
Basah wajahnya oleh panik, berbalut dengan tatap tidak percaya jika aku melihat ia sedang begitu. Abimana terpaku, ingin berucap tetapi enggan mengatakannya. Tangannya tampak bergetar ketika menutup mata sendiri. Untuk pertama kali seumur hidup, aku menampaki pria berpelukan mesra dengan pria lain. Selama ini, aku hanya menyaksikan aksi asmara dari sepasang beda jenis, sebagaimana Borneo yang membawa gadis dermaga ke van buruknya waktu itu.
Aku bersandar di pintu, lalu melipat tangan di dada. Benakku menunggu jawaban yang sedang Abimana pikirkan, hanya saja ia masih saja berdiskusi dengan pria itu. Sama sekali tidak aku ketahui apa sebenarnya hubungan mereka berdua, entah hanya sekadar teman tapi mesra, atau benar-benar sepasang kekasih. Menurutku, kecil kemungkinan tidak ada hubungan spesial jika sudah berpelukan seperti itu.
Abimana menghampiriku, lalu pria yang lain itu duduk di sofa.
“Abimana … gue ini liberal. Lo bebas dengan orientasi lo sendiri. So, ini bukan hal yang memalukan,” ucapku.
“I`m a gay … suatu hal yang harus lo tahu dari gue,” balasnya setelah menghela napas panjang. “Semoga lo paham dengan gue.”
“Lo bohong soal lo yang enggak paham dengan cinta. Ternyata lo paham,” pancingku.
“Jika gue sebutin, takutnya lo ngehindar dari gue,” balasnya sembari melihat kea rah sofa.
“Jadi … lo enggak mau kenalin pacar lo ke gue?”
“Oh ya? Beneran lo mau? Oh my god ….” Abimana menutup wajahnya. “Baru kali ini ada temen gue yang bilang begitu.”
Abimana membawaku ke hadapan pria berkulit cokelat manis. Wajahnya tampak lebih mungil dengan perawakan cenderung lebih kurus. Aku terkadang heran melihat pria dengan wajah terlampau mulus sepertinya, sama sekali tidak terbentuk bekas jerawat sama sekali. Ia tersenyum kecil kepadaku, lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Reira ….”
“Isaac ….”
Nada suara terdengar kecil dan kemayu.
“Oh begini Isaac, gue datang ke rumah Abimana bukan dengan maksud apa-apa. Gue cuma mau ngantarin motor dia aja. Plis jangan berpikiran apa-apa ….”
“Reira ….” Abimana terdengar aneh dengan penjelasanku.
Ya … aku baru kali ini memiliki teman seorang gay. Jadi, aku pun tidak tahu apakah pasangannya punya perasaan cemburu jika aku terlihat dekat dengan Abimana.
“Oh … gue udah tahu kok. Abimana selalu cerita tentang teman-teman barunya, termasuk elo,” jawab Isaac.
“Lo cerita tentang gue⸻” Wajahku menoleh ke arah Abimana. Namun, teralihkan oleh suara handphone Isaac di atas meja.
Aku dan Abimana memerhatikannya yang sedang menelpon seseorang.
“Abimana … kayanya gue harus ketemu sama client gue. Dia mau minta ketemu sekarang,” ucap Isaac.
“Bentar banget … gue baru datang ini,” sambungku.
“Bisnis tetaplah bisnis, ya kan? Hehehe ….” Isaac tertawa sembari berdiri. Ia mencium pipi Abimana, lalu memegang kedua pundakku. “Senang berkenalan dengan lo. Gue juga senang kalau lo berteman akrab dengan Abimana. You know what? We are gay … dia enggak bakalan ada apa-apa dengan lo.”
“Thanks udah percaya dengan gue,” pungkasku.
Isaac kami lepas di depan teras. Setelah kekasih Abimana itu pergi, aku pun menatap Abimana seakan semua ini lucu. Tanpa takut ia tersinggung, aku pun tertawa sekeras-kerasnya.
“Kenapa? Ada yang lucu?” Wajahnya berubah serius.
Aku memegangi kedua lengannya. “Hey … bukan mengenai lo gay atau enggak. Tapi, gue mengingat Borneo waktu ketahuan sama cewek lagi mau pemanasan di dalam mobil.”
Bibir Abimana melingkar setelah mendengar itu. Sembari berjalan, ia merangkul puncakku ke dalam rumah. “Ayo kita minum kopi brown sugar coffee. Isaac bawain gue dua botol produk original dari cafenya.”
“Oke … gue suka brown sugar coffee.”
Aku pun duduk di bawah teduhnya atap teras gudang kebun. Terpampang sepetak kebun sayur yang dipelihara oleh Abimana. Ia memang suka kegiatan tanam-menanam. Menghabiskan waktu berjam-jam dengan tumbuhan lebih menyenangkan baginya. Mungkin saja sama hal denganku yang lebih senang berkeliaran di sekitaran laut, hingga tidak sadar kalau hari sudah semakin gelap.
Abimana datang dan duduk di sampingku. Wangi parfum Abimana sepertinya sama dengan yang dipakai oleh Isaac.
“Gue kira lo mau deketin gue,” pancingku.
“Yang benar aja?” Matanya menyipit. “Lalu, kenapa lo mau aja datang ke rumah gue? Berarti lo setuju kalau gue deketin?”
“Alasan yang sama dengan kenapa lo pengen kenal lebih dekat dengan gue,” balasku tidak ingin kalah.
“Yaa … gue rasa lo cocok untuk dijadikan teman. Lo orang yang menarik.”
Aku pun mengangguk. “Begitu pula dengan gue. Sekarang kita udah jelas, enggak ada yang harus dicurigain. Jadi, kenapa lo enggak juju raja kemarin kalau lo itu seorang gay?”
“Mengaku gay itu sama aja membunuh harga diri. Maksud gue, di tengah masyarakat yang masih konservatif seperti ini. Kita enggak bisa merubah pemikiran orang, di sisi lain kita sendiri tidak ingin ikut dengan pemikiran orang lain. Alhasil, kita menghindar.”
Selain politik, urusan asmara pun paling sering diurusi oleh masyarakat 273 juta jiwa ini. Orientasi **** memang bukan hal yang bisa diubah begitu saja. Mungkin ada pendapat jika itu pengaruh dari genetik dan lingkungan, tetapi orang awam hanya pandai menghujat. Agamis konservatif bersorban putih dengan bendera-benderanya itu acap kali membuat hatiku miris. Mereka hanya menghujat tanpa solusi. Secara pribadi, aku pun tidak setuju dengan seseorang yang suka sesama jenis, tetapi bukan tujuanku untuk menghakimi mereka. Aku pun tidak rugi jika mereka suka dengan sesama.
Mengenai dosa? Kita memilih jalannya masing-masing. Penghujatan juga tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.
“It`s okkay, gue ini tempat yang merahasiakan satu rahasia dengan rahasia yang lain. Janji gue ini janji pelaut,” balasku sembari menoleh padanya, “Jadi, lo enggak suka sama cewek atau bisa … maaf … ngaceng kalau sama cewek gitu?”
“Hahaha!!! Pertanyaan lo ini!!! Gue ini pure gay, bukan bisex. Jadi, mau lo buka baju pun gue enggak bakalan tertarik.”
“Aduh … mulai sekarang gue harus jaga Borneo dari elo,” balasku.
“Gue juga milih-milih cowok. Seperti kalian yang juga ngelihat ganteng atau cantik.”
Aku pun tertawa. “Hahaha … sayang banget Borneo. Lo tetep dianggap jelek di mata seorang gay. Dia bandel sih, gue suruh perawatan biar kulitnya cerah, malah enggak mau. Jadi … lo sejak kapan sadar kalau lo itu seorang gay? Maaf nih, gue baru pertama kali punya temen seperti elo.”
“Entahlah … sejak kecil gue memang memandang pria itu lebih menarik daripada wanita.”
“Orangtua lo tahu?” tanyaku.
“Lebih baik mereka enggak tahu,” balasnya singkat.
“Gue harap lo enggak ada konflik dengan mereka.” Aku merubah posisi dudukku ke hadapan dirinya. “Gue ada satu permintaan dengan lo. Ini karena elo gay dan udah pasti enggak bakalan ada apa-apa dengan gue.”
“Ngapain emangnya?”
“Lo jadi pendamping gue ke ulangtahun pacarnya mantan gue. Oke? Malam nanti. Pakai baju keren dan kita bakalan jatu raja-ratu di sana.”
“Apa?” Ia menggeleng. “Kenapa enggak ajak Borneo?”
“Borneo diajak ke acara begitu? Lebih baik dia semalaman di garasi buat ngelukis. Plis … datang sama gue. Ini mantan gue. Malulah gue datang-datang kok sendirian. Plisss …..”
“Gue bilang ke Isaac dulu ya. Kalau dia ngebolehin, gue ikut.” Abimana tersenyum.
“Lo bucin juga ternyata heehe ….”
Kami pun menatap langit siang bersama. Entah kenapa, kami sama-sama jujur hari ini.
***