Captain Reira

Captain Reira
39



Reira telah mengujungi rumah ini kemarin dan kembali pergi entah ke mana sebelum kami tiba. Pakde Slamet mendeskripsikan wanita itu dengan lengkap. Ia memakai kemeja lengan panjang dengan kancing terbuka yang di dalamnya terdapat selapis kaos hitam. Wajahnya putih bersih dengan alis mata rapi yang meruncing hingga ke sudut matanya. Ketika Pakde bertemu dengan gadis laut itu, ia terpana ketika kedipan mata itu menggerakkan bulu matanya yang melengkung alami dengan sempurna.


Persepsiku masih mengawang, bisa jadi ada wanita lain yang mempunyai ciri-ciri seperti itu. Namun, aku begitu yakin dengan kalimat terakhir dari Pakde.


"Ia memakai ikat rambut berwarna merah," ucap Pakde sembari mengisap tembakau lintingan impor yang aku bawa dari Jakarta. Aku tidak begitu suka dengan tembakau dengan lintingan sendiri.


"Itu Reira, Pakde. Aku yakin sekali," balasku. Tanganku melinting tembakau lagi untuknya. Sebuah penghormatan melakukan itu kepada orang yang lebih tua.


"Pakde enggak sempat menanyai namanya, soalnya menantu Pakde yang menyambut gadis itu." Ia menyambung isapannya dengan tembakau yang baru saja aku lintingkan.


Hari yang kulewati terasa lama karena mataku tidak lepas melihat jam. Aku terlalu berharap waktu beranjak begitu saja ke jadwal berangkat kami menuju Gunung Bromo. Reira pasti belum memulai pendakiannya. Bisa jadi ia mendaki dua atau tiga hari lagi, setidaknya aku berharap dengannya akan mendaki di hari yang sama.


Candra memaksaku untuk tidur selepas sholat Isya. Padahal pengaruh kafein dari kopi sedang bekerja memengaruhi jam tidurku. Salah rasanya ia meracikkan kopi untukku dan Adrian, setelah itu ia memaksaku untuk tidur. Adrian sudah terbiasa mendaki dan sudah biasa baginya jika hanya tidur dua jam sebelum pendakian di mulai. Ketika kami berselimut dingin di atas tempat tidur, Adrian meminta izin untuk pergi bermain domino di kedai sebelah.


Tidurku tidak terlalu nyenyak oleh kopi yang kuminum selepas sholat Magrib. Otakku seakan dipaksa untuk tetap aktif dan sesekali terjaga dari tidurku. Aku memang lemah terhadap kafein. Segelas kecil saja sudah cukup untuk bergadang semalaman. Hal itu berbeda dengan pria yang tengah berselimut tebal di sampingku. Ia berada pada tidur yang dalam, terbukti dari dengkurannya yang saling menyambung tanpa henti.


Mataku sayup-sayup terbuka ketika Adrian membangunkan kami berdua. Ia sudah bersiap-siap dengan jaket tebal serta kupluk di kepalanya. Dentingan jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Tidak perlu bersusah payah untuk bangun, mataku masih ditopang oleh pahitnya kopi yang kuminum.


"Ayo bangun, kita bakal konvoi dengan rombongan yang di bawah," ucap Adrian. Tangannya tampak memegang secangkir teh hangat yang beruap tipis.


Dahiku berkeringat di hari yang dingin. Mungkin saja karena dua lapis selimut yang kugunakan. Tenggorokanku terasa ada yang mengganjal. Air liurku tidak meluncur dengan lancar. Terasa sakit saat menelan. Kupegang dahiku yang berkeringat sembari menatap Adrian yang besusah payah membangunkan Candra.


Tidak perlu mandi jika tidak ingin darahmu seakan membeku di kamar mandi. Aku pun tidak ingin berlama-lama terkena air. Tanganku terasa kesemutan oleh demam yang kutanggung. Segelas teh kuambil setelah membasuh muka dan menggosok gigi. Hanya roti dari rombongan Redi yang mengisi perut kami bertiga. Mereka berbaik hati membagi bekal yang mereka persiapkan. Sebagi gantinya, mereka boleh mengambil rokok yang Candra beli berbungkus-bungkus. Kadang kami tidak berpikir jika makanan lebih penting daripada tembakau yang bisa saja membunuh. Pikiran kami hanya tertuju kepada pelepas candu.


Perjalanan kami dimulai pada pukul dua dini hari. Mobil kami mengikuti Jeep rombongan Adrian dari belakang. Ternyata mayoritas dari mereka berisikan alumni-alumni SMA Reira yang memiliki hobi yang sama dengannya, yaitu berpetualang. Relasi gadis itu memang begitu luas, berbeda denganku yang hanya angin serta meja-meja kantin yang mengenalku.


Pendengaranku merasakan jika kami sedang melewati lautan pasir yang luas. Malam begitu gelap, sehingga aku tidak bisa menyaksikan pemandangan sekitar. Perjalanan selama setengah jam ini terasa begitu cepat. Mobil kami tiba di pos pemberhentian Jeep terakhir. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Sepajang perjalanan merupakan pasir hitam hasil dari letusa gunung yang pernah terjadi.


Medan yang kami lalui masih datar, setidaknya sebelum mencapai badan gunung. Terdapat warung-warung ala kadarnya yang menjual minuman hangat bagi para pengunjung. Jalan mulai menanjak setelah perjalanan kilometer ketiga. Jalan di badan gunung cukup miring dan menanjak. Namun, terdapat anak tangga yang membantu kami menuju ke puncak. Jalur terdapat dua bagian, satu untuk turun dan satu untuk naik. Tidak ada satu pun orang di jalur turun karena di sekarang waktunya untuk naik. Pemandangan yang indah akan menyambut kami di atas sana.


Gunung Bromo tidaklah begitu tinggi seperti gunung api lainnya. Adrian berkata jika kita dapat melihat pendaki yang sudah di puncak dari kaki gunung. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk kami untuk sampai di puncak gunung. Semua orang telah berkumpul untuk menyaksikan matahari menampakkan diri.


Kakiku bergetar ketika menginjak puncak gunung. Kering sekali tenggorokanku yang sedang meradang. Demamku kembali bertambah parah. Sakit sering sekali datang di momen-momen yang ditunggu. Andai saja aku bisa bercermin, mungkin saja wajahku sekarang sedang dalam keadaan pucat. Asaku terbakar oleh satu hal, yaitu Reira. Ia bisa jadi sedang berada di tengah-tengah kami.


Hari masih gelap, aku tidak begitu bisa melihat wajah-wajah pendaki dengan begitu detail. Aku mencari satu raut wajah yang yang kutunggu selama ini. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Mewakili dari perasaan yang timbul oleh setiap momen yang ia tunjukkan.


Akankah ia mendatangkan momen yang tidak terduganya lagi? Bisa jadi aku dengan mudah menemukannya karena hanya dirinya sendiri yang berani melakukan hal-hal gila. Bisa jadi ia yang akan berteriak dengan kencang di tengah pendaki yang berdecak kagum di dalam hati, sumpah serapah mengenai kakeknya yang tidak pernah mengajak dirinya melaut. Besar kemungkinan ia akan berlari ke kawah aktif itu untuk menunjukkan ke semua orang bahwa tidak ada satu hal pun yang dapat menghalanginya. Sudah kubilang, ia bukan manusia. Dia alien.


***