Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 165 (S2)



EPISODE 165 (S2)


Sejak malam itu, kami putuskan untuk tak lagi memedulikan seseorang yang pernah menaruh pedulinya pada kami. Cukup sampai di meja itu ingatan dan kenangan akan kami bicarakan, selebihnya anggap saja tidak ada. Aku menyetujui keputusan itu karena aku tidak ingin kembali terpuruk untuk menunggu sesuatu yang tak pasti. Kepastian itu sudah menjadi ketidakpastian itu sendiri, hingga aku hanya menatap abu-abu di dalam harapan, tidak jelas bentuknya. Kami menyerah untuk selalu mencari wanita itu. Ia bebas melakukan apa saja yang ia mau karena diri merupakan otoritas pribadi.


Jika memang jalan ini dari Tuhan, aku sudah merelakannya untuk terjadi. Jika memang perlu diusahakan, aku telah menyerah untuk mencarinya. Maka, tidak akan ada celah lagi untuk diriku kembali. Ia sudah memutuskan sepihak untuk pergi dan meninggalkan semua yang pernah ia rintis dari awal. Dimulai dari diriku yang diangkat dalam persaudaraan kapalnya itu, Candra, Mawar, Zainab, dan semua orang yang berperan, kini hancur berkat tonggak dasarnya pergi.


Tekadku sudah bulat untuk merelakan. Sudah waktunya bagiku untuk menyelesaikan masalah pribadi yang belum dituntaskan. Proposal penelitianku hampir rampung dan aku ingin wisuda bersama Candra. Cafeku mulai berkembang perlahan, meskipun aku kehilangan orang penting yang sangat aku harapakan untuk kembali lagi. Dika masih membutuhkan tenagaku sebagai pegawai yang tidak digaji olehnya, padahal aku bertugas sebagai tambal ban dan kasir bengkel. Aktifitas harian itu perlahan akan membuatku lupa bahwasanya sudah ada hal besar yang terjadi.


Aku tidak tahu ke mana Mawar, meskipun aku bisa menemuinya langsung di rumah. Hanya saja, aku terlalu canggung untuk memulainya dari awal lagi. Jujur, aku merindukan dirinya dan ingin meminta maaf. Aku waktu itu cukup sulit untuk mengendalikan diri. Kasarnya mulut ini telah melukai hatinya yang tidak tahu apa-apa. Aku tidak cukup bukti untuk menuduhnya karena semua itu berdasarkan asumsi yang tak berdasar. Jahat sekali aku waktu itu, hingga dirinya pun pergi menghindar.


Malam ini hujan petir, padahal esok hari aku berencana untuk jogging di pagi hari. Tak enak rasanya cuaca pagi yang mendung untuk melakukan olahraga. Sehabisnya dari cafe, aku langsung pulang ke dalam rumah. Siklus hidupku memang begitu, tak terlalu memiliki banyak teman untuk disinggahi. Kamar adalah tempat terbaik untuk menyendiri.


Hidungku memebenamkan wajah pada sweater yang tak pernah aku cuci semenjak kepulangan kami. Sweater itu hanya tergantung di dalam lemari tanpa pernah aku pakai kembali. Terciumlah samar-samar wangi tubuh Mawar yang masih bersisa di sana. Jelas teringat wajahnya yang tersenyum padaku ketika di dalam tenda itu, tetapi diriku malah menghinanya.


“Mawar ... maafin gue. Gue butuh lo kembali lagi.” Aku meletakkannya kembali ke dalam lemari.


Tertangkap mataku sebuah kotak plastik yang berisikan ganja sisa yang masih bersisa untuk aku linting beberapa kali lagi. Tak lagi benda itu di dalam buku politik Rio, tetapi aku letak di dalam lemari sendiri karena lebih mudah untuk mengambilnya. Aku tak takut polisi, kecuali aku membeli barang ini dari seseorang. Tidak akan ada yang bisa mengendus satu paket ganja yang sudah bertahun-tahun menetap di rumah ini.


Petir kembali menyambar dari langit. Jendelaku sekeika terang dan mataku terpejam sesaat. Suara bunyi gemuruh hujan begitu memekakkan telinga. Entah ada apa dengan langit malam kali ini, seakan berang dengan penduduk bumi, terutama orang-orang yang sepertiku.


Namun, sebuah suara hentakan benda keras terdengar dari pintu balkon. Suaranya mengalahkan bunyi berang air hujan di atas genting. Aku terdiam sesaat sembari menatap pintu itu dari jauh. Berkali-kali petir menyambar dan menimbulkan cahaya terang, tidak ada bayangan seorang pun di sana seperti yang biasa dilakukan wanita jahat itu. Perlahan aku melangkah ke arah pintu.


Tanganku bergetar sekali tatkala memegang gagang pintu. Suara itu sangat jelas sekali, aku tak sedang berhalusinasi dalam efek tinggi mariuyana. Pintu itu pun berdecit tatkala aku buka dan tidak seorang pun yang ada pada balkon.


Tidak ada seorang pun, tetapi aku melihat sebuah benda terbungkus plastik bening. Botol itu berdiri di atas meja kaca balkon. Sementara itu, tangga tampak menongol di tepi balkon, pertanda seseorang telah mengangatnya. Seketika ingatan itu pun kembali, aku terseret di dalam masa lalu di mana ada pernah seorang wanita yang mengangkat balkon rumah di dini hari. Napasku seketika tidak beraturan, seperti ada hentakan di dalam dada. Mataku menoleh ke bawah, tak ada siapa-siapa yang terlihat, kecuali gerbang pagar yang terbuka kecil.


Reira? Ini benar-benar Reira!


Tak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang berani melakukannya, kecuali Reira. Basah tubuhku mencari sosok orang yang mengantarkan botol ini. Tatkala aku angkat botol itu, terdapat secari surat yang aman tak basah karena terbungku di dalam plasti. Aku suda memastikan bahwasanya ini dari Reira karena botol yang ia kirimkan adalah botol arak Bali. Ia pernah berjanji untuk mencicipinya bersamaku. Sontak aku berlari keluar kamar, menyusuri anak tangga untuk ke bawa, dan sesegera mungkin menembus hujan yang lebat.


Pagar terbuka kecil seukuran wanita dan belum sempat ditutup. Tak ada siapa-siapa di muka rumah, kecuali percikan air hujan di atas jalanan aspal. Air mataku seketika mengalir bercampur dengan hujan yang menetes pada pipi.


Reira, ********! Ke mana lo?!


Aku terus berlari tak tahu arah, berharap akan menemui mobil Reira yang berhenti di tepi jalan. Semakin aku berlari, semakin hancur diriku tenggelam di dalam kenangan. Tak ada aku lihat sedan hitam yang biasa ia pakai. Terus aku tembus hujan yang lebat ini, tanpa ada satu pun ditemukan tanda-tanda kehidupan. Jangankan Reira, sebuah kendaraan pun tidak aku temui saat ini. Aku menelurusi jalanan, kembali tanpa tujuan. Hujan tak aku pedulikan, aku sudah pergi terlampai jauh ... berlari terus menerus ... seperti orang gila tepi jalanan.


Sejauh jarak yang aku langkahkan, selama itu pula aku menangis sepanjang waktu hujan ini. Dini hari tak ada siapa-siapa hingga aku leluasa untuk berteriak memanggil nama Reira. Aku sudah gila, memanggil nama Reira di tempat yang mustahil untuk dirinya berada di sana. Tak lagi aku temukan ketika hampir tiga puluh menit berlari tanpa tujuan di jalanan kota. Napasku yang tak sanggup lagi untuk melangkah, membuatku tertunduk di sini tanpa seorang pun yang melihat. Terlalu dini hari dan hujan berpetir untuk masyarakat keluar rumah.


Dari balik isak tangisku yang bercampur hujan, terpicing mataku oleh cahaya kendaraan yang mulai mendekat dengan cepat. Saking cepatnya, berdecit bunyi ban ketika ia berhenti paksa. Ia bahkan membuat ban mobil naik hingga ke atas trotoar, lalu bunyi pintu terdengar olehku. Mataku masih silai dengan cahaya yang menyinari, tanpa pernah tahu siapa yang sedang mendekat.


“David! Kenapa lo bisa di sini!” Suara perempuan itu terdengar panik tatkala melihatku sedang tidak baik-baik saja. Sungguh, aku sangat jauh dari rumah karena bergerak tanpa henti.


Ia julurkan jaket miliknya di atas kepalaku, lalu menuntunku untuk berjalan memasuki mobil. Pandanganku benar-benar kabur karena lelah. Aku rasa tubuhku akan tumbang apabila sedikit lebih lama lagi berlari di jalan.


Wanita itu kembali masuk ke mobil. Tangannya yang hangat menyentuh wajahku dengan lembut, lalu memelukku begitu erat.


“Udah ... lo aman sama gue ...,” balasnya.


Kenapa ia menolongku? Bukankah dirinya benci kepadaku?


Mawar yang aku rindukan itu datang, tepat di tengah hujan lebat yang mengguyur kota. Entah mengapa ia bisa berpergian di malam yang hujan ini, kecuali untuk tujuan terentu. Ia membawaku pergi menuju rumahnya yang estetik itu karena jarak yang lebih dekat ke sana, lalu kembali menuntunku yang menggigil berat dengan pelan ke dalam rumah.


Aku malah duduk di atas lantai karena tak ingin sofa mahalnya ini basah oleh sampah seperti diriku. Mawar kembali ke sini dengan membawa secangkir teh, hingga dirinya bertanya kenapa aku duduk di bawah sini.


“Lo kenapa duduk di bawah? Di sana tambah dingin ....” Ia membantuku untuk berdiri. “Ini teh hangat ....”


Tubuhku terlampau menggigil. Gigiku bergemeretak hebat, sementara tanganku membeku hingga tak terasa lagi. Di balik handuk yang ia bawakan padaku, tersembunyi tubuhku yang bergetar hingga bibirku tak mampu lagi untuk mengucapkan kata.


“D-d-dingin ba-a-anget ....” Aku memaksa mengucapkan hal tersebut. Cangkir yang aku angkat tak mampu dalam posisi yang baik, bergetar hingga membuat isinya keluar. Mawar yang menuntuk cangkir itu untuk bisa diseruput dengan benar.


“Udah nanti aja bicaranya, lo tenangin diri dulu. Gue udah siapin air hangat di bath up.”


Tak ada pembicaraan sekali pun setelah itu, kecuali dirinya yang mendengar diriku mengigigil hebat. Tangannya terus melekat menggenggam kedua tanganku untuk berharap diriku akan segera tenang. Namun, di sini benar-benar dingin sekali. Tubuhku seakan membeku oleh dingin hujan tadi.


Mawar memastikan bath up sudah terisi penuh, kemudian menuntunku perlahan ke kamar mandi yang dimaksud. Kamar mandi yang hampir sebesar kamarku itu berwangikan jeruk dan terang oleh lampu bercahaya putih. Mawar membuka seluruh pakaianku, terkecuali celana pendek yang aku kenakan. Lalu, dirinya menuntunku untuk masuk ke dalam bath up air hangat. Aku baru merasakan kehangatan yang menghilangkan gemetar di ujung kakiku, lalu menjulur hingga ke ujung leher.


“Lo jangan khawatir karena kakak gue sedang enggak ada di rumah. Hangatin diri dulu di sini, gue keluar dulu. Nanti kita cerita―”


Kalimatnya terhenti ketika aku tahan tangannya untuk pergi.


“Masuklah ke dalam, bukannya lo tadi kena hujan juga gara-gara gue? Lo kedinginan, kan?” tanyaku tak memberikan jeda.


“Tapi kan―”


“Masuklah ... kita cerita di sini,” pungkasku.


Mawar melepaskan tanganku, lalu membuka pakaian atasnya dan celana panjang yang tadi ia pakai. Tinggallah tank top dan short wanita yang membungkus kulitnya. Mawar masuk ke dalam bath up dan duduk memanjangkan kaki ke samping tubuhku. Tampak wajah canggung yang ia tunjukkan, tak seperti liar dirinya di dalam tenda kemah.


“Gue kebetulan pergi keluar rumah karena gue menerima―”


“Menerima surat dari Reira?” tanyaku dengan memotong kalimat Mawar.


Mawar mengangguk pelan. “Gue menerima sepaket buku dan sepucuk surat. Dia ngelempar rumah gue dengan batu.”


“Cara yang sama dengan gue. Dia ngelempar balkon gue dengan batu, lalu gue lihat ada arak Bali di atas meja balkon. Sudah pasti itu dari dia,” balasku.


Ia mendongak kepadaku. “Apa hanya kita yang begitu?”


“Entahlah, kita belum tahu ....” Aku mengangkat bahu.


Perlahan, merubah posisi tubuhnya dan mendekat kepadaku. Tangannya melingkar tepat di lingkar pinggangku, lalu menyandarkan wajah di dada. “Gue rindu sama lo. Jangan pernah begitu lagi sama gue. Itu sakit banget.”


Rambutnya begitu wangi, hingga tanganku menuntun untuk membelainnya. “Iya ... gue minta maaf karena udah kasar sama lo.”


“Apa kita akan mencari Reira?” tanya Mawar.


“Enggak ... hubungan kita dengannya udah berakhir ....”


Ia melepaskan pelukannya padaku, lalu wajah kami saling berhadap-hadapan. Ada sebuah tanda tanya yang tersimpul dari wajah Mawar.


***