Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 159 (S2)



EPISODE 159 (S2)


Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan anak itu di sini? Apakah semua ini tidak cukup untuk menciptakan cemas di antara kami? Aku dan dirinya sedang tidak aman, seperti seekor banteng yang terjebak di ujung tebing ketika dikejar oleh pemangsa. Kami mungkin saja sedang menunggu waktu untuk jatuh di tebing tersebut, hingga seluruh kisah ini tersibak membentuk palung perpisahan. Namun, Mawar dengan wajah tenang dan datarnya itu melangkah masuk ke rumah panggung tua in. Entahlah, kakinya tak pernah menyimpan dosa kurasa. Hatinya kebas oleh kesendirian yang selama ini ia lakukan. Aku tak tahu apa ia bisa merasa.


“Lo gila, ya?” tanyaku. Aku menghisap tembakau milikku, lalu aku buang tepat di tengah-tengah kami. “Setelah semua ini terjadi, lo masih aja bisa tenang?"


“Untuk apa dicemaskan?” Wajahnya memereng padaku.


Apakah benar wanita di hadapanku ini adalah Mawar yang selama ini aku kenal?


Apakah dirinya merupakan wanita yang pertama kali aku temukan sedang melintang di lantai perpustakaan?


Pertanyaan itu berputar di telingaku, bertanya pada diri sendiri tanpa ada yang menjawab satu pun. Angin yang masuk dari celah kayu hanya menyentuh dahiku, tak membisikkan sebuah jawaban yang aku tunggu. Aku benci matanya yang mengerjap, tak sepertiku yang tak kunjung bergerak karena terus memikirkan subtansi daridirinya. Kenapa ia menjadi iblis di tengah-tengah kami? Atau bisa jadi akulah iblis itu sendiri. Tak menutup kemungkinan bahwasanya kami berdualah iblis itu.


“Gue cemas,” ucapku singkat.


Tangannya bergerak menyentuh tanganku. “Apa yang lo cemaskan?”


Air mataku menetes sesaat, tak sampai terisak. “Gue cemas sama lo, gue cemas sama Reira, gue cemas sama semua orang. Gue butuh ganja sekarang, tapi barang itu udah mau habis. Gue enggak tahu mau beli di mana.”


Kalimat akhirku semakin membuatnya mengelus telungkup tanganku dengan lembut. Lembutnya tak ubah layaknya sehelai sutera yang membelai wajah, lalu bergerak hingga ke ujungnya. Sementara itu, tangan sebelah kanannya mengambil kotak rokokku. Jemarinya mengambil sebatang untuk dimasukkan ke bibir merahnya yang empuk, aku jelas mengingatnya. Berputar pangkal batang tembakau itu tatkala ia gerakkan, lalu tersulut oleh api kecil dari pemantik. Terpejam mata Mawar berkat nikotin yang mulai memasuki pembuluh darahnya. Bibirnya maju untuk menghembuskan asap ke arahku dengan suara napas berat, seperti tatkala ia jatuh ke pelukanku.


“Semuanya akan baik-baik aja. Gue enggak perlu lo cemaskan. Tugas kita cuma merahasiakan.”


Aku melepaskan tangannya. “Apa yang bisa bikin gue percaya sama lo? Gue butuh alasan moril di sini.”


“Lo enggak bakal bisa lepas dari gue setelah ini, enggak bakalan bisa.”


Kalimatnya sangat mengultimatum diriku. Bagaimana bisa ia bersikap seperti Reira? Apakah ia sudah belajar banyak dari wanita itu bagaimana cara mendominasi seseorang. Ia adalah orang yang sangat cerdas, belajar bukanlah hal yang sulit bagi wanita itu. Hanya saja kemampuan bersosialisasinya tersendat sebelum ia mengenal kami semua.


“Gaya bicara lo kaya Reira. Lo kaya orang yang berbeda.” Aku melihat ke pintu. “Lo ngerokok, semua orang bisa tahu nanti.”


Bibir Mawar tersenyum tipis. “Lo yang ngajarin gue ngerokok. Tapi jujur, ini bikin gue tenang. Hmmm .... Dave, bagaimana menurut lo gue ini?”


“Hahah ... lo membenci orang yang udah dirayapi tubuhnya? Gue lebih rendah dari *******. Mereka dibayar, lo dapat secara cuma-cuma. Lo serius bilang itu?” Tawa kecilnya terdengar menyindir.


“Iya, lo kurang lebih seperti itu.”


Mawar tersenyum kembali. Ia hisap panjang tembakau itu hingga asap benar-benar mengepul di hadapannya. Matanya memejam, aku tahu rasa tembakau yang dihisap begitu dalam seperti itu, seakan ada tombak yang sedang menyerang tenggokan. Setelah asap sudah habis dihembus, ia berdiri dengan menekan ujung rokok di atas asbak. Bunyi berdesis terdengar tatkala ia melakukan hal itu.


“Baiklah ... gue paham. Gue cuma objek, kan? Teori bodoh lo itu yang bilang ada perbedaan antara nafsu dan cinta, itu berlaku sama gue, kan? Lo *******, Dave. Sumpah!”


Kalimat itu menandakan berakhirnya percakapan antara aku dan dirinya di sini. Tepat ketika ia melangkah turun ke bawah, terdengar suara alat musik pukul tradisional dari arah rumah Bang Ali. Mawar melenggang meninggalkanku dengan benci yang tersimpan di dalam hatinya. Aku mungkin salah, kalimatku begitu menusuk kepadanya yang selalu berbaik hati padaku. Baru kali ini aku mendengar seorang Mawar berkata kasar, yang pertama itu spesial untukku. Ya, aku memang pantas mendapatkannya. Aku sedang kacau saat ini. Aku tak tahu harus berbuat apa, harus memikirkan apa, hanya cemas yang berkabung mengelabuhi hati untuk mengenal mana realita mana harapan.


Pergantian sendu ini dilanjutkan oleh senyum lebar Bang Ali yang akan melaksanakan akad nikah. Akad nikah dilaksakan di mesjid desa dengan dihadiri oleh para undangan, terutama yang terpenting ialah para perangkat desa dan tetua-tetua adat. Duduk bersanding Bang Ali di samping dengan calon istri. Tunduk kepalanya di hadapan mertua yang sedang menjulurkan tangan untuk melakukan akad. Dengan terbata-bata, Bang Ali mengulangi kalimat akad yang disertai gelak tawa para undangan. Ia gugup, tak ubah layaknya Dika sewaktu itu. Tangannya yang bergetar tak mampu ia sembunyikan, hingga pada akhirnya kata sah pun terucap disertai dengan doa bersama.


Hari berbahagia Bang Ali tak segaris lurus denganku yang menyimpan cemas. Iring-iringan musik tradisional seakan terdengar menggema saja. Kami terus berjalan menuju rumah mempelai, mereka sudah menunggu di sana, termasuk istri yang sudah sah dua puluh menit yang lalu. Langkahku lambat di samping Reira yang menggandeng tanganku. Bang Ali seperti raja di posisi paling depan. Ia gagah dengan pakaian adat dan kacamata hitam yang dikenakan. Lalu, para wanita yang dituakan dari pihak keluarga ibu tampak mengiringi dirinya dari belakang. Tangan mereka masing-masing membawa barang yang akan diberikan apabila sudah sampai di rumah istri.


Sawah sedang kami belah di jalan semen yang cukup tinggi. Riak air dari genangan sawah mengiringi diamnya kami. Di hadapan, sudah berdiri istri sah Bang Ali yang menatap malu ke depan. Pesilat andalan masing-masing maju ke depan untuk unjuk kebolehan. Pantun disyairkan dengan bahasa setempat, aku tidak mengerti. Namun, artinya sudah pasti bermakna dengan sedikit humor, terlihat dari iring-iringan yang tertawa. Pantun tak menyelesaikan permasalahan pesilat. Mereka sontak membentuk kuda-kuda dan menyerang satu sama lain. Seni silat yang tampak sangat mendominasi seperti gerakan seekor macan. Pesilat saling memukul, membanting, menangkis, dan menghindar dengan diringi oleh tabuh gendang tradisional. Akhirnya, pesilat dari pihak wanita pun kalah. Hal tersebut menjadi pertanda bahwasanya mereka berdua akan segera bersanding.


Kami berada di barisan terakhir iring-iringan. Bertepuk tangan masing-masing untuk memberikan selamat kepada mereka berdua. Payung dibuka oleh para pengiring pengantin, lalu mempelai perempuan menggandeng Bang Ali dengan mesra.


“Wah, mereka serasi sekali,” ucap Reira. Kepalanya menyender tepat di lenganku.


“Iya, Bang Ali―” Kalimatku seketika berhenti. Ada jemari tak dikenal yang turut memasuki celah tangan sebelahku. Lembut kukunya bergaris pada ujung jemariku, memberikan sedikit gesekan yang mengikuti alur telapak tangan. Aku segera melepaskanya ketika aku mencium wangi mawar dari hembusan angin sawah yang menyerbak.


Tepat ketika aku melepaskan genggaman Mawar yang tiba-tiba. Reira menoleh padaku. Ia merasa aneh kenapa aku tidak melanjutkan kalimat. “Bang Ali kenapa?”


Langkah kembali diayunkan. “Bang Ali begitu gagah.”


Sedikit lebih cepat langkah aku majukan, meninggalkan Mawar yang ada di belakang.


***