Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 32 (S3)



Aku kini paha kenapa setiap orang yang baru turun mendaki seakan langsung menjadi filosof. Ada banyak penulis yang bergitu, bercerita mengenai perjalanannya mendaki dengan segala rintangan yang dihadapi. Setiap perjuangan mengandung langkah, setiap langkah tercurahkan keringat, setiap tetesan keringat tersimpan hikmah, setiap hikmah berbentuk kata-kata yang nanti akan menjadi bahan cerita. Cerita-cerita tersebutlah yang disampaikan lalu seseorang disebut sebagai petualang.


Bukan maksud untuk merendahkan para pendaki, tetapi teman-teman pendaki Mapala kampusku sering kali menjadi filsuf dadakan setelah ia turun gunung. Hal tersebut selalu menjadi bahan candaanku bersama Bang Ali ketika pria itu sedang di bawah kesadaran berkat anggur merah. Ada banyak mereka yang langsung bijak di media sosial, padahal aku tahu hidupnya pun berantakan. Jika hidup perlu perjuangan, ia masih melalaikan kuliah demi panjat gunung. Itu sesuatu hal yang bodoh bagiku. Mungki Plato akan tertawa mendengarnya, ia perlu berpikir keras seumur hidupnya untuk sebuah pemikiran, sedangkan mereka-mereka ini hanya butuh sehari di atas gunung.


Semua orang berhak menjadi filsuf, kata David padaku di kala kami sedang duduk berdua berbaring melihat bintang. Berpikir merupakan keistimewaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk di realitas dunia ini. Melalui pemikiran manusia mampu untuk bertahan, menciptakan inovasi, dan menemukan solusi-solusi bagi kehidupan. Ia mengkritik atas pendapatku yang menyindir pendaki gunung. Menurutnya biasa saja orang yang baru saja turun gunung punya segudang pemikiran. Kesendirian, keheningan, senyap, dan sunyi menjadi ruang lingkup bagi manusia untuk berpikir.


Ya … setiap manusia juga berhak berpendapat, termasuk dirinya.


Dua jam kami melangkah di medan pendakian hingga sampai di pos ketiga. Hamzah meminta kami untuk duduk sebentar demi meringankan beban betis yang sudah mulai tegang. Aku kasian melihat Semara yang duduk termenung dengan napas yang sesak. Udara terlalu dingin, tentu saja oksigen telah bercampur dengan embun malam.


“Kamu enggak apa-apa?” tanyaku pada wanita itu.


“Enggak apa-apa. Aku masih bisa bertahan.”


Tangannya menggigil tatkala ia tampakkan padaku. Rasanya tidak tega melihatnya seperti itu, hingga aku membuka sarung tangan milikku, lalu memaksa agar ia mengenakannya sebagai sarung tangan lapis dua.


“Pakai ini … jangan menolak,” pintaku sembari menyarungkannya.


“Kamu gimana? Kalau kamu hipotermia bisa bahaya.”


Aku tersenyum. “Ya sudah, tinggal amputasi. Kita punya pisau.”


“Reira …,” keluhnya.


“Sudah … jangan khawatirkan aku.” Aku menoleh kepada Hamzah. “Berapa lama lagi ke pos selanjutnya?”


Asap rokok kretek yang ia hisap keluar menyembur ke atas seperti embun. Sungguh gelap di sekitaran sehingga hanya lampu senter yang bisa dimanfaatkan. Tidak ada pendaki lain yang berselisih jalan, kami seakan sendiri di tubuh gunung ini,


“Dua jam lagi, mungkin kurang. Kita menuju ke shelter satu. Di sana kita bisa mendirikan tenda buat istirahat,” balasnya.


Aku melihat jam. Denting jarum berada di pukul sepuluh sekarang. Mungkin kami berada di sana kira-kira dua belas dini hari.


“Kira-kira kita bisa sampai ke puncak waktu matahari terbit?” tanyaku.


“Kalau aku bawa laki-laki yang udah biasa mendaki, kemungkinan bisa. Kalau kalian, kita bisa terlambat dua atau tiga jam. Tapi ….” Ia menunjuk langit. “Kita berada di sisi Timur. Jadi, kita masih bisa lihat matahar terbit.”


“Terima kasih sindirannya.” Aku menoleh kepada dua orang paling belakang. “Kalian udah bisa jalan lagi?”


“Habiskan rokok sebatang lagi,” balas Borneo paling belakang.


“Dasar perokok!”


Sumber kehangatan selain pakaian hanyalah rokok bagi mereka. Aku bahkan sering ditawari oleh anak-anak Mapala rokok tatkala berada di puncak gunung, katanya untuk menghangatkan tenggorokan. Namun, aku tidak ingin menjual paruku dengan penyakit.


Perjalanan kami lanjutkan menuju Shelter satu. Medan jalan semakin curam dan mendaki. Akar-akar pohon seperti ingin memakanku karena timbul di permukaan tanah yang becek. Malam semakin mencekam oleh angin kencang yang berhembus. Kekhawatiranku timbul tatkala angin tersebut membawa rintik air dari awan yang memungkinkan kami untuk kehujanan sebelum sampai di Shelter satu.


“Aduh!!!”


Aku menoleh ke belakang. Semara terpeleset di antara dua celah tanah. Borneo segera membantunya berdiri.


“Semara … hati-hati,” ucap Borneo.


“Reira …,” panggil Borneo. Ia aku lihat seperti menadahkan tangan ke atas. “Ini hujan bukan gerimis.”


“Benar … ini huj⸻”


Tidak sampai aku menyelesaikan kalimat, petir menyambar sangat dekat hingga telingaku berdengung. Langit seketika terang benderang seperti siang. Akar petir masih terlihat tatkala beberapa detik setelahnya. Aku dan Hamzah menunduk karena kilatan itu sangatlah kuat. Sementara Razel memeluk Semara yang ketakutan.


“Pasang mantel!” pinta Borneo. “Hujannya tambah lebat.”


Hamzah meminta kami untuk lebih hati-hati karena hujan telah membuat tanah semakin lembek dan becek. Aku merasakan air dari atas mengalir ke bawah seperti sebuah aliran hingga sepatuku basah.


“Apa air dari atas enggak berbahaya?”


“Selama aku di sini, masih aman-aman aja. Berdoalah,” balas Hamzah dengan santai.


Dari mata yang mengantuk selama aku menginjakkan kaki pada pendakian, aku melihat secercah cahaya di depan sana. Napasku mulai melambat karena menyadari ada orang yang akan menyambut kami. Hamzah mulai berteriak di depan seperti menyapa seseorang.


“Kita sampai di Shelter satu ….”


Aku melihat jam tangan. Ternyata perjalanan kami dari Pos Tiga ke Shelter Satu memakan waktu lebih dari dua jam. Kakiku menambah kecepatan daki agar segerai sampai di sana. Akhirnya, tanah yang relatif datar kami pijaki. Aku tertunduk melihat beberapa tenda berdiri di hadapanku. Hamzah tersenyum senang sembari memuka tangannya.


“Jika kalian menunduk, ini belum ada apa-apanya dengan jalur selanjutnya.” Ia membantuku untuk berdiri. “Ayo Reira, kita dirikan tenda. Lebih baik kita berhenti dulu satu atau dua jam sampai hujan reda. Aku juga lapar.”


“Iya benar …. Aku juga mau merokok …,” balasku untuk menyindirnya yang masih sanggup merokok sambil mendaki.


Satu tenda yang relatif besar didirikan oleh para lelaki. Sementara aku dan Semara duduk bersama pendaki lain sembari bercengekaram di bawah pondok kayu teduh yang mereka rakit sendiri. Mereka berbaik hati untuk memberikan kami cokelat hangat. Lima orang pendaki tersebut merupakan mahasiswa yang berasal dari Aceh. Sudah bisa aku tebak mereka pasti tergabung dengan Mapala.


“Aku tahu apa yang kau hisap,” ucapku dengan salah satu anggota mereka. Bang Ali pernah menunjukkannya padaku tatkala salah satu anggota Mapala ketahuan membawa ke sekre.


“Di sini enggak ada polisi … hahaha ….”


“Chill and smoke your weed,” balasku sembari menoleh ke belakang. Ternyata Borneo memanggilku untuk segera masuk ke dalam tenda yang sudah selesai didirikan. “Kami balik dulu ke sini.”


“Oke … mungkin kami lebih dulu ke atas. Sampai jumpa di puncak.”


“Sipp ….”


Tenda kami dihuni oleh lima orang, termasuk Hamzah sebagai pemandu. Ia bercerita mengenai harimau Sumatera yang masih berkeliaran di sekitar Gunung Kerinci. Itu bukanlah mitos, tetapi benar-benar ada dari hasil penelusuran pihak konservasi setempat.


“Di Jambi, tepatnya Gunung Kerinci ini ada mitos Cindaku,” jelas Hamzah.


“Cindaku? Apa itu?” tanyaku.


“Manusia setengah harimau. Penjaga gunung ini. Siapa yang melanggar etika, konon katanya bisa hilang diterkam Cindaku.”


“Kakekku katanya punya siluman harimau di kapalnya.”


Ia diam sejenak. “Harimau? Itu bukan ilmu yang biasa. Siapa nama kakekmu?”


“Kumbang … itu namanya … salah satu alasan kenapa aku ke sini, yaitu mencari kakekku yang katanya mendaki Gunung Kerinci.”


Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya, lalu menunjukkan foto padaku. “Apa kakekmu ini?”


Aku melihat dua orang yang saling berangkul tangan. Sebelah kanan merupakan pria tua pendek dengan baju safari cokelat. Sementara pria tua sebelah kanan hanya memakai singlet dan sarung.


“Iya ini kakekku, kenapa kau bisa punya foto ini?”


“Dia seminggu yang lalu ada di Basecamp. Satu orang di sampingnya pergi mendaki, aku yang memandu, mereka minta difotokan.”


“Lalu, ke mana kakek yang satu lagi?”


“Aku enggak tahu. Dia pergi setelah melepas temannya.” Hamzah mengangkat bahunya.


“Itulah orang tua berkaca mata hitam yang kau lihat dua hari yang lalu,” sebutku sembari melihat ke luar. “Aku yakin dia dekat dengan kita.”


***