Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 10 (S2)



EPISODE 10 (S2)


 


Dendang syair Melayu melantun pada sebuah pondok pedagang kelapa muda. Para orangtua menari dengan rentak kaki serempak di hadapan tumpukan kepala muda yang siap dibuka. Serasi gerakan mereka menegakkan telinga Reira yang menatap takjub. Wanita itu tak ingin dilarang itu akhirnya menarik tanganku sembari meloncat. Tanpa ragu, langkahnya membentuk gerak tari yang sama dengan para orangtua di sana. Aku pun turut mengikuti ritme yang ia paksa padaku. Alunan dendang Melayu membawa kami menari di bawah teduhnya awan. Senyum Reira melingkar di bawahnya, berputar mesra menyibakkan wangi rambut hitam mengkilau itu.


“Menarilah bersama gue,” ucapnya.


Entah apa yang ada dipikiran wanita itu untuk membawaku menari bersama sekumpulan orang asing yang tidak pernah kami kenal, seakan sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa ia hindarkan. Tangan Reira kini membelai seorang bapak tua berkacamata hitam yang sebelumnya bersama wanita paruh baya berkerudung batik. Wanita paruh baya itu pun merebut paksa tanganku dengan lembut, lalu membiarkan aku berputar di dalam haluan yang ia bentuk. Aku rasakan sebuah suasana harmoni antara beberapa orangtua yang tengah menari, menarik diriku jauh tenggelam di antara ribuan senja yang pernah aku lalui sebelumnya.


Baiklah, aku memahami maksudnya. Reira ingin membawaku ke dalam momen yang tidak terduganya itu. Sudah berapa kali ia membawaku untuk bermain pada labirin rahasia yang tidak bisa aku tebak, mengalir begitu saja ke ujung terang kebahagiaan. Aku memaknai itu semua dengan tulus. Membiarkan aku untuk terus menjadi lindungan senyumnya yang tidak bertepi. Terus melepaskan semua beban dan tidak melupakan semua rangka cerita perjalanannya.


“Kalian serasi sekali,” puji bapak tua berkacamata hitam.


“Tentu saje, Pak.” Reira berhenti berputar dalam tariannya.


Bapak tua itu pun terheran. “Kau bukan budak Melayu?”


Budak merupakan kosa kata Melayu untuk menyebutkan kata anak. Tentu saja bapak itu heran mendengar logat Reira yang sama sekali tidak terdengar Melayu.


“Heheh … iya, Pak. Kami dari Jakarta.” Reira tertawa pelan.


“Oh, begitu … pantas logatnya berbeda, tapi wajahmu Melayu sekali.”


Aku tidak tahu corak khas wajah gadis Melayu jika membandingkan dengan wajah-wajah wanita dari suku lain.


“Hmm … kami pesan empat kelapa muda.” Reira menunjuk lokasi tempat kami duduk tadi. “Kami akan duduk di sana.”


“Tunggu di sana, ya. Sekejap biar Bapak sediakan untuk kalian,” balasnya.


Candra dan Zainab menatap aneh ke arah Reira yang masih melakukan rentak tariannya tatkala melangkah menuju sana. Aku yang tidak tahu malu pun mengikuti Reira dari belakang, selagi dendang Melayu masih dibunyikan dari pondok itu. Mereka berdua di sana tertawa melihat kami yang sedang bergaya seperti orang aneh. Namun untung saja ketua sukunya bukanlah diriku, melainkan Reira yang sedang menyambut makanan yang mereka genggam melalui plastik-plastik itu.


Bakso bakar, sosis goreng, cumi goreng, serta kepiting goreng kami santap bersama. Tawa saling dibagi seiring dengan candaan garing Candra meledak, aku pun pernah mendengarkan lelucon itu sebelumnya tatkala duduk di kantin sembari mengopi dan merokok. Untung saja Reira tidak pernah mendengar lelucon itu sebelumnya. Jika iya, Reira sudah pasti menyanggah lelucon Candra jika ia tidak merasa lucu lagi karena sudah pernah mendengarkannya. Di tengah pembicaraan hangat ini, empat buah kelapa muda segar datang menghampiri. Kerongkongan yang kesat akibat minyak makan, memaksa kami untuk segera menyeruputnya. Reira bahkan meminumnya tanpa sedotan, seperti seekor kera yang tengah kehausan.


“Sedotan hanya untuk orang-orang lemah!” ucap Reira sembari meletakkan batok kelapa muda itu di atas pasir.


“Lo ini memang enggak ada malu-malunya sedikit pun,” kritik Candra dengan lugas.


“Jangan ganggu eksistensi gue sebagai manusia bebas, tanpa peraturan.”


Candra pun mengangkat tangan. “Oke, gue kalah!”


Aku dan Zainab tertawa mendengar debat kecil antara mereka berdua yang tak akan pernah berujung. Jika Candra mengatakan sesuatu, Reira selalu punya cara untuk mematahkannya. Selalu begitu hingga Candra merasa kesal.


“Benar yang dibilang Bapak, kamu mirip Pak Kumbang. Wajahnya aku rasa mirip,” ucap Zainab.


“Oh, ya?” Reira mendekatkan wajahnya. “Lo pernah ketemu sama Pak Kumbang? Maksud gue kakek gue. ”


“Pernah sewaktu kecil dulu. Dia sering menggendong aku trus bawa aku jajan ke warung. Aku menyebutnya dengan sebutan Datuk Kumbang. Dia sering berlayar ke Manggar dan singgah ke rumah.”


“Hmm … beruntung sekali lo bisa mendengar semua ceritanya.”


“Melihat naga di laut cina selatan dan kampung hantu di tengah laut?” tanya Zainab.


Reira mengangkat kepala mudanya. “Benar sekali … lo beruntung mendengar cerita itu. Gue ingin sekali membuktikan bahwa semua perkataan itu ada benarnya. Sayangnya, Kakek hilang karena kapalnya dihantam ombak ketika menyeberang ke Australia.”


“Aku mendengar kabar itu juga. Datuk Kumbang hilang di tengah laut.”


“Tapi, gue yakin dia masih hidup. Kakek gue enggak mungkin mati semudah itu di tengah laut. Gue juga enggak pernah mendengar berita jika ada jasad yang ditemukan. Pertanda ada dua kemungkinan, mereka sudah mati dan kedua ialah mereka masih hidup.”


“Tapi, itu laut Reira. Bisa aja mereka ada di dasar laut,” balasku.


“Enggak … firasat gue selalu benar. Kakek masih hidup. Bisa aja dia sedang di sebuah pula bersuku kanibal, lalu kakek gue jadi kepala sukunya di sana.”


“Dia gila,” sindir Candra.


“Kegilaan gue ini yang mengantar kepada kebenaran,” potong Reira.


Candra pun menarik napas.


“Kapan-kapan kita kemah di pantai, yuk! Di sini ada pantai batu yang indah,” ajak Zainab.


“Lo mengajak orang yang tepat!” Reira menepuk pundak Zainab. “Ayo kita berkemah di atas batu pantai. Gue akan mencari gurita untuk dibakar! Hahahah.”


“Dasar bar-bar!” Candra berdiri untuk membuang plastik makanan ke tempat sampah.


“Eh, lo harus ikut bersama gue menyelam!” Reira menunjuk Reira. “Nanti malam lo harus duduk sama gue. Lo udah janji buat gue ajarin tentang Che Guevara dan Fidel Castro dari Kuba!”


Senja mulai menutup diri dari arah Barat. Sayang sekali pantai tidak mengarah langsung ke tempat matahari terbenam. Kami hanya bisa melihatnya dari bayang-bayang bukit yang mulai gelap akibat matahari yang membenamkan diri. Diskusi kami senja ini diakhiri oleh nyanyian Reira dengan tajuk Nenek Moyangku Seorang Pelaut. Nyanyian itu mengggelegar pada teduhnya dedaunan yang menggelap. Suaranya masih parau karena terlalu sering berteriak, bahkan serangga tak ingin mendekat karena terlalu sering terkejut. Namun, nyamuk-nyamuk menjadi instrument tidak diundang dari nyanyian wanita itu, hingga kami cepat-cepat beranjak karena tidak tahan.


Lagu senja menggema di truk sepanjang jalan. Reira menyambungkan handphone-nya pada pemutar musik. Akibatnya, Candra pun mengantuk oleh alunan lembut lagu-lagu indie yang sedang didengarkan. Kepalanya sesekali tersentak jatuh ke depan, sebelum ia kembali sadar untuk menyandarkan tubuh ke belakang. Hal yang aku khawatirkan pun tiba, akhirnya kepala Candra jatuh pada pundakku. Persis seperti perjalanan kami ke Bromo waktu itu, ia acap kali membenamkan kepala di sana. Aku pun terpaksa membuang rasa risihku jauh-jauh oleh rambut panjang keritingnya yang terbang menutupi wajahku. Untung saja kepalanya tidak jatuh ke pundak Zainab, bisa-bisa tangan Reira bisa mendarat pada keningnya. Durasi kuliah nanti malam yang dijanjikan pun semakin bertambah.


Dari jalanan aspal, aku dengan jelas melihat matahari terbenam pelan menutup diri di sebalik langit. Siang berganti malam, begitulah kehidupan yang selalu bergerak tanpa pernah berhenti. Jikalau ada yang tak berubah, maka aku pastikan merupakan perubahan itu sendiri. Perubahan tidak akan berubah sedemekian rupa, akan selalu melekat pada kehidupan yang fana.


 


Akhirnya, kehidupan malam di seberang sana menikmati hangatnya mentari untuk memulai hari, seperti yang kami rasakan dua belas jam sebelum ini. Kami kini pun menikmati siraman dingin cahaya rembulan yang tampak melalui pantulan cahaya di langit sana, tersenyum bersama bintang yang tetap diam walaupun kami bergerak.


 


Reira pernah menyatakan bahwasanya gerak bintang dan bulan di langit itu merupakan gerak palsu, walaupun aku sudah tahu mengenai istilah gerak semu. Entahlah, ia seperti profesor segala hal yang menciptakan berbagai istilah yang berbeda. Seakan ia memiliki kamus kosa kata sendiri dan memaksa orang lain untuk memahami semua itu. Bodohnya aku, aku pun masuh ke dalam ribuan kosa kata aneh yang akan aku dengar darinya tanpa henti.


 


Memang para bintang dan sebongkah rembulan di atas sana tetap diam tanpa merangkak sejengkal pun─walaupun aku tahu mereka sejatinya berputar pada porosnya dan garis edarnya─namun akan tetap terlihat bergerak ketika kira berpindah tempat. Bulan dan gemintang tidak akan sembunyi, kecuali awan menutupnya. Menurut Reira, begitulah layaknya kesendirian itu sendiri. Ketika kau merasa kesepian tanpa siapa-siapa pun yang memasangkan diri untuk mendengar, sadarlah bahwasanya masih banyak di luar sana yang ingin mendengarkan. Reira mengatakan hal itu sewaktu aku benar-benar merasa sendiri tanpa siapa pun dengan menghiburku bahwasanya tetap ada rembulan dan bintang di atas sana yang memerhatikanmu. Namun, aku menafsirkan hal lain mengenai eksistensi sejati, yaitu Tuhan. Reira berdiksi dengan kata yang berbeda, namun maksud yang sama.


 


Ada hal terindah ketika matahari menutup diri. Ada yang menanti diriku di rumah, walaupun hanya Dika seorang yang sedang berbau oli pekat sekali. Ada yang menungguku di rumah, yaitu Reira yang terkadang tetap bertahan di rumah untuk memasak makanan, walaupun hanya mie instan. Setidaknya, Dika dan aku tidak lagi capek-capek menegakkan lutut untuk mengisi perut. Begitulah hari ini, terangnya rumah Pak Cik Milsa berbicara padaku bahwasanya ada yang menunggu kami di sana. Memang, bukan aku objek utamanya, namun Zainab sendiri. Tetap saja aku tafsirkan dengan hal yang sama, terutama ketika Pak Cik Milsa yang sedang berdiri tegak dengan songkok kepala dan sarungnya.


“Wah, kalian sudah pulang. Ayo masuk ….”


 


Pak Milsa menggumam sebentar untuk melantunkan ucapan penutup kitab suci, lalu menandai bacaan terakhir dengan melipat ujung kertasnya. “Zainab, antar mereka ke kamar mandi belakang. Tapi, ganti-gantian karena kamar mandi di rumah ini cuma ada dua.”


 


“Baik, Pak.” Zainab menyentuh punggung Reira. “Mari, Rei.”


“Kalian berdua mandi aja dulu, kami di luar nemenin Pak Milsa. Setelah itu panggil kami,” ucapku.


“Oke, jangan tidak mandi!” pungkas Reira.


Aku dan Candra kembali duduk pada meja bundar itu. Pak Milsa menggeserkan plastik tembakaunya pada kami. Aku tahu ia ingin menawarkan tembakau lintingan miliknya, namun Candra lebih dahulu meletakkan kotak tembakau milik kami sebagai tawaran diri bahwasanya kami mempersilahkan tuan rumah untuk turut menikmatinya. Inilah kesopanan yang kami tunjukkan sebagai orang-orang yang candu akan tembakau, saling menawarkan diri dengan rendah hati, walaupun di tengah stigma negatif dunia kesehatan. Ada sebuah nilai sosial budaya yang tetap tersimpulkan dari kebiasaan ini.


“Setelah ini, kalian mandi dan sembahyang. Kalian boleh masih muda, liar, tapi jangan lupa sembahyang. Jangan terlalu berharap ibadah lebih kaya haji, sedekah banyak, tapi pikirkan dulu sembayang. Satu itu saja.”


Pak Milsa duduk melipat tangan karena dingin udara luar. Sebuah wejangan kami dapati dalam momen ini.


“Baik, Pak Cik. Kami tak akan tinggalkan sembahyang,” balasku.


“Kalian tak lelah, kan?” tanya Pak Milsa. “Ayo malam ini kita menunggu durian."


“Menunggu durian?” tanya Candra balik.


“Hmm … inilah anak kota pasti tak pernah menunggu durian jatuh, kan? Kapan lagi, inilah kesempatannya.”


Jika Reira mendengar percakapan ini, sudah aku pastikan jika ia yang menyetujuinya pertama kali dengan menghentakkan tangan ke meja karena saking semangatnya dengan petualangan. Aku rasa tubuhku masih bisa diajak bergerak, lagian aku pun selalu tidur di atas jam dua dini hari.


“Kayanya menarik.” Aku menoleh pada Candra. “Gimana? Mau enggak lo?”


“Siapa berani … eh siapa takut. Ayo!” Candra membakar tembakaunya.


“Oke, nanti malam kalian tak perlu bawa macam-macam. Cukup sarung saje karena pasti banyak nyamuk. Soal makanan? Kalian pasti kenyang sama durian.”


“Kami tak sabar lagi, Pak. Seru pasti, kan?” tanyaku.


“Oh … seru tak seru, kalian rase aje nanti. Hahahah ….”


Lima menit menunggu di luar bersama nyamuk yang sempoyongan akibat obat nyamuk bakar di bawah kaki, terdengar suara ketukan tangan Zainab pada pintu rumah. Hal itu pertanda bahwasanya sudah giliran kami untuk membersihkan diri.


Candra sudah lebih dulu selesai mandi dariku. Tatkala aku masuk ke kamar yang dikhususkan Mak Cik untuk kami, Candra sudah terkulai lemas di ranjang dengan suara dengkur yang menggema. Seperangkat alat sembahyang di lantai pertanda bahwasanya ia mengingat perkataan Pak Cik Milsa tadi. Tiada aku sangka bahwa ia secepat ini terlelap. Aku rasa ia terlalu penat hari ini, ditambah dengan baradu ego dengan Reira yang selalu tidak ingin kalah.


Aku baru saja selesai menunaikan sembahyang. Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan bunyi hentakan yang kuat. Terlihat wajah Reira yang girang menatap seiring tangannya yang menunjukku.


“Jangan sembunyikan rencana kalian malam ini dari gue! Hahaha ….”


Sudah aku tebak, anak ini pasti tidak ingin ketinggalan berita.


 


***