Captain Reira

Captain Reira
30



Aku tidak pernah membuatkannya puisi sekali pun. Puisiku yang kutulis hanyalah mengenai romantisme cinta masa muda, tidak ada kecocokan sama sekali dengan gadis laut itu. Kertas itu mungkin saja bakal ia jadikan koleksi untuk digantung. Kalimat indahku akan bersamping-sampingan dengan koleksi kupu-kupu, sepetak kecil kulit harimau yang ia dapat dari pamannya di Sumatera Barat, berbagai fotonya di New York tahun lalu, serta sebuah kunci mobil sedan tua yang biasa terparkir di samping rumahnya. Reira punya selera yang berbeda dengan yang lain.


Vespa 50 milikku menapaki jalan menuju ke tempat yang Reira tunjukkan. Sebuah mall di tengah kota berdiri kokoh dengan ramainya pengunjung yang tidak sabar menikmati produk-produk liberal. Hilir mudik para muda-mudi yang bergandengan tangan membuatku sedikit iri. Tidak butuh lama aku menemukan alamat yang Reira maksud. Begitu kontras dengan jiwa pekatnya kopi yang melekat padaku. Aku langsung mencium wangi kopi yang khas ketika tiba di depan café yang bernama Rei's Coffee. Sudah kutebak, itu merupakan awal dari namanya.


Bunyi kerincing berbunyi saat tanganku membuka gagang pintu kaca. Desain vintage dengan dominasi warna coklat langsung memanjakan mataku. Live music dari para musisi menjadi sorot utama kali ini. Mereka membawakan musik akustik yang tenang, sesuai dengan selera para penikmat kopi. Terdengar gelak tawa pengunjung di hadapan meja dengan wangi kopi yang pekat, bersandiwarakan senyum untuk pasangannya. Para pelayan sibuk melayani pesanan para pelanggan. Tidak ada aku lihat tanda-tanda gadis laut itu. Ini merupakan tempat yang sama di kertas yang ia tuliskan.


Aku duduk di sebuah kursi kayu dan meja bundar kecil di hadapannya. Kulihat dua orang yang keluar dari sebuah pintu di meja peracikan kopi. Gadis laut itu memanjangkan tangannya ke kuduk pria sebalahnya. Pria berkulit sedikit gelap di sampingnya terlihat malu-malu saat Reira melakukan itu.


Reira melempar senyum saat ia melihatku. Rambutnya yang terikat bergoyang ketika melambai. Aku mempersiapkan sikap apa yang kutunjukkan ketika mereka menghampiri, menjaga-jaga bahwa pria itu mempunyai hubungan spesial dengan Reira. Kurang pantas rasanya jika aku mengunjungi wanita dengan pria spesial di sampingnya.


"Dave, lo datang!" ucap Reira. Ia masih di samping pria itu.


"Senja membunuh orang yang terlambat menjemputya, bukan?" Aku mengutip kalimat yang ia ucapkan ketika memanjat ke kelasku.


"Hahaha ... itu kutipan dari novel yang pernah gue baca." Ia menatap pria tegap itu. Reira menggandeng tangannya. "Kenalin, ini Redi. Panggilannya Redi. Ini pacar gue. Maaf baru cerita."


Aku terdiam sejenak. Kupandangi wajah mereka berdua yang tampak serasi. Raut wajah Reira berseri-seri, berbeda dengan pria tegap berisi di sampingnya. Ia terlalu kaku dengan wajah cool yang ia pasang. Tidak ada ekspresi yang berarti darinya.


Entah mengapa aku sedikit tidak nyaman ketika ia mengatakan itu. Ingin rasanya aku pulang segera untuk menyudahi percakapan. Aku seakan menjadi nyamuk yang sengaja diundang oleh Reira ke sini. Menganggu waktu sepasang kekasih yang hanya ingin berdua.


"Oh, ya? Gue enggak tahu," pungkasku.


Reira beranjak ke tempat peracikan kopi ketika pria tadi berpamit pergi. Ia kembali datang dengan membawakan dua cangkir kopi hitam pekat. Aku masih memikirkan hubungan mereka berdua. Reira pernah mengatakan jika hatinya mempunyai kutub yang sama denga punyaku. Itu berarti masing-masing dari kami mempunyai orang yang disukai. Aku menaruh hati kepada Fasha, dan Reira mungkin saja pada pria yang baru saja pergi itu. Itulah alasan ia mengatakan bahwa kami tidak akan pernah saling jatuh cinta.


"Silahkan diminum. Suatu pernghargaan bagi gue kalau lo nyicipin espresso buatan gue," ucapnya.


Alisku naik melihat segelas kecil espresso. Ia wanita pertama yang meracikan kopi untukku. Kopi yang kuseruput dimainkan oleh pergerakan lidahku ke langit-langit mulut. Menyisakan sedikit rasa kelat dari pahit yang begitu melekat. Pekat terasa rasa pahit khas espresso buatan kafe, tidak seperti racikanku yang mengguanakan alat seadanya. Kurasakan imajinasi yang mulai naik ketika kafein mulai bekerja. Pupilku terasa melebar tatkala menatap Reira.


"Lo kayanya udah sering buat kopi. Nikmat ... I think," balasku.


"Gue yang mengajari pegawai buat kopi, bukan sering lagi!" Ia menyeruput kopinya. Kalimatnya terdengar ditekan.


Café ini masih mengizinkan para perokok untuk melepas candu, tidak seperti café-café di mall pada umumnya. Aku mengeluarkan bungkus rokokku dan langsung mengambilnya menggunakan bibir. Kurasa ini teknik yang biasa dilakukan oleh orang-orang professional. Aku dapati ini dari Dika langsung.


"Hmm ... Rei, lo punya pacar, ya?" Aku memberanikan diri untuk menanyakannya.


"Menurut lo bagaimana?" tanya Reira balik. Ia memerengkan wajahnya. Wajahnya memerah. "Hei, ekpresi apa itu? lo cemburu?"


"Enggak mungkin!" balasku dengan cepat. "Ya, mungkin aja. Menurut kacamata gue sebagai pria, lo lumayan─" Aku terbatuk. Kalimat itu keluar begitu saja dari kalimatku.


"Apa?" Ia tersenyum. "Gue cantik, gitu?"


"Ya, enggak gitu juga kali." Aku menyerput kembali kopi itu. "Lo mau enggak datang ke ulang tahun Fasha? Undangannya buat dua orang, jadi lo bisa gue bawa."


Ekspresinya tampak tidak yakin. Terlihat jelas dari sorot matanya yang menyipit. Beberapa saat kemudian, ia seperti tidak peduli dengan pujianku tadi.


"Lo mau bawa gue ke ulang tahun gebetan lo?" tanya Reira. Gadis laut itu menghindari asap tembakau yang aku hembus.


Aku menggeleng. "Lo mau gue bawa Candra, trus dikira homo, gitu? Udah cukup dia jadi gandengan gue di kampus."


"Hahaha ... baiklah kalau itu alasannya." Reira tertawa dengan noda kopi di bibirnya. Ikatan rambutnya bergoyang ketika ia menegakkan kepala.


Kepalaku bergerak pelan ketika mendengarkan melodi gitar akustik dari musisi di panggung kecil itu. Terdengar bunyi hentakan sepatu musisi di panggung ketika ia menghitung tempo yang dimainkan. Wajahnya tampak tenang tanpa ragu untuk menghipnotis para pengunjung. Ia terbawa harmoni dari lagu yang ia mainkan.


Aku suka dengan musik-musik tenang, seakan aroma kopi dan isapan tembakau membawaku tenggelam dalam ruang yang sangat sunyi. Hanya aku dan suara musik itu yang membawaku dalam ketenangan.


"Duduk di sini, gue bakal ke panggung." Reira beranjak dari kursinya.


"Ngapain? Jangan lakukan hal gila lagi, walaupun di café lo sendiri." Aku menahan tangannya.


Ia tertawa pelan sembari mendekatkan wajahnya padaku. "Mau tahu alasan lo ke sini? Itu semua ada di panggung itu."


Aku menatapnya seperti yang kulakukan kepada Fasha. Seketika pikiran itu buyar ketika ia mengucapkan salam pembuka.


"Selamat sore semuanya. Gue Rei, mungkil lo semua udah liat nama gue di depan café. Gue mau bacain puisi dari seseorang yang lagi patah hati," ucapnya pada pengunjung café.


Aku?


Apa itu aku?


Kepingan hatimu yang terbuang?


Deru rasa bergeming di sudut hatiku, berharap dekap tatap matamu yang berbayang.


Hancur berderai tak tersisa di bawah rembulan nan terang.


Sebegitukah rasa yang kau balas padaku?


Atau aku yang hanya berselemut diam membisu?


...


Seluruh pengunjung bertepuk tangan ketika ia menghela napas di akhir puisi. Itu merupakan penghargaan tertinggi bagi seorang penyair pemula seperti dirinya. Rasa bangga menyelimuti diriku sebagai penulis setiap untaian kata pada secarik kertas yang Reira pegang. Aku ingat setiap baris yang ia ucapkan hingga kurasakan buluku merinding tegak. Setiap lekukan tinta basah yang terukir di kertas itu, aku tahu persis perasaan yang tertuang. Semua tangis yang pernah jatuh, untuk setiap gemeretak patah yang pernah kurasakan, menjadi satu dalam sebuah bait puisi.


"Itu puisi gue," ucapku ketika ia kembali duduk di hadapanku.


"Gue suka sama puisi lo." Ia menarik senyum. "Mau gue beri tahu satu rahasia lagi?Oh bukan, ini lebih tepatnya kebohongan."


"Lo itu suka nyimpan-nyimpan rahasia, ya?" Aku menatap heran.


Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku. Wangi tubuhnya sangat jelas di jarak sedekat ini.


"Gue enggak punya pacar," bisiknya. Ia kembali duduk di posisi semula. "Itu teman gue kalau lagi berpetualang. Masih SMA, cuma mukanya aja yang tua. Enggak mungkin gue pacaran sama anak SMA."


"Oh, begitu, ya. Kayanya kalian deket banget," balasku.


"Kami berencana buat mendaki ke Bromo. Kalau lo enggak lihat gue selama seminggu, kemungkinan besar gue lagi di sana. Ada hal yang penting banget buat gue kejar."


Aku menghembuskan asap tembakau terakhir lo. "Lo mau terjun ke kawah Bromo?"


"Kalau lo mau mengizinkan gue, hal itu bakal gue lakukan." Reira tersenyum. "Bukan, banyak hal yang menjadi kenangan di puncak Bromo."


"Lo enggak ngajak gue?" tanyaku.


"Enggak, lo terlalu lemah buat mendaki." Ia tertawa saat mengatakannya. "Gue mau merasakan betapa indahnya menunggu pagi dari ketinggian segitu. Di saat itu, lo bakal sadar jika dunia itu terlalu sempit jika lo hanya berjalan di satu titik. Dunia bisa lebih dari itu."


"Kalau gue ikut gimana? Gue bukan orang lemah!" Aku tidak ingin kalah.


Ia mengangguk setuju. "Terserah, sih. Tapi, soal cowok tadi, lo enggak usah khawatir."


"Khawatir soal apa?" tanyaku penasaran.


"Pikir aja sendiri. Kelihatan jelas dari wajah lo," balas Reira dengan senyum liciknya.


Ia sedang mengerjaiku. Cara membaca wajahnya sangatlah buruk.


Gue enggak cemburu!


***