Captain Reira

Captain Reira
EPISODE 103 (S2)



EPISODE 103 (S2)


Mood seharian ditentukan oleh mood pagi hari. Itulah yang aku pegang selama ini. Jika ingin menjalani hari dengan tenang tanpa ada hambatan risalah hati, cobalah menikmati pagi dengan ceria. Angkat gelas kopimu, teriakkan semangatmu pada mentari yang mencelang terang di langit timur, dan ajaklah embun tipis itu berdialektika bersama ketenangan hatimu. Niscaya, mereka akan membalas balik dengan doa-doa baik akan ketenangan hati seharian. Hidup akan menjadi lebih ceria, hingga titik perenungan di senja yang jingga. Di titik itu pula tepatnya kita me-review aktivitas seharian, apakah sudah melewati defenisi bahagian tersebut.


Membicarakan hidup bahagia, bagaimankah defenisi bahagia yang kalian maksud? Aku ingin bertanya ini karena terkadang dari kita tidak tahu apa itu bahagia. Berbicara kembali mengenai subtansi defenisi, setiap orang yang memiliki pikiran bebas untuk berdefenisi. Kebebasan itu pula yang membawa kita kepada luasnya arti dari kata bahagia.


Aku punya defenisi bahagia itu ialah ketika seluruh kebutuhan hidup dikatakan cukup, tanpa keinginan untuk berlebih, setidaknya denting sendok kopi akan selalu terdengar di samping gemercik bunyi pemantik api. Aku hanya butuh itu untuk berbahagia. Cukup bukan berarti berlebih, setidaknya cukup makan untuk hari ini, begitu pula esok hari. Tak kuinginkan perut ini berekspetasi memakan restoran kapitalis barat yang menjadi sarang pamer bagi para hedonisme dewasa awal. Melainkan, duduk berdua bersama orang kesayangan, tak peduli apakah itu kekasih, maupun saudara sendiri.


Tuhan bukanlah dalang yang menentukan kebahagiaan para hambanya. Maka, setiap manusia masih diberikan jalan untuk menentukan kebahagiaan masing-masing, selagi di dalam koridor kebaikan dan tidak merusak diri sendiri. Hanya sesederhana itu ekspetasi kebahagiaanku.


Dalam hidup perlu pula menurunkan sedikit ekspetasi tersebut. Terkadang, ekspetasi yang terlalu tinggi menyurutkan kita ke dalam luasnya rasa hampa. Jatuh di ketinggian itu memanglah sakit, terutama di risalah gemeretak patah hati.


Ada banyak orang bermateri tak berbahagia dengan materinya. Segala fasilitas dan lembaran yang di brankas atau kartu elektronik tak menjadikan segala itu sebagai sumber kebahagiaan. Ada banyak pula sumber kesedihan yang tak bisa dibeli oleh semua itu. Namun, lebih banyak lagi orang yang tak bermateri yang tak bahagia.


Tuntutan hidup di sombongnya standar dunia ini telah menyisir defenisi bahagia tersebut. Jerih payah seharian tak terbayar dengan kebutuhan. Banyak orang yang masih pusing apakah dapur akan tetap berasap esok hari atau tidak, anak-anak masih bisa sekolah atau tidak, atau lain sebagainya.


Lalu, apa yang menjadikan orang bahagia? Padahal, kepemilikan materi maupun non materi pun tak lantas menjadikan orang bahagia.


Aku pun bisa menjawab, seperti yang dikatakan oleh Reira. Makna-makna hidup harus bisa ditangkap sedemikian rupa. Makna itu sangatlah mahal, tetapi sederhana. Tak bisa dilihat, tak bisa dirasakan dengan hati dangkal. Materi yang banyak tak dihargai dengan makna-makna hidup maka akan sia-sia. Banyaknya teman yang peduli padamu, tetapi tidak dihargai dengan makna-makna tersebut, maka akan sia-sia. Itulah yang aku sebut sebagai spiritualitas kehidupan, bagaimana seseorang bisa mengambil makna-makna di dalam hidupnya. Jika hal itu sudah bisa dilakukan, seseorang akan semakin dekat dengan kata bahagia.


Syukuri hidupmu, walaupun kau miskin, apalagi bergelimpangan harta.


Pagi yang berbahagia ini aku lanjutkan dengan bersepeda mengarungi jalanan yang naik turun. Aku menemukan sebuah sepeda yang ada di belakang villa. Senang hatiku bisa berolahraga pagi, selama ini hanya dihabiskan untuk membuat tugas akhir, atau pun bekerja di bengkel Dika sebagai kasir dan penambal ban. Waktu aku kembali lagi ke villa, Mawar tengah duduk di ayunan gantung bersama Pak Dadang yang merokok. Tak peduli tubuhku yang berkeringat, aku segera menghampiri mereka.


“Mari ke kolam ikan Pak Dadang.” Mawar tiba-tiba berseru kepadaku.


Aku memandangi Pak Dadang. Ia tersenyum padaku. “Benarkah, Pak?”


“Terserah kalian. Ada banyak yang pengen saya tunjukin ke kalian. Ada banyak pohon jambu di sana, pisang, ikan, kandang musang, istri saya.”


“Hahah ... boleh juga. Sekalian jalan-jalan. Deket, kan?” tanyaku.


Ia menunjuk jemarinya ke pemandangan di bawah.


“Kalian lihat desa itu, di sana saya tinggal. Kalau kata Reina, dia mau bikin flying fox dari atas sini biar langsung bisa masuk ke kamar saya. Soalnya dulu, dia sering tidur sama saya dan istri saya. Hahah ... aneh anak itu.”


“Boleh dong Pak guramenya dibakar,” rayu Mawar.


“Hahah ... ambillah semau kalian. Ikannya juga udah umur-umur panen.”


Mawar melihatku. “Cepet mandi, langsung panasin mobil.”


“Santai dulu, ngapa! Gue ngos-ngosan, nih!” Aku mengambil kotak rokokku.


“Betulkan, Pak. Kalau abis keringetan olahraga, nikmatnya ngapain?” tanyaku ke Pak Dadang.


“Ngerokok ... hahah ...” Ia mengambil botol minum yang terletak di bawah. “Minum dulu, nih. Pasti kering tenggorokan, atuh.”


“Hahah ... makasih, Pak.”


Segera aku membersihkan tubuh untuk bersiap pergi. Setelah memasang baju dengan rapi, barulah aku hangatkan mesin mobil. Pak Dadang dan Mawar masi asyik berbincang satu sama lain. Mereka terlihat akrab satu sama lain, padahal Mawar selalu menghindari percakapan dengan orang baru. Lihat saja waktu bagaimana pertama kali kami kenal, senyum sedikit pun tidak. Aku mengira bahwasanya Mawar tak sedikit pun pandai tersenyum.


Mobil bergerak di jam 11 siang menuju desa di mana Pak Dadang tinggal. Beliau turut naik bersama kami, sementara motor kebunnya itu ditinggal di villa. Lagian, ia tetap harus kembali ke sana nanti. Perjalanan lima belas menit ditempuh menuruni daerah tinggi ini, hingga ujung jalan perbukitan di sambut oleh hamparan sawah hijau. Suasana pedesaan pun terasa tatkala aku melihat ke kiri dan ke kanan. Masyarakat sekitar sibuk dengan pekerjaan mereka di kebun, atau pun bapak-bapak yang membawa motor penuh dengan rerumputan makanan ternak.


Kami tiba dimuka rumah Pak Dadang yang terlihat kontras daripada rumah-rumah sekitar. Rumahnya aku dengar malam itu telah direnovasi oleh kedua anaknya sehingga terlihat lebih modern. Aku pun bisa membayangkan bagaimana rumah tersebut sebelum direnovasi, paling tidak hampir sama dengan rumah-rumah di sekitar. Kami digiring keluar ke belakang rumah oleh Pak Dadang untuk melihat kolam ikan miliknya.


“Nah, inilah bukti dari jasa Bu Fany sama saya. Tanah ini dulu milik orang, dan rumah ini pun numpang di rumah orang. Akhirnya dibeli Bu Fany buat saya. Awalnya hanya tanah sebatas rumah, tapi setelah Bu Fany bercerai dan saya enggak lagi jadi supir Pak Bernardo, beliau membela habis satu petak area ini. Saya jadikan usaha ikan.”


Aku berputar di tempat untuk melihat ke sekeliling. Tidak hanya kolam ikan, tetapi juga sepetak area kandang ayam, kebun cabe di paling belakang area ini, serta pohon jambu rimbun yang disebutkan olehnya tadi.


“Wah, tanahnya luas juga, ya Pak.”


Ia mengangguk setuju. “Benar ... area kebun cabe itu dulu lapangan bola futsal buat anak-anak. Reina kalau ke sini sering main bola sama anak laki-laki. Tapi, karena mereka udah besar dan udah kerja semua, udah enggak ada main lagi. Hahaha ....” Ia naik ke teras belakang. “Tunggu di sini dulu, ya ... saya masuk dulu.”


Kami berdua menelusuri area tepi kolam. Anak itu masih saja penasaran dengan ikan-ikan dengan mengambil ujung rumput dan melemparkannya ke dalam sana. Aku takut ia akan kembali terjun ke sana dan aku pastikan tertawa keras dengan hal itu. Tibalah kami di salah satu pohon jambu milik Pak Dadang.


Wajah Mawar menadah ke atas sehingga wajahnya terkena oleh serbuk sari bunga buah jambu yang dimainkan oleh lebah sebesar jempol. Aku tak tahu itu adalah lebah atau bukan, pokoknya besar.


“Lihat ....” Ia menunjuk ke arah serangga tersebut.


“Mau gue tangkap?” tantangku.


“Bukan itu ....” Ia kembali menunjuk untukku. “Tapi, yang di sana.”


Aku penasaran dengan apa yang ditunjuk oleh Mawar.


“Apaan, sih?”


“Jambu tiga warna itu benar-benar ada?”


“????”


***