
EPISODE 79 (S2)
Aku telah banyak mengalami kesedihan semenjak direnggutnya satu per satu orang yang aku sayangi. Jika kalian pernah berpikir bahwasanya keluarga merupakan tempat untuk bersenang ria, berbagi tawa, dan hal lain sebagainya, maka tidak begitu untukku. Aku pun pernah berpikir bahwasanya keluargalah yang selalu memberikanku rasa nyaman dan tentram, hingga aku yang memutar pemikiran tersebut bahwasanya kesedihan terbesarku berasal dari keluarga itu sendiri. Sumber kesedihan itu berada di satu titik rumah yang pernah menjadi tempat kami berkumpul, sumber kesedihan itu ialah satu kamar di mana aku pernah merengek meminta uang jajan untuk sore hari padahal jatah jajan sudah aku habiskan di pagi hari, dan sumber kesedihan yang lain adalah wangi tembakau cengkeh yang beradu di dalam cangkir faforit si pacandu ganja itu.
Cukup sulit aku beranjak dari lingkaran kesedihan yang aku rasakan. Bertahun-tahun larut mengenang dan meratap. Pernah juga aku berada di fase-fase di mana aku tak pernah bolong mengunjungi makam Ibu dan Ayah. Ada pula aku berada di titik tak satu malam pun yang dihabisi selain menangis, hingga aku sendiri khawatir ada yang salah dengan diriku sendiri. Aku takut, kesedihan yang mendalam ini menganggu mental dan batinku untuk menjalani hari. Aku tak terlalu memiliki pegangan dalam bercerita karena aku selama ini hanya terbiasa mendengar. Berharap kepada Dika? Sesama saudara lelaki menurutku terlalu jijik untuk bercerita secara intim.
Aku pernah kembali belajar untuk tersenyum ketika segurat wajah imut wanita yang selalu duduk di halte persimpangan jalan sekolah. Tak perlu aku sebutkan lagi siapa nama wanita bergitar itu, kalian sudah pasti tahu. Kelopak mataku yang sayu tak pernah lepas dari cara duduk wanita itu―turut aku masukkan ke dalam sepulum momen terbaik Fasha di buku catatan harian―ketika menyilangkan kaki dengan anggun, lalu memasukkan tangan pada saku hoodie berwarna merah jambu. Senyum yang aku helat seakan menyibakkan seluruh kesedihan yang ada, tertuju fokus pada beningnya tatapan Fasha melihat hujan di luar halte.
Hingga, aku pun diajarkan pula olehnya untuk kembali menyurut senyum yang aku helat untuknya. Dirinya pula yang membuatku tak suka hujan pukul lima sore, di mana aku akan melihat Fasha berteduh dengan seseorang. Hanya aku saja yang bodoh. Walaupun begitu, rasaku tetap sama bertahun-tahun lamanya.
Tembok itu pun hancur, dihantam sebuah kapal besar berlumut di bagian bawah dengan seorang wanita yang membusung dada dengan sombongnya. Kesedihan-kesedihan itu pun sirna, dibawa arus ombak menggulung hingga ke dasar lautan. Bersemayam bersama bangkai-bangkai membusuk yang aku sebut sebagai masa lalu.
Saat ini aku pun tersentak batinku melihat wajah sombong Reira berganti dengan tangis yang membasahi wajahnya. Aku terkadang suka sikapnya yang angkuh, menyombongkan diri atas segala kelebihannya, hal itu pertanda bahwasanya ia sedang berada di jati diri yang sebenarnya. Namun, berbeda hal ketika tangis menggulung mengecutkan wajahnya, ia sama sekali menjadi orang yang berbeda. Aku tak mengenali sifat itu, walaupun dengan rupa wajah yang sama.
Peluknya terasa sangat erat untuk menahan perasaan yang sedang berkecamuk di hati Reira. Agar ia tak jauh merengkuh diriku, aku pun memposisikan duduk di antara bangku depan, tepat di belakang bagian persneling. Sama sekali aku tak berbicara, ia hanya menangis sejadi-jadinya tanpa berkata sepatah kata pun selanjutnya. Akibat tangis terlalu menguras energinya, Reira pun tak kusadari terlelap. Aku yang terlalu larut dari suara isak yang mendengung sedari tadi, tanpa aku sadari ia telah diam dengan napas yang teratur.
“Rei ....” Aku menepuk wajahnya. “Lo selalu tidur habis nangis. Kaya bayi aja. Padahal, lo sendiri yang bilang gue bau bayi.”
Terpaksa aku memindahkan tubuh Reira ke belakang, memanjangkan tubuhnya agar ia tidur dengan nyaman. Mobil pun berangkat langsung ke kediamannya.
Aku bersyukur ketika kudapati mobil mewah milik Kak Reina terparkir di halaman belakang. Reira berkata jika kakaknya tersebut akhir-akhir ini jarang di rumah karena sibuk dengan bisnis fashion yang beliau geluti. Namun, itu pula yang membuat Reira senang bahwasanya ia bisa berkonsentrasi mengerjakan skirpsi tanpa mendengar Kak Reina yang selalu bising di rumah. Aku heran, kenapa dua saudara yang egonya sama-sama besar seperti ini, tapi masih saja aku. Tidak seperti aku dan Dika.
Kak Reina terkejut ketika ia membukakan pintu untukku. Reira sedang berada di belakangku dengan posisi digendong.
“Dia pulang mabok?” tanya Kak Reina. “Kalau kalian pergi minum, jangan sampai maboklah.”
Aku menggeleng. “Ah, kami bukan orang yang seperti itu, Kak. Reira tertidur di mobil. Makanya, digendong kaya gini.”
“Yaudah, bawa cepat. Dia masih sering ngompol kalau tidur,” balas Kak Reina ketika aku melangkah masuk.
“Apa?” Aku berhenti untuk menoleh padanya. “Reira segede ini masih ngompol?”
“Dia enggak pernah ngompol waktu lo sama dia tidur bareng?”
Persis seperti Reira, senyumnya licik ingin menjatuhkan lawan bicara. Kata-katanya menusuk tak ingin dibendung.
“Kami enggak pernah gituan, Kak,” balasku.
“Hahah ... canda. Reira masa` ngomplol.” Ia mendahuluiku. “Tapi, coba aja kalian tidur bareng.”
Aku pergi kemudian ke lantai dua daripada dibodohi oleh Kak Reina. Sesampainya di kamar Reira, aku melepas sepatu miliknya, lalu menyelimuti tubuh Reira di atas ranjang. Wajahnya pulas tertidur walaupun terdapat garis-garis yang menunjukkan bahwasanya ia sangat lelah. Wajahku bergerak ke bibirnya yang tipis, lalu mengecupnya sesaat. Aku harap ia akan kembali baik-baik saja ketika bangun nanti, lalu tak mengajakku untuk melakukan hal gila lagi. Cukup hal gila hari ini yang kami lakukan bersama.
Terdengar suara Kak Reina memanggilku dari bawah. Terdapat dua kali ia memintaku untuk ke bawah segera. Namun, aku tak menjawab karena Reira akan terbangun jika membalas sahutannya. Segerak aku melangkah ke bawah. Entah apa yang ingin ia tunjukkan padaku.
Kak Reina sedang berada di dapur. Terdengar suara peralatan masak yang berdenting satu sama lain. Tatkala aku dengan jelas melihatnya, Kak Reina sedang berada di muka komor gas. Tangannya memegang spatula dan mengaduk mie di atas sebuah panci. Aku sedikit mengalihakan pandangan. Wanita itu hanya mengenakan daster tipis dan sedikit membungkus tubuhnya. Ditambah lagi ruangan terang hingga aku melihat bayang-bayang apa yang sedang ia kenakan di dalam. Wangi tubuh dari seorang Kak Reina pun seakan menggodaku untuk mendekat.
“Lihat apa yang gue bikin,” ucap Kak Reina.
Aku menarik kursi untuk duduk. “Mie goreng, gue tahu itu.”
“Jangan menikah dengan Reira. Sama gue aja. Dia enggak pandai masak.” Kak Reina tersenyum padaku, lalu memajukan wajahnya. “Dan gue pastikan lo bakalan puas tiap malam.”
Gue pingin pulang sekarang, jadi takut gue di sini, ucapku di dalam hati.
Aku pun membalas senyum. “Sepertinya gue lebih tertarik sama yang bisa mengemudikan sebuah kapal.”
“Oh ... begitu. Nikah sama Razel aja lo kalau begitu,” jawabnya.
Ucapannya barusan membuat kami berdua saling tertawa.
“Apa kabar Dika?” tanya Kak Reina.
“Tumben nanyain Dika. Ada apa?” rayuku.
“Hahaha ... anda jangan memancing saya.” Ia kembali menoleh ke panci, lalu mengaduk mie di dalamnya. “Katanya mau nikah.”
“Iya, Kak. Nunggu Kakek Syarif pulang dari Banjarmasin dulu. Baru kami ngerancang lamaran.”
“Syukurlah .... Oh iya, gue ikut senang dengan bisnis lo yang baru.”
Kalimatnya membangkitkan semangatku. “Wah, Kakak tahu itu ternyata. Makasih banget.”
“Hahaha .... nanti kita cerita-cerita tentang Reira di luar,” ucapnya, lalu ia diam sejenak. “Lo pasti ingin tahu.”
Reira?
***