Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 23 (S3)



Sejatinya manusia mengakui jika mereka merupakan pemuncak ekosistem. Mereka bukan pemangsa, melainkan pengeksploitasi alam. Jika hewan dilengkapi oleh taring dan cakar, atau pun tumbuhan membutuhkan duri dan racun untuk bertahan hidup, maka manusia menggunakan akal dan pemikirannya. Tentu saja manusia bisa menjadi korban oleh hewan-hewan pemangsa bagaimana nenek moyang kita yang masih hidup di alam liar. Namun, perkembangan peradaban telah mengantarkan manusia di atas puncak rantai makanan, yaitu sebagai pengeksploitasi.


Akal dan pikiran manusia menguatkan kemampuan eksploitasi tersebut. Mereka menciptakan berbagai peralatan, membedah hewan-hewan untuk mencari kelemahan, dan meneliti tumbuhan sebagai obat-obatan sebagai cara mereka untuk bertahan. Akhinya, dunia yang bergerak lambat berubah berputar dengan cepat. Tidak ada waktu untuk memperlambat langkah karena akan tertinggal. Manusia menjadi kuat seiring zaman, jauh melebihi makhluk-makhluk eksis lainnya yang sebenarnya jauh lebih kuat secara fisik.


Akan ada suatu titik manusia akan merasakan jika diri mereka lemah. Mungkin manusia bisa mengatakan diri mereka kuat, meskipun secara fisik sangatlah lemah, yaitu dengan alat-alat yang bisa menyerang maupun bertahan. Kemampuan pikiran bisa mengalahkan apa pun. Namun, mereka lupa awal bagaimana mereka tercipta. Satu titik terpusat yang menjadi awal dari segalanya, lalu berkembang menjadi semua hal besar yang terjadi saat ini, yaitu cinta.


Kita terlahir oleh cinta, mati pun diperuntukkan kepada cinta. Hidup berlangsung dalam kasih sayang dan ruang lingkup cinta, tunduk pun karena dipengaruhi oleh cinta. Manusia sangat lemah akan hal tersebut. David mengatakan kepadaku butuh beribu-ribu tahun peradaban tokoh-tokoh pemikir untuk mendefinisikan cinta. Hingga sampai pada satu titik di mana cinta tida perlu didefenisikan, karena ia sumber dari segala defenisi. Sebagaimana Tuhan, Tuhan tidak mampu didefenisikan karena Tuhan awal dari segala defenisi.


Aku terpaku dalam rengkuh rindu yang menyinari hatiku tatkala malam jatuh di ujung bulan. Bintang tertawa padaku, mengapa aku jadi begini, lemah dan tidak terkendalikan secara emosional. Badai mampu aku bendung, petir mampu aku tatap, serta angin berani aku lawan. Namun, dirinya … hantu dari masa lalu itu selalu mengikutiku dari belakang. Ia terang benderang bersembunyi dari balik pohon-pohon kenangan, menyeringai memintaku untuk kembali. Aku berlari, aku menangis mencari perlindungan. Namun, aku hanya menemukan dinding pembatas yang harus aku lewati sebegitu menjulang tingginya.


“Kamu mikirin apa?” tanya Semara tatkala pesawat baru saja berada di tepi Pulau Jawa. Lautan Selat Bali telah kami lewati.


“Enggak ada … bulan sekarang sedang purnama ….”


Ia melihat ke luar. “Iya, sedang purnama. Bulat banget. Ternyata seperti ini bulan kalau kita lagi ada di ketinggian.”


“Kamu tahu, kalau bulan itu terbuat dari keju?”


Aku mengulangi candaanku bersama David. Pria itu terlalu kaku, padahal saat itu aku sedang bercanda. Entah kenapa pemikiranku mengenai bulan sampai kepada adegan film Tom and Jerry, Jerry pada saat itu memakan bulan yang terbuat dari keju.


“Mana ada bulan terbuat dari keju. Memang aku cuma sekolah sampai SMP, tapi aku tahu kalau bulan itu hampir sama tanahnya kaya bumi.”


“Wow, aku malah enggak tahu tentang itu. Aku tahunya kalau bulan terbuat dari keju.”


“Kamu ndak waras, Reira. Heheh ….” Ia tertawa.


“Semua orang pasti enggak waras. Kalau waras, kita mana bisa terbang hari ini. Bayangkan aja, besi sebesar pesawat bisa terbang melayang dengan cepat. Kamu pikirin aja,” balasku.


Ia mengalihkan pandangan untuk berpikir. Tampak kepalanya mengangguk. “Iya juga, aku rasa.”


Aku beruntung memiliki Semara. Dirinya wanita lembut, meskipun dari masa lalu yang buruk. Wajahnya manis, tidak putih, seperti kulit Dian Sastro, rambutnya pun hampir sama dengan beliau. Tidak heran kenapa ia sukses di dunia malam, Semara merupakan wanita yang cantik dan menarik. Sedikit persiapan untuk dirinya pergi, kami hanya mengangkut barang-barang pribadi dan meninggalkan perabotan kos yang merupakan properti ibu kos. Aku membayar uang sewa untuk bulan ini, ia berterima kasih untuk itu. Ia sempat meminta jika ia akan mengirimkan motornya ke lokasi Kapal Leon berada, namun aku tidak punya tempat menetap yang tetap. Oleh karena itu, kami menjual motor itu dengan murah kepada bule-bule yang membutuhkannya.


Yang lebih membuatku beruntung, ia mau meninggalkan semua yang sudah ia kerjakan selama ini. Aku menyelamatkan bagaimana aku menyelamatkan orang lain. David aku selamatkan dari patah hati, Mawar aku bawa agar ia mampu mengenal dunia lebih luas, Razel aku tarik di sisiku agar ia tidak lagi diserepet oleh mulut bapaknya, serta Borneo ingin ikut denganku agar ia bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Sudah aku bilang, Kapal Leon berisikan orang-orang yang patah hati. Setiap kayunya berasal dari decitan langkah orang-orang yang menyerah. Mereka menyerah terhadap dunia, lalu pasrah untuk menentang dunia itu sendiri.


Pukul sembilan malam kami tiba di Ibu Kota. Akan ada tempat yang ingin aku kunjungi di sana, sekaligus memperkenalkan Semara tempat kerja barunya nanti. Aku sudah berjanji untuknya demi itu. Tentu saja tidak ada satu pun orang yang tahu jika aku sudah berada di Jakarta. Aku pun menelepon Alfian agar segera menjemputku. Pria itu baru saja pulang kerja dari rumah sakit. Ia tampak tidak berbunyi selama di mobil, mungkin saja masih kaget kenapa aku tiba-tiba ada setelah sekian lama menghilang. Mendengar keluhanku yang lapar, kami makan di warung pecel lele pinggiran jalan.


“Aku Alfian, perkenalkan,” sapa Alfian kepada Semara tatkala kami duduk di meja pecel lele.


“Semara, senang berkenalan dengan kamu,” balas Semara dengan lembut.


Aku merangkul Semara. “Dia ini teman masa kecil aku. Karena dia pintar, sekarang dia jadi dokter. Aku yang bodoh, malah jadi gelandangan seperti ini.”


“Oh ya? Kerjaan yang bagus, Alfian,” puji Semara.


Alfian mencibir padaku. “Gelandangan dijemput dengan mobil camry, apa ada? Ngomong-ngomong, ini sudah sekitar hampir tiga bulan setelah lo pergi. Selama ini lo ke mana?”


“Itu bukan urusan lo. Itu urusan kami. Urusan lo ialah mengurusi yayasan dan memastikan jika gue enggak tercium.”


“Lo enggak berubah sama sekali. Yayasan sudah punya donatur tetap. Rekan-rekan papa gue banyak bergabung. Kak Reina juga punya rekan-rekan perusahaan yang mau berpartisipasi. Pokoknya, kita udah bisa mulai bangun sekolah itu bulan depan, sekaligus kita menyewa tempat untuk kantor yayasan sebelum ada bangunan tetap.”


“Itulah kenapa gue membawa lo Alfian. Lo bekerja dengan cepat. Kabar anak-anak di gedung itu bagaimana?” tanyaku. Sungguh rindu sekali dengan tawa mereka yang menggemaskan. Aku harap mereka makan yang teratur, meskipun aku tidak melarang mereka untuk terus mengamen dan memulung.


“Mereka masih di gedung itu, masih main-main. Mawar rutin bersama gue ke sana setiap hari kami.”


“Mawar ya …” Aku hening sejenak memikirkan sepenggal nama tersebut. “David?”


“Gue benci dengan cowok itu. Gue dengar dia sekarang jadi candu ganja. Mawar cerita sama gue ….”


Aku mengepalkan tangan mendengar hal tersebut. Sudah aku bilang berkali-kali jika ia itu lemah dan tidak konsisten. Aku tidak tahu bagaimana peran Dika membimbingnya. Sekarang, ia malah mengikuti jejak Rio yang meninggal pun berkat HIV dari narkoba jenis suntik. Ingin sekali aku bolongkan kakinya dengan peluru agar ia sadar jika yang sedang ia lakukan itu salah.


“Lo boleh ngelakuin apa aja dengan dia karena dia bukan urusan gue ….”


“Gue udah ngelakuinnya sejak dulu jika gue mau. Tapi, gue enggak bisa ngelihat Mawar kecewa sama gue.” Ia menunduk sesaat. “Lo tahu sendiri kalau Mawar itu cinta sama David. Dia sama sekali enggak pernah memandang gue sebagai orang  yang spesial.”


“Dia begitu karena lo, Rei. Dia berada di titik paling bawah sekarang. Lo enggak bisa berpendapat seegois itu ….”


Helaan napasku bertambah berat. Memang benar, di balik aku membuat senyum bagi orang banyak, aku pun turut membuat mereka bersedih sekarang.


“Enggak ada pilihan lain, gue harus ada di jalan gue. Itulah kenapa gue memberikan tugas kepada Mawar biar dia selalu ada buat David. Dan untuk itu, gue minta maaf sama lo. Mawar gue rancang memang bukan untuk elo, Alfian. Gue mengenal dia, sebelum dia mengenal elo.”


“Ah … jangan bikin gue memikirkan itu lagi. Yang terpenting buat sekarang ialah, lo harus tetap  beri kabar ke gue kalau elo baik-baik aja. Gue khawatir sama lo yang enggak ada kabar.”


“Selagi laut itu masih berombat, gue bakalan tetap baik-baik saja. Terima kasih karena udah mengkhawatirkan gue,” pungkasku.


Makan yang usai, mengantarkanku untuk pergi melihat beberapa tempat dari kejauhan. Pertam ialah rumah Papa yang selalu terjaga rapat oleh security. Lampunya redup di bagian samping dan selalu aku keluhkan karena takut ada maling masuk. Seperti biasa, security pemalas itu selalu saja duduk di pos jaga sembari nonton bola malam. Jika ada yang masuk, ia sudah hilang akal.


Tidak lupa aku meminta Alfian untuk pergi ke kawasan kampus. Ada sebuah tempat yang pernah membuat awal dari David bangkil kembali, yaitu café rintisannya dari awal. Café itu ramai sekali dengan mahasiswa yang menginginkan tongkrongan murah dan sangat memahasiswakan. Kami jauh di seberang memarkirkan mobil untuk sementara. Mataku mengintip dari balik kaca mobil yang bertitik-titik embun malam.


Tatkala mataku tertuju kepada seseorang di meja barista, hatiku sungguh bergetar hebat. Seakan ribuan volt impuls listrik sedang menjalar untuk memberikan tekanan bertubi-tubi. Tanganku mati rasa memegang gagang pintu mobil. Aku berada di antara ingin membuka pintu itu untuk mengejar rengkuh dari pria pecandu ganja itu atau segera pergi dari sini karena ia sedang berbincang ria dengan Mawar. Senyum mereka menyimpulkan sesuatu, aku sungguh jauh dari tepian untuk melambai, tidak akan terdengar.


“Tenang, ini mobil Papa. Mereka enggak kenal dengan mobil ini ….”


“Enggak peduli mereka kenal mobil itu, yang jadi masalah ialah gue yang kenal sama mereka,” balasku.


Alfian menoleh ke arah café. “Pemandangan hal yang biasa untuk gue. Ya … gue harus bagaimana? Mungkin orang itu saling mencinta selama ini.”


“Gue juga beranggap seperti itu,” balasku singkat.


“Tapi mereka enggak pacaran, kok. Itu yang bikin gue senang ….”


“Pacaran atau enggaknya, itu terjadi cepat atau lambat, atau bisa lebih dari itu … mungkin menikah.”


“Kalimat lo sungguh menyakitkan ….. Tapi, Mawar udah dapat beasiswa ke Jerman. Mungkin dua atau tiga tahun lagi dia bisa balik lagi ke Indonesia. “


Mendenga hal tersebut, ternyata membuatku tercengang. Setahuku, Mawar tidak ingin berkuliah lagi. Mawar merupakan wanita tercerdas di Fakultas Psikologi yang hanya bercita-cita menjadi seorang pemilik warung kopi sederhana seperti orangtua perempuannya. Aku tidak paham dengan pemikiran orang-orang jenius, aku hanya paham dengan pemikiran orang-orang gila. Atau sebenarnya Mawar juga termasuk orang gila (?)


“Bagus dong, padahal dia dulu nolak buat kuliah lagi dan lebih memilih balik ke kampung bersama ibunya. Sayang banget, lo harus tahu kalau Mawar itu orang paling cerdas se-Fakultas. Kakaknya seorang dosen Psikologi dengan gelar doktoral. Keluarga jenius ….”


“Aku baru tahu kalau itu ….”


Tanganku menepuk tangannya. “Lo ini bagaimana, katanya suka dengan Mawar, tapi enggak tahu dengan informasi seperti ini.”


Aku kembali melihat mereka berdua yang tampak berbahagia. Tidak ada celah untuk diriku menyindir senyuman Mawar yang sangat lebar itu, padahal aku tahu sekali jika Mawar merupakan perempuan yang sulit sekali untuk tersenyum. Namun, kali ini ia lepas bersama David dari remangnya lampu langit-langit café, bercerita satu sama lain tatkala serunya hiburan live musik yang merdu.


Kak Reina sudah aku hubungi, ia berkata sedang di rumah Bunda. Rumah itu satu-satunya property yang tidak dapat dibagi karena begitu banyak kenangan yang terjadi padaku. Sayang sekali rasanya jika dijual, uang akan habis begitu saja, sedangkan kenangan tidak akan pernah hilang.


Erat sekali Kak Reina merengkuh diriku di halaman belakang tatkala kami baru saja sampai. Matanya berkaca-kaca menciumi kedua pipiku selayaknya anak umur lima tahun yang tidak pulang sejak pagi. Ia menyentuh tanganku, lalu memelukku lagi dengan mata berkaca-kaca.  Sekiraku, ia tidak pernah begini sebelumnya. Padahal, aku juga pernah menghilang tiba-tiba dan ia cuek-cuek saja.


“Gue enggak nyari lo.” Aku melepaskan peluknya. “Gue cari Minerva ….”


“Udah mau tiga bulan gue nungguin lo, tapi lo malah nyari Minerva?!” Kak Reina menoleh pada Semara. “Maaf, Semara. Gue sedikit emosional. Anak itu memang gila.”


“Iya, Kak … ndak apa-apa kok,” balasnya.


Aku berjalan ke paling belakang halaman, tepatnya di area kandang ayam. Aku merasa lucu seketika tatkala mengigat David bersusah payah membuay kandang ayam itu bersama Bang Ali. Sekarang terdapat perubahan, di bagian sampingnya telah ditambahkan sepetak area dengan jaring besi sebagai tempat Minerva bermain. Burung hantu betina putih itu tidak akan bosan lagi karena selama ini ia aku letakkan di sangkar kecil. Ia tampak mendekat padaku tatkala sepotong daging aku bawa.


Ia bersuara padaku seperti rintihan kecil. Aku sangat merindukan Minerva. Sayang sekali aku tidak bisa membawanya di perjalanan ini karena ia pasti banyak ditinggalkan.


“Reira …David sedang kacau,” ucap Kak Reina.


“Iya gue tahu … anak itu selalu kacau, bahkan sebelum  gue mengenalnya ….,” balasku dengan santai. Aku terlalu terpaku dengan Minerva.


***