
EPISODE 39 (S2)
Harmoni senja dimulai tatkala aku keluar dari mobil di parkiran. Sehabis menikmati sebuah kelapa muda, mereka berangkat kembali ke dalam mobil untuk beristirahat. Ternyata segarnya air kelapa tak terlalu membuat penat hilang, hingga terpaksa menggiring ke dalam mobil untuk tidur. Untung saja parkiran dinaungi oleh teduh pepohonan kelapa, sehingga udara tidak terlalu panas. Reria begitu nyaman tidur dipanggkuan Mawar yang sedang bersandar ke belakang. Di belakang, aku harap Candra dan Razel tidak tidur sembari berpelukan. Hanya aku dan Zainab yang masih terjaga, memerhatikan betapa tenangnya di dalam mobil tanpa perdebatan antara Reira dan Candra.
Seperti yang pernah aku katakan, setiap orang butuh perenungan. Di sana Tuhan menciptaan sekelumit cahaya oranye yang berbercak pada langit-langit yang hendak meredup. Melalui semilir angin yang berhembus, tersimpulkan jika hidup ini sesederhana yang ada, hanya saja manusia itu sendiri yang membuat segala hal menjadi rumit. Oleh karena itu, ingin aku helat langkahku menuju tepi pantai untuk menikmati pemandangan panorama barat. Matahari terbenam menungguku di sana.
“Mau ke mana?” tanya Reira. Padahal matanya tengah tertutup.
“Ke tepian, menyendiri.”
“Ikut,” balasnya singkat.
“Ayo, pasang sendal lo.” Aku menutup pintu mobil.
Belum sampai aku melangkah empat kali, Reira menghidupkan mobil dan membunyikan klakson sekeras-kerasnya. Teriakannya menggelegar di dalam mobil sehingga mobil bergoyang sedikit karena orang-orang di dalam sana terkejut. Aku pun berhenti melangkah dan berbalik arah untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
“Ayo bangun! Senja menanti kita!” Reira keluar dari mobil dan menepuk body mobil berkali-kali. “Kita membangun tenda kali ini.”
“Masih ngantuk!” balas Candra.
“Pulang sana!” jawab Reira dengan menutup pintu.
Tidak ada jawaban selain mengikuti perintah Reira untuk membawa kembali seluruh peralatan ke tepian pantai. Ia menggiring kami ke sisi kanan bagian teluk di mana terdapat beberapa tenda orang yang akan kemah nantinya. Tenda mereka bukanlah tenda rakitan seperti yang akan kami bangun, namun tenda jadi yang bisa bawa ke mana-mana. Sementara itu, kami harus memikirkan cara untuk merakit kemah sendiri. Tentu saja kali ini Reira yang akan menjadi arsiteknya, tidak mungkin Candra itu.
Terdapat lebih dari lima lipat terpal yang tidak aku ketahui ukurannya, selain yang aku beli bersama Mawar pada malam itu. Kayu-kayu pengangga dari rumah Pak Cik diangkut sebelah tangan oleh Razel. Sementara barang-barang komsumsi dibawa oleh para perempuan. Tentu saja kamilah bagian-bagian beratnya. Sebagai pria yang kadang tidak tahu diuntung, malah menggenggam sebuah kopi kalengan, yaitu aku sendiri.
Reira memilih bagian pinggir yang jauh dari keramaian dan para kelompok kemah yang lain. Posisinya sejuk dengan teduh pepohonan bakau dan suara ombak yang beradu dengan tepian. Tangan kecil Reira langsung menancapkan kayu sebagai tiang utama tenda. Beberapa kayu sudah dipotong terlebih dahulu sebelum berangkat, sesuai ukuran yang diperlukan sebagai tiang-tiang penyanggga. Aku dan Candra yang tidak tahu menahu, hanya mengikuti perintah dari Reira. Sementara Razel, cukup aktif tanpa diberitahu sebelumnya. Anak itu memang punya segudang pengalaman tentang hal-hal yang seperti ini. Cocok sekali berduet dengan Reira.
Tenda yang akan kami bangun merupakan tenda empat sisi dengan bentuk terpal mengkerucut di bagian tengah. Beberapa kayu tambahan Reira ambil dari sekitar dengan mematahkan dahan-dahan pohon atau mengambil kayu-kayu yang tergeletak di bawah pepohonan sekitar. Kayu-kayu yang telah ditancapkan ke pasir, kini pasang terpal sebagai dinding dengan ikatan sederhana, tanpa dipaku. Simpul anak pramuka yang diberlakukan oleh Reira aku rasa tidak akan bisa terlepas dengan mudah. Sudah bisa dijamin seperti terpal yang dijadikan peneduh lapak jualan kami di pasar.
Aku tak sempat menikmati kopi kalengan sebagai mana yang aku rencakan sebelumnya, karena aku tak ingin Reira menyampakkanku tiba-tiba ke laut ketika ia sadar aku telang menghilang dari peredaran. Dengan disemangati oleh senyum dua orang wanita manis yang terduduk di sana, kami semakin semangat mengerjakan tugas dari Reira, apalagi Candra yang sedang mencuri pandang kepada Zainab. Perlahan namun pasti, akhirnya dua tenda kemah sederhana yang dirancang oleh arsitek Reira berhasil di bangun. Candra dan Razel langsung berbaring di dalam dengan alas dua lapis terpal yang tebal. Ternyata tenda kemah yang kami bangun cukup lebar juga untuk tiga orang. Buktinya, Candra masih leluasa menggeliat di dalam dengan sepuas hati.
Sementara Candra dan Razel memulai aksi bermain game-nya, aku permisi keluar untuk menikmati senja. Aku lihat Reira dan kedua teman perempuannya di tenda sebelah sedang asyik bercengkerama. Aku pun menyapa mereka ke dalam.
“Gue nyantai dulu keluar. Jangan cari gue,” ucapku.
“Gue ikut!” Reira menarik tanganku dan hampir membuatku jatuh ke tengah-tengah mereka.
“Iya, jangan tarik tangan gue. Nanti gue jatuh di pelukan mereka,” balasku.
“Dasar gatal!” Reira mengapit kedua leherku pada ketiaknya untuk menjauhkan kepalaku dari dalam tenda. Sangat tidak mencerminkan jika ia benar-benar pacarku.
Harap-harap aku menikmati kopi tepat di tepi garis pantai, namun Reira malah mengambil alih arah kapal kecilku. Ia memaksaku untuk mengikutinya memanjat batu-batu besar yang tersusun seperti bukit. Tanpa ragu, ia kembali melanjutkan aksi memanjatnya ke sebuah batu yang lumayan besar, hampir seukuran sebuah rumah petak. Dengan bantuan tangannya yang menjulur padaku, akhirnya kami sampai pada puncak batu.
Ia melebarkan tangannya sejauh mungkin, lalu berteriak sekeras-kerasnya.
“Waah ... inilah hidup yang sebenarnya!” teriak Reira.
“Jangan teriak-teriak, Rei. Orang pada ngelihatin lo,” ucapku.
“Lautan itu simbol dari kebebasan, dan gue merasa bebas di sini.”
Aku memerengkan wajah. “Dan lo sedang di daratan kali ini, di atas batu pula. Batu simbol dari keras kepala, kaya kepala lo yang sekeras batu kalau dibilangin.”
Ia menggesek telapak tangannya pada kepalaku. “Benar juga apa yang lo bilang, hahaha. Kita masih di daratan.”
Jujur, menatap wajahnya mengingatkan aku kembali pada foto polaroid itu. Ingin aku tanyakan, namun aku tak mampu mengucapkannya. Aku pikir hubungan kami tanpa batas dengan jujur satu sama lain, namun ternyata masih ada sekat-sekat yang membatasiku berucap. Salah satu contohnya ialah hal yang seperti ini.
“Rei, lo pernah enggak kepikiran kalau gue ini sedang ada sesuatu yang disembunyikan,” pancingku.
“Pertanyaan macam apa itu.” Ia membuka kopi kalengan milikku, lalu meminumnya untuk pertama kali.
“Iya, gue tanya aja.”
Ia tersenyum pelan. “Setiap manusia ada hal yang harus dirahasiakan tanpa diceritakan dengan orang lain. Itulah ranah privasi. Walaupun kita pacaran, tapi tetap ada ranah-ranah yang enggak sepatutnya dimasuki satu sama lain.”
“Oh, begitu ya ... berarti lo ada yang enggak bisa lo ceritain ke gue?” tanyaku.
“Lo juga, kan?” balas Reira. Wajahnya seakan menantangku untuk beradu jawaban.
Aku terdiam sejenak. Harusnya ia menyetujui pertanyaanku, bukan malah bertanya balik. Namun apalah daya, orang yang sedang aku hadapi ialah Reira.
“Hmm ... ada banyal hal,” balasku singkat sembari menyulut api tembakau.
Tanpa diduga, Reira menjatuhkan kepalanya tepat pada pundakku yang tak berotot. Tanpa ada rasa malu, sebelah tanganku pun ia genggam dengan erat.
“Contohnya?” tanya Reira balik.
“Bukan rahasia lagi kalau gue sebutin.” Aku balas lembut manja sentuhan kepalanya dengan mendekatkan tubuhku. Lalu, kami saling menaruh beban tubuh satu sama lain.
“Ada yang sedang lo risaukan?” tanya Reira.
Aku menghembuskan asap tembakauku jauh-jauh agar tidak menerpa wajah Reira. Angin pun menolongku dengan menyibakkan kepulan asap yang aku keluarkan.
“Entahlah ... kadang gue kepikiran suatu saat lo pasti akan pergi.”
“Iya ... suatu saat gue bakalan pergi. Bukankah semua orang akan mati?”
Aku menepuk dahinya. “Jangan ngomong tentang mati. Pamali tahu!”
“Betul kan apa yang gue bilang? Setiap orang pasti akan pergi, walaupun ia tak akan mati sekali pun. Setiap orang akan terus bergerak.”
“Maksud gue, gue kepikiran bagaimana suatu saat nanti kalau kita berpisah. Kita enggak tahu badai apa yang sedang menanti suatu hari nanti.” Kalimatku tidak lain berkaitan dengan rasa risau yang aku pendam.
Ia menyentuh pipiku. “Lo adalah orang baik. Orang baik pasti akan mendapatkan orang baik juga. Kalau tidak jodoh, mau bagaimana lagi? Kita hanya berusaha dan lo adalah yang terbaik bagi gue.”
“Jangan ninggalin gue.”
Rasa risauku hampir pecah. Mataku berkaca-kaca walaupun masih bisa aku tahanoleh hati yang sudah terbiasa untuk tegar. Hati ini sudah terlalu tebal untuk hal-hal rumit seperti ini. Walauun jatuhnya aliran mata oleh syahdunya susana sudah di ujung, seberusaha mungkin aku menunjukkan jati diri yang selama ini pantang untuk menangisi.
“Enggak ... gue enggak bakalan ninggalin lo.” Reira semakin mempererat genggaman tangannya. “Namun, gue enggak tahu suatu saat gue bakalan pergi, dan lo harus pastikan kalau lo mengejar gue.”
Senyumku melebar sebelah. “Lo pasti udah merencakan sesuatu? Ke mana lagi bakal lo bawa gue? Antartika, kah?”
“Entahlah ... mungkin aja gue menyelam ke Palung Mariana dengan membawa Minerva di kapal.” Kini ia menegakkan kepalanya, lalu menyentuh wajahku dengan kedua tangannya. “Tapi, tenanglah ... selagi lo lihat matahari terbenam, di sana gue masih ada untuk selalu bersama lo. Badai bukanlah hal rumit bagi seorang pelaut. Kita ini semuanya adalah pelaut. Pelaut tidak takut badai.”
“Siap, Kapten―”
Ia mengecup bibirku, walaupun sesingkat seekor kumbang yang aku gaduh ketika sedang bergelantungan pada putik bunga. Kini ia berdiri dengan tatapan angkuh seorang pemimpin. Sinisnya mata seakan menghinaku yang telah ia kecup, lalu ia berbalik diri dengan meninggalkan senyuman.
“Simpan kecupan itu untuk nanti malam. Lo harus berhutang budi dengan gue,” balasnya dengan turun menuju bebatuan di bawa. “Gue paham lo selalu butuh waktu buat menyendiri. Gue permisi dulu.”
“Nanti malam lo ngapain lagi?” tanyaku.
Reira memanjang lehernya untuk melihatku di atas. “Apa lagi kalau bukan hal yang dilakukan oleh sepasang kekasih. Pantai adalah tempat terbaik dan tersunyi yang nyaman untuk melakukannya. Kalau bisa gue menyewa tempat untuk itu.”
“Rei ... jangan macam-macam!” balasku.
“Hahah ... gue bercanda. Dah ... gue mau nge-grooming rambut Candra dengan pasir.”
Ia pergi dibawa angin keinginannya yang selalu mengikuti kata hati. Hilang di telan pemandangan batu, hingga aku tak lagi bisa mencari raut wajahnya dan ranumnya wangi tubuh Reira. Pertemuan senja ini bagaimana perenungan yang menjadi titik terang bagi jawaban itu. Aku sudah memastikan Reira adalah orang yang jujur, bahkan untuk keburukannya sendiri. Tidak ada hal yang harus dirisaukan dan semuanya akan berjalan baik-baik saja. Penguatan hati yang aku lakukan berujung pada pemikiran bahwasanya pria itu bisa jadi hanya sebatas tangan. Hanya satu dalil yang aku gunakan bahwanya Reira berjanji akan terus membersamaiku karena akulah yang terbaik baginya, begitu pula sebaliknya.
Baiklah ...
Aku helat sesi senja selanjutnya dengan menyendiri di puncak batu. Matahari sudah terlalu ranum dengan sekat-sekat jingga yang memancari sinarnya Catatan singkat yang aku tulis melalui note pada handphone ialah momen ini aku rasa bagus untuk dimasukkan ke dalam cerita yang sedang aku tulis. Lagi-lagi Reira turut andil memberikan aku inspirasi.
Matahari terbenam perlahan dengan khidmat. Sebagai penutup, aku hembuskan asap tembakau terakhirku untuk kali ini, lalu beranjak kembali turun ke ke bawa. Cukup sudah perenungan kali ini dan aku juga penasaran apa yang sedang mereka lakukan di sana. Hari mulai gelap, bunyi mesjid terdekat menggema dengan kuat. Sesampainya di sana, tak aku lihat satu pun orang, terutama pada tenda milik para lelaki. Aku pun membuka tirai masuk tenda Reira dan kawan-kawan, hanya satu wajah yang aku dapati, yaitu Mawar yang sedang bermuka terang berkat pencahayaan dari lampu baterai.
“Mereka ke mana?” tanyaku pada Mawar.
“Ke musollah terdekat.” Ia menoleh padaku.
“Oh, iya ... Reira berpesan kalau lo jangan pergi sebelum mereka datang. Hidupkan api karena hari mulai gelap. Kayu bakarnya ada di belakang.”
“Oh, begitu ... baiklah.”
Aku mengambil kayu bakar yang berada di belakang tenda mereka. Tatkala aku mencari tempat untuk membakarnya, ternyata Reira sudah memasang tempat rembusan air berupa susunan kayu tempat menggantung wadah perbus, jadi tinggal membakar kayu bakar di bawahnya. Anak itu memang tidak kehabisan akal untuk hal-hal seperti ini. Entah bagaimana apabila kami kemah tanpa Reira. Tentu saja kami lebih kampungan daripada makhluk primitif yang bisa hidup tanpa penanak nasi.
Menghidupkan kayu bakar tanpa minyak tanah bagiku sesuatu hal yang rumit. Aku harus mengumpulkan dedaunan kering yang jatuh di bawah pohon untuk menjadi bahan penyulut api. Selain itu, berkali-kali aku mencobanya tetapi api tak kunjung membesar. Aku mendecak kesal kenapa api yang aku buat tak kunjung bisa diciptakan.
“Butuh bantuan?” tanya Mawar yang baru saja keluar dari tenda.
“Ya ... gue anak rumahan. Enggak terbiasa yang seperti ini.”
Mawar tersenyum padaku. “Ambilkan gue lebih banyak daun kering sekarang.”
Tanpa menjawab, aku langsung mengambil dedaunan kering yang cukup banyak dan memasukkannya ke dalam plastik kresesk. Tatkala aku kembali, Mawar meminta pemantik api, begitu pula dedaunan kering yang aku bawa.
“Lihat dan pelajari,” ucapnya sembari menyusun kayu bakar yang lebih besar membentuk sebuah kerucut.
Terdengar pula ranting-ranting kecil yang turut ia masukkan ke dalam celah kerucut tersebut, bersamaan dengan dedaunan kecil di tangannya. Tangannya yang kecil masuk ke dalam celah tersebut dan menghidupkan api dari pemantik. Walaupun jemari lembutnya itu tak kunjung berhasil menghidupkan pemantik api, pada percobaan sekian kalinya api dapat dihidupkan dengan sempuna. Menyemburlah asap dari bakaran dedaunan kecil dan ranting-ranting yang ia patahkan. Tanpa diduga kepalanya menunduk sembari menghembus-hembus ke dalam sana. Api pun semakin membesar ketika ia melakukan hal itu, ditambah lagi dengan dedaunan kecil yang kembali ia masukkan perlahan. Alhasil, api menyulut batang kayu bakar yang ia susun perlahan. Api berhasil dihidupkan oleh Mawar.
Mawar tersenyum. “Lo harus belajar untuk jadi anak rumahan seperti gue.”
Ternyata, aku pun kalah pandai daripada Mawar untuk hal seperti ini.
***