Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 12 (S2)



EPISODE 12 (S2)


 


Kebebasan adalah sebuah kata yang merujuk kepada hal tanpa ikatan, tanpa rajutan, tanpa simpulan sesuatu yang melekat. Ia tidak melekat pada suatu ketergantungan konstan, tetap seiring berjalan, namun bebas untuk pergi dan datang. Memang, langkah yang kita gerakkan memiliki batas-batas yang tak bisa untuk dipijak.


Kekebabasan menghancurkan semua sekat-sekat itu, melabeli setiap arah merupakan hal yang harus ditempuh, selagi hal itu merupakan hal yang positif, menarik, dan unik. Aku suka orang-orang seperti itu yang tidak terikat pada suatu dogma dan aturan. Sepertinya semenjak aku mengenal wanita itu, Reira.


Aku tidak di sini oleh suatu dogma dan aturan. Aku bukan penganut paham kebebasan sepertinya, namun ia memintaku untuk berpikir liar dan mengikuti haluan hati, tanpa embel-embel keterpaksaan. Itulah yang ia katakan padaku ketika kami hendak berangkat pergi. Ia tempelkan sebuah batu ke tanganku, lalu ia minta melemparkannya ke lautan sebagai pertanda bahwa akulah yang menginginkan untuk pergi, bukan dari dirinya. Secara teknis memang aku pergi karena ajakan Reira yang terdengar gila. Namun, Reira memintaku bahwa langkah yang aku tempuh ini merupakan jalanku sendiri.


Itulah kebebasan yang aku pelajari darinya. Ada banyak hal di dunia ini yang sama sekali belum aku sentuh. Bisa jadi gerak jiwaku terbatas oleh berbagai hal, seperti ketakutan, kebencian. kesendirian, kesunyian, dan hal-hal bodoh yang harusnya tidak aku pikirkan. Seperti yang dianalogikan oleh Reira, layaknya jari jempol dan telunjuk yang saling berdempetan, seperti itulah dunia yang aku alami. Padahal, masih banyak di luar sana hal-hal gila yang menanti, termasuk perjalanan ini.


Berbicara tentang kebebasan, aku memang tidak terlalu suka menjadi bebas dan liar dalam gerak tubuh menapaki dunia. Namun, aku lebih suka dengan pikiran yang terbang ke penjuru dunia sebagai penyendiri berpikir luas dan bebas. Aku suka sendiri dan tidak terlalu suka timbul pada permukaan, hanya memilih melangkah di bawah langkah orang dominan. Bukan berarti aku memilih di belakang, namun di bawah. Di belakang berbeda dengan di bawah. Layaknya seseorang yang sedang berjalan di atas danau jernih, aku merupakan bayang-bayang dalam riak air. Bagiku, menjadi dominan ialah sebuah kelelahan. Sangat menghabiskan tenaga dan menyebabkan ketergantungan. Oleh karena itu aku memilih menjadi seorang penyendiri yang idealis, bukan aktivis.


Liberalisasi kebebasan aku menyebutnya.


 


Bukankah liberal merupakan ruang lingkup kebebasan?


Aku ini sedang beranjak sebagai filosof semenjak belajar dari Pak Cik Milsa, seorang filosof Manggar yang suka memakai sarung di malam hari, lalu merokok tembakau linting sembari mengopi. Aku rasa itulah kelebihan berpikir filosofi, aku bisa membuat defenisi sendiri. Liberalisasi kebebasan merupakan perluasan dari kata kebebasan itu sendiri. Dalam artian, di dalam kebebasan masih ada makna kebebasan yang lebih luas. Jika dimaknai kebebasan adalah hak semua orang, maka orang bebas memilih jalan kebebasannya masing-masing. Namun, aku tidak terlalu suka liberalisasi ekonomi. Bukan berarti aku radikal kiri sosialis, walaupun aku menginginkan kesamarataan, termasuk kesamarataan cinta. Aku hanya ingin bebas tanpa beban sayap kiri dan kanan.


 


Reira terlahir terlahir sebagai orang yang bebas. Ternyata ada sebuah gen kebebasan yang mengotak-atik informasi pada DNA-nya yang bermotifkan topeng bajak laut. Aku rasa itu pula yang membuatnya menjadi seperti ini, melakukan semua hal yang ia mau tanpa ada seorang pun yang bisa menghentikannya. Mulai dari kakeknya sebagai pelaut yang melancong ke berbagai daratan, lanjut kepada ibunya yang mungkin saja lebih gila dari Reira─Reira belum pernah menangkap anak buaya─lalu menurun kepada Reira yang sedang menjadi kekasihku saat ini. Garis itu akan tetap mereka jaga dalam gen mereka.


Aku mendongakkan kepalaku ke atas tatkala seseorang tengah mengambil alih foto tersebut. Ternyata itu merupakan Reira yang sedang berpenampilan berbeda. Ia tersenyum padaku, namun lebih kontras menatap foto usang hitam putih itu. Tidak dengan penampilan nyentrik, namun lebih anggun khas gadis melayu.


Ia meletakkan foto itu ke atas meja, sepertinya ia tidak peduli dengan siapa yang ada di dalam foto itu.


“Bagaimana penampilan gue?” Ia berputar di tempat. Bagian bawah pakaian yang ia pakai sedikit mengembang. “Zainab yang memakaikannya untuk gue!”


Aku lihat Zainab melihat dari ujung pintu dengan menyadar. Lagaknya sedikit sombong sembari melipat tangan.


“Wow … lo seperti seorang gadis.” Aku menutup mataku sesaat. “Oh, bukan berarti lo bukan seorang gadis. Maksudnya, lo anggun banget.”


“Nah … jarang-jarang lo lihat gue begini, kan? Sepertinya gue harus membeli beberapa helai baju kurung khas Melayu untuk dibawa ke pernikahan Fasha, plus dengan kerudung.”


Ia memainkan jumbai kerudung yang diikatkan pada lehernya. Rambut Reria sedikit menyempil keluar di bagian poni. Bibirnya merah merona dalam garis-garis senyum. Aku tak bisa hilang dari poros tatap matanya yang jernih, bermadukan bulu mata lentik tambahan dan rona merah dari riasan. Ia benar-benar wanita, maksudku ia benar-benar bergaya seperti wanita. Bukan berarti selama ini ia tidak cantik hanya dengan bergaya apa adanya dan sedikit maskulin. Namun, kali ini ia berbeda.


“Lo cantik kalau pakai kerudung begini,” pujiku.


“Iya, dong! Benerkan Pak Cik?” Nadanya terdengar menggoda.


“Persis seperti Fany muda,” balas Pak Cik Milsa.


“Dan … gue melihat kakek gue di sini.” Ia menunjuk foto itu. Ternyata ia sadar bahwasanya di sana ada wajah kakeknya, Pak Kumbang itu. “Kenapa bisa Pak Cik ada foto ini?”


Reira kembali meraih foto itu, lalu menyentuhnya dengan ujung jemari.


“Hmm … itu foto waktu ibumu menangkap anak buaya.”


“APA? MENANGKAP BUAYA?” Ia mendekatkan foto itu ke wajah Pak Cik. “Yang di tengah ini adalah ibunya Reira?”


Pak Cik mengangguk pelan. Respon Reira membuatnya terkejut.


“Aku tidak mau tahu, ceritakan hal ini waktu kita menunggu durian. Jadi, kapan kita bisa berangkat?”


Aku menepuk jidatku. Ternyata benar, ia sangat ingin ikut di aktivitas malam ini. Anak ini benar-benar tidak mau dibilang sedikit pun.


“Sekarang bisa, ayo kita bersiap-siap.”


Ujung lidah Reira mengarah padaku. Ia sudah membicarakan hal ini dengan Pak Cik Milsa. Entah strategi apa yang ia pakai untuk mengalahkanku dan membuat Pak Cik Milsa mengizinkan dirinya untuk pergi.


Anak itu mengalahkanku dalam taktik pikiran yang tak bisa aku tebak. Ada seribu cara yang tersimpan di dalam otaknya, namun hanya satu percobaan rencana, ia berhasil membolak-balikkkan pikiran orang lain. Perdebatan sia-sia di kamar mengenai pelarangan dirinya untuk ikut menunggu durian jatuh sengaja ia akhiri waktu itu karena ia tahu bahwa rencananya sudah pasti berhasil.


Langkah Reira girang memasuki rumah. Ia dan Zainab melakukan tos besama untuk mengejek diriku. Aku hanya bisa pasrah menyadari bahwasanya ia tidak ada beristirahat seharian ini, kecuali hanya tidur tidak sampai satu jam tadi siang. Kuharap ia meminjam mata kalelawar untuk dijadikan penerangan di malam hari tanpa mengantuk sedikit pun. Walaupun ia mengantuk dan ingin tidur, sudah pasti ia tidak akan merasa nyaman oleh sergapan nyamuk semak belukar. Ia tidak peduli akan hal itu. Anak itu merasa semua yang ia lakukan merupakan hal untuk bertamasya ria.


Aku pun mengambil peralatan yang akan aku bawa ke sana, seperti powerbank, senter, beberapa bungkus obat nyamuk oles berwangikan jeruk, seta sebungkus rokok tambahan yang mungkin saja Pak Cik Milsa ingin mencobanya. Aku dibuat menepuk jidat ketika aku melihat Candra merengkuh erat bantal guling. Gemeretak giginya terdengar tatkala aku menggoncang tubuhnya agar ia terbangun. Namun, setiap hal yang aku lakukan untuk membangunkannya ialah hal yang sia-sia, walaupun aku teriakkan padanya bahwa aku melepaskan semua kucing peliharannya di luar rumah. Ia tetap saja tidak ingin membuka mata dan malah menggerutu kesal agar aku menjauh darinya. Aku pun pasrah, anak ini sudah terlalu letih rasanya.


 


 


Reira terlihat menyandang tas ransel gunung miliknya. Ia goncangkan sengaja untuk menyindirku bahwa ia berhasil diizinkan ikut malam ini. Seakan benar-benar ingin mendaki gunung, tas miliknya penuh menggembung. Entah apa yang ia bawa hingga tasnya terlihat seberat itu. Aku pun meraih tasnya. Reira dibuat berhenti oleh tanganku yang menahan.


“Lo bawa apa, sih?” Aku menarik resleting tas miliknya. Lalu, aku melihat berbagai barang yang tidak berguna untuk di bawa mala mini. “Lo bawa kipas , bawa sikat gigi, bawa speaker, bawa baju, lo mau ngapain, sih?”


“Suka gue, dong. Kecuali lo yang gue suruh bawa tas gue,” sanggahnya.


Dahiku berkerut mendengar jawabannya itu. Seakan apa yang aku bilang tidak ada benar-benarnya sedikit pun. “Rei, kita ini akan menungu durian jatuh, bukan mau kemah.”


“Yaudah … lo yang bawa tas gue.” Ia menurunkan tasnya.


“Lah, kok gue yang bawa?” tanyaku.


Ia menunjukku dengan tegas. “Kalau enggak mau bawain, jangan larang gue bawa semua hal yang gue mau. Paham?”


“Oke … oke … lo kan kapten. Gue cuma asisten.” Bibirku sedikit mencibir.


“Nah, lo paham!” Ia beranjak melangkah ke depan.


Pak Cik Milsa sudah berada di bawah rumah, tepat di samping sebuah mobil pick up warna hitam dengan kotak-kotak kayu di bak belakangnya. Ia masuk ke dalam mobil untuk menghangatkannya sembari menghidupkan radio yang isinya ialah lagu-lagu melayu yang disiarkan malam hari. Reira masuk ke dalam mobil lebih dulu daripada aku. Aku menghela napas karena harus berdempetan dengan Reira di jok. Tidak mungkin aku duduk berdempetan dengan sang supir, yaitu Pak Cik Milsa.


“Geser dikit, dong,” pintaku pada Reira.


“Ih … malah minta geser. Udah tahu tempatnya sempit!” Ia bergerak sedikit, walaupun tidak merubah apa-apa. “Lo di belakang aja!


“Yah … takut gue di belakang,” balasku.


“Lo takut orang boentoet, kan?” Ia tersenyum licik.


Ia kembali mengangkat hal yang membuat aku merinding di kapal malam kemarin.


“Jangan bahas itu lagi!”


“Eh, kita mau berangkat ini. Tenang sedikit,” sindir Pak Cik Milsa. Ia menekan pedal gas perlahan.


“Pak Cik, kita ke dermaga dulu yuk. Kalau ngajak Razel pasti seru,” pinta Reira.


Pak Cik menoleh padanya. Wajahnya gelap karena mobil ini tidak ada lampu yang menerangi. Hanya terlihat giginya yang putih, lalu matanya yang berbinar oleh pantulan cahaya yang minim.


“Anak Pak Syarif?” tanya Pak Cik. Tanganya berbelok ke arah dermaga.


“Iya, anak itu pasti bosan di kapal terus. Sudah pasti jadi bulan-bulanan kena suruh Kakek Syarif.”


“Hahah … bapak tua itu masih pemarah saja.” Pak Cik tertawa kecil.


Rembulan jatuh berbayang di riang air laut. Aku bergeming dalam gerak mobil melaju di tepian. Seiring dengan desah napas Reira konstras aku dengar, berbalut senyum ramahnya yang memancar tatkala bercengkerama bersama Pak Cik, pemandanganku saat ini benar-benar paripurna. Langit bersih tak bercelah, bintang-bintang bertaburan di antara dewi malam yang sedang bercahaya, bersanding dengan lekat tubuhku dengan wanita itu. Tubuhnya kenyal walaupun tidak terlalu berisi. Aku rasa dirinyalah yang kesakitan karena beban tubuh yang aku berikan. Namun, Reira tidak pernah protes setelah kami berdebat tadi.


Kapal Leon milik Kakek Kumbang─walaupun sekarang sudah milik pribadi Reira─bersandar di tepian dermaga. Reira melebarkan tangannya tatkala turun dari mobil dan terlihat takjub karena kapalnya yang paling terang di antara kapal-kapal yang lain. Seakan kapal pesiar mahal, kapal Leon milik Reira ditaburi lampu warna-warni yang menjuntai sekeliling tepi kapal.


“Suatu saat gue ingin berlayar berdua dengan lo ke Natuna,” ucapnya.


“Terlalu jauh, Rei. Kenapa enggak ke Madagascar aja.”


Ia menatapku. “Setelah itu kita bisa berbelok ke sana, gue rasa.”


Senyum yang ia tinggalkan sedikit menyingungku. Ujung lidahnya menjulur mengejek, namun sebelah tangannya menuntun untuk melangkah. Sebuah kontradiksi yang harmoni.


Aku rasa .... namun, tidak tahu dengan kalian.


***