
EPISODE 115 (S2)
Pertanyaan itu dimulai tatkala bibir Kakek Syarif menarik asap ke mulutnya, aku tersenggal dihantam pertanyaan itu tatkala hembusan rokok menerpa kepalaku. Angin berhembus membawa sedikit kengerian di balik hati yang mengingat sebuah kejadia, di mana Reira bercerita dengan begitu dlam mengenai keris yang hilang tiba-tiba. Sama-sama kami sulut tembakau di tengah pembicaraan ini dengan wajah Kakek Syarif yang menungu jawaban. Aku pun mengangguk karena hal tersebut. Tidak ada jawaban lain yang bisa aku berikan, keris itu sudah hilang entah ke mana.
“Reira berkata kalau keris itu hilang tiba-tiba di lemari,” balasku dengan pelan.
Beliau tak memandangku, melainkan ke arah ayam-ayam yang berkerumun di kakinya tatkala ditaburi beras. Berkotek ayam tersebut berebutan makanan.
“Aku pun terkejut, aku tersentak malam itu. Ada perasaan yang tak enak, tapi aku tak tahu apa yang menghentak hati ini.” Ia menyentuh dadanya. Sejenak Kakek Syarif menghela napas. “Sewaktu sampai di sini, aku langsung ke kapal Leon dan ke ruang Kumbang. Keris itu tergeletak di atas meja.”
Napasku berhenti tatkala Kakek Syarif mengatakan hal tersebut. Bagaimana bisa ia berpindah di sana? Akal takakan mampu mencerna kejadian tersebut. Tapi, tidak ada yang bisa menolah jikalau hal tersebut benar-benar ada. Hanya kepercayaan di hati yang bisa mengikuti alur dari peristiwa ini.
“Reira udah tahu?” tanyaku.
Kakek Syarif menggeleng. “Kalau dia belum pernah masuk ke ruangan kumbang selama keris itu hilang, berarti dia belum tahu. Aku tak ada bilang ini sebelumnya, kecuali sama kau dahulu. Aduh ... Kumbang ... Kumbang. Aku harap dia mati tenang.”
Harapanku dan Kakek Syarif pun sama. Ada sebagian orang yang menuntut ilmu, bertahan bahkan setelah ia mati. Ada banyak resiko menuntut ilmu yang seperti itu, salah satunya ialah mati yang tak tenang. Sulit nyawa keluar dari leher ini tatkala berbagai hantu di dalam tubuh tak membiarkan malaikat untuk mencabutnya. Aku belum pernah melihatnya secara langsung, tetapi dari berbagai cerita yang didengar, seperti itulah benar halnya.
“Kakek Kumbang pernah nuntut ilmu?” tanyaku penasaran.
Ia tersenyum melihatku. “Kami ini keturunan pesilat. Ada saja bacaan atau amalan yang dikasih sama guru kami waktu muda dulu. Ayahnya Kumbang, punya perguruan silat, datuk atau kakeknya juga. Sedangkan orangtua lelakiku adalah nelayan. Tapi, diminta berguru sama keluarga Kumbang.”
“Bukannya silat itu cuma beladiri?” tanyaku kembali.
“Iya, benar ... tapi terkadang rasa serakah dengan ilmu itu menjebak diri sendiri, begitulah Kumbang. Tapi, aku tak tahu ajarannya benar atau tidak. Setahuku, dia masih berdzikir, sholat, dan puasa dengan niat kepada Tuhan, berharap diberikan keistimewaan. Dia tak pernah belajar sama dukun santet atau apalah itu.”
“Tapi, setahuku menuntut ilmu seperti itu adalah hal yang buruk, Kakek.”
“Buruk atau baiknya itu urusan dia sama Tuhan. Kita enggak perlu mengurusi itu. Yang penting, Kumbang enggak menyelakai orang, selalu buat baik sama sesama, mengasihi anak yatim, banyak lagi. Dia orang paling baik yang pernah aku kenal.”
Aku membakar sebatang tembaku lagi dengan meminjam pemantik api milik Kakek Syarif. Wangi cengkeh pada tembakau bercampur dengan harumnya masakan yang sedang dibuat oleh Nenek Syarif dan Reira. Entahlah, aku tidak tahu nama sebenarnya dari istri Kakek Syarif. Aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan itu.
“Berarti Kakek sendiri pernah belajar juga?”
“Pernah, untuk kebal katanya. Hahah ... tapi, kaji aku tak sampai. Walaupun begitu, aku tetap ada efek dari amalan-amalan waktu muda dulu. Batin Kakek sedikit peka sama hal-hal abstrak. Ya terkadang yang tak kau lihat, aku bisa lihat. Yang tak pernah kau lihat di mimpi, aku rasakan. Firasat-firasat itu terkadang benar, itulah kenapa aku yakin firasatku sendiri. Udah banyak kejadian yang selaras sama firasat.”
Ia menepuk ubun-ubunku. “Kau solat aja jarang, mau belajar seperti ini pula.”
“Hahaha ....”
Berlanjut harmoni siang ini dengan makan di meja tempat kami bersantai bersama Kakek Syarif. Meja kaju yang cukup lebar ini menampung hidangan, duduklah kami mengeliling meja. Nikmat sekali makan di luar sembari menikmati angin yang berhembus, tetapi sedikit gangguan dari ayam yang terkadang datang ke bawah kaki. Belum lagi kucing kampung kelaparan yang mengeong untuk dikasihani. Kenyang perut berkat kebaikan istri Kakek Syarif, bersendawa dengan nikmat Reira yang tak tahu malu. Seperti anak sendiri, Kakek Syarif mengapit Reira dengan sebelah tangannya. Ia berkata Reira tak ubah layaknya Bu Fany sewaktu kecil.
Selesai makan, berpamitan aku dan Reira untuk segera pulang. Perjalanan kami cukup jauh, hampir membelah Ibu Kota ini. Tibalah Razel dengan wajah polosnya tatkala kami baru masuk ke dalam mobil. Habis anak itu dimarahi oleh Kakek Syarif karena ia tak ikut makan bersama dan malah pergi entah ke mana. Tawa yang menyelubungi beriringan dengan lambaian tangan. Mobil pun bergerak untuk pulang.
Dika senang sekali sewaktu aku sampai di depan bengkel. Dirinya diteriaki oleh Reira dengan candaan jika dirinya tak jadi nikah. Bukannya malah menyambutku, anak itu malah asyik berbincang dengan Reira di meja domino. Tak ada penat-penatnya Reira, masih bertahan dengan obrolan panjang. Aku masih mendengar perbincangan mereka di atas balkon kamar. Tak ingin aku bergabung karena terlampau penat di hari ini. Tidur pun sambung menyambung hingga senja datang.
Barulah aku bergegas menjemput Reira sebagai temanku di cafe nanti. Ia memintaku agar dirinya saja yang bekerja di sana menggantikan Mawar. Aku juga tak ingin Mawar bekerja malam ini karena aku ingin ia menghabiskan masa cutinya dengan sempurna, beristirahat menyiapkan tenaga untuk esok hari.
“Ini imbalan terima kasih buat pegawai lo yang udah kerja di sini.” Tanganku memberikan sejumlah uang untuk para pegawainya.
“Oh, terima kasih. Mereka pasti senang kalau gue kasih ini. Jujur, mereka asyik lo kerja di sini. Katanya dapat suasana baru yang lebih santai. Soalnya kalau di mall, mereka harus sangat menjaga penampilan biar keren, sikap, dan lain-lain. Di sini bebas.” Ia mengambil pemberianku.
Kini container cafe dibuka sempurna. Reira berdiri di dalamnya dengan menyentuh kulkas kecil untuk mengambil susu segar. Ia turut memberikanku segelas kecil susu segar untuk diminum bersama.
“Lo bilang kalau lo pengen punya cafe dengan konsep toko buku. Ya, selaras dengan hobi lo membaca buku-buku sastra. Memang ada keinginan ke sana?” tanya Reira.
Aku berpikir sejenak. Baru saja aku mendirikan cafe ini, mewujudkan ide selanjutnya itu butuh waktu dan dana yang lebih besar.
“Mungkin aja suatu hari nani,” balasku.
“Nanti malam kita ada kedatangan tamu,” ucapnya.
“Siapa?”
“Pak Bernardo ....”
Lututku bergetar mendengar namanya.
***