
EPISODE 112 (S2)
Berkumandang panggilan ibadah subuh samar-samar dari kampung sebelah. Aku terjaga dari tidur dangkalku dengan posisi duduk seperti ini. Seketika kakiku kesemutan tatkala digerakkan sedikit saja. Kepala Reira telah menghentikan aliran darah di kakiku. Aku pun menepuk dengan lembut wajah Reira agar segera bangkit dari tidurnya. Aku ingin meluruskan kakiku yang kebas tak terasa.
“Aduh, kaki gue kemutan!” rintihku padanya.
Reira mengucek matanya. Ia pandangi diriku yang terbaring sembari memegangi kaki.
“Ayo kita balik ke villa. Udah adzan subuh.” Reira berdiri tanpa peduli sedikit pun.
Aku pun tak berharap lebih dengan responnya yang lebih perhatian ketika keadaanku seperti ini. Selagi aku tak sedang di masalah besar yang akan merenggut nyawaku, ia akan tetap bersikap seperti biasa. Bahkan, Reira sempat menepuk kakiku yang kesemutan hingga sensasinya semakin menjadi-jadi. Aku masih bertahan di atas batu untuk meredakan sensasi yang kini masih terasa pada kaki. Sementara itu, Reira memberesi barang-barang untuk dimasukkan kembali ke dalam tas.
“Tunggu gue!” tegasku. Reira malah berjalan duluan. Aku tidak ingin sendirian menembus hutan itu.
Tangannya memberikan aku senter kepala untuk dikenakan kembali. Dengan berjalan satu kaki, aku meloncat-loncat mengikuti langkahnya dari belakang. Alien betina itu tak sedikit pun menoleh ke belakang, melihatku bertingkah seperti ini. Aku rasa, binatang dan hantu di dalam semak pun merasa aneh melihatku yang seperti ini. Mereka saling bertanya-tanya satu sama lain mengapa ada manusia bodoh di sini dan menjadikannya bahan lelucon ketika di tongkrongan nanti.
Sampailah kami di depan gerbang. Pak Dadang membukakannya untuk kami. Ia ternyata tahu kami pergi ke mana karena menanyakan bagaimana jalan setapak yang kami lalui. Beliau sudah lama tidak ke sungai itu dan tidak tahu bagaimana bentuk jalan setapak itu. Sesampainya di dalam villa, Reira langsung masuk ke dalam kamar Mawar.
Entah ia menjalani ibadah atau tidak, aku pun tidak ingin menanyainya. Ia sudah dewasa dan tahu tanggung jawab. Sementara itu, aku pergi ke kamar mandi untuk bersuci diri dan beribadah setelah itu. Tidak ada jawaban lain setelah ibadah subuh, selain kembali melanjutkan tidur yang singkat itu.
Aku memang hamba yang bebal. Perintah untuk bertebaran di muka bumi pun tak aku iyakan. Tidur ternyata lebih menarik. Namun, tidak ada apa pun yang bisa aku lakukan selain itu. Tubuhku dingin sekali, tidak mungkin aku keluar dan menyuntuk. Berselimutlah aku di atas ranjang sebanyak dua lapis. Dingin sekali di sini!
Sekitar pukul tujuh pagi, Reira menarik kakiku dengan kuat. Tegasnya perintahku untuk bangun akhirnya memaksa mataku terbuka. Celang mataku lemah menatapnya yang tengah mengikat rambut di samping ranjang. Ucapan selamat pagi dari Reira dengan lembut memasuki pendengaranku. Ia memintaku untuk ke gazebo halaman belakang karena Mawar sudah memasak sarapan untuk kami. Tak mungkin aku tunda, perutku juga terasa lapar saat ini.
Harum sekali mereka berdua ini. Aku berkali-kali menarik napas panjang untuk menikmati semberbak wangi tubuh mereka. Padahal, ini baru pukul tujuh, terlalu pagi untuk membersihkan diri bagi orang-orang sepertiku. Wajah mereka berseri-seri menikmati cahaya pagi di bawah pemandangan bukit yang rimbun. Sementara itu,wajahku kusut belum mencuci muka.
“Muka lo kaya orang baru kalah judi,” sindir Reira.
Aku menatap datar padanya. Sementara itu, Reira melakukan senam kecil-kecil di rerumputan. Malah Mawar yang mengambil sarapan untukku.
“Gue baru tidur nyenyak dua setengah jam,” balasku.
“Apa bedanya kita?” tanya balik Reira.
Tidak ada waktu untuk berdebat. Kini aku dan Mawar menikmati sarapan berdua tanpa Reira yang masih berolahraga kecil. Dirinya push up, meloncat-loncat, dan meregangkan otot sembari menikmati lagi pada headset nirkabel miliknya. Selesai ia puas dari keasyikannya tersebut, barulah Reira melangkah kembali ke sini.
“Pagi itu olahraga kecil dulu, baru sarapan. Gue akhir-akhir ini nerapin pola hidup sehat,” ajar Reira pada kami berdua. Dirinya duduk bersila sembari mengambil piring sarapan. Baik sekali hati Mawar yang merebut piring tersebut dan menyendokkan nasi goreng buatannya itu ke piring Reira.
Aku tertawa di dalam hati. “Apakah tidur di jam tiga adalah pola hidup sehat?”
“Apakah merokok adalah hidup sehat?” tanya balik Reira untuk menyela sanggahanku.
“Eh, kan gue enggak ada bilang kalau gue nerapin pola hidup sehat,” balasku.
Mawar hanya bisa tertawa kecil mendengar kami berdua berdebat.
Mawar memandang aneh. “Lah, kok gue, sih?”
Alis mata Reira naik keduanya. “Ya, kan gue cuma bilang aja. Tapi, gue sedih lo ... soalnya Bang Ali bakalan pindah ke Sumatera. Dia udah pasti kerja di perusahaan sawit gara-gara ada sanak saudaranya di sana.”
“Wah, ada apa dengan Mawar dan Bang Ali?” pancingku untuk menggugah insting gibah seorang Reira.
Wajah Mawar sontak memerah. Wajahnya terlalu putih, sehingga merah sedikit saja sudah kelihatan. Selalu saja seperti itu ketika ia malu. “Ih! Itu bualan Reira aja!”
“Nah, kan dia malu,” bisik Reira padaku.
“Enggak ada!” tegas Mawar, meskipun ia masih berusaha untuk tersenyum.
Reira memeluk kepala Mawar. “Enggak, kok ... gue canda, doang. Mana mau Bang Ali sama lo, eh kebalik ya. Hahaha ... lo cantik banget sih kalau malu begini.”
“Ya ... kan enggak tahu juga, kan?” pancingku kembali.
Mawar memelas kepada Reira. “David ngeselin!”
Sontak mata Reira menatap sinis padaku. Timbullah jiwa-jiwa protektif dari Reira yang aku tahu ia sengajakan. Seakan menjadi kakak dari Mawar, ia mengepalkan tangan padaku. Aku merespon dengan tersenyum licik.
“Nanti gue yang nyetir, terus biar gue yang nyampakin dia di jalan tol,” ancam Reira.
“Gue bakal bikin aliansi bajak laut baru dan nyerang kapal kalian,” tantangku balik.
Reira mengangguk. “Lakukan aja, kayanya seru, nih. Gue punya keris ajaib yang tiba-tiba aja bisa masuk di tubuh kalian. Hahahah ....”
Ada-ada saja anak itu. Bisa-bisanya menggunakan keris peninggalan kakeknya untuk menyerang aliansi bajak laut baruku nanti. Ya, begitulah imajinasi Reira yang luas. Menjadi lawan bicaranya terkadang harus mengikuti alur pikirannya yang gila. Tidak ada pola lurus yang akan ia bawa pada kami, sengaja ia arungi lautan imajinasi itu agar kami terus berpikir mengenai dirinya. Aku rasa itu pula yang menjiwai Reira untuk terus mendominasi. Tanpa pun ia memaksa untuk memengaruhi, kami sendiri yang ingin ikut dengannya.
“Setelah ini kita pulang,” ucapnya setelah menyelesaikan sarapan. “Gue yang nyetir.”
“Hmm ... bentar banget, ya. Padahal di sini seru,” balas Mawar.
“Lo sedih gara-gara meninggalkan tempat alami ini, atau tak lagi bersama seorang pria sepertinya?”
Sontak wajah Mawar padam mendengar kalimat Reira yang berintonasi sedikit serius. Aku terkejut tatkala ia mengatakan hal tersebut.
“Hahah ... gue bercanda. Lagi pula ini rencana gue.” Reira berdiri untuk membantu Mawar yang bergegas mengangkat piring-piring.
Aku berjalan melangkah di belakang dua orang wanita yang tengah berbincang itu. Kalimatnya tak seperti biasa, aku tahu sekali bagaimana Reira ketika berbicara.
***