Benar sudah perkataan itu. Reira memang pergi berlibur ke sana dengan seseorang yang aku curigai. “Kenapa lo enggak bilang sama gue?”
“Karena gue tahu lo enggak bakalan suka, meskipun gue tahu lo bakalan ngizinin gue.”
Aku menggeleng. Jawaban itu terlalu singkat untuk sebuah jawaban. Pikiranku tidak mencapai mengapa ia turut pergi ke sana, meskipun aku tidak suka dengan hal tersebut.
“Rei, suatu saat ... kalau lo mau pergi ke mana, lo harus bilang ke gue. Walaupun gue enggak suka, lo harus tetap kasih tahu sama gue.”
Ia duduk di bangku balkon. Tatapnya masih bertahan ke arahku, meskipun posisi tubuhnya ke depan. “Gue ke sana sama mamanya dan Nauren. Mamanya orang yang ramah, gue menikmati pemandangan pantai untuk pertama kalinya gunain bikini. Ya, meskipun gue enggak semontok bule. Gue dapet temen baru di sana, peselancar yang sama-sama liburan ke sana.”
“Asal lo tahu, gue kabur di hari ketiga.”
Napasku berhenti sesaat setelah ia mengatakan hal tersebut. “Kabur?”
“Iya, karena gue disuruh makai gaun untuk jamuan makan malam di hari ketiga. Gue kabur paginya. Ya, gue pantang banget disuruh yang begituan. Akhirnya lo tahu gue ke mana?” Ia menyentuh kedua pipiku dengan kuat,
“Ke mana? Lo menyeberang ke Australia?”
“Gue mendaki Gunung Salak! Hahahah ... sendirian ... wah ... itu nikmat sekali. Gue bertemu dengan banyak orang, banyak watak, banyak pengalaman. Gue suka itu. Gue baru sampai subuh kemarin ke sini.”
Aku diam sejenak memandangnya.
“Sebenarnya ada apa antara keluarga lo dan keluaga dia? Gue serius Rei, misalnya kalian dipaksa berhubungan spesial, itu enggak lucu sama gue.”
“Sebenarnya, gue yang meminta ikut, bukan diajak. Mamanya Nauren bicara tentang rencana berlibur bersama anaknya. Gue langsung ngajun diri buat ikut. Selain itu, ada yang gue cari di Bali. Arak bali spesial. Besok-besok kita coba, ya?”
“Lo serius, kan?”
Reira mengangguk. “Iya, gue serius. Gue yang ngajuin diri buat ikut. Ya, siapa juga yang nolak liburan gratis di hotel bintang lima? Hey, mereka keluarga kaya. Gue mengeruk harta mereka. Gue beli barang mahal dan gue jual buat anak-anak jalanan itu. Sesimpel itu, Dave!”
“Baiklah ... gue percaya dengan lo, Rei.”
Reira memandang wajahku. “Hari ini gue belum tidur karena sesampainya gue ke Jakarta subuh tadi, siangnya gue sidang skripsi.”
“APA?!”
Ia mengangguk menyombongkan diri. Tangannya melipat ke dada. “Hahah ... kalian pasti enggak percaya, kan? Gue memang bandel, sering keluyuran, tapi gue sadar akan kewajiba. Nanti kita tidur bareng, tidurin gue karena gue belum tidur.”
Reira berdiri dan melangkah ke tepian balkon. Terdapat tangga yang menjulur ke atas sebagai tempat memanjat baginya. Senyumnya melebar tatkala ia mengangkangi batas balkon untuk turun.
“Lo tahu kan setiap gue datang di jam segini, lo enggak bakalan bisa tidur?” tanya Reira.
“Kita mau ke mana?”
“Ayo, kita ke rumah sakit. Fasha sedang melahirkan sekarang. Lo bentar lagi punya keponakan.”
Tepat di subuh hari yang dingin ini, hatiku bertambah hangat mendengar kabar baik itu. Buah hati yang dijanjikan akan tiba sebagaimana yang aku katakan kepada Fasha. Buah hati dariny merupakan titik balik dari berubahnya seorang Bagas. Aku yakin Bagas akan menjadi Ayah yang baik.
Sebongkah batu kecil terlempar ke atas, mengenai dadaku.
“Cepat, pemalas!” teriak alien itu.
***