
EPISODE 30 (S2)
Kembali dibawa mengenai risasalah hati yang tak pernah usai. Sekelumit teka-teki yang harus aku jawab di dalam kisah cinta ini sedang menungguku di ujung penantian. Dari tatap wajah Mawar yang aku sorot menyiratkan bahwasanya aku tengah berpikir mengenai hal yang aku simpan. Siapakah lelaki itu? Apakah benar ada seseorang di luar sana yang tengah disembunyikan? Aku pikir Reira bukanlah orang yang seperti itu. Jika ada orang yang lebih terbuka kepadaku, sudah aku pastikan bahawanya tidak akan bisa mengalahkan wanita berikat rambut merah itu. Kami seakan tanpa batas-batas, ia mengalir bercerita mengenai apa saja padaku, termasuk setiap pria yang pernah dekat dengannya. Namun, tidak satu pun berhak membuatku untuk menyemburui.
Hatiku sedari tadi menyebutkan kata percaya yang diucakan oleh Reira sewaktu di sambungan telepon tadi. Ia berkata bahwasanya ia percaya padaku, dan begitu pula aku sebaliknya. Namun, dinding kepercayaan itu seakan bergoyang ketika aku tatap semilir angin yang menjelma dalam potret foto polaroid itu. Angin itu menggoyangkan setiap batang kepercayaan yang aku susun untuk tidak tumbang. Aku berusaha untuk meneguhkan hati bahwasanya pria itu sama halnya dengan Candra, Bang Ali, dan Redi si anak SMA yang menjadi teman mendaki Reira. Dari sebalik peneguhan hati yang aku usahakan, pria mana yang tak akan menggeretakkan lutut tatkala melihat hal yang seperti itu? Aku rasa setiap pria pasti akan menyimpan risaunya masing-masing dan berusaha untuk tidak diungkapkan demi keberlangsungan hubungan.
Aku menelisik mengenai sepenggal nama yang pernah diucapkan Reira. Wanita itu pernah menyebutkan nama Alfian sebagai sosok dokter spesialis paru-paru yang akan ia kenalkan padaku. Benarkah pria itu merupakan sosok Alfian yang disebutkan? Dan kenapa ia sebegitu dekat di foto itu? Aku menjadi tidak fokus tatkala menyetir mobil Mawar menuju toko plastik terdekat.
Hampir saja aku menerobos lampu merah. Tangan Mawar tepat menepuk jemariku hingga aku mengerem tiba-tiba.
“Dave, apa yang sedang lo pikirin?” tanya Mawar.
Aku memejam mata sejenak, hampir saja aku menerobos lampu lalu lintas dan menabrakkan mobil ke pengendara yang sedang lewat.
“Sorry, gue kurang fokus.”
“Apa yang terjadi?” tanya Mawar.
“Enggak ada ... kayanya gue ngantuk, deh.” Aku menyentuh gagang persneling, lalu menoleh padanya. “Jadi, di mana toko plastiknya?”
“Hati-hati lain kali. Kayanya ada yang enggak beres dari lo.” Mawar menggerakkan arah jemarinya ke kanan. “Ke kanan, nanti ada plang nama tokonya lumayan besar.”
“Oke, sorry ya ....” Aku menekan pedal gas pelan-pelan dan berbelok ke kanan.
Huff ... Aku menghela napas dalam-dalam. Tadi itu hampir saja. Setengah badan mobil sudah melewati zebra cross lampu lalu lintas. Terpaksa aku berbohong kepada Mawar. Tidak mungkin juga aku katakan hal yang sebenarnya. Cukup aku simpan di hati saja pikiran itu.
Toko plastik yang dimaksud kami kunjungi untuk memenuhi salah satu daftar belanjaan dari Reira. Dua buah terpal biru berukuran tiga kali lima meter akhirnya dibawa ke mobil. Aku rasa dua terpal ini tidak akan cuku, tetapi Reira berkata bahwasanya kami masih bisa memakai terpal bekas yang ada di gudang Pak Cik Milsa. Selanjutnya aku dan Mawar membawa mobil ke swalayan terdekat. Dari daftar belanjaan yang Reira tulis, masih terdapat barang yang harus dibeli. Tentu saja makanan instan yang bisa kami santap sewaktu berkemah nanti.
Mawar tertawa melihat chat dari Reira ketika ia mengambil paksa handphone-ku.
“Kita mau kemah atau mengungsi bencana? Mie instan sepuluh bungkus, isi dua pula lagi!” Mawar tertawa lepas di dalam mobil.
“Hahaha ... enggak tahu juga. Mungkin aja Reira mau memberikan sesajen kepada penunggu laut dengan seperangkat makanan ala anak kos.”
“Gila ... ini apa lagi?” Ia membaca kembali daftar belanjaan. “Cabe serbuk level maksimal? Kita bakalan bolak-balik karena sakit perut.”
Aku memundurkan mobil untuk mengambl tempat pada parkiran. Mawar tak hentinya menertawai daftar belanjaan yang ditulis Reira.
“Ya ... gue mana tahu. Reira memang begitu.” Aku memicing mata padanya. “Lo ini kaya ada dua kepribadian berbeda, ya?”
Ia seketika memberikan handphone itu kembali padaku. Tawanya pun masih bersisa. “Hah? Emang kenapa?”
“Emang aneh, ya?” Ia menarik kunci pintu mobil, tanpa aku tekan secara otomatis.
“Enggak sih, malah bagus kan kalau lo terbuka begini orangnya.”
Ia tersenyum padaku. “Jangan bahas itu, oke? Ayo kita belanja.”
Percakapan kami di mobil berakhir dengan suara pintu mobil yang tertutup masing-masing. Tangan Mawar melambai agar aku menyamai langkahnya. Layaknya membawa seorang kekasih, kami berjalan serentak diiringi tatap wajah pengunjung yang tak hentinya memerhatikan kami. Aku usahakan jarak yang kami bentuk tidak terlalu dekat. Aku benci momen-momen di mana tangan kami akan saling bergesekan.
Sebuah keranjang dorong Mawar ambil dan menyerahkanya padaku. Sebelah tangannya tetap menuntun arah gerak troli yang aku dorong. Mulailah ia mengambil beberapa barang pada rak pertama. Sepenuhnya aku serahkan pada Mawar. Aku rasa perempuan lebih waras daripada pria dalam urusan perut. Jika aku yang memilih, maka sudah pasti akan berpikiran sama dengan Reira.
Tanganku leluasa memilih makan instan yang tidak sehat untuk kesehatan. Yang penting kenyang, pikirku begitu.
Lenggok langkah Mawar tak sengaja aku perhatikan. Rambut panjang bergelombang itu terlihat mengkilap oleh cahaya lampu di atas. Tatkala ia menoleh ke kanan, bergemulailah lentik bulu mata yang menaungi mata kecilnya. Putih cerah kulit Mawar sangat memperlihatkan jika ia benar-benar dari keturunan Tionghoa, walaupun ayahnya merupakan seorang Melayu yang beruntung. Sebagai wanita, ia ternyata cukup tinggi. Ia hampir menyamai tinggi badanku dan ia bahkan lebih tinggi daripada Razel. Aku pun tersenyum mengingat bagaimana pertama kali kami bertemu. Ia merupakan salah satu sosok yang pernah membuatku tercengang. Tepat pada hari ini, aku mengikuti langkah orang tercerdas di fakultasku itu. Memerhatikannya dari jarak sedekat ini, padahal ia selalu menjaga jarak kepada orang baru di kampus.
Mawar menoleh padaku.
“Kira-kira ada yang ingin dibeli lagi?” tanya Mawar tatkala menoleh ke belakang.
Sesegera mungkin aku menggeser bola mataku ke arah yang lain. “Iya apa? Hmm ... gue rasa ini.”
Tepat sekali aku berdiri di dekat jejeran kaleng susu kental manis. Aku mengambil salah satunya sebagai teman minum malam nanti.
“Oke ....” Ia memicingkan matanya padaku. “Lo gugup, ya?”
“APA?” Pertanyaan itu langsung terlontarkan.
“Maksud gue, lo kelihatan gugup.”
“Mana ada ... sembarangan!” balasku.
Ia kembali menoleh ke depan. “Gue ini anak Psikologi. Jadi, gue sedikit peka dengan mengobservasi seseorang.”
“Jangan jadikan gue subjek observasi,” sindiriku sembari menyentuhkan ujung troli ke tubuhnya.
“Suka gue,” pungkas Mawar dengan datar.
***