Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 63 (S2)



EPISODE 63 (S2)


 


Belum demo dimulai, mahasiswa sudah bersemangat memulai yel-yel yang akan mereka teriakkan di paripurna nanti. Semangat mahasiswa semakin terbakar ketika kami sama-sama menyanyikan Mars Mahasiswa yang syarat akan perjuangan. Semakin pula menyulut asa perjuangan pembelaan atas hak-hak marjinal melalui Mars Buruh Tani. Aku ingat sekali bagaiman mereka mendobrak rekrotar sewaktu itu sembari menyanyikan lagu-lagu mahasiswa tersebut. Tidak ada takut yang terjadi. Seluruh mahasiswa tidak patah semangat menembus batas-batas penjagaan yang ada.


Begitulah apabila massa sudah diturunkan. Semuanya menjadi satu dalam satu identitas. Inilah yang disebut sebagai deindividuasi. Identitas pribadi melebur menjadi identitas kelompok. Tidak ada lagi kata aku di dalam setiap diri, seluruhnya menjadi kata kita dan kebersamaan. Maka dari itu, semangat kembali terbakar. Namun, hal yang seperti ini sulit untuk dikendalikan. Negatifnya, orang akan cenderung melakukan anarkisme apabila pantang ada satu orang yang memulai. Contohnya, jika satu orang melemparkan batu, orang lain akan tidak takut untuk melakukan hal yang sama.


Terlihat iring-iringan dari fakultas lain yang mulai bergerak. Bus-bus tersebut saling beriringan berjalan di atas jalanan kampus, menanti kami untuk turut bergerak. Toa-toa berteriak agar kami mengikuti iring-iringan. Bendera mahasiswa dan bendera perjuangan berisikan kata-kata kritikan pun diangkat. Seluruh mahasiswa bergerak, kami masuk ke dalam iring-iringan demonstrasi.


Aku yang jarang ikut demonstrasi, hanya sesekali, tentu saja suasana seperti ini menjadi hal yang menarik. Bagaimana bisa mereka bisa berani menyuarakan pendapat di tengah krisis demokrasi yang terjadi di negeri ini. Bisa jadi di sana akan ada ribuan penjagaan polisi yang menghadang kami untuk mendekat. Tujuan kami adalah memasuki kawasan paripurna. Namun, apalah daya ketika kami dianggap sebagai ancaman oleh mereka, seakan kami tidak berhak untuk memasuki kawasan tersebut, padahal itu merupakan milik negara. Sedangkan kedaulatan tertinggi di dalam negara ialah milik rakyat itu sendiri.


Mawar terdengar menyanyikan Mars Mahasiswa walaupun dengan suara kecil, bahkan ketika seluruh mahasiswa sudah berhenti untuk menyanyikannya.


“Pakai subblock,” ucapnya sembari menuangkan sunblock tersebut ke permukaan tangannya.


Aku menyambutnya dan melakukan hal yang sama. “Makasih, lo ternyata cukup persiapan. Apa yang bakalan lo lakukan di sana?”


Ia tersenyum. “Apa ya ... hmm ... entahlah, gue enggak tahu. Mungkin saja melakukan apa yang bakalan kalian lakuin.”


“Perempuan enggak mungkin diizinkan untuk mendobrak pagar. Kalian di belakang palingan,” balasku.


“Jangan jauh-jauh dari gue,” ucapnya.


“Iya, gue enggak bakalan jauh-jauh, Pokokya lo di belakang gue aja, ya.”


Ia mengangguk. “Baiklah, lo jaga diri.”


“Kita bukan berperang, jangan cemas,” pungkasku.


Terdapat sebuah mobil pick up yang memimpin iring-iringan di depan. Di sana terlihat Ketua BEM unversitas dengan almamaternya, serta seraut wajah bergelora berteriak di ujung toa, yaitu Reira. Pentolan aktivis kampus berada di sana. Mereka yang akan menjadi perwakilan kampus ketika berorasi nantinya.


Mawar memegangi ujung almamaterku agar tidak terpisah jauh. Bahkan, tubuh kami sering berdempetan karena desakan dari mahasiswa lain. Semuanya berkumpul di jalan dan memastikan seluruh mahasiswa tertib dan tidak bertebaran, tetap di satu koridor. Sekretaris BEM kami berada di depan mahasiswa Psikologi, mereka meminta kami untuk bergabung dengan iringan langkah mahasiswa satu fakults. Ia juga memperingati kami untuk jangan berpisah dan juga memperingati kami agar tidak melakukan hal yang anarkis.


Mars Mahasiswa kembali berkumandang dari masing-masing bibir mahasiswa. Jalan penuh oleh derap langkah. Bendera satu identitas diangkat. Poster-poster kritikan ditempeli di tepi jalan. Satu hal yang tidak akan ditemui apabila berdiam diri saja di rumah. Kini, keadilan sedang di tangan kami. Pengesahan tersebut semoga saja ditunda dan bahkan dibatalkan.


“HIDUP MAHASISWA!” teriak Ketua BEM universitas.


Kami pun sama-sama mengangkat tangan dan menyerukan hal yang sama.


Terlihat di ujung gerbang paripurna sudah berbaris polisi yang tak akan membiarkan kami masuk. Mobil pick up perwakilan masing-masing kampus berjejer di hadapanya. Para aktivis pun berdiri di bak belakangnya dengan almamater masing-masing. Mulailah orator umum berbicara lantang di depan untuk meminta kami kembali menyanyikan Mars Mahasiswa dengan harapan wakil rakyat di sana bergetar hatinya untuk menemui kami.


“Kami adalah anak-anak dari rakyat. Anak-anak yang akan menjadi penerus bangsa ini. Kami hanya ingin menyuarakan pendapat kami tepat di hadapan wakil rakyat. Namun, mana mereka? Apakah mereka merasa hina untuk menemui kami? Ataukah kami ini hanyalah seonggok sampah yang tak berguna, setelah kami yang memilih mereka untuk duduk di sana. Maka dari itu, kami dengan segenap kerendahan hati, izinkan kami untuk masuk, Bapak-Bapak Polisi yang terhormat,” ucap orator umum.


Bergiliranlah perwakilan masing-masing kampus untuk berorasi di hadapan massa. Terik panas tidak menjadi halangan untuk menyuarakan pendapat. Peluh dan penat tetap dihadapi, seakan semua beban itu bukanlah halangan yang berarti.


Mataku tertuju pada satu-satunya wanita yang berdiri di atas bak pick up. Di antara seluruh pick up yang berjejeran di sana, hanya satu wanita yang tengah mengikat kepalanya dengan bandana merah putih, lalu memakai topi koboi. Aku perhatikan, ternyata Reira memakai topi koboi milik Kakek Syarif. Entah bagaimana bisa anak itu meminjam topi kesayangan dan sangat dianggap sakral oleh kakek tua itu.


“Wahai, wakil rakyat yang terhormat. Kebijakanmu akan mengekang rakyat untuk berkembang. Di saat anda berkoar tentang bangkitnya ekonomi bangsa, namun kami pun tetap miskin dan dipaksa untuk berusaha masing-masing. Di mana hati kalian? Lupakah kepala kalian yang kami coblos dengan penuh harapan itu? Hentikan pengesahan kenaikan BBM ini. Akan banyak usaha yang akan terbebani oleh kenaikan tarif!” Ketua BEM universitas kami mengangkat tangannya.


Namun, tanpa diduga ... Reira tanpa ragu merebut microphone di tangan temannya tersebut. Ia mengangkat tangannya dengan semangat.


“Atas nama prinisp feminisme, gue di sini sebagai perwakilan wanita dari seluruh kampus yang ikut berpartisipasi di perjuangan ini. Kami Pak, hanya ingin menyuarakan pendapat ini. Turunkan senjata kalian! Letakkan di tanah! Kenapa kalian menyambut kami dengan senjata\-senjata itu! Sebegitu menyeramkankah wajah\-wajah perjuangan ini?! Sudah lupakah bahwasanya orangtua kami yang membayar kalian dengan pajak-pajak mencekik itu?! Biarkan kami masuk ke dalam! Atau kami memaksa untuk masuk!”


Bulu kudukku merinding ketika ia berteriak seperti itu.


***