Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 4 (S2)



EPISODE 4 (S2)


 


Gelap jatuh pada bayang-bayang kami dalam bercak kasar jalanan cor semen. Hitamnya bayangan bergerak seiring dengan kami yang melangkah menuju tumpukan barang dari kapal tadi. Matahari semakin naik dan semakin gahar saja, apalagi kami tengah berada di tepian laut. Tentu panasnya tak seperti yang biasanya kami rasakan. Hangatnya terik matahari pagi membelai ubun-ubun Reira hingga memercik bulir keringat tatkala ia usap menggunakan tangan. Berkali-kali awak kapalnya tersebut menawarkan jaketnya untuk menjadi perlindungan sang Kapten dan rela menjadi kain lap bulir keringat, namun Reira menolaknya dengan alasan bahwa mereka lebih membutuhkan dari pada dirinya sendiri.


Beginilah rasanya menjadi orang baik, selalu di dalam tali pertemuan kasih sayang orang banyak. Beratnya jasa dari Reira kepada anak-anak jalanan yang ia pelihara, telah menjadi titik balik kebaikan tersebut. Aku ingin melakukan kebaikan sepertinya, namun aku belum mampu untuk menjadi layaknya seorang Reira. Setidaknya, aku bersyukur telah dikelilingi oleh orang-orang baik sebagai tempat menyentuhku ketika aku sendirian dan kehilangan arah. Tidak hanya Reira sang alien betina aneh itu, namun juga mereka. Candra selalu ada untukku walaupun ia cukup menyusahkanku dalam keuangan.


 


Bagaimana tidak, pinjaman uang yang sering kuberikan selalu lewat seminggu dari jatuh tempo yang kami tentukan. Dika walaupun terlalu dingin sebagai seorang saudara satu-satunya yang aku punya, namun ia terlalu baik karena rela mengurusi aku yang bebal ini. Aku bersyukur Tuhan masih menyisakan orang-orang seperti mereka untukku yang tak lagi ada kasih sayang orangtua.


 


Burung camar bernyanyi di tepi laut, menyasar atap-atap seng kapal nelayan. Tanpa beban mereka bertengger sembari berjemur dan mencari mangsa dari kejauhan. Mereka terlalu bebas untuk berkeliaran, tanpa beban hidup yang harus mereka pikirkan seperti para manusia angkuh di dunia ini. Sebebas-bebasnya mereka, kurasa lebih bebas anak-anak nelayan yang tengah berlari menyeret mobil-mobilan truk yang mereka ikatkan pada seutas tali rafia berwarna merah muda. Gesekan ban mainan truk tersebut beradu dengan derap langkah lima anak yang saling beradu pacu ke garis finish imajiner. Entah di mana mereka menentukan siapa pemenangnya tanpa ada tujuan akhir. Aku pun begitu dahulu, siapa paling di depan ia akan menang ketika menghentikan permainan secara sepihak. Lagi-lagi Reira menyapa mereka seperti anak-anak komplek yang ia sapa ketika bermain dengan sepeda mahal yang dibelikan oleh orangtua mereka.


Kesederhanaan kulihat di sini, termasuk anak-anak nelayan tersebut. Tanpa baju sehelai pun, mereka terlalu riang untuk menggerek mainan truk dengan menampakkan perut bulat keling ditambah dengan pusar yang sedikit menonjol. Aku yakin, mereka belum mandi dan bau matahari. Kesederhanaan pun tampak dari wajah ibu\ibu yang menenteng sayur mayur dengan sebuah tas jalinan daun pandan. Keanggunan terlihat dari daster motif bunga-bunga dan kerudung panjang sepinggang yang mereka kenakan. Dalam langkah yang diayunkan, ibu-ibu tersebut tetap tersenyum walaupun kadang mereka bingung akan sampai kapan bahan makanan hari ini akan bertahan. Susahnya hidup di negeri ini tak pernah mencapai kesejahteraan bagi komunitas kecil neyalan di tepi laut. Hanya orang-orang kota angkuh itu saja yang tersentuh oleh kesejahteraan, walaupun kadang-kadang ketidaksyukuran terucap dari hujat kebencian kepada pemimpin ketika setitik kekurangan melekat. Padahal mereka tahu ada banyak orang di luar sana yang lebih kesusahan daripada kehidupan orang-orang kota.


Aku pun orang kota, naïf kadang jika aku tidak pernah melakukannya. Namun, setidaknya dari sini aku belajar untuk lebih menyukuri hidup.


Tumpukan karung goni telah membukit di pangkal dermaga. Kakek Syarif berdiri di sana sembari berbincang dengan seseorang berbaju partai yang tak pernah aku temui di kapal. Tepat beberapa meter di hadapan tumpukan karung goni tersebut, terparkir sebuah truk kuning dengan bak yang sudah terbuka. Suara parau Reira berbunyi, ia memanggil Kakek Syarif yang sedang sibuk dalam pembicaraannya.


Kake Syarif tersenyum, ia petik ujung tembakau miliknya.


“Wah, sudah sarapan Kapten?” tanya Kakek.


“Sudah, kalau Kakek dan yang lain?” tanya Reira kembali.


Kakek Syarif mengangguk. “Sudah … kami masak mie instan di kapal Leon. Tapi, Razel malah keluyuran dan enggak sarapan. Anak itu kadang entahlah … padahal seharian dia enggak tidur gara-gara mengemudi kapal.”


Aku menduga ia tengah mengasingkan diri untuk merokok agar tidak ketahuan dari ayahnya yang sangar itu.


“Oh, ini ya Reira?” tanya bapak yang menjadi lawan bicara Kakek Syarif. Ia terlihat lebih muda dari Kakek Syarif, kurasa berumur lima puluhan tahun. Logatnya masih bercampur dengan logat melayu, namun masih terasa samar-samar karena mungkin saja sadar bahwasanya kami merupakan warga Ibu Kota.


“Inilah cucu Pak Kumbang yang aku bilang tadi. Cantik, kan? Kaya anaknya, Fany itu yang jadi ibunya Reira.” Tangan Kakek Syarif merangkul Reira hingga Reira tersipu malu oleh pujiannya. Mereka sangat akrab sekali, Reira sudah seperti cucu kandungnya sendiri.


“Oh, aku Reira, Om. Anaknya Bu Fanny.” Mereka saling bersalaman untuk memulai perkenalan. “By the way, Pak Kumbang itu siapa?”


Aku pun sedikit membuang muka karena tak bisa menahan tawa.


 


By the way? Yang benar saja lo bicara dengan gaya seperti itu kepada mereka.


 


“Hahaha … perkenalkan, saya Pak Milsa.” Pak Milsa mengguncang tangannya ketika bersalaman. “Pak Kumbang itu kakek kamu. Dia punya tato kumbang di punggungnya. Tato asli yang ia dapati dari mendatangi Suku Sakai di Sumatera.”


“Wah, benar itu?” Wajah Reira menoleh kepada kakek Syarif.


“Benar, dia punya tato kumbang di punggungnya. Waktu itu kami sama-sama berpetualang mendatangi pedalaman Suku Sakai di Riau. Alhasil, kami punya tato yang sama. Tapi karena tatonya lebih besar, kakekmu dipanggil Pak Kumbang atau Bang Kumbang. Ah, jadi ingat masa muda aja. Hahahah ….”


Pak Mila menunjuk Reira. “Bapak kenal dengan ibumu, Fany. Sewaktu saya masih SMP, Pak Kumbang pernah singgah ke rumah saya sebulan dan membawa Fany. Kebetulan, ayahnya Bapak adalah kenalan kakek kamu.”


“Ah, bisa aja Bapak!” Ia menepuk karung goni tersebut. “Ayo angkat ini ke truk. Kita akan bawa ke rumah.”


“Nah, kan … dia malu. Ah, jangan berkilah kau, Milsa. Kau kira dulu aku tak tahu kalau kau menulis surat cinta waktu Fany pergi buat pulang ke Kepulauan Riau. Tapi, kau buang ke laut karena Fany bilang dia lebih suka orang kota. Kau orang kampung, Milsa. Hahahah ….”


“Ah, sudah Pak. Masa lalu itu. Aku jadi malu sama Reira … Ayo angkat!”


Kami tertawa bersama-sama mendengar tingkah Kakek Syarif yang mencemeeh Pak Milsa mengenai masa lalunya bersama Bu Fany. Setelah itu, tenaga dari hasil sarapan kembali dikerahkan untuk mengangkut seluruh goni tersebut untuk masuk ke dalam truk tersebut. Candra menarik napas tatkala melihat tumpukan goni yang banyak.


 


Terdapat dari dua puluh lebih kantung goni berukuran besar yang akan kami angkat bersama-sama. Untung saja Kakek Syarif membawa banyak pemuda-pemuda nelayan yang sedang tidak kesibukan untuk ikut bersamanya. Selain mereka mendapatkan uang upah darinya, mereka terhindar dari menongkrong tidak jelas di luar sana.


Bermanfaat sekali Kakek Syarif di hari tuanya, termasuk kepada kami sendiri.


 


Desah napas Candra tak ingin kalah dengan Kakek Syarif yang ikut mengangkat goni tersebut. Napas tua bau tembakau itu semakin saja berasap ketika menambah rokok kretek bungkusan yang ia ambil dari tangan Pak Milsa. Candra tidak ingin kalah, ia malah membakar temabaku di tengah-tengah kami yang sedang beradu napas mengangkat beban berat. Wanita berambut terikat itu juga tidak mau ketinggalan kontribursi. Reira naik ke atas bak truk bersama awak kapalnya sendiri untuk menyusun tumpukan. Ia malah berbalik memerintah untuk mempercepat gerak langkah kami. Pak Milsa pun tertawa, ia berkata bahwasanya Reira mirip sekali dengan ibunya sewaktu Pak Milsa mengangkat karung beras ke atas mobil ayahnya.


Tanpa angin dan tanpa hujan, tiba\-tiba saja Razel tiba dengan wajah datar. Ia mencolek pinggangku dengan pelan.


“Bang, ayah gue ada nanyain, enggak─”


Baru saja ia bertanya, Kakek Syarif langsung memotong pertanyaan tersebut.


“Dari mana saja kau?! Malah pergi tiba-tiba!” protes Kakek Syarif.


“Eh, itu Ayah … sarapan,” ucapnya ragu. Aku tahu, ia pergi mengasingkan diri untuk menghisap rokok. Jelas tercium bau asap yang masih melekat pada tubuhnya.


“Kau yang memasakkan kami mie instan, malah kau yang enggak ikut makan! Aduh, anak ini. Sudahlah … angkat goni ini ke atas.” Kakek Syarif memberikan ujung goni padanya.


Melihatnya yang sudah kecut dimarahi oleh Kakek Syarif, aku tidak sampai hati. Oleh karena itu, aku mengajak Candra untuk membantu Razel mengangkat bagiannya. Wajah kesal tidak bisa ia buang, namun ia tak sampai berani melawan ayahnya sendiri. Aku paham, Ayahku sama seperti Kakek Syarif yang pemarah. Kami pernah berada di posisi yang sama, hanya saja ayahku masih ber-kamu menyebutku. Berbeda hal dengan Kakek Syarif yang menyebutkan kata kau yang terdengar kasar bagiku. Maklum saja, hal itu wajar bagi orang-orang besar di sumatera pada umumnya.


“Ayah lo serem juga kalau marah,” ucap Candra pelan kepada Razel.


“Dia pernah menendang gue dari kapal gara-gara radio tuanya gue jatuhin. Parah enggak, tuh?”


Ia malah tidak kelihatan seram-seramnya sama sekali. Razel malah tertawa kecil.


“Razel,” panggil Kakek Syarif. “Mancis Ayah tadi malam di ruang kemudi di mana, ya? Tadi dicari enggak ada nampak.”


Razel pun menatap aku dan Candra.


 


“Mampus gue, Bang!”


 


***