
Kebermaknaan itu memiliki beragam arti. Sudut pandang memainkan defenisi dari kebermaknaan. Pemikiran matrealisme akan menyatakan jika kepemilikan benda dan guna dari benda tersebut. Orang-orang idealis turut memberikan sumbangsih kebermaknaan itu harus sesuai dengan nilai-nilai ideal yang semestinya. Kebermakanaan bagiku berasal dari sesuatu yang `ada`. Namun, tidak semua yang `ada` itu bermakna. Batasan titik dari `ada` menuju `bermakna` ialah eksistensi. Ia ada sebagai sosok, dan sosok itu pun dianggap ada oleh variabel-variabel di sekitarnya, itulah yang disebut sebagai eksis.
Ada banyak sesuatu yang `ada`, bergerak sesuai fungsinya, tetapi tidak dianggap `ada` oleh orang lain. Keberadaaanya tidak lebih sekadar angin lalu yang datang dan pergi tidak begitu dipedulikan. Eksistensi seseorang diuji pada korelasinya dengan hal-hal di sekitar. Jika ia sama sekali tidak berpengaruh, maka ia tidak lagi bermakna. Itulah yang aku tekankan kepada David ketika ia menganggap semua tulisannya hanyalah kertas kosong yang tidak sengaja ia tulis berbentuk sajak puisi.
Sampah … sebuah kata sifat paling rendah dari perbendaan paling rendah. Tidak ada yang lebih rendah dari sampah, bahkan bangkai pun disebut sampah jika ia berbentuk organik. Puisi-puisinya ia sebut sebagai sampah, ia hanya bosan dari patah hati, lalu berpuisi untuk menghibur hati. Di lain hal ia sudah jenuh dengan hidup, lalu ia bersyair dengan mencaci kehidupan sebagaimana ideologi anarki yang terkadang ia pegang.
“Candra sekarang di mana?” tanyaku pada Alfian.
Murid-murid yayasan sedang bermain di lapangan upacara sekolah. Terdapat dua gedung utama menjadi tempat belajar. Mereka riang sekali bermain dengan seragam sekolah yang selama ini tidak pernah mereka pakai. Wajah mereka bersih karena diurus baik ketika berada di asrama, tidak lagi berlapis debu jalanan ketika menjual koran.
“Dia jadi staff Psikolog di RSJ. Beruntung Candra lulus PNS setelah lulus.”
“Istrinya Zainab?”
“Buka usaha tenun Melayu. Kata Mawar, mereka udah punya rumah sendiri di Jakarta Barat. Mereka juga udah punya satu anak. Sayangnya, gue belum pernah ketemu Candra semenjak lo pergi.”
Aku mengangguk kagum. Orang yang aku kira sama konyolnya dengan David ternyata sekarang sudah dapat pekerjaan idaman para metua. Candra dulu pernah bilang kalau dia ingin jadi orang kantoran, tidak lagi mengurus anjing dan kucing di pet shop milik keluarganya.
“Sepertinya gue yang gini-gini aja ….”
“Yang gini-gini aja!” Alfian menyindir kalimatku. “Di umur belum dua puluh lima tahun lo udah mimpin perusahaan.”
“Maksud gue … yang benar gue usahain sendiri, bukan dari harta orangtua,” balasku.
“Rei, enggak ada orang di atas dunia ini yang enggak pakai harta orangtua. Semuanya pasti besar dari susu dan popok yang dibeliin papa mamanya. Jadi, apa salahnya memakai harta orangtua.”
“Bener sih … cuma gue pengen otentik dari usaha gue."
Ia menoleh padaku. “Lo jadi daftar program magister?”
“Jadi … itu mungkin salah satu usaha otentik dari gue. Gue enggak mau kalah dari Mawar.”
“Kalau untuk akademis, lo pasti kalah dari Mawar.” Ia melihat kembali ke lapangan upacara. “Ada satu lagi yang otentik dari lo … lihat mereka. Mereka yang dulu di jalanan, sekarang bisa sekolah. Mereka yang dulu dipekerjakan oleh oknum, sekarang bisa bebas menikmati masa kecilnya.”
“Benar juga, ternyata gue luar biasa.” Aku menepuk punggung Alfian dengan lembut.
“Aduh!!!” Ia melihatku yang beranjak pergi. “Lo mau ke mana?”
“Bukan urusan lo, ini misi rahasia!”
Rasa rinduku akan suasana kampus sedikit tertuangkan tatkala melihat mahasiswa yang berdiksusi di rumput-rumput teduh fakultas. Aku dulu sering di sana membahas politik kampus maupun negeri ini bersama para senior di organisasi. Aku tidak pernah masuk organisasi karena enggan dikendalikan oleh kekuasaan, tetapi aku selalu diikutsertakan ketika dimintai pendapat. Gazebo-gazebo kampus seperti biasa penuh oleh mahasiswa yang membuat tugas, tidak jarang pula dengan sepasang manusia yang sedang memadu kasih di sana.
Tidak ada satu pun mahasiswa yang kenal denganku. Lima tahun berlalu semenjak tamat, teman seangkatanku pun pasti sudah keluar semua dari kampus. Tinggallah para junior berwajah lugu yang tidak tahu apa-apa, bahwasanya aku pernah menjadi orang nomor satu paling diincar se-universitas karena sudah mencoret-coret mobil dinas rektor. Masih ingat seberapa cemasnya diriku karena dimasukkan daftar hitam atas vandalisme kawasan rektorat ketika kami mendemo rektor yang korupsi. Pada akhirnya, ia turun jabatan karena terbukti dan aku pun senang ia mendekam di penjara.
Seluruh berkas aku urus di pusat akademik fakultas. Berkas-berkas itu pun akan digunakan sebagai syarat pendaftaran program magister minggu depan. Setelah selesai semua urusan, aku meminjam sepeda mantan Dekan sewaktu masa aku kuliah. Ia sekarang menjadi Wakil Dekan di fakultasku. Dosen yang aktif di kampanye lingkungan hidup ini memang suka memakai sepeda ke kampus.
“Pak saya pinjam sepeda dulu ya ….”
Ia menggeleng-geleng padaku yang tadi langsung masuk saja ke ruangannya.
“Kamu ini datang-datang bukannya ngobrol dulu, malah minjam sepeda.”
“Ah urusan kita udah selesai, Pak. Kasus saya udah ditutup sama Polsek.”
“Kabar Papa bagaimana?” tanya beliau.
“Seperti biasa, dia kawin lagi.” Aku melambaikan tangan, setelah itu menunjuk mejanya. “Jangan keseringan minum teh Pak, nanti diabetes. Kalau masih mau minum, tanpa gula aja.”
“Pergi-pergi kamu, datang-datang malah ngerusuh!”
“Sampai jumpa, Pak!” Aku menutup pintu ruangannya.
Dekan konyol itu memang sering bercanda denganku, jadi tidak heran kami seperti itu ketika bertemu. Ia orang paling khawatir sewaktu namaku disebut rektor ketika press realease orang-orang yang hendak di-DO atas kasus pengrusakan rektorat. Atas diriku yang dianggap provokator, Dekan tersebut diancam untuk dicopot dari jabatannya.
Berkeliling universitas tidak akan pernah menggantikan suasana yang terjadi dahulu. Pusingnya tugas kuliah, pedihnya realitas cinta, lalu gelora anarkis seorang mahasiswa sewaktu itu mengiringi kakiku yang mengayuh sepeda Dekan. Aku mulai memasuki kawasan teduh yang banyak ditumbuh pepohonan tua, itulah danau kampus tempat diriku menang lomba sampan untuk pertama kali. Seakan dihantam kenangan, sepeda membawaku menuju ke sana. Setelah parkir di tepian, aku berjalan di susunan kayu yang menjorok ke danau.
“Andai elo ada di sini David, gue ceburin lo …..”
Momen itu seakan terputar di hadapan mata. Gerak tubuhku yang mengajari David mendayung, serta adegan terceburnya kami berdua menjadi teringat kembali. Basahnya tubuh kami seperti masih aku rasakan hingga saat ini.
“Reira ….”
Seorang memanggilku dari tepian. Aku pun menoleh. Di sana ada tatap teduh yang memandangiku.
“David ….”
***