Captain Reira

Captain Reira
EPSIODE 77 (S2)



EPSIODE 77 (S2)


Heraklitus ribuan tahun yang lalu pernah mengatakan bahwasanya seekor anjing hanya bisa menggonggongi orang yang tak dikenalinya. Aku berpikir dua kali untuk mencerna kalimat itu dan membuat sebuah kesimpulan yang akan aku hubungkan pada dunia nyata. Aku menjumpai kalimat itu dari salah satu buku filsafat yang dipinjamkan oleh Mawar kepadaku dan aku baca sebelum tidur menanti untuk dimimpikan. Setelah aku bangun, barulah aku sadar contoh itu benar-benar nyata dan ada banyak terjadi di kehidupan ini. Pada saat itu, dengan sayup mataku yang menatap jam pukul sepuluh pagi dan hati yang gundah akibat masalah proposal penelitian, aku sejenak terduduk di tepi ranjang untuk hal itu.


Seekor anjing tidak akan menggonggongi orang yang dikenalinya, namun akan menyalak ketika bertemu dengan orang baru. Psikologis hewan teritorial memang seperti itu, setiap makhluk baru yang datang akan dianggap sebagai ancaman baik dirinya maupun sang majikan. Namun, apakah sebenarnya arti dari kalimat itu? Aku menyadari bahwasanya ada banyak orang yang menghina sesuatu, tetapi ia sama sekali tidak pernah mengetahui apa latar belakang dari apa yang sedang ia benci tersebut. Betapa banyak orang yang menghina seseorang, tetapi ia tidak pernah mengenali orang tersebut dengan keseluruhan. Manusia hanya pandai melihat cover luar, tanpa ingin melihat lembar demi lembar isi dalamnya.


Bangsa ini telah krisis untuk mengenali hal luar-dalam yang sudah menjadi konsumsi publik, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ia lihat. Kebanyakan orang terjebak di dalam kemalasan kognitif, tidak ingin berpikir lanjut, hanya membaca dari luar.


Media semakin bodoh saja aku lihat, namun tak sepenuhnya salah. Media memberikan baris judul utama yang menjebak pembaca, bodohnya pembaca malah tidak ingin membaca sepenuhnya. Mereka malas berpikir dua kali, hanya puas untuk membaca sekali saja. Tak heran bangsa ini terkatung di masalah fanatik buta kiri dan kanan.


Aku marah ketika seseorang menghina pemimpin hanya dari satu wacana berita. Mereka hanya marah dari baris pertama media, tidak ingin mencari jalan lain untuk mendapatkan informasi yang cukup. Itulah anjing-anjing yang menggonggong itu, ia hanya menyalak kepada yang tidak diketahuinya. Aku juga kesal dengan seseorang yang membela pemimpin sebegitu matinya, seakan tidak ada celah untuk disalahkan. Ia hanya melihat dari luarnya saja, padahal tetap akan ada hitam di permukaan putih sekali pun.


Begitu juga dengan masalah fanatis beragama di negeri ini. Aku pernah ingin dimasukkan ke neraka oleh seorang bapak-bapak berpakaian jubah, hanya karena aku bermain gitar di hadapan rumahku. Aku rasa ia yang memiliki neraka dan ia mungkin saja Tuhan. Bisa-bisanya ia yang memasukkan aku ke neraka, walaupun aku yakin bahwasanya aku tetap akan menyelam ke neraka terlebih dahulu.


Tidak hanya itu, teman-temanku juga pernah membercandai seorang wanita bercadar. Aku tidak tahu persepsi apa yang timbul di pikiran mereka. Aku hanya bisa kesal di dalam hati, bagaimana bisa menilai seseorang hanya dari penampilan luar dan cadar juga bukan hal yang buruk. Hanya saja, persepsi masyarakat terlalu liar untuk mengangga hal seperti itu bagian dari radikalisme. Bodoh sekali radikalisme dianggap sebagai ekstrimisme, padahal radikal merupakan pemikiran yang mengakar. Jika seseorang tidak radikal dalam beragama, maka ia tidak memiliki pikiran yang berakar kepada agama. Setiap orang beragama harus radikal terhadap agamanya sendiri. Yang tidak boleh yaitu diskriminasi yang dikarenakan pemikiran ekstrim yang negatif.


Hmm ... terkadanga aku naif juga berpendapat seperti ini. Aku masih berlumuran dosa. Setidaknya aku masih ber-Tuhan. Hati-hati dalam menginterpretasi pendapatku ini. Itulah yang aku sarankan untuk membaca dua kali, tidak hanya sekali lewat.


Berbicara tentang anjing menggonggong, aku juga bisa berpendapat mengenai kucing mengeong. Kucing akan mengeongi siapa saja orang yang dikenali, walaupun tidak kenal sekali pun. Salah satunya ialah anak-anak SMA yang menganggap dunia perkuliahan adalah surga untuk kebebasan. Mereka berpikir bahwasanya waktu kuliah adalah tempat untuk bersenang-senang, berpakaian bebas, memiliki kisah cinta yang mengasyikkan, serta waktu luang yang sangat banyak.


Asal kalian tahu, ada banyak mahasiswa yang berkelahi dikarenakan mulai adanya rasa ingin menang sendiri, meninggalkan teman, menjatuhkan lawan, mencari muka, dan lain-lain. Jika kalian berpendapat masa kuliah adalah masa untuk bersenang-senang, tiada hari bagiku untuk senang memikirkan tugas akhir. Kini revisian bertumpuk di meja belajarku, menunggu untuk diperbaiki dan dikonsultasikan kembali. Selain itu, teman-teman yang sudah melangkah jauh ke depan menjadi tekanan tersendiri bagiku.


Hari ini aku sibuk memperbaiki coretan proposal dari dosen-dosen bertangan kasar dengan pena merahnya. Sementara itu, mataku sudah lelah karena sedari siang hingga malam ini aku terkatung di depan laptop. Tulisanku mengenai wanita laut pun terpaksa disampingkan terlebih dahulu. Dika semakin hari semakin menjadi budak cinta saja, anak itu menganggu waktu konsentrasiku. Ia tidak sabar menunggu Kakek Syarif pulang dari Banjarmasin untuk membantunya melamar anak Pak RT. Kakek Syarif sedang melaut ke sana dan berkata akan pulang beberapa hari lagi. Ia sudah pergi semenjak seminggu yang lalu dan Dika tiada henti menanyakan hal itu.


Konsentrasiku pun semakin buyar ketika ketukan pintu yang sangat keras menggema hingga ke kamarku. Segera aku tutup laptop yang memusingkan itu dan melangkah ke bawah. Aku dapati Reira dengan gaya santainya bertegak pinggang di muka pintu. Sudah beberapa hari kami tidak bertemu karena ia melarangku untuk menemuinya. Selalu saja seperti itu ketika ia ingin fokus menyelesaikan skripsi. Ya benar, kami sama-sama sibuk kali ini.


“Lo ngegedor pintu gue kaya udah kaya sipir penjara,” ucapku.


“Bagaimana dengan bisnis lo?” tanyaku. “Lo ingat semua ilmu yang diajarkan Mawar untuk membuat minuman, kan?”


Cafe kecil-kecilan yang sedang aku rintis hampir sembilan puluh persen selesai. Seluruh barang sudah dimasukkan ke dalam container dan menunggu untuk diresmikan saja. Rencananya dua atau tiga hari lagi cafe tersebut akan dibuka. Mawar sudah mengajariku untuk meracik kopi dan memasak makanan. Aku rasa wanita itu saja yang meracik kopi, biarkan aku yang memasak. Kopi harus diracik oleh ahlinya.


“Gue ingat, cuma kopi saja yang feeling-nya belum dapet sempurna. Kayanya Mawar aja deh yang megang sebagai barista, gue nge-handle kompor aja.”


Ia mengangguk. “Oke, syukurlah.”


“Baru keluar dari goa?” tanyaku.


“Hahah ... lo rindu gue?” Nadanya sedikit rendah dari yang tadi. “Apa yang sedang lo kerjakan?”


“Gue tahu lo tiba-tiba ke sini bukan buat nanyain itu. Pasti ada yang lain, selalu begitu.” Aku menarik tangannya untuk duduk di kursi. “Gue sibuk revisian proposal. Candra minggu depan udah seminar proposal aja. Sibuk-sibuk begitu, dia gercep juga.”


Asal kau tahu, Kawan. Kalimat darinya yang seperti ini selalu membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan revisian.


“Jadi, bagaimana skripsi lo?” tanyaku.


“Rahasia ... itu rahasia. Tunggu aja berita gue udah daftar buat wisuda.”


“Apa lo enggak ingin gue datangi waktu seminar hasil dengan vespa penuh bunga dan coklat?”


Reira tertawa keras mendengarkanku. Sudah budaya di setiap kampus aku rasa para mahasiswa memberikan bunga dan coklat sebagai tanda selamat kepada teman-teman yang sudah menyelesaikan sebuah sidang.


“Hahaha ... kalau lo berharap gue tipe mahasiswa seperti itu, berarti lo salah. Gue enggak butuh bunga dan coklat untuk itu. Bunga dan coklat bukan tanda orang menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Orang yang berkuliah dengan baik itu tandanya dia punya pemikiran maju, bukan bunga dan coklat.”


“Gue benar-benar berbicara dengan Reira sekarang,” pujiku.


“Ya ... kadang gue ketawa aja ngelihatnya.” Ia menoleh padaku. “Ikut gue ke suatu tempat sekarang.”


Benar sekali, ia datang pasti membawa rencana.


“Ke mana?”


“Menghancurkan kapal seseorang.”


“Siapa lagi orang yang lo serang? Gue kira lo hidup bukan untuk mencari lawan,” balasku.


“Seseorang yang selama ini bikin lo penasaran.”


Aku sontak melihat sinis padanya. Apa yang sedang ia ketahui dariku? Aku rasa ia memiliki kemampuan meramal.


“Lo sedang tahu apa tentang gue?” tanyaku lagi.


“Pokoknya lo harus ikut.” Ia berdiri seketika tanpa memberiku kesempatan bertanya lagi.


Diam senyap ia langkahkan kaki untuk masuk ke dalam mobil sedan yang terparkir di depan bengkel Dika. Aku pun mengikutinya tanpa bisa membantah. Setelah meminta izin kepada Dika, aku pun memasuki mobil.


“Namanya Nauren .....”


Kalimat itu menghentak rasa penasaranku. Selama ini ia tahu bahwa aku sedang mengkhawatirkan suatu hal.


***