
EPISODE 128 (S2)
Benar, aku melihat sinyal kesombongan di sana. Tak ada tempat bagi para yang tak berada untuk duduk bersamaan dengan mereka. Kunyah mulut tak berperasaan itu tak memerhatikan mereka yang merintih kelaparan, para anak jalanan yang mengatur pembelokan jalan demi selembar uang pecahan kecil. Mewah sekali kendaraan yang dibawa, padahal mungkin hanya memuat satu atau dua orang. Memang tidak seperti mereka yang masih berjalanan kaki menuju tujuan yang tak berupa, dengan kaki kumuh mereka diayunkan ke tempat yang paling tepat untuk berteduh malam ini hingga esok kembali memulung rezeki.
Reira memang terlihat keras, tetapi jika disentuh ujung hatinya seperti cokelat yang meleleh oleh hangatnya kompor. Mungkin tidak ada satu pun orang yang menyangka bahwasanya ada satu orang wanita yang membawa anak jalanan ke sana malam ini. Hanya dirinya yang memiliki pemikiran gila seperti itu. Lika-liku misteri kalimatnya yang tadi kudengar, kini berujung di pos masuk parkir. Berdebatlah wanita itu dengan seorang security yang turut merasa aneh melihat fenomena seperti ini.
“Masa enggak boleh, Pak? Kan gue bayar!” protes Reira.
Security tersebut menggaruk kepala tidak mengerti. Jangankan dirinya, aku pun jika berdebat dengannya pasti juga tidak mengerti. Siapa coba yang bisa menalar hal yang seperti ini.
“Enggak boleh, Adek. Ini menganggu ketertiban,” balasnya singkat dengan lembut. Hanya Reira saja yang meninggi.
“Menganggu ketertiban dari mana? Udah jelas mobil mereka yang mengaggu ketertiban. Lihat aja macet karena apa? Namanya aja mobil mewah, tapi masih pakai bahan bakar subsidi! Siapa yang ngerugiin, coba?” Reira tidak ingin kalah.
Aku dan Mawar hanya bisa terdiam di dalam mobil menyaksikan perdebatan ini. Jikalau aku ikut di sana, sudah pasti aku akan membenarkan perkataan dari security. Tidak ada celah untuk membenarkan perkataan Reira yang gila itu.
Bapak Security bertegak pinggang pasrah. “Nah gini ... mereka punya STNK atau surat resmi?”
“Mereka mana ada yang kaya gitu. Bayar SIM aja mahal bayarnya, mereka masih mikirin makan apa buat besok.”
“Aduh ... kok sampai ke sana pikirannya, sih?” Ekspresinya tampak muak.
“Jadi, kesimpulannya kami harus masuk.”
“Kok, malah kamu yang narik kesimpulan?”
Mawar mencolekku. Ia pinta diriku untuk keluar mobil segera demi menyelesaikan masalah ini. Tidak ingin kejadian ini berlanjut ke kantor polisi atau menyeret ke masalah yang lebih besar. Terlebih lagi aksi berdebat Reira sudah seperti orator di depan gedung DPR, membawa masalah sosial yang harus diselesaikan. Pak security mana paham hal yang seperti itu. Walaupun paham, ia tidak ingin ambil pusing untuk mengurusinya.
Aku tarik tangan Reira menjauh dari Bapak Security. Mendekat bibirku ke telinganya.
“Rei, udah ... parkirkan aja di tepi jalan besar atau di mana, kek.”
Reira menoleh padaku. “Ih, lo kok gitu?”
“Hei, lo bukan yang punye restoran ini. Udah ... minta aja mereka pindah. Kalau mereka ngelarang kita buat makan di sana, baru gue paling depan yang protes.”
Diam anak itu sejenak. Ia tatap mataku lebih lama dari sebelumnya. Satu helaan napas beranjak dariku, ia jawab untuk mengiyakan permintaanku segera.
“Oke ... gue rasa lo benar.” Ia tunjuk mataku. “Restoran ini bisa aja gue beli malam ini.”
“Iya, gue enggak peduli!” Aku mulai kesal.
Berbincang sebentar Reira dengan anak buahnya tersebut. Ketegangan pun mereda. Pasang mata di restoran berdinding kaca bening itu pun tak lagi tertuju pada kami. Perlahan, dua buah vespa gembel nyentrik beranjak dari sini. Mereka berparkir di sebelah, tepat di muka ruko yang sudah tutup. Tidak ada yang melarang bagi siapa saja yang berparkir di sana, terlebih lagi pasti mereka membebaskan jika menyadari bahwasanya yang parkir merupakan anak punk.
Seperti ingin tawuran, Reira memimpin paling depan. Sedangkan di tengah-tengahnya merupakan seorang pangeran dari raja Melayu yang memakai baju Melayu bersongket. Tentu saja berkontradiksi pemandangan malam ini. Ada sekumpulan anak kumuh berambut runcing ke atas, ada pula yang panjang sebahu tapi pendek sekali bagian tepi, gelangnya sudah seperti seorang dukun santet pengalaman, rantai dikalungkan seakan nyaman sekali, dan berbagai pernak-pernik aneh khas anak punk. Sementara itu ada aku, Reira, Mawar, dan Dika yang begitu rapi sehabis acara penting.
Pilihan Reira tepat dengan harapanku. Ia memilih kami duduk di daerah terbuka tanpa pendingin udara. Tentu saja menganggu kenyamanan sekali pemandangan kami jika duduk di dalam. Selain itu, aku ingin menghabiskan rokok untuk menutup malam.
“Mawar, ikut gue beli makanan.” Ia menatap kami. “Semuanya disamain ya biar enggak ada diskriminasi makanan.”
Dua orang awak kapal Reira ikut bersama Reira dan Mawar untuk memesan makanan. Tanpa meminta lebih untuk menu makanan, kami sedia duduk menunggu di sini.
Aku tertegun menatap wajah mereka yang terheran dengan tempat ini. Sekampung-kampungannya temanku, aku belum pernah melihat mereka terperongoh wajah menatap lampu terang dengan pengunjung rapi, cantik, serta mewah. Ada sebutir debu yang belum pernah hinggap di lantai yang sangat licin, terheran-heran ketika pertama kali menginjakkan kaki ke sana. Ucap takjub pun mereka hela dari rasa bangga sesaat yang ada pada malam ini. Mungkin, inilah yang mereka inginkan sejak dahulu. Namun, keadaan tak pernah menggiring mereka ke sini.
Dika tenang tak berkomentar seperti biasanya. Hanya tangannya saja yang bergerak mengambil kotak rokok milikku.
“Ngerokok, Dek ....” Aku menawari kepada mereka yang menurutku sudah lebih dewasa untuk merokok.
Beliau tersenyum. “Maaf, Kak. Enggak ngerokok. Kata temennya Kak Reira yang dokter itu ngerokok bisa bikin penyakit kanker.”
“Oh, Dokter Alfian?”
Dirinya mengangguk. Ternyata mereka mendapatkan edukasi yang cukup dari jasa Reira menghadirkan Dokter Alfian ke sana. Anak-anak punk ini turut hadir membersamai ketika itu sehingga mereka tahu sedikit ilmu darinya.
Bahagia sekali wajah mereka ketika Reira dan rombongan membawa seluruh makanan. Saking banyaknya, mereka sampai kembali lagi ke sana untuk mengambil makanan masing tertinggal. Bertepuk tangan anak-anak jalanan tersebut menghirup makanan lezat yang mungkin saja setahun itu tak pernah sekali pun mereka cicipi. Tak menunggu hingga Reira makan duluan, wanita itu malah menyuruh mereka untuk langsung menyantam makanan. Diserbulah bucket ayam goreng tersebut dengan berebutan. Tawa dan canda membersamai aksi berebutnya mereka. Seluruh pasang mata tertuju kepada keseruan kami.
Aku tahu Dika senang sekali jika diberi pengahargaan seperti ini. Namun, ia tak terlalu pandai untuk mengucapkan rasa gembiranya kepada orang banyak. Paling tidak ia hanya mengucap seutas kata terima kasih kepada Reira yang sudah melakukan hal ini padanya.
Reira tak kunjung mengambil ayam. Aku pun turut melakukan hal yang sama. Mawar malu-malu untuk mengambil ayam. Aku paksakan dirinya untuk mencicipi dengan mengambil ayam untuk dirinya sendiri. Perlahan dirinya pun mencuil ayam tersebut.
“Rei ... makanlah ....” Aku mendorong bucket ayam padanya.
Dirinya menggeleng. “Udah ... kalian aja yang makan. Gue bisa beli besok.”
“Enggak boleh gitu, dong. Kan lo yang beli makanan ini. Urusan besok, besok pula dipikirin.”
Senyumnya melebar. Ia tetap menolak untuk mengambil makanan.
Kenyang perut anak-anak ini menyantap ayam dengan bertambuh. Tidak hanya ayam, burger pun mereka santap bersamaan ayam dan nasi cetak mangkuk itu. Seakan tidak ada batas kenyang, mereka tetap menyantap apa yang tersisa. Yang penting kenyang untuk malam ini.
“Gue permisi dulu, ya ....” Reira berdiri. Pergi Reira ke belakang.
Tidak ada yang memerhatikan pergerakan Reira selain diriku. Dirinya pergi menuju pintu belakang, tepat ke parkiran. Aku tahu betul arah kamar kecil di restoran ini. Melihatnya ke arah lain, aku pun turut berdiri untuk menghampirinya.
Gelap parkiran yang aku tampak. Kendaraan berpakir rapi sesuai barisannya. Reira tengan duduk tertunduk di salah satu batas belakang parkiran, tersembunyi di belakang sebuah mobil.
“Rei ... lo kenapa?” tanyaku.
Reira langsung memelukku.
“Mama meninggal ....”
Hatiku retak mendengarnya. Seluruh senyum yang ia lempar tadi ternyata terkandung sedih yang sangat mendalam. Ia pendam rasa sedih itu agar kami ikut tersenyum bersamanya.
***