
EPISODE 170 (S2)
Bersedih, tentu semuanya bersedih. Kata `besok` itu seketika menjadi sebuah kebohongan. Tak kami temukan Reira kembali ke kamarnya atau ia mengetuk pintu balkonku untuk mengatakan kata maaf. Kantor polisi sudah dihubungi oleh keluarga Pak Bernardo untuk mencari keberadaan Reira. Ia menjadi saksi penting dalam kasus narkoba Nauren sialan itu.
Sebagaimana dalam hukum alam, semuanya akan bergerak tanpa berhenti sedetik pun, salah satunya ialah waktu. Hari berganti hari, di ujung yang terakhir disebut sebagai seminggu. Seminggu bergerak seperti biasanya dalam hitungan empat, hingga bulan di langit telah berganti bentuk dari tiada ke yang paling penuh. Setiap malam semenjak hari itu tak ada doa yang paling besar, selain untuk dirinya kembali. Sudah sebulan dirinya menghilang tanpa kabar, hingga kepolisian pun mencarinya hingga keluar pulau, di mana paling mungkin Reira ditemukan. Sekiraya Tuhan sudah terlalu banyak mengabulkan doa, atau diriku saja yang sombong sebagai hamba, hingga Tuhan tak lagi menjawab doaku.
Rindu itu tetap saja bernama rindu, tanpa pernah berganti huruf segaris pun. Meskipun waktu berjalan seribu tahun, rindu tetap akan diucapkan dengan kata yang sama dari sebelumnya. Begitulah rindu yang aku ukir di dalam hati, bersemayam tak ubah layaknya seorang wali di tengah hutan. Sangat kuat rindu itu mempertapai hati ketika waktu tak membiarkanku untuk berhenti mencari. Bulan pun berkata sama, ia tak ingin menungguku yang sedang menanti kehadiran seseorang. Hingga bulan pun berganti dengan bulan selanjutnya dengan nama yang berbeda. Dari yang penghujan menjadi kering kerontang dan panas memanggang. Dari yang panas memanggang menjadi sangat basah setiap
sore hari. Reira tak lagi muncul kepadaku.
Kemunculannya tak ubah layaknya legenda wanita bertopi huruf awalan nama. Namanya sangat melegenda di hati kami sebagai wanita yang paling lama menghilang. Tepat kami ucapkan untuk mereka-mereka yang memiliki anak kecil karena kisah wanita itu cukup menarik adanya. Kami hanya bisa mengenang nama Reira dari setiap kalimat yang ia ucapkan, tanpa pernah bisa membelai wajah jenaka sang penuturnya. Waktu tak membuat kami pergi dari kenangan ini. Ia terlalu dalam menyampakkan kami di dalam sebuah lubang kenangan, hingga ia tertawa terbahak-bahak di atas sana karena melihat kami meneriaki namanya.
Tak lagi Reira menyebut namaku di ujung pintu balkon. Sebagaimana prasasti lama yang mengenang sebuah nama, aku ukirkan nama itu di pintu balkonku, bersampingan dengan kata hina kepada dirinya yang telah jahat memupuk rindu. Setahun sudah kami lewati dengan harapan dirinya untuk kembali. Dua tahun pun datang dengan harapan sisa-sisa ingatan dari bentuk senyumannya itu. Hingga, kami tak lagi mengenang orang hilang itu sama sekali. Ketika hampir seluruh orang sudah pergi, tak ada lagi kapal yang bisa aku gerakkan bersama mereka. Kapten kapal kami sudah menghilang lama, ditambah awak kapal yang sudah sibuk dengan jalannya masing-masing.
Tiga tahun sudah berlalu semenjak kami melihat kapal Leon menghilang di tengah laut bersama seorang kapten yang mengendarainya. Sudah banyak berubah di dalam kehidupan ini. Sebagaimana pintaku kepada mereka, hiduplah dengan kisah masing-masing. Hidup adalah milik sendiri, bukan milik orang lain, dan bukan pula milik alien betina yang terlupakan itu. Aku tak menyadari waktu, waktu pun tak ingin disadari olehku yang bodoh ini. Tak terasa semua berlalu begitu saja, padahal beratnya seakan kudaki Gunung Semeru karena tanpa kehadiran wanita itu. Tak ada kisah-kisah menarik, datar seperti papan meja cafeku yang selalu menjadi sandaran dada ibu-ibu muda, tak semenarik yang disandari.
Entahlah, aku tidak ingin memulai dari cerita sendiri. Akan aku dahului dengan cerita orang lain. Aku rasa Bang Ali cocok untuk kalian kenang pertama kali. Dirinya sudah mendapat seorang anak yang hitam legamnya hampir sama dengannya. Namun, ia memiliki anak kedua yang putih mulus seperti istrinya. Sudah aku bilang, anak mereka pasti akan warna hitam-putih, selayaknya warna hidup ini. Beruntung baginya mendapatkan pekerjaan setelah dua bulan menganggur, lalu merintis usaha pembuatan kaca di Pekanbaru.
Candra beruntung mendapatkan mertua Melayu yang baik. Dirinya akan menikah tahun esok dengan Zainab. Konsistensinya menjadi orang kantoran ternyata membuahkan hasil. Ia lolos menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil sekitar satu semester bekerja setelah lulus kuliah. Rencananya, Zainab akan ikut suaminya ketika sudah menikah dan pindah ke Jakarta. Ia sekarang masih di Manggar, belajar menyulam tenun Melayu sebagai bekal kreatifitas usaha nantinya.
Razel ternyata berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang pelaut. Ia berpengalam dua tahun lebih menjadi pelayar kapal pesiar. Bahkan, pengalamanya bertandang ke wilayah laut sudah sangat jauh. Sudah bermacam negara ia kunjungi, tak ubah layaknya Kakek Syarif sewaktu muda. Ia tak ingin sekolah, banting setir mengabdikan hidup kepada laut.
Ngomong-ngomong soal kuliah, ternyata karma itu ada. Karma itu benar-benar ada, Kawan! Aku tak berbohong! Aku menghina Bang Ali tamat sebegitu lama hingga akhir-akhir masa toleransi kuliah. Akhirnya, hal itu tertimpa padaku. Aku baru wisuda bulan kemarin di semester paling terakhir, yaitu empat belas. Aku tak peduli dengan Candra yang terlampau jauh mendahuluiku mendapatkan pekerjaan, hingga menjadi pegawai negeri di salah satu instansi. Sebagaimana prinsipku dahulu yang telah berubah, tetaplah hidup di jalan masing-masing.
Jalan ini membawaku untuk terus bergerak. Hasil begadangku ternyata berhasil. Usahaku terus berkembang dan kerjaku hanyalah naik-turun gunung bersama Redi, sang ketua Mapala selanjutnya di kampus. Cabang telah terbuka dua buah, dan salah satunya sangat berkembang dengan pesat oleh konsumen. Mawar sempat memberikan investasi dalam pengembangan cabang, tetapi ditarik kembali karena ia harus cepat-cepat lulus kuliah di luar negeri, dan membuka usaha kopinya sendiri.
Bodoh sekali anak itu karena tidak ingin menjadi seorang dosen. Ia malah ingin menjadi pengusaha kopi. Baginya, ilmu itu tak perlu menjadi sebuah profesi. Yang terpenting dari sebuah ilmu ialah sejauh mana itu merubah pola pemikiranmu dan pola kehidupanmu di atas dunia ini. Meskipun begitu, ia juga tertarik membuka klinik Psikolog sendiri.
Kini, aku berkesempatan untuk berkunjung ke rumah Mawar. Ia baru saja pulang dari Jerman karena sekarang adalah masa liburan semester. Ia tak ingin tinggal di kampung halaman karen tidak terlalu banyak yang bisa dilihat. Sementara itu, kakaknya berkuliah doktoral di Malaysia sehingga rumah ini kosong.
“Hmmm ... tulisan lo juga bagus.” Ia membolak-balikkan salah satu buku yang aku tulis dan mampu terbit di media mayor.
“Sayangnya ini tentang wanita itu.”
Aku terkejut Mawar menyampakkan buku itu ke hadapanku hingga bergeser di lantai balkon. “Lo tahu perjuangan gue nulis buku itu dan nerbitinnya di penerbit? Lalu lo ngebuangnya begitu saja.”
“Itu tulisan sampah karena berasal dari sampah.” Ia bersandar di besi pembatas.
“Apa di Jerman mengajarkan orang untuk berkata kasar?” sindirku.
“Apa kehidupan di sini mengantarkan lo jadi seorang pecandu?”
Aku tersentak oleh kalimat itu. Bibirku langsung menarik lintingan mariyuana yang aku hisap sebegitu nikmatnya hingga mataku terkulai lemas. Sangat berat di tahun pertama kehilangan wanita itu, hingga aku memutuskan menjadi seorang pecandu. Dua tahun menjadi pecandu, mengantarkan diriku menjadi orang yang begitu kreatif. Hey, bagaimana menjadi kreatif dari sebatang mariyuana? Tapi jujur, aku mendapatkan banyak inspirasi dari sana meskipun diriku rusak sama sekali.
“Gaya bicara lo kaya gue kenal,” ucapku sembari meletakkan lintingan mariyuana di atas lantai. “Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan.”
“Berhentilah, Dave ....” Mawar mendekat padaku. “Dua tahun gue enggak di sini, sekalinya ke sini lo malah jadi begini?!”
“Gue terlalu banyak pikiran, Mawar. Reira sudah hilang, lo enggak ada, Candra sudah sibuk dengan kehidupan sendiri, Dika pindah rumah dengan keluarga barunya. Gue kesepian tanpa siapa-siapa.”
“Tapi, bukan menjadi pembenaran buat lo jadi kaya gini, kan?!” Wajahnya tampak berang padaku. Aku bahkan tak berani menatap wajahnya yang merah itu. “Lo lihat seberapa banyak orang yang karirnya rusak gara-gara benda bodoh ini! Lo lagi di puncak-puncaknya! Usaha lo lagi bagus dan berkembang, tulisan-tulisan lo udah banyak jadi buku, dan buku ini buktinya! Buku yang menceritakan Reira!”
“Maafkan gue ... gue tetap salah.. Tapi, mau bagaimana lagi? Semuanya terjadi begitu saja.”
Mawar mendekat perlahan ke hadapanku. Ia menyingsingkan daster itu ke bawah, beserta tali temali dalam yang membungkus tubuh indahnya itu. Dari mataku yang lemah menatapnya, tergambarkan anugerah Tuhan yang menunjukkan keindahan pada kanvas berupa sosok perempuan. Kemolekan yang tiada banding dari mata yang jujur ini. Seputih susu dengan dua lingkaran hitam menunggu untuk aku jamahi. Garis bawah yang ia tutup, menanti untuk aku sentuh.
“Akan gue beri lo endorfin jutaan kali dari narkoba.” Ia duduk di atas pangkuanku, lalu menyentuh bibirku dengan mesra.
Aku terhentak ke belakang, lalu perlahan menuntunnya untuk masuk ke perpustakaan pribadinya itu. Tangan yang menutup pintu, seiring dengan mata yang menatap sebuah buku penuh makna itu. Begitu panas bara nafsu yang membakar antara aku dan Mawar, sementara mataku tetap membaca sepenggal nama pada buku yang tergeletak pada lantai luar.
Captain Reira ..., ucapku dalam hati.
Nama itu hanyalah mitos. Kini ia sudah hilang.
“Lupakan Reira, jadilah milik gue,” ucap Mawar.
Kami hanya berbatas tubuh, menjadi satu dalam keringat yang menyucur. Seiring dengan napas berat Mawar yang terunggah di hadapanku dan matanya yang terpejam pasrah, aku pun terbang ke atas langit.
“Baiklah ... jadilah kekasih gue, Mawar.”
Sampaikan rindu ini pada Reira jika kalian bertemu dengannya. Ia sudah berbaik hati menitipkan seorang wanita sebagai penggantinya.
***