Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 133 (S2)



EPISODE 133 (S2)


Ingatkah kalian mengenai sepenggal nama yang aku tatap penuh gemetar hati tatkala di pantai tepian Belitung? Tak bercelah kesempurnaan wajah seorang pria yang bersanding berdua bersama Reira pada foto polaroid tersebut, terselip pada satu celah kecil di dompetnya. Hatiku menabuhkan ribuan pertanyaan semenjak itu, menggeluti seluruh teka-teki yang Reira sampaikan padaku. Tak pernah sedetik pun diriku untuk menghindari pertanyaan itu. Tertahan di ujung lidah, tak sempat dibawa oleh helaan napas melalui ucapan. Hingga akhinya pertanyaanku terjawab ketika di malam yang menegangkan, tatkala aku dan wanita gila itu lomba mewarnai di mobil mewah ratusan juta.


Ya, aku sangat seru ketika lomba mewarnai―sebut saja vandalisme―di mobil pria yang bernama Nauren itu. Sebelum kami beraksi, Reira bercerita bahwasanya pria tersebut merupakan temannya semasa SMA. Ia merasa sakit hati ketika temannya sendiri dikhianati oleh Nauren itu, hingga Reira berinisiatif untuk membalas dendam dengan cara tak biasa. Mungkin saja Nauren malam itu kebingungan kenapa mobilnya penuh dengan coretan, hingga membayar mahal untuk biaya cat ulang. Namun, detik yang aku lewati tadi ternyata masih menyimpan teka-teki, belum terjawab pasti oleh perkataan Reira.


Masalah politik mencuat tatkala aku berbincang bersama Kak Reina, Reira juga bilang begitu. Keluarganya kenal baik dengan keluarga Nauren yang berpengaruh di kancah politik. Usut punya usut, pertarungan pilkada selanjutnya menjadi alasan semakin dekat antara dua keluarga ini. Pak Bernardo yang masih haus dengan kekuasaan dan pengaruh, tak cukup duduk di kursi parlemen. Ia ingin menjangkau wilayah eksekutif, yaitu Gubernur Ibu Kota.


Aku tak mengerti bagaimana menjalin sebuah hubungan politik, tetapi yang terjadi adalah pasti ada hubungan antara keluarga Reira dan keluarga Nauren. Seharusnya, hanya antara dua orang yang akan bersama-sama dalam pertarungan pilkada. Namun, mungkin saja Pak Bernardo tidak merasa cukup dengan hal itu. Ia ingin mereka lebih dekat dalam ranah privasi, yaitu keluarga. Aku rasa begitu, hanya berpikir positif saja.


Namun, hatiku masih tersentak mengingat dekatnya Reira dan Nauren pada foto tersebut. Ingatan itu seketika membayangiku yang sedang duduk di garasi kayu Reira sembari memberi makan Minerva yang lapar. Minerva mematuk ayam suir-suir yang aku letak di atas mangkuk kecil. Ia tak bersuara, melihat padaku pun tidak. Padahal, aku ingin bercengkerama dengan paruh runcingnya itu. Hanya saja, burung hantu bukanlah binatang yang bersuara seperti burung beo dan burung hias faforit bapak-bapak. Ia diam senyap menunggu mangsa, tetapi terkurung di dalam sangkar besi yang tebal.


Reira menghidupkan mobil, lalu menyetel lagu pop rock faforitnya di sana. Garasi kami tutup rapat-rapat hingga Bang Ali curiga kami bersenang-senang di dalam.


“Gue tahu lo nyimpan pertanyaan, Dave. Kenapa enggak bicara?” tanya Reira dengan kaki terjulur keluar mobil. Wajahnya berpangku di atas kaca mobil yang dibuka.


“Ya ... lo selalu tahu pikiran gue. Lo kayanya dukun.”


“Psikologis seorang pria memang begitu. Ketika mendengar nama pria lain yang ada hubungan dengan kekasihnya, enggak mungkin dia enggak nyimpan pertanyaan. Kenapa sih lo selalu diam?”


Aku menarik kursi kayu mendekat padanya, lalu menghembuskan asap tembakau berlawanan dengan posisi Reira.


“Gue enggak mau ada orang yang tersingung dengan pertanyaan gue. Itulah kenapa gue enggak masuk ke ranah privasi orang lain.”


“Apakah di antara kita ada privasi? Kita pacaran.” Dahi Reira mengernyit padaku. Tampaknya ia kesal dengan kalimatku.


“Seharusnya ada, tapi lo selalu buat orang lain seakan tanpa privasi,” balasku.


Reira menggeleng. “Lo udah pernah nyentuh dada gue, apa itu privasi?”


Kalimatku selalu dijawab dengan pertanyaan. Maksudnya cuma satu, bukan untuk meminta penjelasan karena ia sudah tahu jawaban di pikirannya, melainkan untuk menghentikan seseorang bicara. Ia lihai dalam bersilat lidah, terutama denganku.


“Seharusnya itu privasi, tapi keadan bikin kita ke sana. Dan lo harus tahu, privasi hanya bisa dibicarakan di tempat yang paling privat.” Aku menarik napas kemudian.


Kakinya menyilang ke atas. “Nah, sekarang ada di tempat privat.”


“Kita bisa bercumbu sekarang.”


Senyumnya melingkar. Reira menyingkapkan kaos yang ia pakai. “Pilihan yang bagus.”


Sontak aku menahan tangannya. “Gue bercanda, sumpah!”


Anak itu telah mengganti kostumnya seperti biasa, jeans robek di lutut dan kaos hitam yang terkadang motif tengkorak. Tak peduli dirinya dengan orang yang sedang ramai di rumah. Ia membenci standar moral yang mendiskriminasi perempuan untuk melakukan sesuatu. Baginya, subtansi sebuah pakaian adalah menutup tubuh. Selagi pakaian itu menutup hal privasi pada tubuhnya dan sesuai dengan standar estetik yang ia suka, Reira akan selalu memakainya.


“Gue bercanda juga. Hahah ... gue kaya enggak terjadi sesuatu ya. Mama gue baru aja meninggal dan kita berpikiran aneh sekarang.” Ia menaikkan wajahnya. “Sekarang bicaralah.”


“Lo ini pandai banget ya ngebongkar pikiran orang.” Aku menghisap tembakau panjang-panjang. ”Oke, gue nanya siapa sebenarnya Nauren. Gue memang enggak tahu masa lalu lo dan sebenarnya gue enggak peduli masa lalu lo. Mana tahu lo pecandu narkoba sewaktu SMA, gue enggak peduli. Yang penting bagi gue adalah lo yang sekarang.”


“Dia teman SMA gue.”


“Hanya itu?” Kepalau memereng.


“Maksud gue, keluarga kalian ada hubungan apa? Rei ... gue pingin bicara serius. Jangan bercanda. Enggak lucu kalau kalian punya hubungan romantik.”


“Lo enggak peduli kan kalau gue punya hubungan masa lalu dengan Nauren? Lo bilang enggak peduli dengan masa lalu gue, yang penting gue yang sekarang.”


“Iya, gue enggak peduli. Tapi, kalau kalian masih berhubungan ... ini urusan serius bagi gue.”


Reira diam sejenak. Ia memejam mata sembari menghela napas.


“Lo cinta pertama gue dan gue harap lo jadi yang terakhir.”


“Jadi, kesimpulannya?”


“Gue selalu bikin masalah dengan setiap orang yang ketemu dengan Papa. Hal itu pula yang bikin Papa marah sama gue. Beberapa bulan yang lalu, gue ngempesin ban papanya Nauren dan gue ngaku setelah itu sama Papa. Dan nanti kayanya untuk kedua kalinya.”


“Gue enggak pernah berpikiran buat ngempesin ban orang lain.”


“Gue bukan diri lo.” Ia tertawa sejenak. “Hahaha ... gue benci orang yang ketemu Papa cuma kalau ada maunya. Gue enggak pernah Papa ketemu dengan seseorang yang benar-benar cuma buat jumpa kangen. Gue enggak pernah, Dave. Setiap orang yang ke rumah, kalau enggak urusan politik, pasti urusan suap menyuap.”


“Tunggu dulu, Papa lo disuap?”


“Untuk urusan tertentu, iya. Lo pernah lihat uang satu milyar di depan mata? Gue pernah. Dan gue pastikan kalau gue bakalan bakar rumah kalau Papa nerima itu.”


“Jadi, itu kenapa lo enggak suka ketemu dengan keluarga Nauren?”


Reira mengangguk pelan. “Delapan persen mereka pasti bicarakan pilkada, sepuluh persen bela sungkawa, sepuluh persennya ngebicarain Nauren. Anaknya masih muda, tapi udah jadi pengusaha otomotif. Ya ... gue enggak heran. Harusnya mereka enggak bangga karena dia dimodalin sama keluarga yang kaya.”


“Oke, jawaban gue terjawab. Makasih untuk itu.”


“Gue mau baring di paha lo. Mari ke kamar.”


“Lo gila? Di sana ada Papa lo dan gue masuk ke kamar anak gadisnya.”


Reira mematikan mobil, lalu keluar dengan menutup pintu. “Ini rumah gue sekarang. Bukan rumah dia. Rumah diwasiatkan buat gue, Reina dapat villa. Gue lebih milih rumah yang penuh kenangan daripada investasi, kecuali cafe Mama. Itu memang gue perjuangin banget.”


Langkah Reira bergerak menuju pintu garasi. Aku mengikutinya dari belakang. “Gue harap Papa lo enggak masuk ke kamar.”


“Gue tembak dia tepat di kepala.”


Dia psikopat!


Melangkah kami menuju rumah. Tampak Bang Ali dan yang lain sedang asyik main dengan ayam-ayam Reira yang banyak. Mawar turut ikut di sana menyaksikan keseruan mereka. Rumah tampak lengang di bagian belakang, para pelayat yang masih bertahan tengah berkumpul di tenda depan. Rumah pun tampak tak ada orang, hanya televisi yang hidup tanpa penonton.


Mataku menoleh ke sofa di depan televisi tatkala seseorang muncul berdiri. Reira berhenti dalam langkahnya, tangan kami saling terlepas satu sama lain. Seorang pria muda yang kira-kira seumuranku tengah menoleh pada kami berdua. Tak ada ekspresi yang ditunjukkan, kecuali tatapan lurus menuju kami, terutama padaku.


“Hai, Reira ....” Pria itu pun melambai kecil pada kami.


Ingatanku mencuat, pria itu adalah Nauren. Tahu persis aku wajahnya yang masih tersimpan di dalam memoriku semenjak peristiwa restoran ayam goreng.


“Nauren? Sejak kapan lo di sini?” tanya Reira dengan heran.


Ia melihat jam tangannya. “Lima belas menit yang lalu. Mereka lagi di ruang tamu. Gue bosan ... biasa, pembicaraannya pasti enggak jauh dari politik.”


Tak merasa canggung, Nauren melangkah menghampiri kami. Tepat di waktu yang bersamaan, Reira merangkul diriku.


“Kenalin dia David. Pacar gue ....”


Aku kaku dibuat pernyataan tersebut, terutama di depan pria yang sudah membuatku cemburu.


Nauren menjulurkan tangannya. “Gue Nauren ....”


“David ....” Aku sambut tangannya tersebut.


“Lo pacarnya Reira?” Kepalanya bergerak miring. Nadanya terdengar aneh.


Ekspresinya itu seakan tidak yakin dengan diriku.


***