Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 74 (S2)



EPISODE 74 (S2)


Mungkin itulah salah satu kekurangan dari Reira, keras kepala. Buaya saja ingin ia buktikan jika benar-benar ada. Parahnya kini ia mencoba ke tingkat yang lebih tinggi lagi, menggugah letak akal sehatnya untuk berpikir dua kali. Aku tidak tahu apakah ia benar-benar bisa membuktikan jika keris itu bisa berdiri. Tidak akan di sembarangan waktu dan juga tidak pula kepada semabarangan orang. Yang tak kalah penting ialah bagaimana ia sebegitu lantangnya untuk menerima tantangan dari Kakek Syarif. Benda itu bukanlah benda biasa.


Reira balut rapi-rapi keris itu dengan kain putih yang sedari tadi berada di dalam lemari. Kemudian, Kakek Syarif memberikan sarung keris lengkap dengan pengikat di pinggang.


Aku tahu keris besar itu sangatlah berat. Reira sudah mencoba mengangkatnya kemarin dan mengatakan bahwa keris itu memang berat. Kini ia mengikatnya pada pinggang. Persislah Reira seperti seorang pendekar yang sedang membawa senjata untuk menyerang musuh. Posisi tegak pinggang dengan tersenyum itu pula yang membuatku tertawa kecil.


“Aku akan buktikan jika keris ini bisa berdiri. Jika ia benar-benar berdiri, aku akan mencari Kakek,” ucap Reira di hadapan Kakek Syarif.


“Kau ini memang keras kepala.” Ia merapikan letak keris itu pada pinggang Reira. “Aku tidak mau tahu jika sepulang ini kau demam selama seminggu.”


“Apa bisa seseorang demam karena membawa ini?”


Aku memejam mata. Apakah ia sedang bertingkah bodoh kali ini, aku tidak tahu. Aku rasa ia mengetahui mengenai hal-hal seperti itu. Sebuah benda berisi bisa saja membuat seseorang sakit karena kandungan energi halus di dalamnya.


“Jika kau demam, datang ke rumahku. Aku punya obat untuk itu. Jangan khawatir,” balas Kakek Syarif.


“Jadi, Kakek jadi memancing?” tanya Reira.


“Kau tahu dari Razel?” tanya balik Kakek Syarif. “Hari ini aku memang berniat memancing. Cuaca sangat bagus. Aku sedang tidak mengantar barang juga.”


Tentu saja Reira tersenyum senang mendengar hal itu. Ia menyeringai di balik redupnya cahaya ruangan ini. “Hahah ... Kakek bisa-bisanya memancing tanpa mengajak aku, apalagi di laut, apalagi memakai kapal ini.”


Kakek Syarif berdiri sembari menghembuskan asap cerutunya. Tangannya mematikan salah satu lampu minyak di ruangan ini.


“Memang, kapal ini milikmu. Tapi, selagi aku hidup, aku masih punya hak untuk kapal ini. Ada sebagian keringat aku yang jatuh ketika membuat kapal Leon dan juga memperbaikinya.” Ia menoleh pada Reira. “David dan Mawar bisa memancing?”


Aku dan Mawar saling bertatap wajah. Aku hanya tahu teori dasarnya saja. Jika diajak melakukannya langsung, sudah pasti aku akan terlihat kaku karena tidak terbaisa. Jangan ditebak lagi tentang Mawar. Anak itu namanya saja gadis yang tinggal di tepi laut. Keluar rumah saja tidak, apalagi bermain di tengah laut.


“Kalau memancing di kolam pancing, mungkin aku bisa.” Aku tersenyum.


“David itu anak senja, bukan anak laut,” sindir Reira.


“Hahaha ... kau ikut sajalah, David.” Kakek menoleh pada Reira kemudian. “Oh, iya ... aku baru dengar kabar tentang Fany. Aku turut sedih mendengarya. Jika Fany masih dirawat di Indonesia, aku pasti akan datang. Singapura terlalu jauh dan terlalu mahal untukku. Hahahah ... tidak seperti dulu yang kami tinggal keluar masuk Singapura.”


Reira mengangguk. Langkahnya bergerak ke pintu seiring Kakek Syarif yang mendahuluinya. “Iya, enggak apa-apa. Mama sering nanyain Kakek di sana. Dia rindu ketemu Kakek. Oh, iya ... apakah masih ada sepeda ontel miliknya yang pernah dibelikan Kakek?”


“Masih ada di rumah. Sudah jadi bangkai.” Kakek membuka pintu.


“Aku bawa ke rumah, ya. Bakal aku permak.”


Kakek Syarif tertawa lepas mendengarnya.


“Kau bawalah semuanya selagi jangan rumah aku ajalah yang kau bawa. Hahaha ....”


Aku dan Mawar berdiri bersampingan memerhatikan Reira dan Kakek Syarif sedang memasang umpan berupa ikan tiruan pada mata pancing. Kakek bilang umpan seperti sangat cocok digunakan ketika di laut karena mengundang para predator. Ikan predator umumnya bertubuh besar dan tentu saja memiliki daging yang lebi banyak. Bisa pula dijadikan lauk santapan untuk beberapa jika dapat banyak.


Kedua cucu dan Kakek itu seakan memiliki laut sendirian. Mereka berteriak sekeras-kerasnya untuk memangil ikan datang. Apakah itu berguna atau tidak, aku tidak tahu. Mereka memang memiliki banyak kebiasaan yang tidak biasa. Kita mungkin mengira mereka berdua sedang gila, namun mereka mencoba gila untuk mencapai kata waras. Seperti perkataan Reira yang mengatakan jika kapalnya ini diperuntukkan orang-orang gila, maka untuk mencapai defenisi waras di kapal ini hanya bisa dicapai dengan kegilaan.


Hanya aku dan Mawar di sini yang gila menurut mereka karena tidak melakukan apa-apa, selain duduk bersantai menikmati angin.


Ya, begitulah arti gila yang memiliki makna subjektif. Gila itu hanya sebutan orang lain untuk sesuatu yang berbeda, di luar kemampuan, di luar kebiasaan, dan lain sebagaiya. Jika disekumpulan hal-hal gila, maka hal gila itu merupakan standar kewarasan yang disetujui oleh sebuah kelompok. Sebagai konsenkuensinya, seseorang yang tidak melakukan hal gila itulah yang sebenarnya sedang tidak waras. Sebagai contoh, bagaimana kita menentukan standar kewarasaan pada rumah sakit jiwa, sementara mayortias orang di sana merupakan orang-orang yang 'tidak waras'. Orang dengan penyakit jiwa mungkin dalam defenisi umum tidak waras, namun ketahuilah jika di rumah sakit jiwa, merekalah yang sebenarnya waras. Dokter, perawat, satpam, petugas kantin merupakan orang-orang yang tidak waras. Orang tidak waras akan menganggap orang di luarnya sebagai gila, dan mereka pun hidup dalam kewarasaan yang mereka ciptakan sendiri.


Aku menggeleng ketika memikirkan ini, tepat di samping Mawar yang sedang memerhatikan awan.


“Apa lo tadi cemas waktu Reira bilang seperti itu?” tanyaku.


“Waktu Reira bilang kalau akan membawa keris itu?” tanya balik Mawar.


Aku menggeleng. “Bukan, waktu Reira minta ngelepasin tangan gue dari lo.”


Wanita itu diam sejenak. Ia menghela napas panjang tanpa menatapku. Sementara itu, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja. Dari raut wajah yang sedang ia tunjukkan padaku, disimpulkan jika Mawar sedang mencari jawaban untuk itu. Aku rasa pertanyaanku bukanlah hal yang sulit.


“Tentu aja gue cemas.”


“Lo yang sering observasi orang lain, gue mau nanya. Apa Reira marah tadi?” tanyaku padanya untuk memastikan.


“Entahlah, gue enggak tahu juga. Gue lagi panik saat itu karena gue kira kita bakalan kecebur.”


“Hmm ... gue rasa dia berbohong bilang itu cuma gimik.”


Mawar tersenyum padaku. “Sekarang gue tanya, lo cemas?”


“Tentu aja gue cemas.”


“Kalau lo cemas, berarti Reira benar-benar marah. Cuma lo yang tahu Reira luar dalam daripada gue,” balas Mawar menyimpulkan.


Aku menghela napas. “Bisa jadi, sih. Gue jadi enggak enakan sama dia. Maaf, ya Mawar.”


“Secemas-cemasnya gue sama Reira, gue lebih cemas sama lo,” ucap Mawar.


Pertanyaan Mawar membuatku menoleh dengan cepat.


“Kenapa?”


“Apa lo seserius itu megangin tangan gue? Hanya itu yang gue cemasin dari lo.”


Kalimatnya membuatku untuk berpikir dua kali mengenai maknanya. Setelah itu aku sadar, ia menduga bahwa sentuhan itu bermakna lain. Tidak ... aku tidak mungkin melakukan hal itu. Reira adalah kekasihku.


***