Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 9 (S3)



Jika Kakek Tarab pernah membunuh orang, apakah Kakek Kumbang  pernah melakukan hal yang sama? Pertanyaan itu berkutat di kepalaku sepanjang hari. Memang kakekku selalu melakukan hal gila di dalam hidupnya, seperti bertarung dengan perompak selat malaka dan bahkan bertarung dengan harimau Sumatera. Sedikit terdengar seperti dongeng sebelum tidur yang dari buku anak-anak yang diceritakan ayahnya, tetapi aku percaya dengan cerita tersebut karena aku punya orang-orang yang masih hidup ketika kejadian itu terjadi. Maka, hal gila seperti membunuh orang apakah Kakek Kumbang pernah melakukannya?


Kita bisa mempercayai mengenai Sepuluh Larangan Kapal Leon yang ia ciptakan untuk awak kapalnya sendiri, tetapi kita tidak pernah tahu apa saja yang pernah terjadi sebelum dalil itu terbentuk. Bukti-bukti kecil jika Kakek Kumbang pernah melukai ialah ia tidak segan-segan membuang awak kapalnya ke tengah laut dan ia sendiri menembak Papa tatkala Papa berencana untuk menduakan Bunda.


Aku tidak tahu mengapa sekelilingku dihinggapi oleh orang gila, ditambah Borneo itu satu lagi. Kenormalan hanyalah delusi tatkala bersamaku, hingga sering kali David mengeluh mengenai hal tersebut. Lagi-lagi aku membuktikan jika orang paling terakhirlah yang paling setia. Mereka yang setia akan paham pada diriku, mereka yang tidak sanggup akan tereliminasi. David telah termasuk dalam daftar seleksi tersebut.


Malam harinya kami kembali pamit kepada Kakek Tarab untuk berkunjung tempat yang ia sebut gubuk tersebut, padahal van itu pernah menjadi milik Kakek Tarab sebelumnya. Aku dan Razel sudah hapal jalan menuju ke sana sehingga kami hanya membutuhkan senter sebagai penerangan. Tampaklah lampu redup van sebagaimana yang aku lihat terakhir kali. Sembari menahan Razel agar tidak menginjak perisai garam untuk ular liar tersebut, aku memanggil nama Borneo.


“Borneo … keluar. Ini kami ….,” panggilku sembari membuka gerbang.


Ia tidak kunjung membuka pintu van, padahal aku tahu sendalnya berada di luar. Razel aku minta untuk menggedor pintunya berkali-kali sehingga terdengar jawaban dari dalam.


“Bisa tunggu?!” protesnya dari jendela, lalu menutupnya kembali.


Tidak lama kemudian, keluarlah seorang wanita yang dengan cepat berlalu melewati kami. Wajahnya tampak merah redup karena kami pergoki. Sementara aku memasang wajah tidak percaya kepada Borneo yang berani-beraninya berduaan dengan seorang wanita di tengah hutan begini. Bisa jadi aktivitasnya mengganggu hantu belau yang sedang nongkrong di dahan pepohonan. Aku harap kelaminnya tidak bengkak esok pagi.


“Yang benar aja?” Aku menunjuk wanita yang baru saja menghilang ke semak-semak. “Sudah berapa wanita yang kau tiduri selama hidup ini?”


Ia tampak memasang kancing. “Kami hanya makan bersama. Jangan berpikir yang enggak-enggak.”


Mana ada orang yang percaya dengan perkatan tersebut, jelas sekali Borneo sedang memperbaiki posisi bajunya.


“Pantas aja Kakek Kumbang membuangmu, Borneo. Dalil lima, kau melanggarnya,” balasku.


“Urus moral masing-masing, kau bukan ibuku.”  Ia duduk di atas kursi dengan membuka tangan. “Jadi, apa hal yang buat kalian menggangguku sekarang?”


Aku duduk di depannya, tetapi masih penasaran dengan benda kontrasepsi yang aku temukan dua minggu lalu. “Nanti dulu diskusinya, jadi kau yang punya alat kontrasepsi di kamar rumah Kakek Tarab?”


“Apa? Aku mana pernah berani? Kau mau aku kena tembak selagi bercinta?” tanya Borneo balik. Wajahnya memandang aneh karena sudah aku curigai. “Enggak cuma aku yang tinggal di rumah itu. Terkadang anaknya juga ke sana. Ya mana tahu ….”


“Ah sudahlah … aku enggak peduli lagi.” Aku memandangi Razel. “Ceritakan Razel ….”


Razel menghelat tembakaunya terlebih dahulu, lalu asap menyeruak ke tengah-tengah kami. Bau cengkeh lekat di langit-langit hidungnya.


“Kami udah mengobservasi semua aktivitas Kakek Tarab selama seminggu ini, tapi belum kami temukan emas itu. Tapi, kau tahu kalau Kakek Tarab sering buang air di malam hari?”


“Memang, dia sering buang air kalau malam hari. Kalau mati lampu dan air habis, dia minta aku buat ngambil air di laut. Jadi ya, sesuatu yang wajar. Apa anehnya?” tanya Borneo.


“Tapi, aku dengar kalau Kakek Tarab sering mengetuk sesuatu di dapur. Aku enggak tahu apa yang sedang ia ketuk. Bunyinya seperti ini …..” Razel kembali memperagakan bunyi ketukan tersebut.


“Oh itu, aku tahu …..”


“Kakek Tarab itu punya kebiasaan bolak-balik mengecek sesuatu. Misalnya, pintu sudah ia kunci atau aku kunci, tapi nanti diceknya lagi dan dicek lagi. Jendela yang sudah ia tutup karena takut musang masuk, ia juga mengeceknya berkali-kali dengan tongkat.”


“Aku kurang yakin dengan itu.” Razel melihat diriku.


“David pernah cerita kalau ada orang-orang yang menderita Obsesif-Komplusif, semacam dorongan melakukan sesuatu berulang-ulang, seperti mengecek pintu, mencuci tangan, dan semacamnya. David kan orang Psikologi, jadi dia banyak cerita,” jelasku.


“Entahlah, aku orang yang enggak sekolah, jadi enggak tahu. Coba kalian cek sendiri biar percaya. Aku memang memastikan dia sedang mengecek pintu atau jendela,” balas Borneo.


“Baiklah, cuma itu yang pengen aku ketahui.” Aku berdiri untuk pamit. “Kami pulang dulu ….”


“Dasar pengganggu … pulanglah cepat!” kesal Borneo pada kami.


“Aku mau bilang Borneo, *** itu wajar bagiku. Tapi ….” Aku memerhatikan keadaan sekitar. “Pilih-pilih tempatlah … di sini banyak hantunya.”


“Dua tahun di sini, hantu yang takut sama aku, jadi jangan khawatir.”


Razel menarik tangan Borneo, lalu memberikan benda yang aku minta ia membawa sebelumnya. Benda itu ialah kontrasepsi yang aku temukan dua minggu lalu.


Tangan Razel kemudian memberikan jempolnya. “Untuk keamanan karena HIV belum ada obatnya, oke?”


“CEPAT PULANG KALIAN!”


Mendengar Borneo yang mengamuk, aku dan Razel segera berlari sembari menahan tawa. Malam ini kami baru saja mengganggu orang yang tengah bercinta. Aku menyimpulkan sesuatu dari Borneo, ia memang penggila wanita. Ia diceburkan dikarenakan wanita, lalu menahan malu dariku pun karena wanita. Mungkin ia sudah lama menyendiri di tempat terpencil ini.


Rasa penasaranku masih bertahan hingga pulang ke rumah Kakek Tarab. Aku berkeliling rumah untuk mencari emas itu. Yang aku lihat hanyalah ayam-ayam tertidur dan bau kotorannya yang berceceran di atas tanah. Pintu belakang  dan jendela turut aku perika, sudah dikunci oleh Kakek Tarab.


“Sial!” Aku mencium kakikku yang ternyata terpijak kotoran ayam. Namun, rasa kesalku berubah menjadi cemas tatkala mendengar suara tongkat kayu Kakek Tarab.


Tongkat kayu itu benar mengetuk jendela dan pintu untuk memastikan apakah sudah terkunci dengan baik, hal sama seperti yang dikatakan oleh Borneo. Namun, ketukan itu hanya sekali hentakan kuat saja, tidak tiga kali sebagaimana pendengaran Razel. Mataku menyelinap kecil di jendela untuk melihat apa yang dilakukan oleh Kakek Tarab selanjutnya.


Kakek Tarab tampak menyenderkan tongkatnya di meja makan. Tidak lama kemudian, ia menunduk sembari mengetuk lantai kayu tiga kali dengan dua kali ritme yang sama. Namun, nanar matanya mengarah ke jendela dengan cepat. Aku pun menunduk agar tidak ketahuan.


Jendela terbuka karena Kakek Tarab mengecek keadaan luar. Aku tepat berada di bawahnya.


“Kapanlah ayam-ayam itu sakit biar bisa aku potong,” ucap Kakek Tarab setelah menurutnya keadaan luar aman-aman saja.


Aku pun menghela napas karena sangat cemas. Terpaksa aku tidur di kapal Leon karena tidak sanggup kembali lagi ke dalam rumah.


***